28.4 C
Manado
Selasa, 5 Juli 2022

Satgas Covid-19 Jangan Kasih Kendor!

MANADOPOST.ID—Satgas Covid-19 di Sulut ditengarai mulai longgar. Akibatnya, kasus positif Covid-19 meningkat tajam. Data Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Pusat, Bumi Nyiur Melambai masuk 10 provinsi dengan prevalensi kasus positif tertinggi.

Bahkan, Kota Manado, Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa Utara dan Minahasa Tenggara masuk zona merah risiko tinggi. “Sebagai masyarakat, saya kecewa pada pemerintah khususnya Satgas Covid-19,” semprot Sandra Sambuaga, pemerhati. Dirinya kesal. Sebab, boleh dikata tidak ada lagi tindakan tegas yang dilakukan.

Ia menambahkan, Sulut mutlak mewaspadai Covid-19. Terbukti penularan saat ini lagi tinggi-tingginya. “Masyarakat abai. Sudah jenuh. Akibat pandang enteng terhadap protokol kesehatan, membuat penularan naik tajam,” ketusnya.

Ironisnya, susah tidak ada tindakan tegas Satgas Covid. Terpantau, tidak ada lagi pengawasan. Sweeping pelanggar protokol kesehatan, sudah tidak dilakukan. Menurutnya, Satgas Covid maupun pemerintah jangan hanya memberikan himbauan untuk mematuhi protokol kesehatan.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Tapi harus ada tindakan tegas. Misalnya turun ke lapangan. “Lebih khusus tempat yang berpotensi terjadinya kerumunan. Dan menindak tegas pelanggar,” katanya lagi.

Jangan-jangan, lanjut Sandra, ini sudah disengaja alias dilakukan pembiaran. Karena tidak terdengar lagi gerakan pencegahan penularan covid. Dia mencontohkan, awalal-awal jam operational tempat umum ada pembatasan. Sekarang tidak lagi. “Sudah tak ada lagi Satgas Covid turun dan memonitor di lapangan. Sekali lagi, sebagai masyarakat, saya kecewa pada pemerintah,” pungkasnya.

Diketahui, ini jadi tanda awas bagi warga Sulut. Dalam tiga pekan terakhir, jumlah kasus baru positif Covid-19 terus meningkat tajam. Kasus aktif juga meningkat menjadi 22,15 persen. “Setiap hari kami membeber perincian jumlah suspek dan probable yang dirawat,” beber Jubir Satgas Covid-19 Provinsi Sulut dr Steaven Dandel, Minggu (13/12) saat dikonfirmasi Manadp Post.

Dia membenarkan jika akumulasi terpapar Covid-19 mencapai 7.971 kasus. “Hari ini bersyukur ada 36 orang yang sembuh berasal dari 11 orang asal Minahasa, 11 orang asal Minut, 4 orang asal Kotamobagu, 4 orang asal Bolsel, 3 orang asal Bitung, dan 3 orang berasal dari Sangihe,” jelas dia.

Sebelumnya dia menyebut bahwa penambahan kasus disebabkan beberapa indikator yang tak digubrish masyarakat, seperti kurang ketatnya protokol kesehatan di setiap acara keluarga.

“Masih kurangnya kesadaran penerapan protokol kesehatan menjadi pemicu kasus terus meningkat. Kami terus berkoordinasi dengan pihak terkait seperti TNI/Polri dalam menindak kerumunan masa,” katanya. Ketika ditanya terkait kurangnya penegasan Satgas Covid-19 Sulut, Dandel memilih bungkam dan tak memberikan tanggapan.

Namun sebelumnya, Dandel, mengungkapkan sejumlah hal jadi penyebab. Tak hanya karena adanya Pilkada yang baru saja diselenggarakan. Beberapa faktor juga bisa jadi penyebab.

“Semua faktor berkontribusi, seperti Pilkada, protokol kesehatan yang abai. Banyaknya juga acara keluarga yang tidak menyelenggarakan dengan protokol kesehatan. Ini sebenarnya harus diperhatikan, karena pemerintah terus mengimbau agar mematuhi protokol kesehatan agar penyebaran dapat ditekan,” ungkap dia.

Jelang natal, aktivitas pusat keramaian dan belanja juga disorot. Anak-anak dan lanjut usia (Lansia) tidak diperbolehkan masuk mall cs. Hal ini ditegaskan Wali Kota Manado G.S Vicky Lumentut (GSVL).

Karena itu, GSVL menolak permintaan pengelola mall yang meminta anak-anak dan Lansia untuk diperbolehkan masuk ke dalam mall. “Saya belum izinkan itu, karena kita masih dalam zona oranye yang rentan Covid-19,” ujar GSVL.

Menurut dia, dari pemantauan yang dilakukan ditemukan sudah ada anak-anak di bawah 12 tahun yang masuk mall, padahal sesuai kesepakatan hanya umur di atas 12 tahun yang diperbolehkan. “Jadi yang hanya diperbolehkan itu hanya orang-orang yang berumur di atas 12 tahun dan maksimal 64 tahun yang bisa masuk ke mall, lain dari itu belum diperbolehkan,” ujarnya.

GSVL meminta pihak pengelola mall agar terus memperketat protokol kesehatan pencegahan Covid-19. “Pantau dengan ketat, pastikan setiap pengunjung mematuhi protokol kesehatan, pakai masker, jaga jarak, menjauhi kerumuman dan mencuci tangan di air mengalir,” pungkasnya.

Kasat SatPol-PP Manado Yohanis Waworuntu menambahkan, tempat usaha wajib menyiapkan protokol kesehatan di new normal. “Menyiapkan tempat cuci tangan atau hand hand sanitizier, menyiapkan thermogun untuk mengukur suhu, wajib menggunakan masker dan menjaga jarak,” ujarnya.

Dia mengatakan, ada sanksi yang akan diberikan kepada warga yang mengambaikan protokoler kesehatan di tempat umum. “Kalau untuk warga sanksi moral, yaitu menyapu, mengangkat sampah dan push up. Kalau tempat usaha sanksinya kalau mengabaikan protokoler kesehatan bisa ditutup,” pungkasnya.(cw-01/ite/gnr)

MANADOPOST.ID—Satgas Covid-19 di Sulut ditengarai mulai longgar. Akibatnya, kasus positif Covid-19 meningkat tajam. Data Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Pusat, Bumi Nyiur Melambai masuk 10 provinsi dengan prevalensi kasus positif tertinggi.

Bahkan, Kota Manado, Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa Utara dan Minahasa Tenggara masuk zona merah risiko tinggi. “Sebagai masyarakat, saya kecewa pada pemerintah khususnya Satgas Covid-19,” semprot Sandra Sambuaga, pemerhati. Dirinya kesal. Sebab, boleh dikata tidak ada lagi tindakan tegas yang dilakukan.

Ia menambahkan, Sulut mutlak mewaspadai Covid-19. Terbukti penularan saat ini lagi tinggi-tingginya. “Masyarakat abai. Sudah jenuh. Akibat pandang enteng terhadap protokol kesehatan, membuat penularan naik tajam,” ketusnya.

Ironisnya, susah tidak ada tindakan tegas Satgas Covid. Terpantau, tidak ada lagi pengawasan. Sweeping pelanggar protokol kesehatan, sudah tidak dilakukan. Menurutnya, Satgas Covid maupun pemerintah jangan hanya memberikan himbauan untuk mematuhi protokol kesehatan.

Tapi harus ada tindakan tegas. Misalnya turun ke lapangan. “Lebih khusus tempat yang berpotensi terjadinya kerumunan. Dan menindak tegas pelanggar,” katanya lagi.

Jangan-jangan, lanjut Sandra, ini sudah disengaja alias dilakukan pembiaran. Karena tidak terdengar lagi gerakan pencegahan penularan covid. Dia mencontohkan, awalal-awal jam operational tempat umum ada pembatasan. Sekarang tidak lagi. “Sudah tak ada lagi Satgas Covid turun dan memonitor di lapangan. Sekali lagi, sebagai masyarakat, saya kecewa pada pemerintah,” pungkasnya.

Diketahui, ini jadi tanda awas bagi warga Sulut. Dalam tiga pekan terakhir, jumlah kasus baru positif Covid-19 terus meningkat tajam. Kasus aktif juga meningkat menjadi 22,15 persen. “Setiap hari kami membeber perincian jumlah suspek dan probable yang dirawat,” beber Jubir Satgas Covid-19 Provinsi Sulut dr Steaven Dandel, Minggu (13/12) saat dikonfirmasi Manadp Post.

Dia membenarkan jika akumulasi terpapar Covid-19 mencapai 7.971 kasus. “Hari ini bersyukur ada 36 orang yang sembuh berasal dari 11 orang asal Minahasa, 11 orang asal Minut, 4 orang asal Kotamobagu, 4 orang asal Bolsel, 3 orang asal Bitung, dan 3 orang berasal dari Sangihe,” jelas dia.

Sebelumnya dia menyebut bahwa penambahan kasus disebabkan beberapa indikator yang tak digubrish masyarakat, seperti kurang ketatnya protokol kesehatan di setiap acara keluarga.

“Masih kurangnya kesadaran penerapan protokol kesehatan menjadi pemicu kasus terus meningkat. Kami terus berkoordinasi dengan pihak terkait seperti TNI/Polri dalam menindak kerumunan masa,” katanya. Ketika ditanya terkait kurangnya penegasan Satgas Covid-19 Sulut, Dandel memilih bungkam dan tak memberikan tanggapan.

Namun sebelumnya, Dandel, mengungkapkan sejumlah hal jadi penyebab. Tak hanya karena adanya Pilkada yang baru saja diselenggarakan. Beberapa faktor juga bisa jadi penyebab.

“Semua faktor berkontribusi, seperti Pilkada, protokol kesehatan yang abai. Banyaknya juga acara keluarga yang tidak menyelenggarakan dengan protokol kesehatan. Ini sebenarnya harus diperhatikan, karena pemerintah terus mengimbau agar mematuhi protokol kesehatan agar penyebaran dapat ditekan,” ungkap dia.

Jelang natal, aktivitas pusat keramaian dan belanja juga disorot. Anak-anak dan lanjut usia (Lansia) tidak diperbolehkan masuk mall cs. Hal ini ditegaskan Wali Kota Manado G.S Vicky Lumentut (GSVL).

Karena itu, GSVL menolak permintaan pengelola mall yang meminta anak-anak dan Lansia untuk diperbolehkan masuk ke dalam mall. “Saya belum izinkan itu, karena kita masih dalam zona oranye yang rentan Covid-19,” ujar GSVL.

Menurut dia, dari pemantauan yang dilakukan ditemukan sudah ada anak-anak di bawah 12 tahun yang masuk mall, padahal sesuai kesepakatan hanya umur di atas 12 tahun yang diperbolehkan. “Jadi yang hanya diperbolehkan itu hanya orang-orang yang berumur di atas 12 tahun dan maksimal 64 tahun yang bisa masuk ke mall, lain dari itu belum diperbolehkan,” ujarnya.

GSVL meminta pihak pengelola mall agar terus memperketat protokol kesehatan pencegahan Covid-19. “Pantau dengan ketat, pastikan setiap pengunjung mematuhi protokol kesehatan, pakai masker, jaga jarak, menjauhi kerumuman dan mencuci tangan di air mengalir,” pungkasnya.

Kasat SatPol-PP Manado Yohanis Waworuntu menambahkan, tempat usaha wajib menyiapkan protokol kesehatan di new normal. “Menyiapkan tempat cuci tangan atau hand hand sanitizier, menyiapkan thermogun untuk mengukur suhu, wajib menggunakan masker dan menjaga jarak,” ujarnya.

Dia mengatakan, ada sanksi yang akan diberikan kepada warga yang mengambaikan protokoler kesehatan di tempat umum. “Kalau untuk warga sanksi moral, yaitu menyapu, mengangkat sampah dan push up. Kalau tempat usaha sanksinya kalau mengabaikan protokoler kesehatan bisa ditutup,” pungkasnya.(cw-01/ite/gnr)

Most Read

Artikel Terbaru

/