25C
Manado
Jumat, 26 Februari 2021

Sampah dari Rakyat untuk Rakyat

MANADOPOST.ID-Persoalan sampah tak bisa dianggap remeh. Banyaknya sampah yang dibawa air bah (banjir, red) saat bencana belum lama ini, tak dapat dimungkiri pemicunya juga akibat ulah oknum warga yang suka buang sembarangan. Tak pelak muncul istilah di tengah warga Sulawesi Utara (Sulut), yaitu sampah ‘dari rakyat untuk rakyat’.

Mengapa? Sampah yang awalnya dibuang sembarangan akhirnya ‘dikembalikan’ melalui banjir dalam jumlah yang tak sedikit. Ditambah lagi produksi sampah rumah tangga yang sempat menumpuk beberapa hari akibat kerusakan armada pengangkut.

Contohnya lihat saja sampah yang berhasil diangkut dari Kota Manado hingga Sabtu (6/2) pekan lalu. Mencapai 1.000 ton. Pemkot Manado pun mengakui, produksi sampah pasca bencana naik 10 kali lipat.

Berdasarkan pantauan Manado Post, ada titik-titik tertentu tumpukan sampahnya belum tersentuh. Bau menyengat sangat mengganggu aktivitas warga. “Ini sebenarnya salah oknum warga juga yang hobi buang sampah sembarangan. Akhirnya sampah dari rakyat ini dikembalikan lagi oleh bencana (banjir) untuk rakyat,” kritik Feronica Lumintang, (35) warga Manado.

Warga pun berharap persoalan sampah akan diseriusi pemerintah. “Selain baunya yang menyengat, bisa menganggu lalu lintas,” tandasnya. “Kami minta pemerintah jangan tutup mata. Kota Manado ini wajah provinsi Sulawesi Utara,” kritik warga lainnya.

Diungkapkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Manado Yanti Putri SH, MH, di lokasi TPA Sumompo, setiap hari sampah yang dihasilkan rumah tangga, pelaku usaha maupun pasar sekitar 350 ton per hari. “Tapi pasca banjir meningkat bahkan beberapa hari tak terangkut di beberapa kecamatan,” ungkapnya.

Ditanya daya tampung TPA Sumompo, Kadis DLH belum bisa memastikan berapa daya tampung TPA yang sementara ditata ini. “Saya tidak bisa pastikan berapa ton yang bisa ditampung di sini. Kita hanya melihat jangka waktu penggunaan. Kemungkinan tahun ini diupayakan ditata sambil menunggu TPA Regional di Ilo-Ilo,” sebutnya.

Menurut dia, pihaknya berupaya menyelesaikan masalah sampah ini selambatnya pekan ini. “Sampai hari Minggu (7/2), tidak ada yang buang sampah di TPA Sumompo. Untuk sementara langsung dibuang ke TPA Kulo, Minahasa,” ujarnya.

Dia juga menginstruksi petugas kebersihan untuk bekerja maksimal mengangkut sampah. Supaya Kota Manado bersih. “Kami berterima kasih kepada Gubernur Sulut yang telah membantu armada truk dan alat berat untuk mempercepat pengangkutan sampah,” pungkasnya.

Begitupun dari Kota Tomohon. Sehari Kota Bunga bisa mengoleksi 56 ton sampah. Mayoritas sampah yang dikumpulkan dan nantinya diolah menggunakan sistem sanitary landfield, di TPA Tara-Tara, Kecamatan Tomohon Barat.

Dikatakan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Daerah Kota Tomohon John Kapoh, sejak pandemi masuk ke Kota Bunga efektif Bulan Maret lalu, hingga saat ini cenderung mengalami penurunan.

“Pandemi membuat konsumsi warga menurun, hal ini pun berimplikasi pada konsumsi masyarakat atas jasa yang dihasilkan lewat aktivitas perekonomian. Jika di tahun 2019 lalu, rata-rata per orang menghasilkan 3/4 Kilogram, saat ini tinggal 700 Gram, jika dikonversikan dengan jumlah penduduk sekira 105.000 jiwa. Artinya ada kurang lebih 56 ton sampah yang kita kumpulkan tiap harinya,” beber Kapoh.

Terkait pengaruh sampah pada ekosistem lingkungan, sekaligus sumbangsih ke bencana alam di Kota Sejuk. Kapoh bilang, hal tersebut belum terlalu dirasakan secara keseluruhan di Tomohon. Bentangan luasan daerah yang tak sebesar kabupaten/kota lain. Plus kondisi hutan kota yang relatif masih terjaga. Jadi indikator intensitas bencana alam cenderung sedikit.

“Justru yang ada hanya potensi tanah longsor, dikarenakan kontur tanah di sebagian daerah. Terdiri tanah dari bersifat lilin. Olehnya, penanaman bibit pohon penahan tanah, intens dilakukan pihaknya guna meminimalisir terjadinya longsor maupun amblas, akibat curah hujan deras belakangan,” jelas Kapoh.

Untuk Kabupaten Minahasa, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Vicky Kaloh menyebut, setiap harinya TPA Kulo menampung sekira 25 truk. “Yang rutin bergantian membawa sampah ke TPA Kulo,” sebut dia. Kekinian, kata Kaloh dengan adanya perintah untuk membantu penampungan sampah dari Kota Manado, alat berat juga dikerahkan di TPA Kulo. “Untuk saat ini, memang makin banyak sampah yang masuk. Bahkan truk harus mengantre untuk bergantian membuang sampah di TPA Kulo, namun kapasitasnya masih luas,” tutur Kaloh.

Khusus Minahasa Selatan, pengelolaan diakui pemda setempat, masih dalam tahap wajar. Disampaikan Kadis DLH Minsel Roi Sumangkut, rata-rata timbulan sampah yang masuk ke TPA sebanyak 20 sampai 30 ton per hari. “Itu masih dalam tahap wajar, karena TPA Mobongo menampung sampah dari empat kecamatan,” katanya.

Sementara untuk kesadaran masyarakat membuang sampah, dijelaskannya harus ditunjang juga dengan fasilitas dan regulasi. “Upaya mengubah budaya masyarakat ini sudah dilakukan pemerintah, tapi baru dalam tahapan sosialisasi dan pendidikan dini lewat sekolah adiwiyata. Jadi perlu ada tahapan regulasi melalui perda serta menyiapkan fasilitas sampah yang lengkap agar masyarakat bisa patuh membuang sampah pada tempatnya,” pungkasnya.

Bagaimana dengan wilayah kepulauan? Produksi sampah di Kabupaten Kepulauan Sitaro tiap bulannya mencapai sekitar 240 kubik. Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sitaro Effendi Maluenseng, bahwa di daerah Sitaro terdapat empat Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yakni di Pasar Ulu, Ondong, Tagulandang, dan Kampung Paseng.

Dari empat TPS ini, sampah-sampah lalu diangkut ke tempat pemrosesan akhir. Dijelaskan dulu masih sering disebut tempat pembuangan akhir. Tapi ada perubahan nomenklatur. Karena nantinya pada TPA ada proses pemilahan. Antara sampah plastik (anorganik) dan sampah basah (organik). “Jadi saat sudah dipilah, maka sampah Plastik akan dibawa ke DLH untuk didaur ulang. Ada yang dibuat bunga, pot, dan banyak lagi,” katanya. “Dan tiap bulannya volume sampah di Sitaro mencapai 240 kubik,” ujarnya.

Beralih ke wilayah paling Selatam Sulawesi Utara. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bolmong Selatan (Bolsel) Sugeng Purwono, melalui Kabid Pengelolaan Sampah, Limbah B3 dan Pengendalian Pencemaran Selpiana H Deowal, setiap tahun kurang lebih 7.975,25 M3, produksi sampah di daerah. Total itu, berdasarkan perhitungan total volume sampah dikali Jumlah pengangkutan sampah dalam 1 hari dikali lagi 365 hari. “Jadi, 21,85 M3 kali 1 kali kali 365 hari,” terangnya.

Ditambahkannya, dari total tersebut volume sampah yang ditangani, berkisar 85 persen. “Atau berkisar 6.778,96 M3 dari total sampah yang diproduksi pertahunnya,” tukasnya.

Kembali ke Manado, menyikapi persoalan sampah. Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Olly Dondokambey (OD) memutuskan untuk berkolaborasi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sulut untuk melakukan pembersihan sampah di sejumlah titik di Kota Manado, akhir pekan lalu.

Gubernur OD menugaskan setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemprov Sulut untuk mengutus masing-masing lima orang Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan lima orang Tenaga Harian Lepas (THL) untuk turun lapangan melakukan pembersihan.

“Saya, dan Pak Wagub Steven Kandouw bersama tim Forkopimda dan jajaran Pemprov Sulut telah turun ke masing-masing lokasi untuk melakukan pembersihan. Jadi sudah ada tugas masing-masing OPD yang telah diberikan. Saya juga telah meminta OPD untuk masing-masing menyiapkan satu truk. Dan tadi ada sebanyak 50-60 truk yang mengangkut sampah di Kota Manado. Kolaborasi ini sangat baik, karena menciptakan kebersihan dan keamanan ketika hujan turun,” ungkap Gubernur OD.

OD juga mengatakan, dari kolaborasi dan kegiatan bersih sampah tersebut ada sekira 1.000 ton sampah yang berhasil diangkat. “Kalau catatan yang masuk ke saya itu, sekira 1.000 ton sampah yang berhasil diberikan. Karena hitung saja, setiap truk mengangkut 16 ton, maka dikalikan dengan 60 truk maka sudah 1.000 ton sampah yang berhasil dibersihkan hari ini. Sampah yang kita bersihkan kali ini, ada bermacam-macam. Namun sampah rumah tangga itu masih mendominasi. Dengan ini membuktikan bahwa kesadaran masyarakat akan budaya kebersihan harus ditingkatkan. Peran pemerintah di kabupaten/kota harus lebih intens lagi,” bebernya.

OD juga mengatakan bahwa, kegiatan tersebut selain melibatkan Forkopimda, Pemerintah Kabupaten Minahasa juga digandeng dalam upaya pembersihan sampah. “Karena melihat keadaan saat ini Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumompo sudah penuh dan tidak dapat lagi menampung sampah yang ada karena itu harus dicarikan solusinya. Makanya karena tempat pembuangan sampah sudah mulai penuh, makanya kita melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Minahasa. Karena itu, karena tidak bisa dibuang di Manado, maka semua truk yang mengangkut sampah diarahkan ke TPA Minahasa,” ujarnya.

Selain itu, OD juga menuturkan bahwa telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Bitung untuk melihat kondisi sampah di daerah tersebut. “Saya sudah koordinasikan dengan Pemerintah Kabupaten Minahasa dan Kota Bitung terkait persampahan. Dan saya juga telah mengirimkan beberapa ekskavator di TPA Sumompo untuk sedikit diratakan timbunan sampahnya agar nantinya dapat dipergunakan lagi. Ini kita libatkan semua, harus serentak dan Fokopimda memang kita libatkan karena ini adalah tanggung jawab kita semua,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemprov Sulut Marly Gumalag mengatakan, diperkirakan sebanyak 1000 ton sampah yang diangkut Pemprov Sulut ke TPA Kulo sehingga dapat mengatasi penumpukan sampah di Manado.

“Pak Gubernur Olly Dondokambey telah mengerahkan semua OPD masing-masing 1 truk untuk membantu melakukan pembersihan. Setiap OPD juga wajib menugaskan 5 PNS dan 5 THL untuk turun membersihkan sampah. Jadi perhatian Gubernur Olly dalam penanganan sampah sangat tepat agar tak menimbulkan masalah baru terutama penyakit baru karena sampah pasca banjir dan longsor ini,” katanya.

“Tapi ironis dengan kondisi Manado kini sebagai kota terkotor di Indonesia. Bukankah kebersihan bagian dari iman. Kalau kotanya tidak bersih, berarti Manado tidak lagi beriman,” ujar sejumlah warga Manado yang tinggal di perantauan. Sementara itu, Rommy Johanis saat ditemui koran ini menyatakan bahwa kesadaran masyarakat untuk hidup bersih sangat rendah. “Sampah ini hanya dibuang di pinggir jalan. Baliho jangan buang sampah ada dimana-mana. Karena memang kesadaran masyarakat masih kurang. Juga sistem persampahan di Kota Manado masih minim,” kuncinya.(*)

Artikel Terbaru