23.4 C
Manado
Sabtu, 20 Agustus 2022

Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Berpotensi Meningkat di Masa Pandemi Covid-19

MANADOPOST.ID – Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum dan Masalah Keluarga (YLBHMK) dan Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Charletty Choesyana Taulu, dalam webinar ‘Melawan Kekeran Seksual Terhadap Perempuan dan Anak’, mengungkapkan bahwa data korban kekerasan seksual untuk Indonesia pada tahun 2020 sampai dengan tahun 2021 itu meningkat sampai 45 persen.

Mengapa demikian? hal ini ternyata berdasarkan beberapa penelitian ini juga diakibatkan karena adanya pandemi Covid-19. “Jadi dengan adanya kondisi pandemi Covid-19 maka memungkinkan terjadinya peningkatan angka kekerasan atau maksud saya pelecehan dan kekerasan seksual pada perempuan dan anak. Oleh karena itu, webinar ini sangat tepat untuk kita bersuara sudah perlu tindakan yang serius dari pemerintah. Semoga pemerintah segera mengundangkan RUU PKS yaitu RUU penghapusan kekerasan seksual sehingga ada suatu penanganan hukum secara lebih pasti dan lebih detil dan tentunya lebih berpihak kepada korban,” harapnya.

Ia juga mengatakan webinar ini sangat bagus dan ini juga terkait dengan semboyan atau falsafah hidup yang di gaungkan yang dicetuskan oleh dr Sam Ratulangi yaitu sitou timou tumou tou yang artinya manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain.

“Jadi untuk menghidupkan manusia lain bukan untuk menyakiti bukan untuk melecekan bahkan sampai berujung pada pembunuhan. oleh karena itulah makanya sangatlah tepat kalau kita semua khususnya wanita-wanita Kawanua yang mana belum lama ini juga sudah banyak data menunjukkan adanya korban kekerasan seksual pada perempuan dan anak yang menunjukkan angka yang meningkat di Sulut. Mudah-mudahan usaha kita semua ini kiranya Tuhan yang mahakuasa bisa melancarkan usaha mulia kita ini sehingga mendapatkan perhatian dari pemerintah untuk segera mengundangkan RUU PKS,” kuncinya.(*)

MANADOPOST.ID – Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum dan Masalah Keluarga (YLBHMK) dan Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Charletty Choesyana Taulu, dalam webinar ‘Melawan Kekeran Seksual Terhadap Perempuan dan Anak’, mengungkapkan bahwa data korban kekerasan seksual untuk Indonesia pada tahun 2020 sampai dengan tahun 2021 itu meningkat sampai 45 persen.

Mengapa demikian? hal ini ternyata berdasarkan beberapa penelitian ini juga diakibatkan karena adanya pandemi Covid-19. “Jadi dengan adanya kondisi pandemi Covid-19 maka memungkinkan terjadinya peningkatan angka kekerasan atau maksud saya pelecehan dan kekerasan seksual pada perempuan dan anak. Oleh karena itu, webinar ini sangat tepat untuk kita bersuara sudah perlu tindakan yang serius dari pemerintah. Semoga pemerintah segera mengundangkan RUU PKS yaitu RUU penghapusan kekerasan seksual sehingga ada suatu penanganan hukum secara lebih pasti dan lebih detil dan tentunya lebih berpihak kepada korban,” harapnya.

Ia juga mengatakan webinar ini sangat bagus dan ini juga terkait dengan semboyan atau falsafah hidup yang di gaungkan yang dicetuskan oleh dr Sam Ratulangi yaitu sitou timou tumou tou yang artinya manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain.

“Jadi untuk menghidupkan manusia lain bukan untuk menyakiti bukan untuk melecekan bahkan sampai berujung pada pembunuhan. oleh karena itulah makanya sangatlah tepat kalau kita semua khususnya wanita-wanita Kawanua yang mana belum lama ini juga sudah banyak data menunjukkan adanya korban kekerasan seksual pada perempuan dan anak yang menunjukkan angka yang meningkat di Sulut. Mudah-mudahan usaha kita semua ini kiranya Tuhan yang mahakuasa bisa melancarkan usaha mulia kita ini sehingga mendapatkan perhatian dari pemerintah untuk segera mengundangkan RUU PKS,” kuncinya.(*)

Most Read

Artikel Terbaru

/