alexametrics
28.4 C
Manado
Rabu, 8 Desember 2021
spot_img

Cerita Putra Kawanua di Balik Alowalo, Brand Fashion Nasional dengan Mimpi Jadi Uniqlo-nya Indonesia

MANADOPOST.ID— Tak banyak brand fashion karya anak bangsa dengan konsep basic (polos) kualitas premium yang berkiprah di industri ritel tanah air. Salah satunya adalah Alowalo. Dengan mimpi menjadi Uniqlo-nya Indonesia, Alowalo mulai merangkak naik sebagai salah satu brand fashion lokal yang kualitas internasional. Siapa sangka, ‘man behind the gun’ Alowalo adalah Putra Kawanua, Putra Bitung, Albert David Palit.

Abe (sapaan akrabnya) mulai bermimpi punya brand fashion lokal kelas dunia sejak tahun 2008. Namun, awal karirnya di dunia fashion retail dimulai sejak 2005. Saat magang di semester akhir. “Tahun 2005, gue mulai karir dari magang atau intern. Di MAP salah satu ritel grup besar di Indonesia yang menangani sejumlah brand fashion. Saat itu saya ditempatkan di Reebok,” dia mulai bercerita.

Abe yang diwawancari Manado Post di kantor Alowalo, di lantai 16 Tokopedia Care Tower, Jakarta  ini melanjutkan, dirinya magang di MAP selama enam bulan sembari menyelesaikan kuliah. Saat itu, dirinya mengambil manajemen ekonomi di Bina Nusantara (Binus) angkatan tahun 2002.

Selesai magang dan menyelesaikan kuliah, Abe tidak langsung kembali ke dunia ritel fashion. Abe malah memulai karir profesionalnya sebagai karyawan di ACE Hardware. “Tahun 2007, setelah lulus, ikut Jobs Fair, dan diterima di ACE Hardware sebagai asisten buyer. Jadi pekerjaan pertama setelah lulus. Di Ace Hardware, ga sampai setahun. Keluiar karena harus pake celana bahan, selalu ditegur karena rambut gondrong,” ceritanya sambal tertawa.

Dia mengakui, dirinya tidak nyaman dengan gaya bekerja yang kaku. “Gue tuh ga begitu nyaman jika harus pakai celana bahan, harus rambut rapih, karena jaman itu, gue rambut gondrong, hobi pake jeans, pokoknya stylenya begitu,” katanya.

Kemudian, tahun 2008 dirinya memutuskan keluar. Bukannya langsung cari pekerjaan baru, namun sempat mempertimbangkan untuk banting stir. “Sempat ingat lagi buat ngeband. Dulu waktu kulaih memang sempat jadi anak band. Sering manggung dan rekaman-rekaman. Jadi saat itu, ada sekira tiga bulan gue di persimpangan. Antara mau kembali ngeband, atau lanjut S2. Kerja lagi ga masuk list saat itu,” ujarnya.

Namun, Tuhan ternyata memiliki rencana lain. Saat tahun 2008 keluar dari ACE, Abe malah dipanggil lagi ke MAP. “Balik lagi ke ritel fashion. Di MAP gue mulai lagi dari awal. Jadi admin staf. Jadi gue familiar banget dengan pekerjaan admin dll. Di situlah momen gue berpikir, suatu saat nanti harus punya brand fashion sendiri. Belum ada namanya, tapi sepertinya mimpi Alowalo pertama ada di saat itu,” kenangnya.

Ketertarikannya di dunia fashion memang sudah datang sejak kecil. Bahkan, saat sekolah, dirinya mengidolakan seseorang berdasarkan brand apa yang dipakainya. Abe yang sempat menjalani pendidikan sekolah dasar di Bitung, pindah ke Jakarta tahun 1991 sejak kelas 2 SD . “Gue emang sudah tertarik di dunia fashion. Jadi saat magang di Reebok, gue emang suka Reebok. Memang tidak ada yang kebetulan, jaman SD dulu ga pernah dibeliin sepatu branded kaya Nike, Reebok dll. Jadi dari dulu (sebenarnya) suka Reebok, dari SD,” kata dia.

Bahkan, saking sukanya dengan Reebok, lanjut Abe, dirinya bahkan mengidolakan atlet olahraga yang memakai brand asal Inggris-AS ini. “Gue suka Gabriel Batistuta, Fiorentina dan Timnas Argentina karena memakai Reebok dulu. Gue juga punya tuh sepatu Ryan Giggs, cuma ada 12 di dunia, gue punya satu,” kenangnya.

Kesukaan akan industri retail fashion membuat Abe menjalani karir gemilang di MAP. Bahkan di periode awal bekerja, selama di sana. “Puji Tuhan, di situ (MAP) dalam satu tahun promosi tiga kali. Admin, senior admin, merchandiser, hingga assistant product manager. Menangani Reebok,” katanya.

Karir di MAP cukup lama. Tiga tahun. Sebelum dipanggil ke Metro Dept Store. Masih di industri ritel fashion. “Menariknya, saat itu jika ingin kerja di Metro Dept Store, ada semacam mitosnya. Saat itu CV dikirimin oleh istri. Ada kabar Metro cuma terima lulusan luar negeri atau punya kenalan. Tapi Puji tuhan, gue diterima. Itu tahun 2010,” beber suami dari Marcella Sariparamita Kurniawan.

Di Metro Dept Store, dia dipercaya sebagai manager. “Di Metro sekira satu tahun. Akhirnya entah bagaimana, CV gue beredar. Dari situ, dapat tawaran di Zalora. Itu awal-awal e-commerce. Sekira tahun 2012. Gue jadi salah satu saksi 12.12.12 tuh, zaman awal belanja online,” ujar pria kelahiran 4 Juli 1985 ini.

Setahun di Zalora, dirinya dipinang oleh Matahari. Saat itu Matahari jadi market leader industri retail fashion. “Di Matahari jadi brand manager. Jadi brand manager termuda saat itu. Di Matahari pegang children, trus pindah handbags. Di Metro pegang ladies brand,” terangnya. “Nah saat di Matahari, gue dapet banyak jaringan. Networking terbuka lebar. Dari supplier, pabrik, dll,” sebutnya.

Kemudian, tahun 2014 akhir, putra dari Drs Hendrik Palit dan Elisabeth Sumakud ini terjun ke dunia consultant e-commerce. “Jadi ada perusahaan consultant e-commerce. Namanya A Commerce, diajak gabung. Sebagai konsultan ritel yang mau go online. Gue gabung di situ. Gue belajar banyak soal e-commerce di situ. Klien-kliennya macam toko offline yang mau jualan online, salah satu klien itu Matahari. Namun sempat dipecat dan 2017, kemudian ditawarin teman jadi CEO sebuah brand Korea beberapa bulan,” ceritanya.

Selanjutnya, ditawarin lagi oleh Matahari. Kali ini di bagian e-commerce-nya. “Itu tahun 2017. Pencapaian cukup bagus. Jadi Head of E-Commerce. Ga sampai dua tahun. Tahun 2018 keluar,” sebutnya.

Dari sekian panjang perjalanan karirnya, Abe ternyata pernah terjun ke dunia yang sangat jauh beda dengan industri yang digeluti saat ini. “Gue pernah bekerja di FedEx. Ya, FedEx, perusahaan logistik. Ngaco kan? Heheh. Namun di situ jabatannya jadi GM. Itu tahun 2017. Nah lebih ngaco lagi, tahun 2018 diajak ke Top One (oli). Tapi saat itu nanganin mereka yang mau bikin E-Commerce. Tapi di dua tempat ini, gue banyak belajar juga,” katanya.

Nah, akhirnya perjalanan panjang Abe berkarir sebagai ‘karyawan’ berhenti di tahun 2019. Saat itu dirinya declare untuk fokus entrepreneur. “Mulai menjalani usaha sendiri. Jadi langkah berani saat itu. Mencoba running start up. Sudah launching, tapi bensin habis. Sempat terjun bebas. Super parah. Tiga hari ga bisa makan. Sepanjang karir, rock bottom ada di start up itu. Gagal karena terlalu visioner, momentumnya ga pas,” ungkapnya.

Tapi kata dia, kegagalan itu ga disesalinya. Karena jadi pelajaran. “Akhirnya ife must go on, saat sempat jatuh, harus pivot. Sempat ditinggalin utang. Buka creative consulting firm. Abe Corp. Pegang client nasional dan luar negeri. Di situ belajar juga, ternyata ga mudah,” ceritanya.

Sampai akhirnya dirinya bertemu seorang investor. Di situ cikal bakal mimpi Alowalo sejak 2008 seakan bangkit dari tidur. “Saat itu, konsep start up yang sempat dirintis namun gagal ini, dia bilang ide itu bisa jalan. Tapi ga bisa di Indonesia. Kemudian ternyata dia suka dengan profil gue. Akhirnya jodoh dan akhirnya ada peluang. Saat itu gw sodorin konsep Alowalo. Akhirnya dia setuju, tahun 2019 sekira bulan Juli,” ujarnya.

Setelah persiapan matang, dan operasional sudah dimulai sejak September 2019. “Akhirnya, produk pertama terjual di 22 Februari 2020. Produksi 976 pcs. Produk pertama 6 warna basic. Ternyata animo masyarakat bagus,” kata dia.

Dia pun menjelaskan, konsep Alowalo adalah Uniqlo quality, half price. “Kita kiblatnya Uniqlo, sebuah brand fashion basic internasional. Kita mau jadi brand fashion basic yang mewakili Indonesia. Basic itu baju yang paling sering dipake orang. Market sharenya gede banget. Pengennya Alowalo jadi seperti itu. Represent Indonesia untuk kaos basic,” dia berharap.

Namun, setahun berjalan tak berlangsung dengan lancar. Sempat ada kendala internal issues yang membuat Alowalo terjun ke lowest point. “Pernah di-penalty Shoppe. Bulan September, karena internal issues, akhirnya kena penalty. Recoverynya dua bulan. Baru dibebaskan penalty Oktober. Akhirnya belajar dari kesalahan, ditingkatkan lagi pelayanan. Sekarang rata-rata bisa ratusan pcs per hari,” kata dia.

Beberapa project Alowalo ke depan, lanjut Abe yaitu kolaborasi dengan Dagelan, Spongebob, juga kerja sama dengan beberapa brand lainnya. Abe pun memiliki mimpi, Alowalo akan memiliki flagship store sendiri. “Kita pengen di mana ada Uniqlo, di situ ada Alowalo, hahaha,” harapnya sembari menjelaskan, nama Alowalo memiliki filosofi yaitu, penyebutan kata sapaan dalam bahasan Indonesia. “Halo…halo. Alowalo,” tandas Abe.(*)

spot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru