25C
Manado
Senin, 1 Maret 2021

In Memoriam Sinyo Harry Sarundajang

Tak Banyak yang Tahu, Ini Cerita Masa Kecil SHS

MANADOPOST.ID–Tidak ada duanya. Demikian ungkapan banyak orang, melihat perjalanan karir birokrat Sinyo Harry Sarundajang. Sinyo bukan pemimpin karbitan. Dalam tubuhnya, mengalir darah pamong praja. Ayahnya seorang camat dan opanya kepala desa.

Bakat itu, diperkuat oleh Sinyo lewat disiplin ilmu yang dilaluinya di perguruan tinggi. Setelah tamat SMA, ia menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi Manado. Dilanjutkan di Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan, Untag, Jakarta.

Tetapi masa kecil, Sinyo jalaninya dengan keras. Kendati lahir dari keluarga ekonomi mapan, Sinyo tidak dimanja dengan kepunyaan orang tua. Sebagai sulung dari dua adiknya (Yenny dan Rice), Sinyo sudah belajar hidup mandiri terpisah dari orang tua.

Ayahnya bernama Youtje Sarundajang, warga Tataaran Tondano. Ibunya Yulian Liow, warga Kawangkoan. Sinyo tidak lahir di rumah sakit. Sinyo lahir di Lepoh (kobong pece), Desa Talikuran Kecamatan Kawangkoan Kabupaten Minahasa, pada 16 Januari 1945. Kedua orang tuanya kemudian memberi nama dia, Sinyo Harry.

Sinyo lahir di zaman pergolakan. Di masa Sinyo dalam kandungan, ibunya berpindah-pindah dari lokasi penyingkiran yang satu ke lokasi penyingkiran yang lain. Sempat juga menyingkir di Gua Jepang Kawangkoan.

Hampir sembilan bulan dalam kandungan, Sinyo nyaris tidak terawat baik. Ayahnya ketika Ia lahir, bertugas sebagai pasukan TNI Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Setelah Presiden Soekarno memproklamirkan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, kondisi Indonesia termasuk Kawangkoan mulai membaik.

Walau tidak lagi hidup di pengungsian, tetapi ketika kecil, Sinyo mulai belajar hidup mandiri. Tahun 1957, ia dikirim orang tuanya belajar di Sekolah Rakyat Kotamobagu. Di Kotamobagu, ia tinggal bersama kakek dan neneknya.

Kakek Sinyo bernama Hendrik Sarundajang, lahir di Tataaran 9 Januari 1897 dan meninggal di Kotamobagu 5 April 1983. Sedangkan neneknya Margaretha Mamuaja, lahir di Tataaran 25 Juni 1899 dan meninggal di Kotamobagu 11 Juli 1986. Mereka memiliki 9 (sembilan) orang anak. Keluarga ini datang ke Kotamobagu tahun 1928. Saat itu masih 3 orang anak yaitu Jootje (ayah dari Sinyo), Frits, dan Wim Sarundajang.

Selain mendapat pendidikan formal di bangku sekolah, Sinyo lebih banyak mendapat didikan dari kakeknya. Terutama didikan sebagai pemimpin pluralis.

Kakeknya dipilih menjadi Kepala Desa (Sangadi) di Kotamobagu tahun 1933-1935. Ketika itu kerajaan Bolmong diperintah oleh raja Cornelius Manoppo, dan Kotamobagu merupakan sebuah desa, yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Kakeknya tahu menempatkan diri di tanah orang. Kakeknya menjadi garam dan terang. Ia yang mengajarkan masyarakat di sana soal bercocok tanam, khususnya teknologi membajak sawa menggunakan hewan sapi. Karena itu masyarakat Desa Kotamobagu memilihnya menjadi pemimpin. Kendati kakeknya warga minoritas, satu-satunya Kristen dan suku Minahasa. Kakeknya menjadi pemimpin yang pluralis. Sinyo banyak belajar dari kakeknya, bagaimana menjadi pemimpin masyarakat majemuk.(*)

Artikel Terbaru