alexametrics
26.4 C
Manado
Kamis, 26 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

PANAS! Luhut Klaim Tak Pernah Minta Presiden Tiga Periode, Malah Nantang BEM UI, Siapa yang Bilang?

MANADOPOST.ID–Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) melakukan unjuk rasa di Balai Sidang UI, Depok karena kehadirian Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan.

Mereka menolak keras atas wacana perpanjangan masa jabatan Presiden RI dan penundaan penyelenggaran Pemilu 2024 mendatang.

Luhut saat mendatangi massa BEM UI yang melakukan ujuk rasa, mengklaim tidak pernah mengusulan agar jabatan Joko Widodo (Jokowi) sebagai Presiden RI bisa diperpanjang.

“Siapa yang bilang saya minta supaya presiden tiga periode. Saya tanya siapa?” tanya Luhut kepada massa BEM UI di Depok, Jawa Barat, Selasa (12/4). “Kita baca di media Pak,” timpal peserta aksi.

Luhut pun meminta agar mahasiswa yang tergabung dalam BEM UI bisa menelaah yang ia sampaikannya tersebut. Pasalnya dia menyebut tidak pernah mengusulkan perpanjangan jabatan kepala negara.

“Kalau kau baca dari media, ya dengar dari saya dong, saya enggak pernah bilang begitu. Dengerin ya, dengar jangan marah-marah. Saya tidak pernah mengatakan Presiden tiga periode, enggak pernah,” tegas Luhut.

Luhut juga menegaskan, yang ia sampaikan adalah adanya aspirasi dari masyarakat yang ingin agar Pemilu 2024 ditunda pelaksanaanya.

“Yang pernah saya katakan banyak di bawah (masyarakat-Red) itu minta pemilu di tunda. Apa salah? Kamu (massa BEM UI) ngomong gini salah, enggak kan?” ungkapnya

Sebelumnya, Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan mengaku memiliki data dari rakyat Indonesia yang menginginkan agar Pemilu 2024 ditunda pelaksanaanya. Sehingga wacana penundaan Pemilu 2024 bedasarkan suara dari rakyat Indonesia.

“Kita kan punya big data, dari big data itu 110 juta itu macam-maca adari Facebook dan segala macam, karena orang main Twitter kira-kira 110 juta,” kata Luhut.

Luhut menuturkan, dari big data tersebut masyarakat kelas menengah ke bawah menginginkan tidak ingin adanya kegaduhan politik di Indonesia akibat Pemilu 2024. Bahkan masyarakat takut adanya pembelahan, seperti di Pilpres 2019 lalu yang muncul ‘kecebong’ dan ‘kampret’.

Bahkan Luhut mengungkapkan dari big data tersebut masyarakat juga tidak ingin Indonesia dalam keadaan susah akibat pandemi Covid-19, namun malah menghaburkan uang demi penyelenggaran Pemilu 2024. Pasalnya menurut Luhut, Pemilu dan Pilkada serentak 2024 bisa menghabiskan anggaran negara sebesar Rp 110 triliun.(Jawapos)

MANADOPOST.ID–Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) melakukan unjuk rasa di Balai Sidang UI, Depok karena kehadirian Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan.

Mereka menolak keras atas wacana perpanjangan masa jabatan Presiden RI dan penundaan penyelenggaran Pemilu 2024 mendatang.

Luhut saat mendatangi massa BEM UI yang melakukan ujuk rasa, mengklaim tidak pernah mengusulan agar jabatan Joko Widodo (Jokowi) sebagai Presiden RI bisa diperpanjang.

“Siapa yang bilang saya minta supaya presiden tiga periode. Saya tanya siapa?” tanya Luhut kepada massa BEM UI di Depok, Jawa Barat, Selasa (12/4). “Kita baca di media Pak,” timpal peserta aksi.

Luhut pun meminta agar mahasiswa yang tergabung dalam BEM UI bisa menelaah yang ia sampaikannya tersebut. Pasalnya dia menyebut tidak pernah mengusulkan perpanjangan jabatan kepala negara.

“Kalau kau baca dari media, ya dengar dari saya dong, saya enggak pernah bilang begitu. Dengerin ya, dengar jangan marah-marah. Saya tidak pernah mengatakan Presiden tiga periode, enggak pernah,” tegas Luhut.

Luhut juga menegaskan, yang ia sampaikan adalah adanya aspirasi dari masyarakat yang ingin agar Pemilu 2024 ditunda pelaksanaanya.

“Yang pernah saya katakan banyak di bawah (masyarakat-Red) itu minta pemilu di tunda. Apa salah? Kamu (massa BEM UI) ngomong gini salah, enggak kan?” ungkapnya

Sebelumnya, Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan mengaku memiliki data dari rakyat Indonesia yang menginginkan agar Pemilu 2024 ditunda pelaksanaanya. Sehingga wacana penundaan Pemilu 2024 bedasarkan suara dari rakyat Indonesia.

“Kita kan punya big data, dari big data itu 110 juta itu macam-maca adari Facebook dan segala macam, karena orang main Twitter kira-kira 110 juta,” kata Luhut.

Luhut menuturkan, dari big data tersebut masyarakat kelas menengah ke bawah menginginkan tidak ingin adanya kegaduhan politik di Indonesia akibat Pemilu 2024. Bahkan masyarakat takut adanya pembelahan, seperti di Pilpres 2019 lalu yang muncul ‘kecebong’ dan ‘kampret’.

Bahkan Luhut mengungkapkan dari big data tersebut masyarakat juga tidak ingin Indonesia dalam keadaan susah akibat pandemi Covid-19, namun malah menghaburkan uang demi penyelenggaran Pemilu 2024. Pasalnya menurut Luhut, Pemilu dan Pilkada serentak 2024 bisa menghabiskan anggaran negara sebesar Rp 110 triliun.(Jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/