25.4 C
Manado
Minggu, 14 Agustus 2022

Sri Mulyani Kesal dan Todong Janji dari…

MANADOPOST.ID-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menceritakan kekesalannya terhadap negara maju, seperti Amerika Serikat (AS) dan lainnya terkait dengan kondisi bumi yang semakin panas dan mengancam keberlangsungan makhluk hidup.

 

Menurutnya negara maju berperan besar dalam kotornya dunia hingga muncul pemanasan global melalui pembangunan yang dijalankan selama ini. Sementara negara berkembang yang baru memulai pembangunan, dipaksa memikirkan cara membersihkannya.

 

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

“Sebagai ketua koalisi ya saya nagih, kan yang ngotorin dunia banyakan negara maju, kok minta negara-negara macam kita untuk bersihin lebih banyak kasih. Uangnya dong, katanya mau ngasih US$ 100 miliar per tahun dan belum sampai sekarang,” ungkap Sri Mulyani saat berbincang dengan Gita Wirjawan dikutip, Kamis (9/12/2021).

 

Sri Mulyani di beberapa forum internasional menyampaikan hal tersebut. Apalagi posisinya kini, Ketua Bersama Koalisi Menteri Keuangan untuk Aksi Perubahan Iklim di mana salah satu misinya adalah menagih janji negara maju.

 

Sementara dari dalam negeri, Sri Mulyani menyusun kebijakan agar pemanasan bumi bisa diredam. Salah satunya adalah menciptakan pasar karbon sekaligus pengenaan pajak. Rencananya pajak karbon akan dimulai pada tahun depan untuk pembangkit listrik dengan sumber energi batu bara.

 

“Begitu polusi dihargai, maka si pemilik pabrik mulai mikir, makanya dicari teknologi agar tidak perlu bayar. Kalau CO2 tak dihargai maka ya orang ya pollute saja,” jelasnya.

 

Sri Mulyani menyadari ini persoalan berat, karena menyangkut pola kebiasaan masyarakat dan pelaku usaha dalam waktu yang panjang. Begitu juga dengan pemerintah, harus memastikan kebijakan yang dijalankan harus kredibel. “Semua negara harus punya komitmen dan untuk deliver itu butuh teknologi, uang dan policy,” ujarnya.

 

Persoalan ini juga dibicarakan dengan dunia usaha. Pemerintah akan menjalankan secara bertahap agar dunia usaha tidak kaget dan alami disrupsi, kemudian bisa menjatuhkan ekonomi.

 

“Agar ekonomi kita tidak rusak, lebih dini dan tak perlu untuk persoalan masa depan. Jadi kita mencari win win,” tegas Sri Mulyani.(cnbc)

MANADOPOST.ID-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menceritakan kekesalannya terhadap negara maju, seperti Amerika Serikat (AS) dan lainnya terkait dengan kondisi bumi yang semakin panas dan mengancam keberlangsungan makhluk hidup.

 

Menurutnya negara maju berperan besar dalam kotornya dunia hingga muncul pemanasan global melalui pembangunan yang dijalankan selama ini. Sementara negara berkembang yang baru memulai pembangunan, dipaksa memikirkan cara membersihkannya.

 

“Sebagai ketua koalisi ya saya nagih, kan yang ngotorin dunia banyakan negara maju, kok minta negara-negara macam kita untuk bersihin lebih banyak kasih. Uangnya dong, katanya mau ngasih US$ 100 miliar per tahun dan belum sampai sekarang,” ungkap Sri Mulyani saat berbincang dengan Gita Wirjawan dikutip, Kamis (9/12/2021).

 

Sri Mulyani di beberapa forum internasional menyampaikan hal tersebut. Apalagi posisinya kini, Ketua Bersama Koalisi Menteri Keuangan untuk Aksi Perubahan Iklim di mana salah satu misinya adalah menagih janji negara maju.

 

Sementara dari dalam negeri, Sri Mulyani menyusun kebijakan agar pemanasan bumi bisa diredam. Salah satunya adalah menciptakan pasar karbon sekaligus pengenaan pajak. Rencananya pajak karbon akan dimulai pada tahun depan untuk pembangkit listrik dengan sumber energi batu bara.

 

“Begitu polusi dihargai, maka si pemilik pabrik mulai mikir, makanya dicari teknologi agar tidak perlu bayar. Kalau CO2 tak dihargai maka ya orang ya pollute saja,” jelasnya.

 

Sri Mulyani menyadari ini persoalan berat, karena menyangkut pola kebiasaan masyarakat dan pelaku usaha dalam waktu yang panjang. Begitu juga dengan pemerintah, harus memastikan kebijakan yang dijalankan harus kredibel. “Semua negara harus punya komitmen dan untuk deliver itu butuh teknologi, uang dan policy,” ujarnya.

 

Persoalan ini juga dibicarakan dengan dunia usaha. Pemerintah akan menjalankan secara bertahap agar dunia usaha tidak kaget dan alami disrupsi, kemudian bisa menjatuhkan ekonomi.

 

“Agar ekonomi kita tidak rusak, lebih dini dan tak perlu untuk persoalan masa depan. Jadi kita mencari win win,” tegas Sri Mulyani.(cnbc)

Most Read

Artikel Terbaru

/