29.9 C
Manado
Jumat, 7 Mei 2021
spot_img

Badai Surigae Bayangi Sulut, BMKG: Warga Waspada, Ikuti Informasi Resmi

MANADOPOST.ID-Masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) harus meningkatkan kewaspadaan. Nyiur Melambai dalam status waspada dampak badai ‘Surigae’. Meski dalam ancaman, warga harus tetap berdoa agar daerah ini dijauhkan dari marabahaya dan rupa-rupa bencana.

Diprediksi sepekan ke depan walau tidak akan berdampak langsung, namun warga Bumi Nyiur Melambai diminta tetap hati-hati. Badai tropis ini sesuai prakiraan Badan Meteorologi Geofisika Klimatologi (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Bitung, akan berkembang menjadi Badai Tropis Kuat (STS), bahkan Typhoon (TY), Jumat (16/4) esok.

“Dengan kecepatan angin bagian utara Sulawesi dan sekitarnya, cenderung meningkat secara bertahap. Hingga puncaknya pada 18 April. Hal ini akan disertai hujan dengan intensitas ringan hingga sedang selama sepekan. Pun tinggi gelombang laut akan mengalami peningkatan hingga puncaknya pada hari Minggu nanti,” ungkap Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Bitung melalui Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Ricky Daniel Aror SSi MSi, Rabu (14/4) kemarin.

Menurutnya ada beberapa perkembangan kondisi terkini di wilayah perairan Sulut dan sekitarnya, dengan status waspada dampak tidak langsung dari badai tropis Surigae ini. “Sirkulasi sistem tekanan rendah di utara Papua telah berkembang menjadi Depressi Tropis (TD). Dan saat ini telah menjadi badai tropis Surigae yang bergerak ke arah Barat Laut, mendekati wilayah Filipina,” terangnya dalam poin pertama.

Lanjutnya terjadi penigkatan kecepatan angin rata-rata di wilayah utara Sulawesi dan sekitarnya, yakni sekira 8 sampai 20 knot. “Juga awan-awan konfektif yang mengandung hujan, masih terbentuk di daerah pertemuan massa udara. Baik di utara Sulawesi, Maluku Utara dan utara Papua. Serta tinggi gelombang kategori sedang di laut Sulawesi, perairan Kepulauan Sitaro, Sangihe dan Talaud, laut Maluku dan pesisir Selatan Sulut,” tambahnya.

Tak hanya itu, peringatan dini juga sudah dikeluarkan BMKG. Maka masyarakat diminta waspada terhadap hujan disertai petir yang bisa terjadi beberapa hari kedepan. “Juga waspada angin kencang dan gelombang tinggi yang bahkan dapat mencapai kategori sangat tinggi. Sekira 4,0 sampai 6,0 m di wilayah perairan Kepulauan Sitaro, Sangihe dan Talaud serta laut Maluku bagian utara,” kata Aror menambahkan untuk mewaspadai juga ancaman banjir pesisir yang dapat terjadi pada saat bersamaan dengan fase pasang air laut.

Untuk itu dia memastikan bahwa BMKG akan selalu terus memberikan informasi terkini perkembangan yang terjadi. “Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi. Baik Instagram atau Twitter @infoBMKG @stamarbitung, website http://www.bmkg.go.id atau maritim.bmkg.go.id atau melalui Mobile Apps IOS dan Android: infobmkg,” terangnya.

Wilayah Kepulauan Sangihe dan sekitarnya diminta untuk mewaspadai dampak tidak langsung dari Badai Tropis Surigae. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas III Naha Kepulauan Sangihe Sujatno meminta masyarakat Sangihe dan sekitarnya untuk mewaspadai hujan lebat disertai Petir yang bisa terjadi beberapa hari kedepan.

“Waspada juga terhadap angin Kencang dan Gelombang Tinggi bahkan dapat mencapai kategori sangat tinggi 4,0 – 6,0 m di wilayah Perairan Kepulauan Sitaro, Sangihe dan Talaud, serta Laut Maluku bagian Utara. Dan tetap waspada terhadap ancaman Banjir Pesisir yang dapat terjadi pada saat bersamaan dengan fase pasang air laut, yaitu pada pagi hingga siang hari serta menjelang malam hari,” imbaunya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Revolius Pudihang mengimbau masyarakat khususnya Kabupaten Kepulauan Sangihe agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem.

“Masyarakat nelayan diharapkan untuk melihat keadaan laut jika hendak melaut. Juga masyarakat yang bermukim di pesisir pantai juga diharapkan untuk tetap mewaspadai gelombang pasang. Karena saat ini cuaca laut sangat buruk. Memang kita tidak menghendaki adanya bencana tetapi diharapkan untuk tetap waspada,” pungkas Pudihang

Di Kepulauan Sitaro, bencana alam tanah longsor terjadi di Kampung Mulengen dan Kampung Humbia Kecamatan Tagulandang Selatan, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Rabu (14/4), mengakibatkan akses jalan untuk roda empat di tutup. “Akses jalan tersebut hanya bisa dilewati kendaraan roda dua. Kejadiannya terjadi pukul 07:00 WITA hari ini,” ungkap Personil Polsek Tagulandang Banit Lantas Brigadir F.Makakombo dan Brigadir M.Irsat saat turun ke TKP, kemarin.

Dalam kesempatan tersebut ia mengimbau kepada masyarakat sekitar atau akan melewati akses jalan tersebut, agar tetap berhati-hati. Dan katanya, pihaknya tetap berkoordinasi dengan pemerintah kampung terkait hal ini. “Sampai saat ini (kemarin sore) timbunan tanah longsor yang di Kampung Humbia sementara dibersihkan oleh alat berat dibantu masyarakat sedangkan untuk lokasi di Mulengen belum dibersihkan menunggu alat berat yang sementara membersihkan longsor di Kampung Humbia,” tukasnya.

Sebelumnya BMKG Senin (12/4) lalu mendeteksi terbentuknya bibit Siklon Tropis 94W. Posisi bibit siklon tropis ini berada di Samudera Pasifik Utara Papua. “Berdasarkan hasil pemantauan kondisi atmosfer di wilayah Sulawesi Utara pada 12 April 2021, terdapat adanya pembentukan area pertemuan dan perlambatan kecepatan angin atau konvergensi. Kondisi ini menyebabkan adanya peningkatan pertumbuhan awan hujan sehingga terjadi hujan sedang hingga lebat pada siang hingga sore hari disertai angin kencang dengan kecepatan maximum mencapai 32 Knot (60 Km/Jam),” jelas Kepala Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado.

Lanjutnya, kondisi cuaca di sebagian besar Sulawesi Utara pada sepekan ke depan diprakirakan didominasi hujan ringan hingga sedang, dan beberapa wilayah yang berpotensi terjadi hujan lebat dan angin kencang.
“Kondisi tersebut dipengaruhi akibat adanya bibit Siklon Tropis 94W. Perlu kami ingatkan kembali bahwa pada periode April dan Mei 2021 merupakan masa peralihan atau pancaroba. Potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus juga masih perlu diwaspadai di masa pancaroba yang dapat mengakibatkan kondisi ekstrim,” jelasnya.

Cuaca yang dapat terjadi pada periode peralihan tambahnya, yaitu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam durasi yang singkat dan disertai angin sangat kencang. Kondisi tersebut dapat disertai dengan fenomena hujan es dan puting beliung pada kondisi atmosfer lokal yg sangat labil. “Pada masa peralihan, perubahan cuaca signifikan menjadi cuaca buruk akan sering terjadi pada siang hingga malam hari,” tuturnya.

Masyarakat Sulut dan stakeholder lanjut dia, perlu mewaspadai kondisi cuaca ekstrim pada periode bibit Siklon Tropis 94W yang dapat menimbulkan kerugian terhadap aktivitas baik terkait aktivitas penerbangan maupun masyarakat secara umum. “Kami juga menghimbau bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana banjir dan tanah longsor agar lebih meningkatkan kewaspadaan. Serta dapat memantau informasi peringatan dini cuaca ekstrim dan prakiraan cuaca dari Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado,” tandasnya.(Tim MP/Grand)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru