29.4 C
Manado
Minggu, 20 Juni 2021
spot_img

Kisah Pdt Hans Dajoh, Layani Jenazah dan Pasien Covid-19

MANADOPOST.ID–Melayani sebagai seorang hambah Tuhan di depan pasien dan jenazah Covid-19, sudah jadi aktivitas Pdt Hans Ronny Dajoh MTh. Dirinya telah bertugas melayani untuk 9 pasien positif dan 13 jenazah korban Covid-19. Berikut wawancara Pdt Ronny dengan Manado Post.

Keluarga dan pasien dinilai rindu kehadiran pelayanan di tengah mereka. Sempat datang memakai pakaian pelayanan khas seorang pendeta, dirinya ternyata harus memakai kostum alat pelindung diri (APD). Tak kehabisan akal. Meski telah memakai APD, Pdt Ronny tetap memakai stola pelayanan.

Dirinya sudah bertugas di tiga rumah. Baik mendoakan pasien yang dalam proses penyembuhan maupun mendokan keluarga pasien yang meninggal. Kostum APD harus digunakan setiap pelayanan.

Pemberian diri untuk melayani pasien Covid-19 tak selamanya mulus. Ia rupanya pernah diragukan sebagai seorang pendeta. Hal ini diikisahkan Pdt Ronny -sapaannya-. Bermula ketika dirinya diminta untuk melayani ibadah pemakaman seorang bayi, dengan protokol Covid-19. Keluarganya sempat khawatir dan melarang. Namun keinginan melayani sebagai seorang pelayan Tuhan, membuat pendeta Jemaat GMIM Galilea Teling ini teguh dalam percaya kepada Tuhan.

“Pelayanan Tuhan yang atur. Kalau memang ini panggilan pelayanan yang Tuhan atur. Masing-masing punya bagian. Jangan ada stigma terlalu dalam ketakutan. Sebab roh ketakutan bukan dari Tuhan. Harus ada keberanian pelayanan. Sebab keluarga dan pasien rindu kehadiran pelayan hadir ditengah mereka,” katanya.

Dirinya mengaku, setiap kali pelayanan tak kenal waktu. Pagi, siang, sore dan malam. Juga kadang dini hari. Bahkan ketika usia pelayanan, postingan akun medsos, banjir ribuan komentar dan like. “Saya sempat mengatakan, agar dipanggil dulu pendeta yang melayani di jemaat pasien tersebut, namun banyak yang takut,” ungkapnya menjelaskan terkait pertama kali melayani ibadah pemakaman dengan Protokol Covid-19.

“Sekira 19 Mei lalu. Malamnya saya dipanggil di RS Teling untuk melayani jenazah bayi. Karena protokolnya memang harus diibadahkan di kamar jenazah, kemudian langsung dibawah ke pekuburan untuk dimakamkan. Memang keluarga kebanyakan ingin dibawa ke rumah, untuk ibadah. Namun sesuai protokol tidak boleh,” ungkapnya. Waktu itu, dia agak kurang sehat. Dan keluarga juga tidak mengizinkan.

Tambah Pdt Ronny, waktu itu dirinya datang lengkap dengan pakaian pelayanan dan Alkitab. Namun ternyata harus menggunakan APD. “Karena pikir ibadah pemakaman, pakai baju pelayanan. Malah ditertawakan dokter dan medis. Karena menurut mereka, tidak akan bisa dipakai baju tersebut. Harus menggunakan APD sesuai prosedur,” kenangnya sambil tersenyum. “APD juga dipakaikan agar tidak salah menggunakan. Pun waktu itu bawa Alkitab. Ternyata sudah tidak bisa membaca waktu pakai APD. Jadi bacaan Alkitab dan liturgi pemakaman harus dihafal,” ungkapnya.

Katanya ibadah dilaksanakan dengan unsur liturgi. Pujian, doa, firman dan doa. Sementara ucapan yang biasanya disampaikan di pekuburan, sudah disampaikan saat itu. “Sebab sudah tidak ikut sampai di pekuburan,” terangnya menambahkan dirinya juga sempat diragukan sebagai pendeta.

“Saya melayani pemakaman yang beragama Kristen. Ada juga dari denominasi lain. Biasanya yang muslim panggil Imam. Katolik dipanggil Pastor. Dan Kristen dilayani pendeta. Awalnya tidak pakai stola. Tapi waktu ibadah pemakaman keenam, karena keluarga lagi galau, jadi sempat ragu kalau yang melayani adalah benar pendeta. Karena sudah pakai APD. Saya tidak tersinggung, jadi saya pakai stola,” katanya menyampaikan dirinya juga sempat melayani pemakanan dengan protokol Covid-19 di RS Prof Kandou dan MMC.

Tak hanya itu, jelang HUT PIPK GMIM 12 Juni  lalu, Pdt Ronny terpangil untuk melayani pasien positif Covid-19 lainnya. “Ini refleksi saya. Waktu itu saya pikir, kenapa pasien saya tidak lakukan pelayanan juga. Jadi saya meminta izin ke pihak RS dan gugus tugas. Awalnya sesuai informasi tidak ada yang bisa masuk (ruang isolasi) selain petugas medis dengan APD lengkap. Saya rindu melayani saat HUT PIPK,” katanya.

Namun akhirnya kerinduan melayaninya dijawab Tuhan. “Saya diizinkan untuk pelayanan, didampingi petugas. Jam 11 siang saya masuk dengan menggunakan APD. Sebelum masuk saya diedukasi dulu, bagaimana prosedur yang harus dilakukan. Tidak perlu bersentuhan dan lainnya,” katanya, sembari mengatakan bahwa merefleksikan bacaan tentang doa untuk kesembuhan.

“Saat itu ada 9 pasien yang positif beragama kristen di RS Teling. Waktu menyanyi dan baca firman, mereka duduk didepan ruangan mereka. Ketika doa saya mendekati masing-masing untuk tumpang tangan. Sebut nama pasien masing-masing. Mengambil bacaan doa untuk kesembuhan. Yeremia 17 ayat 14. Tentang permohonan kesembuhan,” ungkapnya bersyukur 9 pasien tersebut saat ini telah dinyatakan sembuh.

“Menurut kesaksian mereka waktu itu, adalah ungkapan untuk bersyukur. Mereka memang terpapar, tapi tidak terkapar. Mereka memang terpapar virus, namun mereka masih bersemangat bersukacita dan bersyukur. Dan kenyataannya mereka saat ini sudah sembuh. Saat ini 9 pasien tersebut sudah pulang ke rumah masing-masing. Telah dinyatakan sembuh,” ungkapnya menambahkan waktu itu prosedur ketat dilakukan sebelum dan sesudah pelayanan.(ctr-02/gnr)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru