alexametrics
26.4 C
Manado
Kamis, 26 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

Kenangan Istri Kru KRI Nanggala: Takut Khawatir, Suami Jarang Cerita Soal Pekerjaan

MANADOPOST.ID— AKHIR pekan adalah saat-saat yang paling menyenangkan bagi Mawar Vinolita. Sang suami, Letda Laut (T) Rintoni, pulang ke rumah mereka di Kebumen, Jawa Tengah, dari tempatnya bertugas di Surabaya, Jawa Timur.

Dan, Rintoni langsung mengambil alih semua tugas sehari-hari yang biasa dikerjakan sang istri. Mulai mencuci baju, momong kedua putri mereka yang masing-masing berusia 6 tahun dan 15 bulan, hingga memasak. ”Itu yang bikin anak-anak lengket dengan papanya,” kata Mawar.

Letda Rintoni dan istrinya

Di Surabaya pula, semasa kuliah, Mawar kali pertama bertemu dengan ayah dua putrinya tersebut. Mereka menikah dan kemudian memutuskan tinggal di kediaman orang tua Mawar di Desa Bulurejo, Kecamatan Bulukerto, Wonogiri. Di kabupaten yang berbatasan dengan Pacitan, Jawa Timur, itu pula Mawar bekerja sebagai guru bahasa Inggris.

Biasanya, Rintoni pulang sepekan sekali ke Wonogiri pada akhir pekan. Minggu sore atau malam, dia baru kembali berangkat untuk berdinas di Surabaya. Rintoni sudah cukup lama bertugas sebagai mekanik di bagian mesin kapal selam KRI Nanggala-402.

”Papanya anak-anak itu pada dasarnya pendiam. Soal pekerjaan, tak pernah sedikit pun dia cerita. Katanya, tidak mau membuat istrinya khawatir,” ujar Mawar kepada Jawa Pos Radar Solo.

Kementerian Sosial Republik Indonesia memberikan bantuan dan santunan bagi ahli waris keluarga Letda Rintoni. (Kemensos)

Namun, tentu pria kelahiran Pemalang, Jawa Tengah, itu selalu pamit ketika hendak berlayar bersama Nanggala. Misalnya, ketika Nanggala hendak berlayar menuju perairan utara Bali untuk menjalani latihan penembakan torpedo dua pekan lalu.

Masih di Jawa Tengah (Jateng), persisnya di Kebumen, Slamet Sarwono dan sang istri, Jariyah, begitu bergembira saat anak pertama mereka, Serda (Kom) Eko Prasetiyo, melakukan kontak video dengan mereka pada Minggu malam dua pekan lalu (18/4). Atau, sehari sebelum keberangkatan bersama KRI Nanggala-402.

Maklum, sudah sekitar dua tahun Eko yang kini bermukim di Bangkalan, Jawa Timur, bersama istri dan anak-anaknya tak pulang kampung. ”Dia video call bareng anak-anaknya,” kenang Slamet kepada Kebumen Ekspres.

Selain Rintoni dan Eko, kru Nanggala yang tercatat sebagai warga Jateng adalah Sertu (Bah) Yoto Eki Setiawan (Cilacap), Sertu (Kom) Achmad Faisal (Pekalongan), dan Kopda (Bah) Maryono (Grobogan). Dari Jogjakarta, ada satu nama, Kelasi (Isy) Gunadi Fajar.

Eko, kata sang ayah, memintanya berlebaran di Bangkalan. Sebab, dia baru membangun rumah. ”Saya menyanggupi, bahkan sudah menyiapkan beras untuk dibawa ke sana,” ungkap Slamet.

Devi, adik Sertu Yoto Eki Setiawan, juga sudah lumayan lama tak bersua langsung dengan sang kakak. Mereka kali terakhir bertemu pada November 2020.  Namun, Jumat hampir sebulan lalu (9/4), Eki menelepon.

”Mamas Eki berpesan untuk menjaga ibu yang berada di Blitar, sering melakukan kontak dengan ayah di Riau, serta menjaga adik dan mbah di Cipari,” papar Devi yang tinggal di Desa Segaralangu, Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap, kepada Radar Banyumas.

Tentu Mawar, Slamet, maupun Devi tak mengira bahwa kontak itu seperti salam perpisahan dari orang-orang terkasih mereka. Mawar limbung begitu mendengar Nanggala hilang kontak pada Rabu dua pekan lalu (21/4). Begitu pula Slamet. Devi hanya bisa menangis, apalagi ketika Danlanal Cilacap Kolonel Laut (PM) Sugeng Subagyo datang ke rumahnya pada Minggu (25/4) untuk mengabari bahwa semua kru Nanggala, seperti diumumkan Panglima TNI Hadi Tjahjanto, gugur.

Bupati Kebumen Arif Sugiyanto menyebut Serda Eko Prasetiyo sebagai putra terbaik Kabupaten Kebumen yang berjuang untuk Indonesia. ”Kami bangga dengan beliau. Atas nama pemda, kami akan support dan kuatkan keluarga yang ditinggalkan,” ujar Arif.

Menteri Sosial Tri Rismaharini juga melayat ke rumah Mawar untuk memberikan dukungan moral. ”Harapan saya, ibu tetap semangat dan bisa teguh dalam mengasuh anak-anak yang masih kecil-kecil tanpa sang suami. Suami ibu gugur sebagai kusuma bangsa,” tutur Risma kepada Mawar.

Risma juga menyerahkan buku tabungan kepada anak-anak Rintoni, Aerilyn Belvania Rintoni, 6, dan Ahilya Nova Prawira Rintoni, senilai Rp 100 juta per anak. Selain itu, turut disalurkan bantuan dari Presiden Joko Widodo berupa santunan Rp 15 juta.

”Saya mewakili keluarga besar almarhum Letda Rintoni mengucapkam terima kasih yang sebesar-besarnya atas perhatian dari pemerintah,” kata kerabat korban, Ari Santoso, mewakili keluarga.

Yang terberat bagi Mawar adalah memberi tahu kedua putrinya bahwa tak akan ada lagi akhir pekan bersama papa. Putri bungsunya tentu masih terlalu kecil untuk bisa mengerti. Si sulung sempat terkejut. Namun, Mawar memberikan pemahaman hingga putrinya itu memahami. ”Dia bilang, kalau nanti bisa ditemukan, insya Allah papa selamat, Ma. Tapi, kalau tidak ditemukan, berarti Allah lebih sayang sama papa,” ujar Mawar menirukan omongan sang anak. (jawapos)

MANADOPOST.ID— AKHIR pekan adalah saat-saat yang paling menyenangkan bagi Mawar Vinolita. Sang suami, Letda Laut (T) Rintoni, pulang ke rumah mereka di Kebumen, Jawa Tengah, dari tempatnya bertugas di Surabaya, Jawa Timur.

Dan, Rintoni langsung mengambil alih semua tugas sehari-hari yang biasa dikerjakan sang istri. Mulai mencuci baju, momong kedua putri mereka yang masing-masing berusia 6 tahun dan 15 bulan, hingga memasak. ”Itu yang bikin anak-anak lengket dengan papanya,” kata Mawar.

Letda Rintoni dan istrinya

Di Surabaya pula, semasa kuliah, Mawar kali pertama bertemu dengan ayah dua putrinya tersebut. Mereka menikah dan kemudian memutuskan tinggal di kediaman orang tua Mawar di Desa Bulurejo, Kecamatan Bulukerto, Wonogiri. Di kabupaten yang berbatasan dengan Pacitan, Jawa Timur, itu pula Mawar bekerja sebagai guru bahasa Inggris.

Biasanya, Rintoni pulang sepekan sekali ke Wonogiri pada akhir pekan. Minggu sore atau malam, dia baru kembali berangkat untuk berdinas di Surabaya. Rintoni sudah cukup lama bertugas sebagai mekanik di bagian mesin kapal selam KRI Nanggala-402.

”Papanya anak-anak itu pada dasarnya pendiam. Soal pekerjaan, tak pernah sedikit pun dia cerita. Katanya, tidak mau membuat istrinya khawatir,” ujar Mawar kepada Jawa Pos Radar Solo.

Kementerian Sosial Republik Indonesia memberikan bantuan dan santunan bagi ahli waris keluarga Letda Rintoni. (Kemensos)

Namun, tentu pria kelahiran Pemalang, Jawa Tengah, itu selalu pamit ketika hendak berlayar bersama Nanggala. Misalnya, ketika Nanggala hendak berlayar menuju perairan utara Bali untuk menjalani latihan penembakan torpedo dua pekan lalu.

Masih di Jawa Tengah (Jateng), persisnya di Kebumen, Slamet Sarwono dan sang istri, Jariyah, begitu bergembira saat anak pertama mereka, Serda (Kom) Eko Prasetiyo, melakukan kontak video dengan mereka pada Minggu malam dua pekan lalu (18/4). Atau, sehari sebelum keberangkatan bersama KRI Nanggala-402.

Maklum, sudah sekitar dua tahun Eko yang kini bermukim di Bangkalan, Jawa Timur, bersama istri dan anak-anaknya tak pulang kampung. ”Dia video call bareng anak-anaknya,” kenang Slamet kepada Kebumen Ekspres.

Selain Rintoni dan Eko, kru Nanggala yang tercatat sebagai warga Jateng adalah Sertu (Bah) Yoto Eki Setiawan (Cilacap), Sertu (Kom) Achmad Faisal (Pekalongan), dan Kopda (Bah) Maryono (Grobogan). Dari Jogjakarta, ada satu nama, Kelasi (Isy) Gunadi Fajar.

Eko, kata sang ayah, memintanya berlebaran di Bangkalan. Sebab, dia baru membangun rumah. ”Saya menyanggupi, bahkan sudah menyiapkan beras untuk dibawa ke sana,” ungkap Slamet.

Devi, adik Sertu Yoto Eki Setiawan, juga sudah lumayan lama tak bersua langsung dengan sang kakak. Mereka kali terakhir bertemu pada November 2020.  Namun, Jumat hampir sebulan lalu (9/4), Eki menelepon.

”Mamas Eki berpesan untuk menjaga ibu yang berada di Blitar, sering melakukan kontak dengan ayah di Riau, serta menjaga adik dan mbah di Cipari,” papar Devi yang tinggal di Desa Segaralangu, Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap, kepada Radar Banyumas.

Tentu Mawar, Slamet, maupun Devi tak mengira bahwa kontak itu seperti salam perpisahan dari orang-orang terkasih mereka. Mawar limbung begitu mendengar Nanggala hilang kontak pada Rabu dua pekan lalu (21/4). Begitu pula Slamet. Devi hanya bisa menangis, apalagi ketika Danlanal Cilacap Kolonel Laut (PM) Sugeng Subagyo datang ke rumahnya pada Minggu (25/4) untuk mengabari bahwa semua kru Nanggala, seperti diumumkan Panglima TNI Hadi Tjahjanto, gugur.

Bupati Kebumen Arif Sugiyanto menyebut Serda Eko Prasetiyo sebagai putra terbaik Kabupaten Kebumen yang berjuang untuk Indonesia. ”Kami bangga dengan beliau. Atas nama pemda, kami akan support dan kuatkan keluarga yang ditinggalkan,” ujar Arif.

Menteri Sosial Tri Rismaharini juga melayat ke rumah Mawar untuk memberikan dukungan moral. ”Harapan saya, ibu tetap semangat dan bisa teguh dalam mengasuh anak-anak yang masih kecil-kecil tanpa sang suami. Suami ibu gugur sebagai kusuma bangsa,” tutur Risma kepada Mawar.

Risma juga menyerahkan buku tabungan kepada anak-anak Rintoni, Aerilyn Belvania Rintoni, 6, dan Ahilya Nova Prawira Rintoni, senilai Rp 100 juta per anak. Selain itu, turut disalurkan bantuan dari Presiden Joko Widodo berupa santunan Rp 15 juta.

”Saya mewakili keluarga besar almarhum Letda Rintoni mengucapkam terima kasih yang sebesar-besarnya atas perhatian dari pemerintah,” kata kerabat korban, Ari Santoso, mewakili keluarga.

Yang terberat bagi Mawar adalah memberi tahu kedua putrinya bahwa tak akan ada lagi akhir pekan bersama papa. Putri bungsunya tentu masih terlalu kecil untuk bisa mengerti. Si sulung sempat terkejut. Namun, Mawar memberikan pemahaman hingga putrinya itu memahami. ”Dia bilang, kalau nanti bisa ditemukan, insya Allah papa selamat, Ma. Tapi, kalau tidak ditemukan, berarti Allah lebih sayang sama papa,” ujar Mawar menirukan omongan sang anak. (jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/