24.4 C
Manado
Sabtu, 13 Agustus 2022

BASUARA Kerukunan Keluarga Kawanua dan Perempuan Indonesia Maju: Kekerasan Perempuan dan Anak Meningkat, Desak RUU PKS Disahkan

MANADOPOST.ID —Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum dan Masalah Keluarga (YLBHMK) dan Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Charletty Choesyana Taulu, dalam webinar ‘Melawan Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak’, mengungkapkan data korban kekerasan seksual untuk Indonesia pada tahun 2020 sampai dengan tahun 2021 itu meningkat sampai 45 persen. Mengapa demikian? hal ini ternyata berdasarkan beberapa penelitian ini juga diakibatkan karena adanya pandemi Covid-19. “Jadi dengan adanya kondisi pandemi Covid-19 maka memungkinkan terjadinya peningkatan angka kekerasan atau maksud saya pelecehan dan kekerasan seksual pada perempuan dan anak. Oleh karena itu, webinar ini sangat tepat untuk kita bersuara sudah perlu tindakan yang serius dari pemerintah. Semoga pemerintah segera mengundangkan RUU PKS yaitu RUU penghapusan kekerasan seksual sehingga ada suatu penanganan hukum secara lebih pasti dan lebih detil dan tentunya lebih berpihak kepada korban,” harap Taulu.

Kerukunan Keluarga Kawanua dan Perempuan Indonesia Maju menggelar kegiatan secara virtual, BASUARA dan mengangkat topik Melawan Pelecehan dan Kekerasan Seksual terhadap Perempuan dan Anak, Selasa (15/6/2021), via zoom dan YouTube, dihadiri 534 users di Zoom dan 180 viewers di YouTube.

 

Ia juga mengatakan webinar ini sangat bagus dan ini juga terkait dengan semboyan atau falsafah hidup yang digaungkan yang dicetuskan Dr Sam Ratulangi yaitu Sitou Timou Tumou Tou yang artinya manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain.
“Jadi untuk menghidupkan manusia lain bukan untuk menyakiti bukan untuk melecehkan bahkan sampai berujung pada pembunuhan. Karena itulah, makanya sangatlah tepat kalau kita semua khususnya wanita-wanita Kawanua yang mana belum lama ini juga sudah banyak data menunjukkan adanya korban kekerasan seksual pada perempuan dan anak yang menunjukkan angka yang meningkat di Sulut. “Mudah-mudahan usaha kita semua ini kiranya Tuhan yang mahakuasa bisa melancarkan usaha mulia kita ini sehingga mendapatkan perhatian dari pemerintah untuk segera mengundangkan RUU PKS,” harapnya.

 

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Diketahui, Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) dan Perempuan Indonesia Maju (PIM) kembali menggelar kegiatan secara virtual, BASUARA dan mengangkat topik mengenai Pelecehan Seksual terhadap Perempuan dan Anak melalui via Zoom dan YouTube, Selasa (15/6).

Salah satu latar belakang mengapa kegiatan BASUARA mengambil topik ini, karena dipicu kejadian yang menimpa anak (alm) Marsela Sulu yang masih berusia 13 tahun di Desa Koha, Minahasa, Sulut. “Kegiatan ini terinspirasi dengan semakin banyaknya kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak yang terjadi di Indonesia terlebih pada masa pandemi saat ini dan yang terakhir yang kita ikuti yang terjadi kepada seorang anak gadis umur 13 tahun di Desa Koha Minahasa Sulut. Berbagai kejadian ini yang menggerakkan kami untuk bergerak dan bersuara untuk mencari perhatian dari masyarakat bahwa masalah kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak ini adalah masalah yang serius,” kata Ketua Umum DPP KKK Angelica Tengker.

 

Dr Preysi Siby SPsi MSi, dalam pemaparan ‘Pendekatan Psikologi Perempuan dan Anak Penyintas Kekerasan’ menuturkan, kekerasan sekecil apapun tidak layak untuk dilakukan.
“Karena akan memberikan dampak yang akut secara fisik dan psikologis dalam jangka panjang dan memerlukan usaha yang besar untuk menyembuhkan,” ungkap Siby.
Oleh karena itu, lanjutnya, perlindungan terhadap anak dan perempuan dari kekerasan dalam bentuk apapun harus menjadi prioritas dalam pembangunan bangsa dan negara. “Pemberdayaan perempuan dan anak untuk mampu bersuara menjadi preferensi yang penting,” ujarnya.

 

Senada Anggota DPR RI Hillary Brigitta Lasut berharap Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) masuk ke dalam program legislasi nasional (prolegnas). “Mengingat urgensi-nya sangat besar, kekerasan seksual tidak hanya memberikan dampak kepada korban saja, tetapi berdampak pada pola pikir masyarakat secara luas,” kata Lasut. Meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak menjadi narasi yang menguatkan untuk segera disahkan-nya RUU PKS. Nantinya, dengan disahkan RUU PKS menjadi undang-undang maka diharapkan ada semacam perlindungan hukum yang lebih jelas kepada masyarakat. Ia mencontohkan Dubai merupakan salah satu kota yang tergolong berhasil dalam menekan kasus kekerasan seksual. Di Dubai, masyarakat sangat bergantung dengan pemerintah untuk mencegah kekerasan seksual.
“Ketika ada pelaku kejahatan seksual maka bisa dikenakan hukuman mati hingga dicabut status kewarganegaraannya,” tegasnya.

 

Selain Hillary Lasut Cs, ada juga pembicara menyuarakan lantang terkait kekerasan perempuan dan anak. Yakni, mewakili Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak Dra Anisah MSi, Pdt Ruth Ketsia Wangkai MTh (Aktivis Perempuan), Dr dr Theresia Kaunang SpKJ (K) (Psikiater Remaja dan Anak), Dr Ray Larasati Simatupang (Doktor Ilmu Kriminologi), Zoya Amirin MPsi FIAS (Seksolog Klinis), hingga Penanggap Erlinda MPd (Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden).
Lana Koentjoro-Togas SH, Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan Kerukunan Keluarga Kawanua yang juga Ketua Umum Perempuan Indonesia Maju, yang menjadi host, memaparkan Webinar yang dipandu Komedian Rony Imannuel alias Mongol dan MC Runner Up Putri Pariwisata Kawanua 2019 Stephanie Sondakh, diadakan dari jam 16.00 WIB dan selesai hampir jam 20.30 WIB, mendapatkan animo dan respon yang sangat baik. Dihadiri 534 users di Zoom dan 180 viewers di YouTube. “Terima kasih banyak kepada semua pembicara dan penanggap yang telah memberikan support nya sehingga acara BASUARA dapat berjalan dengan lancar,” ujar Togas. “Sampai jumpa di BASUARA berikut dengan topik lainnya,” ujar Ketua Panitia Lisa Malonda diamini Sekretaris Grace Luntungan-Tangkudung, Bendahara & Desain Grafis Teichi Pioh-Kolopita, PR & Media Relations Catherine Roeleejanto-Tandaju, Zoom Admin Mega Nugraha, YouTube Admin Vran Karouwan. (tan)

MANADOPOST.ID —Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum dan Masalah Keluarga (YLBHMK) dan Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Charletty Choesyana Taulu, dalam webinar ‘Melawan Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak’, mengungkapkan data korban kekerasan seksual untuk Indonesia pada tahun 2020 sampai dengan tahun 2021 itu meningkat sampai 45 persen. Mengapa demikian? hal ini ternyata berdasarkan beberapa penelitian ini juga diakibatkan karena adanya pandemi Covid-19. “Jadi dengan adanya kondisi pandemi Covid-19 maka memungkinkan terjadinya peningkatan angka kekerasan atau maksud saya pelecehan dan kekerasan seksual pada perempuan dan anak. Oleh karena itu, webinar ini sangat tepat untuk kita bersuara sudah perlu tindakan yang serius dari pemerintah. Semoga pemerintah segera mengundangkan RUU PKS yaitu RUU penghapusan kekerasan seksual sehingga ada suatu penanganan hukum secara lebih pasti dan lebih detil dan tentunya lebih berpihak kepada korban,” harap Taulu.

Kerukunan Keluarga Kawanua dan Perempuan Indonesia Maju menggelar kegiatan secara virtual, BASUARA dan mengangkat topik Melawan Pelecehan dan Kekerasan Seksual terhadap Perempuan dan Anak, Selasa (15/6/2021), via zoom dan YouTube, dihadiri 534 users di Zoom dan 180 viewers di YouTube.

 

Ia juga mengatakan webinar ini sangat bagus dan ini juga terkait dengan semboyan atau falsafah hidup yang digaungkan yang dicetuskan Dr Sam Ratulangi yaitu Sitou Timou Tumou Tou yang artinya manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain.
“Jadi untuk menghidupkan manusia lain bukan untuk menyakiti bukan untuk melecehkan bahkan sampai berujung pada pembunuhan. Karena itulah, makanya sangatlah tepat kalau kita semua khususnya wanita-wanita Kawanua yang mana belum lama ini juga sudah banyak data menunjukkan adanya korban kekerasan seksual pada perempuan dan anak yang menunjukkan angka yang meningkat di Sulut. “Mudah-mudahan usaha kita semua ini kiranya Tuhan yang mahakuasa bisa melancarkan usaha mulia kita ini sehingga mendapatkan perhatian dari pemerintah untuk segera mengundangkan RUU PKS,” harapnya.

 

Diketahui, Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) dan Perempuan Indonesia Maju (PIM) kembali menggelar kegiatan secara virtual, BASUARA dan mengangkat topik mengenai Pelecehan Seksual terhadap Perempuan dan Anak melalui via Zoom dan YouTube, Selasa (15/6).

Salah satu latar belakang mengapa kegiatan BASUARA mengambil topik ini, karena dipicu kejadian yang menimpa anak (alm) Marsela Sulu yang masih berusia 13 tahun di Desa Koha, Minahasa, Sulut. “Kegiatan ini terinspirasi dengan semakin banyaknya kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak yang terjadi di Indonesia terlebih pada masa pandemi saat ini dan yang terakhir yang kita ikuti yang terjadi kepada seorang anak gadis umur 13 tahun di Desa Koha Minahasa Sulut. Berbagai kejadian ini yang menggerakkan kami untuk bergerak dan bersuara untuk mencari perhatian dari masyarakat bahwa masalah kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak ini adalah masalah yang serius,” kata Ketua Umum DPP KKK Angelica Tengker.

 

Dr Preysi Siby SPsi MSi, dalam pemaparan ‘Pendekatan Psikologi Perempuan dan Anak Penyintas Kekerasan’ menuturkan, kekerasan sekecil apapun tidak layak untuk dilakukan.
“Karena akan memberikan dampak yang akut secara fisik dan psikologis dalam jangka panjang dan memerlukan usaha yang besar untuk menyembuhkan,” ungkap Siby.
Oleh karena itu, lanjutnya, perlindungan terhadap anak dan perempuan dari kekerasan dalam bentuk apapun harus menjadi prioritas dalam pembangunan bangsa dan negara. “Pemberdayaan perempuan dan anak untuk mampu bersuara menjadi preferensi yang penting,” ujarnya.

 

Senada Anggota DPR RI Hillary Brigitta Lasut berharap Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) masuk ke dalam program legislasi nasional (prolegnas). “Mengingat urgensi-nya sangat besar, kekerasan seksual tidak hanya memberikan dampak kepada korban saja, tetapi berdampak pada pola pikir masyarakat secara luas,” kata Lasut. Meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak menjadi narasi yang menguatkan untuk segera disahkan-nya RUU PKS. Nantinya, dengan disahkan RUU PKS menjadi undang-undang maka diharapkan ada semacam perlindungan hukum yang lebih jelas kepada masyarakat. Ia mencontohkan Dubai merupakan salah satu kota yang tergolong berhasil dalam menekan kasus kekerasan seksual. Di Dubai, masyarakat sangat bergantung dengan pemerintah untuk mencegah kekerasan seksual.
“Ketika ada pelaku kejahatan seksual maka bisa dikenakan hukuman mati hingga dicabut status kewarganegaraannya,” tegasnya.

 

Selain Hillary Lasut Cs, ada juga pembicara menyuarakan lantang terkait kekerasan perempuan dan anak. Yakni, mewakili Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak Dra Anisah MSi, Pdt Ruth Ketsia Wangkai MTh (Aktivis Perempuan), Dr dr Theresia Kaunang SpKJ (K) (Psikiater Remaja dan Anak), Dr Ray Larasati Simatupang (Doktor Ilmu Kriminologi), Zoya Amirin MPsi FIAS (Seksolog Klinis), hingga Penanggap Erlinda MPd (Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden).
Lana Koentjoro-Togas SH, Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan Kerukunan Keluarga Kawanua yang juga Ketua Umum Perempuan Indonesia Maju, yang menjadi host, memaparkan Webinar yang dipandu Komedian Rony Imannuel alias Mongol dan MC Runner Up Putri Pariwisata Kawanua 2019 Stephanie Sondakh, diadakan dari jam 16.00 WIB dan selesai hampir jam 20.30 WIB, mendapatkan animo dan respon yang sangat baik. Dihadiri 534 users di Zoom dan 180 viewers di YouTube. “Terima kasih banyak kepada semua pembicara dan penanggap yang telah memberikan support nya sehingga acara BASUARA dapat berjalan dengan lancar,” ujar Togas. “Sampai jumpa di BASUARA berikut dengan topik lainnya,” ujar Ketua Panitia Lisa Malonda diamini Sekretaris Grace Luntungan-Tangkudung, Bendahara & Desain Grafis Teichi Pioh-Kolopita, PR & Media Relations Catherine Roeleejanto-Tandaju, Zoom Admin Mega Nugraha, YouTube Admin Vran Karouwan. (tan)

Most Read

Artikel Terbaru

/