alexametrics
28.4 C
Manado
Sabtu, 21 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

Sebulan Lagi Melahirkan, Istri Kru KRI Nanggala: Kelak Kau Harus Tahu Perjuangan Ayahmu, Nak

MANADOPOST.ID— Semua keperluan bayi yang diperkirakan lahir bulan depan telah disiapkan. Begitu pula nama yang akan mengabadikan penggalan nama sang ayah.

Bagi Novia Arsari Putri, itulah caranya menghormati sang suami, Sertu (Kom) Willy Ridwan Santoso, salah seorang prajurit TNI-AL yang gugur bersama tenggelamnya KRI Nanggala-402 di perairan utara Bali.

“Saya harus tetap kuat, tetap sehat, agar bayi saya juga tetap sehat,” ucap Novia saat ditemui Jawa Pos di Rumah Dinas (Rumdin) TNI-AL Blok A, Wonosari, Kelurahan Bulak Banteng, Kenjeran, Surabaya, Sabtu (1/5).

Tiga tahun menikah dengan Willy, Novia sebenarnya sudah terbiasa ditinggal berlayar. Namun, tentu kali ini beda. Menjelang kelahiran anak pertama, suami tercinta pergi ‘berpatroli untuk selamanya’. Kesedihan yang tak tepermanai.

Keluarga Sertu (Kom) Willy Ridwan Santoso. (Dok Jawa Pos)

”Sejak kali pertama mendengar kabar Nanggala hilang kontak, nggak nafsu makan, nggak enak ngapa-ngapain. Setiap hari cuma bisa nangis dan berdoa,” ungkap Novia sembari menghela napas panjang.

Beruntung, orang tuanya, Lili Etnawati, 50, dan Surani, 48, terus mendampinginya sejak Nanggala hilang kontak. Dukungan moral dari mereka menguatkan perempuan 25 tahun tersebut. ”Saya harus ikhlas dan berfokus pada persalinan,” ujar Novia yang mengandung bayi laki-laki berdasar hasil pemeriksaan USG.

Yang dialami Nanggala dan ke-53 kru memang masih terus menyisakan duka di keluarga besar TNI-AL, duka yang juga dirasakan mereka di luar matra laut tersebut. Di sepanjang jalan menuju kawasan Rumah Dinas TNI-AL Wonosari, Surabaya, bendera setengah tiang masih berkibar. Di sana, persisnya di Jalan Nagapasa, keluarga Mayor Laut (T) Wisnu Soebiantoro tinggal. Tenda di depan rumah duka pun masih terpasang. Beberapa kursi dan meja tertata rapi di sisi selatan jalan. Jawa Pos beberapa kali berkunjung ke rumah almarhum, tetapi beberapa kali itu juga tak dapat bertemu dengan keluarga pria kelahiran Kebumen, Jawa Tengah, tersebut.

Santoso, ketua RT 8, RW 16, wilayah keluarga Wisnu tinggal, mengenang almarhum sebagai sosok yang humanis dan santun. ”Beliau memiliki jiwa sosial yang tinggi dan dermawan. Kami juga merasa kehilangan beliau,” katanya.

Dari Kebumen, Warih Wibowo, teman Wisnu semasa sekolah, menyebut almarhum paling menonjol di pelajaran eksakta. Karena itulah, jurusan yang dipilih adalah fisika. Wisnu juga dikenal supel dan memiliki sifat humoris. ”Terakhir komunikasi di grup medsos teman-teman sekolah dua pekan lalu,” ucap Warih.

Wisnu tercatat pernah bertugas di KRI Wilhelmus Zakaria Johannes, KRI Cakra, dan KRI Nanggala. Selama berlayar bersama KRI Nanggala-402, ayah dua anak itu bertugas sebagai kepala departemen mesin (Kadepsin).

Menjelang magrib Rabu (5/5), Jawa Pos sempat bertemu dengan Henny Presianawati, istri almarhum. Tak banyak yang disampaikannya. ”Mohon maaf. Kami mohon doanya,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Rumah keluarga Serda (Lis) Wahyu Adiyas juga tampak sepi pada Selasa (4/5). ”Mama (Lutfiana Endriyani, Red) sedang pergi. Mohon maaf belum bisa wawancara,” ucap Iva Aqliyana, anak Diyas, secara singkat. Remaja 15 tahun itu menjelaskan bahwa keluarganya masih shock. ”Kami benar-benar kehilangan,” kata Iva.

Sertu Anumerta Wahyu Adiyas bersama keluarga. (Dok Jawa Pos)

Di Grobogan, Jawa Tengah, Saringah, ibunda Diyas, belum percaya dengan kepergian anak pertama yang sangat dibanggakannya itu. Diyas adalah tulang punggung keluarga, apalagi setelah sang ayah, Tholip, meninggal. Selama ini bapak dua anak itulah yang membiayai pendidikan adiknya. ”Adiknya nomor dua juga masuk TNI dan berdinas di Batam. Itu juga karena Diyas,” jelas Saringah.

Minggu (18/4) adalah saat terakhir dia bertemu dengan sang anak. Diyas dan istri mengunjunginya ke Grobogan sekaligus menyampaikan kabar kepada sang ibu bahwa dirinya hendak berlayar bersama Nanggala. Diyas meminta Saringah tak banyak keluar rumah dan sebaiknya beristirahat. Peringatan itu diberikan seiring dengan menyebarnya virus korona. ”Nggak biasanya dia memeluk saya sangat erat,” ungkap Saringah.

Saringah mengenang, sejak kecil, Diyas bercita-cita menjadi anggota TNI-AL. Itu terlihat dari aktivitasnya yang giat berolahraga. Diyas kecil hobi bermain kapal-kapalan. ”Bagi dia, menjadi prajurit TNI-AL itu tugas suci. Dia sangat bangga,” kenangnya.

KRI Nanggala 402 ( Jawa Pos)

Kelak, ketika anaknya sudah bisa diajak berkomunikasi, Novia juga ingin menceritakan perjuangan sang suami. Sosok pria pekerja keras, penyayang, dan sangat bertanggung jawab terhadap keluarga. Apa pun akan Willy lakukan demi keluarga. ”Meski tidak memaksa, semoga anak saya kelak bisa meneruskan tugas ayahnya menjadi prajurit TNI,” tutur Novia. (jawapos)

MANADOPOST.ID— Semua keperluan bayi yang diperkirakan lahir bulan depan telah disiapkan. Begitu pula nama yang akan mengabadikan penggalan nama sang ayah.

Bagi Novia Arsari Putri, itulah caranya menghormati sang suami, Sertu (Kom) Willy Ridwan Santoso, salah seorang prajurit TNI-AL yang gugur bersama tenggelamnya KRI Nanggala-402 di perairan utara Bali.

“Saya harus tetap kuat, tetap sehat, agar bayi saya juga tetap sehat,” ucap Novia saat ditemui Jawa Pos di Rumah Dinas (Rumdin) TNI-AL Blok A, Wonosari, Kelurahan Bulak Banteng, Kenjeran, Surabaya, Sabtu (1/5).

Tiga tahun menikah dengan Willy, Novia sebenarnya sudah terbiasa ditinggal berlayar. Namun, tentu kali ini beda. Menjelang kelahiran anak pertama, suami tercinta pergi ‘berpatroli untuk selamanya’. Kesedihan yang tak tepermanai.

Keluarga Sertu (Kom) Willy Ridwan Santoso. (Dok Jawa Pos)

”Sejak kali pertama mendengar kabar Nanggala hilang kontak, nggak nafsu makan, nggak enak ngapa-ngapain. Setiap hari cuma bisa nangis dan berdoa,” ungkap Novia sembari menghela napas panjang.

Beruntung, orang tuanya, Lili Etnawati, 50, dan Surani, 48, terus mendampinginya sejak Nanggala hilang kontak. Dukungan moral dari mereka menguatkan perempuan 25 tahun tersebut. ”Saya harus ikhlas dan berfokus pada persalinan,” ujar Novia yang mengandung bayi laki-laki berdasar hasil pemeriksaan USG.

Yang dialami Nanggala dan ke-53 kru memang masih terus menyisakan duka di keluarga besar TNI-AL, duka yang juga dirasakan mereka di luar matra laut tersebut. Di sepanjang jalan menuju kawasan Rumah Dinas TNI-AL Wonosari, Surabaya, bendera setengah tiang masih berkibar. Di sana, persisnya di Jalan Nagapasa, keluarga Mayor Laut (T) Wisnu Soebiantoro tinggal. Tenda di depan rumah duka pun masih terpasang. Beberapa kursi dan meja tertata rapi di sisi selatan jalan. Jawa Pos beberapa kali berkunjung ke rumah almarhum, tetapi beberapa kali itu juga tak dapat bertemu dengan keluarga pria kelahiran Kebumen, Jawa Tengah, tersebut.

Santoso, ketua RT 8, RW 16, wilayah keluarga Wisnu tinggal, mengenang almarhum sebagai sosok yang humanis dan santun. ”Beliau memiliki jiwa sosial yang tinggi dan dermawan. Kami juga merasa kehilangan beliau,” katanya.

Dari Kebumen, Warih Wibowo, teman Wisnu semasa sekolah, menyebut almarhum paling menonjol di pelajaran eksakta. Karena itulah, jurusan yang dipilih adalah fisika. Wisnu juga dikenal supel dan memiliki sifat humoris. ”Terakhir komunikasi di grup medsos teman-teman sekolah dua pekan lalu,” ucap Warih.

Wisnu tercatat pernah bertugas di KRI Wilhelmus Zakaria Johannes, KRI Cakra, dan KRI Nanggala. Selama berlayar bersama KRI Nanggala-402, ayah dua anak itu bertugas sebagai kepala departemen mesin (Kadepsin).

Menjelang magrib Rabu (5/5), Jawa Pos sempat bertemu dengan Henny Presianawati, istri almarhum. Tak banyak yang disampaikannya. ”Mohon maaf. Kami mohon doanya,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Rumah keluarga Serda (Lis) Wahyu Adiyas juga tampak sepi pada Selasa (4/5). ”Mama (Lutfiana Endriyani, Red) sedang pergi. Mohon maaf belum bisa wawancara,” ucap Iva Aqliyana, anak Diyas, secara singkat. Remaja 15 tahun itu menjelaskan bahwa keluarganya masih shock. ”Kami benar-benar kehilangan,” kata Iva.

Sertu Anumerta Wahyu Adiyas bersama keluarga. (Dok Jawa Pos)

Di Grobogan, Jawa Tengah, Saringah, ibunda Diyas, belum percaya dengan kepergian anak pertama yang sangat dibanggakannya itu. Diyas adalah tulang punggung keluarga, apalagi setelah sang ayah, Tholip, meninggal. Selama ini bapak dua anak itulah yang membiayai pendidikan adiknya. ”Adiknya nomor dua juga masuk TNI dan berdinas di Batam. Itu juga karena Diyas,” jelas Saringah.

Minggu (18/4) adalah saat terakhir dia bertemu dengan sang anak. Diyas dan istri mengunjunginya ke Grobogan sekaligus menyampaikan kabar kepada sang ibu bahwa dirinya hendak berlayar bersama Nanggala. Diyas meminta Saringah tak banyak keluar rumah dan sebaiknya beristirahat. Peringatan itu diberikan seiring dengan menyebarnya virus korona. ”Nggak biasanya dia memeluk saya sangat erat,” ungkap Saringah.

Saringah mengenang, sejak kecil, Diyas bercita-cita menjadi anggota TNI-AL. Itu terlihat dari aktivitasnya yang giat berolahraga. Diyas kecil hobi bermain kapal-kapalan. ”Bagi dia, menjadi prajurit TNI-AL itu tugas suci. Dia sangat bangga,” kenangnya.

KRI Nanggala 402 ( Jawa Pos)

Kelak, ketika anaknya sudah bisa diajak berkomunikasi, Novia juga ingin menceritakan perjuangan sang suami. Sosok pria pekerja keras, penyayang, dan sangat bertanggung jawab terhadap keluarga. Apa pun akan Willy lakukan demi keluarga. ”Meski tidak memaksa, semoga anak saya kelak bisa meneruskan tugas ayahnya menjadi prajurit TNI,” tutur Novia. (jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/