25C
Manado
Senin, 1 Maret 2021

In Memoriam Sinyo Harry Sarundajang

51 Tahun Mengabdi untuk Negeri, Ini Jejak Karir SHS

MANADOPOST.ID–Putra terbaik Sulawesi Utara ini, merupakan yang paling lama pengabdiannya bagi bangsa dan negara. Sekira 50 tahun menjadi abdi masyarakat. Bahkan sejak Januari 1970 sampai Januari 2021, tidak pernah tanpa jabatan (non job).

Bahkan sebelum itu, di usia belia (25 tahun), Sinyo sudah menjadi pegawai Dosen di Fakultas Sosial Politik Universitas Sam Ratulangi Manado dengan mata kuliah Ilmu Politik.
Kemudian tahun 1974, Dosen di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri Manado dengan mata kuliah Administrasi Negara.

Karir birokrat Sinyo bukan karbitan. Ia memiliki basic disiplin ilmu yang kuat, sehingga di jajaran PNS baru di Pemprov, Sinyo paling menonjol. Tak heran tahun 1974, Gubernur saat itu Jenderal, sapaan akrab Hein Victor Worang, melirik pegawai muda ini untuk diberikan tanggungjawab besar sebagai Kepala Direktorat Keamanan dan Politik pada Direktorat Sospol Dati I Sulut.

Worang melihat ada potensi besar dalam diri Sinyo, karena itu pada 1975, Gubernur Worang mengirim Sinyo untuk mengikuti tugas belajar mendalami Administrasi Teritorial di Institute International Administration Publique Francaise, Perancis. Di Perancis, Sinyo menjadi lulusan terbaik dan mengalahkan mahasiswa-mahasiswa dari negara lain. Bahkan di Perancis, Sinyo menerima penghargaan Certificate Asseduite Cours de Perfectionmeet du Francais Universite de Nice.

Sekembali dari Perancis, tahun 1976, Sinyo menjadi konseptor Gubernur Worang. Sinyo yang selalu menyusun pidato Worang. Walau pun sering dimarahi Worang, tetapi Sinyo sangat disayangi oleh Gubernur Worang. Karena itu Sinyo juga banyak belajar dari sang Jenderal.

Worang kemudian memberikan kepercayaan yang lebih besar, menjadi Kepala Biro Pemerintahan Umum Kantor Gubernur. Ia bertugas dari tahun 1977-1978. Sinyo mencatat sejarah menjadi pejabat eselon II di usia yang masih sangat muda 32 tahun.

Lebih hebat lagi, di usia yang masih 33 tahun (1978), Sinyo sudah mencapai karir birokrat tertinggi. Ia ditunjuk oleh Gubernur Worang menjadi Pj Sekretaris Wilayah Daerah Kabupaten atau Sekwilda Kabupaten Minahasa. Saat itu Minahasa belum dimekarkan, terbentang dari Likupang sampai Poigar. Tahun 1981, Kepala Biro Penyelenggaran Pemilu Provinsi Sulawesi Utara.

Tahun 1983, diangkat menjadi Sekretaris Daerah Kabupaten Minahasa. Sinyo menjadi Sekda sampai 1986. Bahkan ayahnya saat itu harus memberi hormat ketika ketemu di saat dinas. Tetapi di rumah, Sinyo harus tunduk. Karena saat ayahnya menjadi Camat, Sinyo atasannya sebagai Sekwilda.

Sepanjang sejarah, belum pernah ada pejabat yang menjadi sekretaris daerah di usia yang masih 33 tahun. Ayah Sinyo bahkan yang saat itu menjabat camat, tidak percaya melihat anaknya dilantik oleh Gubernur Worang menjadi Sekwilda. Ayahnya bahkan tidak terima diperintah oleh anaknya. ‘’Anak spanggal sudah menjadi sekda,’’ kata ayah Sinyo saat kaget melihat anaknya dilantik. Dan memang, saat Sinyo menjadi Sekda, semua bawahannya lebih tua dari Sinyo.

Tetapi di dalam lubuk hati paling dalam, ayahnya sangat bangga. Apalagi ibunya, yang selalu membanggakan hasil jerih payahnya menyekolahkan Sinyo. Kisah anak Sekda dan ayah camat ini, belum pernah ada dalam sejarah.

Di usia 41 tahun, ia dipromosikan untuk mempersiapkan Bitung dari kecamatan menjadi Kota Administratif. Tahun 1986, Sinyo menjadi Wali Kota Kota Administratif Bitung, kemudian 1990 Pj. Wali Kotamadya Bitung, dan 1991-2000 menjadi Wali Kota Bitung.
Bitung kemudian menjadi pilot projek nasional kota administratif pertama di Indonesia. Sinyo menjadi Wali Kota Bitung terlama (14 tahun) tiga periode dari 1986 sampai 2000. Di masa itu Ia mengikuti Sespanas (1986) dan Terpadnas (1988).

Sejak tahun 1987 aktif mengikuti kegiatan dari International Union of Local Authorities (IULA) seperti di Roma tahun 1987, Perth tahun 1989, Belgia tahun 1989, Washington DC tahun 1990, Toronto tahun 1993 dan Jakarta tahun 1995.

Setelah dia melepas dua periode sebagai Gubernur Sulut, tak berselang lama, tahun 2018 SHS diberi kepercayaan menjadi Duta Besar RI untuk Filipina sampai dia menghembuskan nafas terakhir pada Sabtu (13/2) subuh.(Tommy Waworundeng)

Artikel Terbaru