30C
Manado
Kamis, 25 Februari 2021

TPA `Liar` Menjamur

MANADOPOST.ID—Sejumlah titik diubah menjadi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah oleh masyarakat. Tak hanya jurang, pinggiran jalan tak lepas dari tangan-tangan warga tak bertanggungjawab.

Mulai dari wilayah Tareran. Sepanjang jalan banyak sampah plastik dibuang sembarangan. Jurang tinggi di pinggir jalan menjadi lokasi favorit warga membuang sampah. Begitu juga di wilayah Minsela. Terpantau banyak sampah berserakkan di pinggiran jalan. Rommy, warga di Kecamatan Kumelembuai salah satunya yang mengaku pernah melakukan hal tersebut.

“Ya karena tidak ada pilihan lain. Kalau sampah sudah menumpuk, pasti harus dibuang. Kalau tidak, cari jurang dibakar. Karena di wilayah kami belum ada TPAnya,” katanya polos.
Terkait hal itu, Pengamat Lingkungan Hidup dan Alam Thein Pakasi mengatakan, untuk menekan kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan, perlu fasilitas yang menunjang.

“Kalau di wilayah Kota Amurang dan sebagian Tumpaan saya lihat kesadaran membuang sampah pada tempatnya cukup tinggi. Itu karena pengelolaan sampah dinas terkait efektif. Bak-bak sampah ada, petugas pengangkat sampah juga setiap pagi datang angkat dan tempat pembuangan akhir (TPA) juga ada di Mobongo. Jadi kalau fasilitasnya ada, warga akan menjadi terbiasa membuang sampah pada tempatnya,” jelasnya.

Berbeda dengan di luar Kota Amurang, ditambahkannya, fasilitas-fasilitas tersebut belum menjangkau wilayah Minsel yang jauh.

“Seperti wilayah Tareran, Sinonsayang dan Minsela, fasilitas seperti TPA belum ada. Sehingga warga mencari tempat buang sendiri, dan jadilah pinggir jalan, jurang-jurang jadi tempat pembuangan akhirnya. Sehingga menurut saya, fasilitas itu yang harus diadakan di wilayah-wilayah kecamatan yang jauh,” timpalnya.

Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Minsel Roi Sumangkut membenarkan kalau tingkat kesadaran masyarakat membuang sampah juga perlu didukung oleh fasilitas dan regulasi yang mengatur.

“Upaya mengubah budaya masyarakat ini sudah dilakukan pemerintah tapi baru dalam tahapan sosialisasi dan pendidikan dini lewat sekolah adiwiyata. Jadi perlu ada tahapan regulasi melalui perda serta menyiapkan fasilitas sampah yang lengkap,” katanya saat dihubungi, Selasa (9/2).

Dia juga menjelaskan, sampai saat ini TPA Mobongo masih aktif mengelolah sampah-sampah yang ada. “Rata-rata timbunan sampah yang masuk ke TPA Mobongo itu 20 sampai 30 ton per harinya. Itu hanya sampah dari empat kecamatan saja yaitu Kecamatan Amurang, Kecamatan Amurang Timur, Amurang Barat dan Tumpaan,” bebernya.

Untuk wilayah kecamatan yang jauh, tambahnya, memang belum ada fasilitas TPA. “Untuk TPA di Minsel baru ada TPA Mobongo saja, jadi memang perlu ada pembangunan di kecamatan lain yang kapasitasnya sama dengan Mobongo minimal mencakup empat kecamatan.

Sebenarnya, kita sudah sempat ajuhkanbke Kementerian PU, hanya saja syaratnya wajib ada lahan yang siap. Karena pembangunan TPA oleh Kementrian PU bisa dilakukan setelah menyerahkan sertifikat tanah yang menyatakan bahwa itu milik pemerintah, dengan luasan yg sesuai standar. Lalu sudah pernah usulkan bangun TPA di Kecamatan Tareran, tapi lagi-lagi terkendala di lahannya,” pungkas Sumangkut.(rgm/gel)

Artikel Terbaru