32.4 C
Manado
Rabu, 6 Juli 2022

Sosok Tengku Zulkarnain, Ulama Kontroversial yang Meninggal Hari Ini

MANADOPOST.ID – Meninggalnya Ustadz Tengku Zulkarnain, membawa dukacita mendalam bagi kaum muslim di Indonesia.

Pasalnya meski dikenal sebagai sosok yang kontroversial, alumni 212 tersebut, merupakan teladan bagi kaum muslim di Indonesia.

Seperti apa sosoknya? Berikut dilansir dari Wikipedia.

Tengku Zulkarnain

Tengku Zulkarnain, lahir di Medan, Sumatra Utara, 14 Agustus 1963 dan meninggal pada usia 57 tahun di Pekanbaru, Riau, (10/5). Ia memiliki seorang istri dan dua putri.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Zulkarnain, merupakan seorang ustadz berdarah Melayu Deli dan Riau. Ia menempuh pendidikan S1 di Universitas Sumatra Utara, Jurusan Sastra Inggris.

Dalam pendidikan Agama Islam, ia belajar ilmu fiqih dari gurunya bernama Syaikh Dahlan Musa (Fiqih) dan ilmu Al-Qur’an dari Syaikh Azro’i Abdul Rauf.

Tengku diketahui pernah menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia, 2015-2020.

Selain di MUI, Ustadz Tengku juga aktif sebagai Ketua Majelis Fatwa untuk PP Mathla’ul Anwar, sebuah organisasi berfokus pada pendidikan Islam.

Ia pernah menulis buku Salah Faham: jawaban atas buku rapot merah Aa’ Gym.

Tengku Zulkarnain

Pada 2017, Tengku sempat ditolak warga Dayak Sintang saat berkunjung ke Kalimantan.

Tengku juga sempat ikut serta dalam Aksi Bela Islam serta aksi-aksi yang dilakukan alumni 212 pada masa setelahnya.

Dalam pemilihan umum Presiden Indonesia 2019, ia tercatat sebagai salah satu pendukung pasangan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno.

Pada Agustus 2019, ia menuai sorotan karena menyebut letak calon ibukota Indonesia yang baru yang terletak di Kalimantan Timur berada di garis lurus dengan Beijing, ibukota Republik Rakyat Tiongkok, dan berpendapat bahwa letak ibukota tersebut dapat dengan mudah dijangkau dengan rudal.

Tengku Zulkarnain

Purnawirawan panglima TNI Moeldoko menyatakan bahwa rudal saat ini tidak lagi memiliki target garis lurus.

Dalam cuitan di Twitter, ia mengaku mengikuti Jamaah Tabligh sejak 1988.[7] Pada Juni 2020.

Ia juga mempermasalahkan isi dari artikel Pembantaian di Indonesia 1965–1966 dan Partai Komunis Indonesia di Wikipedia bahasa Indonesia dan membuat tagar #BoikotWikipedia yang menjadi trending topic pada 3 Juni 2020. (tr-01/Wikipedia)

MANADOPOST.ID – Meninggalnya Ustadz Tengku Zulkarnain, membawa dukacita mendalam bagi kaum muslim di Indonesia.

Pasalnya meski dikenal sebagai sosok yang kontroversial, alumni 212 tersebut, merupakan teladan bagi kaum muslim di Indonesia.

Seperti apa sosoknya? Berikut dilansir dari Wikipedia.

Tengku Zulkarnain

Tengku Zulkarnain, lahir di Medan, Sumatra Utara, 14 Agustus 1963 dan meninggal pada usia 57 tahun di Pekanbaru, Riau, (10/5). Ia memiliki seorang istri dan dua putri.

Zulkarnain, merupakan seorang ustadz berdarah Melayu Deli dan Riau. Ia menempuh pendidikan S1 di Universitas Sumatra Utara, Jurusan Sastra Inggris.

Dalam pendidikan Agama Islam, ia belajar ilmu fiqih dari gurunya bernama Syaikh Dahlan Musa (Fiqih) dan ilmu Al-Qur’an dari Syaikh Azro’i Abdul Rauf.

Tengku diketahui pernah menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia, 2015-2020.

Selain di MUI, Ustadz Tengku juga aktif sebagai Ketua Majelis Fatwa untuk PP Mathla’ul Anwar, sebuah organisasi berfokus pada pendidikan Islam.

Ia pernah menulis buku Salah Faham: jawaban atas buku rapot merah Aa’ Gym.

Tengku Zulkarnain

Pada 2017, Tengku sempat ditolak warga Dayak Sintang saat berkunjung ke Kalimantan.

Tengku juga sempat ikut serta dalam Aksi Bela Islam serta aksi-aksi yang dilakukan alumni 212 pada masa setelahnya.

Dalam pemilihan umum Presiden Indonesia 2019, ia tercatat sebagai salah satu pendukung pasangan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno.

Pada Agustus 2019, ia menuai sorotan karena menyebut letak calon ibukota Indonesia yang baru yang terletak di Kalimantan Timur berada di garis lurus dengan Beijing, ibukota Republik Rakyat Tiongkok, dan berpendapat bahwa letak ibukota tersebut dapat dengan mudah dijangkau dengan rudal.

Tengku Zulkarnain

Purnawirawan panglima TNI Moeldoko menyatakan bahwa rudal saat ini tidak lagi memiliki target garis lurus.

Dalam cuitan di Twitter, ia mengaku mengikuti Jamaah Tabligh sejak 1988.[7] Pada Juni 2020.

Ia juga mempermasalahkan isi dari artikel Pembantaian di Indonesia 1965–1966 dan Partai Komunis Indonesia di Wikipedia bahasa Indonesia dan membuat tagar #BoikotWikipedia yang menjadi trending topic pada 3 Juni 2020. (tr-01/Wikipedia)

Most Read

Artikel Terbaru

/