26C
Manado
Senin, 1 Maret 2021

Gerakan Perempuan Gagas Petisi `Pemakzulan` JAK

MANADOPOST.ID—Sampai pukul 00.13 WITA Sabtu (6/2), sudah 700-an orang menandatangani petisi ‘Stop Kekerasan Terhadap Perempuan & Anak, Pecat James Arthur Kojongian dari DPRD Sulut’.

Warga ingin JAK dimakzulkan dari kursi anggota dewan perwakilan rakyat. Petisi ini digagas Gerakan Perempuan Sulut Lawan Kekerasan Pada Perempuan dan Anak. Para aktivis perempuan mengecam keras perbuatan JAK yang diduga telah melakukan bentuk kekerasan terhadap perempuan dan beresiko menghilangkan nyawa istrinya.

Menurut, Jull Takaliuang, Ketua LPA Sulut, kejadian tersebut telah menambah daftar panjang kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dalam bentuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). “Bentuk KDRT yang dilakukan secara nyata adalah pelanggaran hak asasi manusia dan tidak bisa ditolerir untuk dilakukan oleh siapapun,” katanya saat petisi dilaunching, Jumat (5/2).

Oleh karena itu sambungnya, Gerakan Perempuan Sulut Lawan Kekerasan Pada Perempuan dan Anak melalui petisi ini menuntut JAK dipecat dari pimpinan dewan dan anggota DPRD Sulut.

“Kami menyerukan kepada semua pihak untuk mencegah, menghentikan, dan menghapus berbagai praktik kekerasan terhadap perempuan maupun terhadap anak, serta menuntut JAK segera diberhentikan dari jabatan sebagai anggota DPRD provinsi Sulut,” tukasnya.

Di tempat yang sama, Ketua lembaga Pendampingan Perempuan dan Anak Terung ne Lumimuut Marhaeni Mawuntu menegaskan, petisi ini meminta dukungan dan perluasan jaringan.

“Siapa saja yang punya komitmen yang sama dengan kami, untuk menolak kekerasan perempuan dan anak. Dan kami membutuhkan dukungan sebanyak mungkin,” terangnya menambahkan akan ada langkah selanjutnya, namun dimulai dari perluasan dukungan. “Petisi ini agar diperhatikan, sehingga keputusan yang diambil (BK), berpihak pada perempuan dan anak korban kekerasan,” terangnya.

Ketua Yayasan Pemberdayaan Perempuan dan Anak Sulut Joice Worotikan juga menegaskan hal yang sama. “Semakin hari, banyak keresahan ditengah-tengah masyarakat. Karena pihak yang berkompeten, tidak cepat melakukan tindakan, atas aksi tidak terpuji dari pimpianan dewan Sulut. Yang seharunya benteng moralitas keteladanan harusnya diketengahkan. Karena dengan tontonan seperti ini, itu mempermalukan kelembagaan DPRD,” sorot Worotikan.

Tambah Ketua Lembaga Perlindungan Anak Kota Tomohon ini, miris melihat kejadian yang terjadi beberapa pekan lalu itu.

“Kami masyarakat yang peduli atas nasib perempuan dan anak di Sulut, merasa sangat terobek-robek melihat kejadian yang memalukan ini. Kami juga sudah menyurat kepada pimpinan partai Golkar Sulut. Bukan hanya menonaktifkan beliau dari ketua harian, tapi memecat. Karena menjadi contoh tidak baik kepada masyarakat. Melakukan hal tidak terpuji dan melanggar hak asasi manusia juga melakukan tindakan kekerasan,” terangnya.

Lanjutnya, petisi dibuat untuk meminta kesadaran publik. Bahwa kekerasan perempuan dan anak masih terjadi. “Dorongan ini yang membuat gerakan ini, kita berpikir dan merumuskan sebagai peringatan kepada semua pihak. Bahwa praktek seperti ini tidak bisa dibiarkan. Kita berharap ketus DPP Golkar melakukan pemecatan. Kami mengharapkan DPP Golkar untuk membersihkan praktek-praktek seperi ini,” tandas Worotikan.

Diketahui, petisi ini didukung oleh Gerakan Perempuan Sulawesi Utara Lawan Kekerasan Terhadap Perempuan Dan Anak (Yayasan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (YAPPA) SULUT, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) SULUT, Asosiasi Pastoral Indonesia (API) Wilayah XI, Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi di Indonesia (PERUATI) SULUTTENGGO, Swara Parangpuan SULUT, Yayasan Pelita Kasih Abadi (PEKA) SULUT, Lembaga Pendampingan Perempuan dan Anak “Terung Ne Lumimuut” SULUT, Pusat Studi Gender Universitas Negeri Manado (UNIMA), Yayasan Suara Nurani Minaesa, Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Cabang Metro Manado, Persekutuan Perempuan Adat Nusantara AMAN (PEREMPUAN AMAN), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) wilayah SULUT, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Manado, Persekutuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) SULUT, Gerakan Siswa Kristen Indonesia (GKSI) SULUT, Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (PUKKAT), Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) SULUT, Koalisi Perempuan Indonesia Cabang Manado, Gerakan Cinta Damai Sulawesi Utara (GCDS), Yayasan Tumbuh Kembang Persona, Forum Jurnalis Perempuan Sulut (FJPI), dan LPA Tomohon.(ctr-02/gnr)

Artikel Terbaru