26.4 C
Manado
Senin, 27 Juni 2022

Banner Mobile (Anymind)

PE Sulut Kalahkan Sulsel

- Advertisement -

MANADOPOST.ID–Badai Covid-19 ikut menghantam ekonomi Indonesia. Triwulan I 2020 ini, Pertumbuhan Ekonomi Nasional ambruk di angka 2,97 persen (year-on-year/yoy). Perlambatannya hampir 50 persen dibanding  periode yang sama tahun lalu 5,07 persen.

Melambatnya PE nasional, karena PE seluruh provinsi juga terjadi perlambatan. Termasuk PE Sulawesi Utara yang ikut melambat. Periode yang sama tahun lalu 6,57, kini hanya 4,27 persen. Namun Sulut bersyukur, perlambatannya tidak sekencang provinsi lain. Misalnya Provinsi Sulawesi Selatan yang 2019 PE-nya tertinggi nasional, kali ini hanya 3,07. Kalah dibanding PE Sulut yang bertahan di angka 4,27 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut Dr Ateng Hartono  menjelaskan, di tengah hantaman badai Corona ini, ekonomi Sulut bertumbuh cukup signifikan. “Walaupun melambat dibanding periode yang sama tahun lalu, tapi pertumbuhannya masih lebih bagus  dibanding daerah lain,” kata Hartono, Selasa (5/5) kemarin.

Dijelaskan Hartono, perlambatan tersebut disebabkan  beberapa faktor. Antara lain penurunan pada jasa usaha akomodasi, transportasi hingga konsumsi rumah tangga. Sementara itu, untuk sektor pertanian, perdagangan, kontruksi, dan industri pengolahan masih mencatatkan pertumbuhan, meski mengalami perlambatan dibandingkan tahun lalu. Hartono menekankan, empat sektor tersebut menjadi kontributor terbesar dalam PE Sulut.

- Advertisement -

Khusus sektor pertanian hanya tumbuh 2,26 persen. Angka ini melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 11,95 persen. Perlambatan pertumbuhan, katanya, disebabkan oleh pola pergesaran musim sehingga ada pola pergeseran tanaman pangan.

Lanjutnya, pada triwulan pertama ini, lapangan usaha, informasi dan komunikasi adalah sumber pertumbuhan tertinggi. Dengan sumbangan sebesar 0,96 persen. Lanjutnya, peningkatan aktivitas informasi dan komunikasi disebabkan oleh banyaknya kegiatan yang dilakukan dari rumah dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19 dan pemberlakuan Work From Home (WFH) serta School From Home (SFH). Sehingga memicu meningkatnya traffic data.

“Jasa Kesehatan juga tumbuh tinggi. Di mana realisasi di fungsi kesehatan meningkat karena pemerintah mengalihkan dana untuk pencegahan serta peningkatan pendapatan rumah sakit dan klinik akibat wabah DBD dan Covid-19,” sebut Hartono saat menggelar rilis PE, melalui Live Streaming Youtube, Selasa (5/5).

Sementara itu, sambungnya, jasa lainnya tumbuh negatif. Akibat menurunnya jumlah kunjungan Wisman. Mengakibatkan tempat hiburan seperti karaoke, fitness center, salon dan mall yang tutup serta beberapa event yang dibatalkan/ditunda sejak adanya pandemik.

“Transportasi juga tumbuh negatif. Penerapan WFH dan SFH mengakibatkan pengguna jasa transportasi publik menurun drastis, pengurangan dan pembatalan beberapa perjalanan armada angkutan baik udara, laut dan darat. Namun sebaliknya volume pengiriman beberapa perusahaan ekspedisi meningkat karena meningkatnya belanja online,” terangnya.

Lantas bagaimana dari sisi pengeluaran? Dalam kesempatan itu juga Hartono memberikan penjelasannya. Dia menuturkan, pengeluaran konsumsi LNPRT mengalami kontraksi. Disebabkan oleh berakhirnya Pemilihan Umum serentak anggota legislatif, presiden dan wakil presiden tahun 2019.

Sementara pengeluaran konsumsi pemerintah tumbuh positif.  Naiknya realisasi belanja pemerintah pusat (APBN pada belanja pegawai) dan daerah (APBD pada belanja pegawai, belanja barang dan jasa, serta bantuan sosial).

“PMTB pun tumbuh positif. Indeks konstruksi masih posiif 7 persen dan meningkatnya impor barang modal sebesar 164,85 Y-on-Y. Ekspor juga mengalami peningkatan. Terutama ekspor komoditi unggulan Sulut terutama kode HS15 lemak minyak nabati dari 99,04 Juta US$ triwulan I 2019 menjadi 100,31 Juta US$ triwulan 1 2020; serta kode HS71 perhiasan/emas meningkat dari 32,55 Juta US$ triwulan I 2019 menjadi 34,04 Juta US$ triwulan 1 202,” tuturnya.

Dia pun berharap, kedepannya, aka nada kebijakan dan strategi yang akan dilakukan berbagai pihak, untuk bisa mendorong PE Sulut meskipun berbagai sektor terpukul akibat Covid-19. “PE Sulut masih di atas nasional dan juga melewati beberapa daerah lainnya. Semoga kedepannya akan semakin baik,” harapnya.

Di sisi lain, Ekonom Sulut Hizkia Tasik PhD pernah memprediksikan jika Pertumbuhan Ekonomi (PE) Sulut akan tumbuh di angka 4,3 persen. Karena krisis kesehatan, pengangguran, penurunan produksi dan peningkatan kemiskinan sebagai imbas dari Covid-19 muncul di saat yang bersamaan. Sehingga, akan sulit untuk diatasi.

Pemerintah Sulut diminta melakukan beberapa hal. Antara lain, harus bisa merendam penurunan produksi. Dan fokus pada penyelematan sektor. Salah satunya sektor informal. Agar masyarakat tetap bisa menghasilkan uang, konsumsi pun bisa tetap berjalan. “Meskipun tidak sepenuhnya normal, namun langkah antisipasi harus dilakukan untuk memberikan pengharapan yang baru bagi semua masyarakat Sulut di tengah pademi Covid-19 ini,” kuncinya.(ayu/gnr)

MANADOPOST.ID–Badai Covid-19 ikut menghantam ekonomi Indonesia. Triwulan I 2020 ini, Pertumbuhan Ekonomi Nasional ambruk di angka 2,97 persen (year-on-year/yoy). Perlambatannya hampir 50 persen dibanding  periode yang sama tahun lalu 5,07 persen.

Melambatnya PE nasional, karena PE seluruh provinsi juga terjadi perlambatan. Termasuk PE Sulawesi Utara yang ikut melambat. Periode yang sama tahun lalu 6,57, kini hanya 4,27 persen. Namun Sulut bersyukur, perlambatannya tidak sekencang provinsi lain. Misalnya Provinsi Sulawesi Selatan yang 2019 PE-nya tertinggi nasional, kali ini hanya 3,07. Kalah dibanding PE Sulut yang bertahan di angka 4,27 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut Dr Ateng Hartono  menjelaskan, di tengah hantaman badai Corona ini, ekonomi Sulut bertumbuh cukup signifikan. “Walaupun melambat dibanding periode yang sama tahun lalu, tapi pertumbuhannya masih lebih bagus  dibanding daerah lain,” kata Hartono, Selasa (5/5) kemarin.

Dijelaskan Hartono, perlambatan tersebut disebabkan  beberapa faktor. Antara lain penurunan pada jasa usaha akomodasi, transportasi hingga konsumsi rumah tangga. Sementara itu, untuk sektor pertanian, perdagangan, kontruksi, dan industri pengolahan masih mencatatkan pertumbuhan, meski mengalami perlambatan dibandingkan tahun lalu. Hartono menekankan, empat sektor tersebut menjadi kontributor terbesar dalam PE Sulut.

Khusus sektor pertanian hanya tumbuh 2,26 persen. Angka ini melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 11,95 persen. Perlambatan pertumbuhan, katanya, disebabkan oleh pola pergesaran musim sehingga ada pola pergeseran tanaman pangan.

Lanjutnya, pada triwulan pertama ini, lapangan usaha, informasi dan komunikasi adalah sumber pertumbuhan tertinggi. Dengan sumbangan sebesar 0,96 persen. Lanjutnya, peningkatan aktivitas informasi dan komunikasi disebabkan oleh banyaknya kegiatan yang dilakukan dari rumah dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19 dan pemberlakuan Work From Home (WFH) serta School From Home (SFH). Sehingga memicu meningkatnya traffic data.

“Jasa Kesehatan juga tumbuh tinggi. Di mana realisasi di fungsi kesehatan meningkat karena pemerintah mengalihkan dana untuk pencegahan serta peningkatan pendapatan rumah sakit dan klinik akibat wabah DBD dan Covid-19,” sebut Hartono saat menggelar rilis PE, melalui Live Streaming Youtube, Selasa (5/5).

Sementara itu, sambungnya, jasa lainnya tumbuh negatif. Akibat menurunnya jumlah kunjungan Wisman. Mengakibatkan tempat hiburan seperti karaoke, fitness center, salon dan mall yang tutup serta beberapa event yang dibatalkan/ditunda sejak adanya pandemik.

“Transportasi juga tumbuh negatif. Penerapan WFH dan SFH mengakibatkan pengguna jasa transportasi publik menurun drastis, pengurangan dan pembatalan beberapa perjalanan armada angkutan baik udara, laut dan darat. Namun sebaliknya volume pengiriman beberapa perusahaan ekspedisi meningkat karena meningkatnya belanja online,” terangnya.

Lantas bagaimana dari sisi pengeluaran? Dalam kesempatan itu juga Hartono memberikan penjelasannya. Dia menuturkan, pengeluaran konsumsi LNPRT mengalami kontraksi. Disebabkan oleh berakhirnya Pemilihan Umum serentak anggota legislatif, presiden dan wakil presiden tahun 2019.

Sementara pengeluaran konsumsi pemerintah tumbuh positif.  Naiknya realisasi belanja pemerintah pusat (APBN pada belanja pegawai) dan daerah (APBD pada belanja pegawai, belanja barang dan jasa, serta bantuan sosial).

“PMTB pun tumbuh positif. Indeks konstruksi masih posiif 7 persen dan meningkatnya impor barang modal sebesar 164,85 Y-on-Y. Ekspor juga mengalami peningkatan. Terutama ekspor komoditi unggulan Sulut terutama kode HS15 lemak minyak nabati dari 99,04 Juta US$ triwulan I 2019 menjadi 100,31 Juta US$ triwulan 1 2020; serta kode HS71 perhiasan/emas meningkat dari 32,55 Juta US$ triwulan I 2019 menjadi 34,04 Juta US$ triwulan 1 202,” tuturnya.

Dia pun berharap, kedepannya, aka nada kebijakan dan strategi yang akan dilakukan berbagai pihak, untuk bisa mendorong PE Sulut meskipun berbagai sektor terpukul akibat Covid-19. “PE Sulut masih di atas nasional dan juga melewati beberapa daerah lainnya. Semoga kedepannya akan semakin baik,” harapnya.

Di sisi lain, Ekonom Sulut Hizkia Tasik PhD pernah memprediksikan jika Pertumbuhan Ekonomi (PE) Sulut akan tumbuh di angka 4,3 persen. Karena krisis kesehatan, pengangguran, penurunan produksi dan peningkatan kemiskinan sebagai imbas dari Covid-19 muncul di saat yang bersamaan. Sehingga, akan sulit untuk diatasi.

Pemerintah Sulut diminta melakukan beberapa hal. Antara lain, harus bisa merendam penurunan produksi. Dan fokus pada penyelematan sektor. Salah satunya sektor informal. Agar masyarakat tetap bisa menghasilkan uang, konsumsi pun bisa tetap berjalan. “Meskipun tidak sepenuhnya normal, namun langkah antisipasi harus dilakukan untuk memberikan pengharapan yang baru bagi semua masyarakat Sulut di tengah pademi Covid-19 ini,” kuncinya.(ayu/gnr)

Most Read

Artikel Terbaru

/