alexametrics
30.4 C
Manado
Selasa, 24 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

Mal Cs Dinilai Lebih Steril dari Pasar

MANADOPOST.ID—Penutupan mal dan tempat usaha lainnya oleh pemerintah, menimbulkan ‘kecemburuan’ sosial. Karena di lain pihak, pusat keramaian seperti pasar tradisional masih buka.

(Baca: Fase Dua New Normal, Mal Cs Bisa Beroperasi)

Padahal, protokoler kesehatan banyak dilanggar di pasar. Sehingga menyebabkan pedagang ada yang reaktif sampai positif Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Salah satu warga Kota Manado Kornelius mengatakan, kalau dibandingkan mal dan pasar tradisional, mal itu lebih teratur dibandingan pasar tradisional.

“Karena di mal pasti semua mengikuti protokoler kesehatan. Sedangkan di pasar tradisional pedagang sulit diatur sehingga penerapan protokoler kesesehatan susah dilaksanakan,” ujarnya.

Lanjutnya, kemudian di mal-mal pintu masuk sedikit, sehingga gampang mengontrol para pengunjung maupun karyawan untuk menggunakan masker selama beraktivitas. Kemudian yang masuk pasti diwajibkan mencuci tangan terlebih dahulu dan dilakukan mengukuran suhu tubuh.

“Di pasar itu pintu banyak, sehingga untuk mengontrol pedagang maupun pengunjung menggunakan masker sulit. Masuk juga tidak diwajibkan mencuci tangan dan tidak diperiksa suhu tubuh,” ungkapnya.

Senada Verry Angow. Dia mengungkapkan, kalau dibandingkan dengan fasilitas umum lainnya, masih di dalam mal yang lebih steril. Karena sudah mengikuti protokoler kesehatan. Dibandingkan dengan fasilitas umum lain seperti di pasar.

“Untuk itu pemerintah kota harus punya kebijakan untuk memperhatikan pekerja-pekerja di mal. Kasihan kami. Apakah selama mall belum dibuka pemerintah bisa membiayai kehidupan keluarga kami,” tanya.

Sambung Novlin. Dia mengatakan, bagaimana nasib pekerja mall. “Bagaimana kami menghidupi keluarga. Mohon untuk dipertimbagkan lagi. Kasihan kami butuh uang,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (SatPol-PP) Yohanis Waworuntu mengatakan, penutupan mal sudah sesuai dengan aturan. Selama masa darurat Covid-19 belum dicabut pemerintah pusat.

(Baca: Bantah Pernyataan Waworuntu, Netizen: Bapak Enak, Gaji Jalan Terus)

“Jika ada komplain dengan penutupan mal, itu sudah menjadi risiko. Karena penutupan mal dilakukan untuk memutus mata rantai Covid-19,” sebutnya.

Dia menambahkan, lebih baik menderita terlebih dahulu dari pada menyesal kemudian karena Covid-19. “Kami berharap masyarakat dapat memaklumi dengan penutupan ini. Karena ini demi kebaikan bersama,” tambahnya.

Terpisah, Ekonom Noldy Tuerah PhD mengatakan, pemberlakuan new normal harus didukung oleh ketaatan semua pihak. Dalam hal protokol kesehatan.

Menurutnya, hal ini pun butuh sosialisasi secara komprehensif agar dipahami.  Dia menuturkan pasar dan mal merupakan tempat berkumpulnya orang.  Sehingga jika sudah dibuka dan berjalan normal kembali, wajib menaati protokol kesehatan.Baik pedagang dan juga pembeli.

Akademisi Unsrat itu pun mengimbau, pemerintah harus tegas dan adil dalam menerapkan aturan. “Agar penyebaran Covid-19 bisa ditekan dan perekonomian berangsur pulih karena penerapan new normal,” tutupnya.(ite/ayu/gnr)

PERBANDINGAN  PROTAP KESEHATAN  MAL DAN PASAR MAL:

– Lebih teratur

– Akses masuk terbatas

– Pengunjung dan karyawan wajib pakai masker

– Jaga Jarak

– Rutin semprot disinfektan

– Masuk harus cuci tangan

– Wajib mengukur suhu tubuh

– Memiliki sekuriti yang mengontrol pengunjung

– Memiliki atrium yang luas

PASAR:

– Tidak teratur

– Jarak pembeli-penjual tak teratur

– Pembeli-Penjual ada yang tak pakai masker

– Masuk tidak cuci tangan

– Penyemprotan disenfektan jarang

– Pintu masuk banyak

– Tidak ada alat pengukur suhu tubuh

– Tidak memiliki sekuriti

– Tempat berjualan berdesakan

*Sumber: Diolah Manado Post

MANADOPOST.ID—Penutupan mal dan tempat usaha lainnya oleh pemerintah, menimbulkan ‘kecemburuan’ sosial. Karena di lain pihak, pusat keramaian seperti pasar tradisional masih buka.

(Baca: Fase Dua New Normal, Mal Cs Bisa Beroperasi)

Padahal, protokoler kesehatan banyak dilanggar di pasar. Sehingga menyebabkan pedagang ada yang reaktif sampai positif Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Salah satu warga Kota Manado Kornelius mengatakan, kalau dibandingkan mal dan pasar tradisional, mal itu lebih teratur dibandingan pasar tradisional.

“Karena di mal pasti semua mengikuti protokoler kesehatan. Sedangkan di pasar tradisional pedagang sulit diatur sehingga penerapan protokoler kesesehatan susah dilaksanakan,” ujarnya.

Lanjutnya, kemudian di mal-mal pintu masuk sedikit, sehingga gampang mengontrol para pengunjung maupun karyawan untuk menggunakan masker selama beraktivitas. Kemudian yang masuk pasti diwajibkan mencuci tangan terlebih dahulu dan dilakukan mengukuran suhu tubuh.

“Di pasar itu pintu banyak, sehingga untuk mengontrol pedagang maupun pengunjung menggunakan masker sulit. Masuk juga tidak diwajibkan mencuci tangan dan tidak diperiksa suhu tubuh,” ungkapnya.

Senada Verry Angow. Dia mengungkapkan, kalau dibandingkan dengan fasilitas umum lainnya, masih di dalam mal yang lebih steril. Karena sudah mengikuti protokoler kesehatan. Dibandingkan dengan fasilitas umum lain seperti di pasar.

“Untuk itu pemerintah kota harus punya kebijakan untuk memperhatikan pekerja-pekerja di mal. Kasihan kami. Apakah selama mall belum dibuka pemerintah bisa membiayai kehidupan keluarga kami,” tanya.

Sambung Novlin. Dia mengatakan, bagaimana nasib pekerja mall. “Bagaimana kami menghidupi keluarga. Mohon untuk dipertimbagkan lagi. Kasihan kami butuh uang,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (SatPol-PP) Yohanis Waworuntu mengatakan, penutupan mal sudah sesuai dengan aturan. Selama masa darurat Covid-19 belum dicabut pemerintah pusat.

(Baca: Bantah Pernyataan Waworuntu, Netizen: Bapak Enak, Gaji Jalan Terus)

“Jika ada komplain dengan penutupan mal, itu sudah menjadi risiko. Karena penutupan mal dilakukan untuk memutus mata rantai Covid-19,” sebutnya.

Dia menambahkan, lebih baik menderita terlebih dahulu dari pada menyesal kemudian karena Covid-19. “Kami berharap masyarakat dapat memaklumi dengan penutupan ini. Karena ini demi kebaikan bersama,” tambahnya.

Terpisah, Ekonom Noldy Tuerah PhD mengatakan, pemberlakuan new normal harus didukung oleh ketaatan semua pihak. Dalam hal protokol kesehatan.

Menurutnya, hal ini pun butuh sosialisasi secara komprehensif agar dipahami.  Dia menuturkan pasar dan mal merupakan tempat berkumpulnya orang.  Sehingga jika sudah dibuka dan berjalan normal kembali, wajib menaati protokol kesehatan.Baik pedagang dan juga pembeli.

Akademisi Unsrat itu pun mengimbau, pemerintah harus tegas dan adil dalam menerapkan aturan. “Agar penyebaran Covid-19 bisa ditekan dan perekonomian berangsur pulih karena penerapan new normal,” tutupnya.(ite/ayu/gnr)

PERBANDINGAN  PROTAP KESEHATAN  MAL DAN PASAR MAL:

– Lebih teratur

– Akses masuk terbatas

– Pengunjung dan karyawan wajib pakai masker

– Jaga Jarak

– Rutin semprot disinfektan

– Masuk harus cuci tangan

– Wajib mengukur suhu tubuh

– Memiliki sekuriti yang mengontrol pengunjung

– Memiliki atrium yang luas

PASAR:

– Tidak teratur

– Jarak pembeli-penjual tak teratur

– Pembeli-Penjual ada yang tak pakai masker

– Masuk tidak cuci tangan

– Penyemprotan disenfektan jarang

– Pintu masuk banyak

– Tidak ada alat pengukur suhu tubuh

– Tidak memiliki sekuriti

– Tempat berjualan berdesakan

*Sumber: Diolah Manado Post

Most Read

Artikel Terbaru

/