29C
Manado
Minggu, 7 Maret 2021

SHS Wafat, Todung Mulya Lubis: Kita Kehilangan Seorang Patriot

MANADO—Kepergian Almarhum SH Sarundajang (SHS) bukan hanya duka Sulawesi Utara. Namun juga Indonesia. Dubes RI untuk Filipina ini meninggalkan jejak bagi kolega-koleganya. Termasuk sesama duta besar. Seperti ditulis Dubes Indonesia untuk Norwegia Todung Mulya Lubis di wall Facebooknya. Dia menilai SHS merupakan sosok patriot yang mengabdikan diri bagi Indonesia. Berikut tulisan Todung Mulya Lubis;

“Sekitar 3 minggu lalu saya bertanya kepada Yudi Fitriandi, diplomat bidang politik di KBRI Oslo, mengenai duta besar kita di Philippine, Sinyo Harry Sarundajang. Ada apa dengan Sarundajang? Duta besar kita itu tak pernah menandatangani brafax (berita rahasia dan berita biasa) dari KBRI Manila. Yang selalu tanda tangan adalah KUAI KBRI Manila. Saya tak berkomunikasi dengan kawan saya itu kecuali kalau saya bertemu di Jakarta ketika ada rapat bersama duta besar lain yang berkumpul di Jakarta. Kawan saya itu punya WA tetapi tak telaten memakai WA. Cucunya selalu membantunya.

Dia juga tak aktif dalam ’grup WA duta besar’. Tapi saya ada feeling bahwa dia sedang tidak sehat. Saya tahu Sarundajang adalah orang yang sangat disiplin, kerja keras dan menikmati pekerjaannya. Tapi dia juga seorang yang kritis walau dia tak menyuarakan kritiknya ke media. Saya mengenalnya sudah cukup lama kala dia menjadi dirjen di kementerian dalam negeri, lalu menjadi gubernur Sulawesi Utara. Saya sering bertemu dan berbincang meski dia selalu menahan diri sebagai pegawai negeri yang tak mau kritiknya muncul ke publik.

Saya menghormati sikapnya tapi saya tahu bahwa dia punya banyak kritik dan memilih melakukannya dari dalam pemerintahan. Ketika kami sama-sama diangkat jadi duta besar, Sarundajang sebagai calon duta besar paling senior diangkat menjadi ketua angkatan. Saya sering duduk bersebelahan dalam orientasi dan acara informal. Dia sangat terbuka dan selalu mendorong saya untuk terus bicara kritis apa adanya. Dia tahu sifat saya yang memang selalu terbuka dan sering tanpa rem. Dalam banyak sesi saya selalu bicara kritis dan dia tersenyum saja. Terakhir, ketika rapat para duta besar, Januari 2020, saya makan siang berdua di Restaurant Shima, Aryaduta Hotel Jakarta.

Dia masih terlihat sehat. Dia masih bicara tentang rencananya untuk memberikan waktunya untuk tanah kelahirannya di Sulawesi Utara pada waktu dia menyelesaikan tugasnya sebagai duta besar. Tapi dia minta saya untuk memberikan lebih banyak waktu buat negara, membantu Jokowi karena dia percaya bahwa Jokowi adalah orang yang harus dibantu karena Indonesia musti diurus oleh semua orang yang punya visi dan integritas. Sekarang dia sudah pergi.

Dalam grup WA duta besar kepergiannya belum muncul, lalu saya cek di berbagai sumber, dan saya yakin dia telah pergi, barulah saya memberitahu pada duta besar tentang kepergiannya. Kita telah kehilangan seorang patriot yang seluruh hidupnya diabdikan buat negara, seorang yang setia dan mencintai negerinya. Doa saya semoga duta besar Sarundajang mendapat tempat yang indah dan damai di surga. Semoga keluarga yang ditinggalkan kuat dan tabah. Selamat Jalan Bung.”(*)

 

Artikel Terbaru