31.4 C
Manado
Jumat, 1 Juli 2022

Total Proyek 440 Miliar, Bupati Sitaro: Kita Akan Laporkan

Segera Diresmikan Jokowi, Bangunan Bandara Malah Ambruk

MANADOPOST.ID—Kontruksi bangunan Bandar Udara Siau diduga tak sesuai spesifikasi. Belum diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi), dua bangunan dalam proyek bandara bernilai Rp440 miliar itu, ambruk dan rusak parah.

Perkiraan kerugian yang dihitung otoritas setempat diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar. Kepala Satuan Pelayanan Bandar Udara Siau Hirsan Rony Biki membantah, terkait informasi yang beredar bahwa peristiwa telah terjadi sejak bulan lalu. Menurut Rony, kejadiannya Senin (15/3) malam.

“Jadi informasi kerusakan tersebut kami mengetahuinya saat pagi hari (Senin, red) sekitaran pukul 05.00 WITA subuh,” tuturnya, sembari menjelaskan peristiwa angin kencang di wilayah Siau terjadi sekitaran Minggu (14/3) pukul 10.00 WITA hingga Senin pukul 01.00 WITA dini hari. “Jadi kemungkinan peristiwa terjadi pada hari Senin jam 1 malam,” katanya.

Terkait ungkapan warga, adanya konstruksi bangunan yang tidak sesuai spesifikasi atau asal-asalan, ia tak bisa memberikan tanggapan. Namun ia menyatakan, ketika masyarakat menilai bangunan tidak sesuai spesifikasi, warga bisa tunjukan bukti.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

“Kita bandingkan saja, yang di sebelahnya tidak hancur. Contoh di landasan bandara ada direksi kit dari papan tripleks tidak rusak. Kan tidak mungkin perbandingannya bahwa bangunan yang rusak tersebut jelek, seolah-olah direksi kit dari papan tripleks yang tanpa di cor-coran dan tulangan tersebut jauh lebih kuat dari pada konstruksi terminal. Logikanya seperti itu. Karena itu bukan kapasitasnya saya menyatakan bahwa bangunan bandara tidak sesuai spek atau tidak sesuai desain,” tepisnya.

“Kejadian saat itu menimpa dua gedung. Yakni terminal, jadi bukan ruang tunggu tetapi terminal, karena di situ ada ruang keberangkatan, kedatangan, ruang tunggu, semua ada di situ. Dan di sebelahnya ada ruang administrasi. Kalau dilihat di ruang admin, tersedot keluar itu kaca dan rangka kaca itu semua terhisap keluar. Sampai dengan kuseng kaca yang dari rangka baja keluar dari dalam gedung,” papar Rony.

“Artinya kalau karena hembusan angin dari luar, tentu kerusakan atau materialnya semuanya ada di dalam gedung. Ini justru ada di luar. Saya pun tidak tahu bagaimana peristiwa tersebut, karena tidak ada saksi mata yang melihat secara langsung kejadian pada tengah malam. Ditambah lagi mati lampu hujan deras dan angin kencang,” jelasnya.

Dia membeberkan, kemungkinan anginnya berada di spot-spot dua ruangan tersebut. Sehingga ruang terminal dan administrasi yang rusak. Katanya mungkin angin puting beliung berada di dua titik tersebut. Karena kontruksi gedung genset dan yang lainnya juga sama dengan gedung terminal tersebut. “Dan semua gedung dalam bandara itu semua konstruksinya mirip-mirip atau sama, kecuali gedung pemadam, itu agak berbeda (konstruksi),” ujarnya.

Menurutnya, kerugian dalam peristiwa tersebut sekitaran 1 sampai 1,5 miliar. Namun hanya untuk satu ruang terminal. Karena yang dilihat dalam kerusakan tersebut, bukan hanya atapnya atau seng, atau juga rangka baja, tetapi terdapat fasilitas penunjang di dalamnya yang tertarik ke luar. “Seperti lampu, kabel-kabel, spirit, dan fasilitas penunjang lainnya tertarik keluar. Jadi perbaikan untuk bagian atapnya sekitar 1 sampai 1,5 miliar. Nah kalau untuk ruang admin hanya kecil biayanya tidak mencapai puluhan juta. Hanya kecil,” urainya.

Dikatakannya lagi, setelah mendapatkan informasi, dirinya langsung menginformasikan ke pihak Bandar Udara Naha terkait peristiwa. Dari Kabandara Naha telah melapor ke pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Perhubungan terkait kerusakan. Tinggal menunggu tim dari Jakarta atau kantor pusat/kementerian perhubungan yang akan turun melakukan investigasi. “Dalam waktu dekat ini atau minggu depan mereka akan datang ke Bandar Udara Siau. Jadi yang melapor ke pusat itu dari Bandar Udara Naha, karena kita kan (Bandara Siau) di bawahnya Bandara Naha,” jelasnya.

Diingatkannya lagi terminal ini telah dibangun sejak tahun 2018. Jadi pembangunan sudah melalui proses kajian yang lama. “Kalau pun misalnya ada tanggung jawab kontraktor dan pemeliharaan enam bulan setelah selesai pekerjaan, tapi ini kan sudah lewat dua tahun. Bahkan yang sebelahnya itu kan dari 2018 jadi sudah tiga tahun. Jadi bangunan tersebut mulai di bangun sejak tahun 2018 dan dilanjutkan di 2019, dan posisinya sekarang sudah tahun 2021 dan terjadi kerusakan. Kalau pun memang kontruksi bangunan sudah buruk dari lalu-lalu, pastinya sudah dari tahun-tahun sebelumnya rusak. Mungkin pas Februari itu yang ekstrim. Tapi namanya bencana alam, kami tidak bisa taksir kekuatan angin,” bebernya.

Ditambahkannya, peresmian bandara sebenarnya direncanakan November 2020. Bahkan apemerintah Kabupaten Sitaro telah membuat tenda untuk pelaksanaan peresmian. Namun tertunda. Katanya ada beberapa kali peresmian Bandara Siau tertunda. “Sebenarnya satu bulan ini kami telah melakukan rapat lagi, karena direncanakan Maret akan diadakan peresmian. Baru satu minggu kita rapat, minggu berikutnya sudah terjadi peristiwa ini. Jadi memang di bulan ini akan ada peresmian bandara, tetapi mungkin pengecualian untuk bandara Siau karena terkena musibah maka tidak diikutkan dalam peresmian,” jelasnya.

Sementara itu, Selasa (16/2) kemarin pukul 08.00 WITA, Bupati Kepulauan Sitaro Evangelian Sasingen didampingi Wakil Bupati Jhon Heit Palandung dan Sekretaris Kabupaten Herry Bogar, turun langsung ke Bandara Siau, untuk melakukan peninjauan. Pada kesempatan tersebut bupati menyebutkan pemerintah kabupaten baru mengetahui informasi ini Senin lalu.

Namun menurut bupati informasi yang dia dapat kerusakan sudah terjadi sebulan lalu. “Ternyata kejadian ini sudah satu bulan lalu. Jadi karena tidak ada laporan tentang kejadian ini kepada kami, pemerintah daerah, maka kami hanya mengetahui juga dari media sosial. Sehingga hari ini kami turun gabungan dari pihak pemerintah daerah, TNI, Polri, mengecek langsung apa yang terjadi,” kata bupati.

“Jadi kalau dilihat keadaan ini sangat parah. Dan saya sempat menegur kepala bandara yang di sini di bawah Bandar Udara Naha, karena memang ini adalah kewenangan pusat. Tetapi kami sebagai yang punya wilayah, sebagai pemerintah daerah wajib juga diberikan laporan agar kami mengetahui. Agar kami juga punya langkah, laporan atau tindakan ke provinsi dan ke pusat untuk segera ditangani,” ucapnya.

Lanjutnya, sejak awal pihak bandara telah melaporkan ke pemerintah pusat terkait peristiwa ini. Namun sudah sebulan belum ada progresnya atau belum ada penanganan sama sekali dari pusat. Menurutnya informasi ada tim investigasi akan turun. Tapi sampai sebulan belum ada. “Jadi kami rencana akan membuat tindak lanjut. Kami akan membuat laporan secara resmi ke provinsi dan kementerian perhubungan, agar segera ditangani. Karena sudah masuk dalam jadwal peresmian,” pungkas Sasingen.

Peristiwa ini pun menuai kritikan dari masyarakat Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro). Menurut mereka, sangat disayangkan karena pembangunan bandara yang didanai dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan telah menelan anggaran raturan miliaran rupiah, serta belum diresmikan tersebut, nyaris hancur semuanya.

“Untuk detailnya peristiwa tersebut kami tidak tahu-menahu kapan bangunan tersebut rusak. Kami hanya terkejut ketika sudah ada di media sosial (medsos). Karena memang dari pihak bandara tidak mengizinkan masyarakat atau yang tidak berkepentingan untuk masuk ke dalam kawasan bandara. Kecuali hanya di gerbang bandara tersebut mereka mengizinkan,” ungkap salah satu masyarakat yang berdomisili di Kampung Balirangen, Kecamatan Siau Timur Selatan (Sitimsel) yang tak mau namanya dikorankan.

Senada Kapitalau Balirangen Redaengs Antameng menyatakan, pihaknya pun tidak mengetahui kapan waktu terjadinya peristiwa tersebut. Karena menurut informasi kejadian terjadi bulan lalu.

“Jadi kami juga pemerintah kampung tidak tahu-menahu terkait peristiwa atap bangunan di bandara tersebut. Memang bandara berada di lokasi kampung Balirangen, tetapi kami pemerintah kampung juga tidak diizinkan masuk ke dalam lokasi bandara karena ada hal-hal teknis menurut pihak Bandar Udara Siau. Dan kami pun memaklumi hal tersebut. Sedangkan kalau dilihat dari gerbang ke bagian bangunan, tidak akan kelihatan, makanya kami pun tidak tahu,” tandas Antameng saat diwawancarai koran ini.

Hadir dalam peninjauan tersebut Kapolres Sitaro AKBP Hansjen Ratag, Perwira Penghubung Kapten Inf. M. Takumansang, Kepala Dinas Perhubungan, Kepala Dinas Kominfo Jacson Baginda,Kepala Dinas PUPRPKP Indra Purukan, Kepala Badan Kesbang Pol Richard Sasombo, Kepala Dinas Satuan Pol PP Mondfitje Wengen, dan Kepala Bagian Prokopim Setda Harold Kalangit.

Sebelumnya, Dwi Arianto, Kepala Bandara Naha Tahuna yang menjadi penanggung jawab Bandara Pihise Siau mengatakan, total anggaran pembangunan Bandara Pihise Siau sejak tahun 2013 hingga 2019 sebesar Rp440 miliar. “Hingga kini semua fasilitas bandara sudah sangat siap untuk dioperasikan,” pungkasnya Nobember 2020 lalu.(cw-04/gnr)

MANADOPOST.ID—Kontruksi bangunan Bandar Udara Siau diduga tak sesuai spesifikasi. Belum diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi), dua bangunan dalam proyek bandara bernilai Rp440 miliar itu, ambruk dan rusak parah.

Perkiraan kerugian yang dihitung otoritas setempat diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar. Kepala Satuan Pelayanan Bandar Udara Siau Hirsan Rony Biki membantah, terkait informasi yang beredar bahwa peristiwa telah terjadi sejak bulan lalu. Menurut Rony, kejadiannya Senin (15/3) malam.

“Jadi informasi kerusakan tersebut kami mengetahuinya saat pagi hari (Senin, red) sekitaran pukul 05.00 WITA subuh,” tuturnya, sembari menjelaskan peristiwa angin kencang di wilayah Siau terjadi sekitaran Minggu (14/3) pukul 10.00 WITA hingga Senin pukul 01.00 WITA dini hari. “Jadi kemungkinan peristiwa terjadi pada hari Senin jam 1 malam,” katanya.

Terkait ungkapan warga, adanya konstruksi bangunan yang tidak sesuai spesifikasi atau asal-asalan, ia tak bisa memberikan tanggapan. Namun ia menyatakan, ketika masyarakat menilai bangunan tidak sesuai spesifikasi, warga bisa tunjukan bukti.

“Kita bandingkan saja, yang di sebelahnya tidak hancur. Contoh di landasan bandara ada direksi kit dari papan tripleks tidak rusak. Kan tidak mungkin perbandingannya bahwa bangunan yang rusak tersebut jelek, seolah-olah direksi kit dari papan tripleks yang tanpa di cor-coran dan tulangan tersebut jauh lebih kuat dari pada konstruksi terminal. Logikanya seperti itu. Karena itu bukan kapasitasnya saya menyatakan bahwa bangunan bandara tidak sesuai spek atau tidak sesuai desain,” tepisnya.

“Kejadian saat itu menimpa dua gedung. Yakni terminal, jadi bukan ruang tunggu tetapi terminal, karena di situ ada ruang keberangkatan, kedatangan, ruang tunggu, semua ada di situ. Dan di sebelahnya ada ruang administrasi. Kalau dilihat di ruang admin, tersedot keluar itu kaca dan rangka kaca itu semua terhisap keluar. Sampai dengan kuseng kaca yang dari rangka baja keluar dari dalam gedung,” papar Rony.

“Artinya kalau karena hembusan angin dari luar, tentu kerusakan atau materialnya semuanya ada di dalam gedung. Ini justru ada di luar. Saya pun tidak tahu bagaimana peristiwa tersebut, karena tidak ada saksi mata yang melihat secara langsung kejadian pada tengah malam. Ditambah lagi mati lampu hujan deras dan angin kencang,” jelasnya.

Dia membeberkan, kemungkinan anginnya berada di spot-spot dua ruangan tersebut. Sehingga ruang terminal dan administrasi yang rusak. Katanya mungkin angin puting beliung berada di dua titik tersebut. Karena kontruksi gedung genset dan yang lainnya juga sama dengan gedung terminal tersebut. “Dan semua gedung dalam bandara itu semua konstruksinya mirip-mirip atau sama, kecuali gedung pemadam, itu agak berbeda (konstruksi),” ujarnya.

Menurutnya, kerugian dalam peristiwa tersebut sekitaran 1 sampai 1,5 miliar. Namun hanya untuk satu ruang terminal. Karena yang dilihat dalam kerusakan tersebut, bukan hanya atapnya atau seng, atau juga rangka baja, tetapi terdapat fasilitas penunjang di dalamnya yang tertarik ke luar. “Seperti lampu, kabel-kabel, spirit, dan fasilitas penunjang lainnya tertarik keluar. Jadi perbaikan untuk bagian atapnya sekitar 1 sampai 1,5 miliar. Nah kalau untuk ruang admin hanya kecil biayanya tidak mencapai puluhan juta. Hanya kecil,” urainya.

Dikatakannya lagi, setelah mendapatkan informasi, dirinya langsung menginformasikan ke pihak Bandar Udara Naha terkait peristiwa. Dari Kabandara Naha telah melapor ke pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Perhubungan terkait kerusakan. Tinggal menunggu tim dari Jakarta atau kantor pusat/kementerian perhubungan yang akan turun melakukan investigasi. “Dalam waktu dekat ini atau minggu depan mereka akan datang ke Bandar Udara Siau. Jadi yang melapor ke pusat itu dari Bandar Udara Naha, karena kita kan (Bandara Siau) di bawahnya Bandara Naha,” jelasnya.

Diingatkannya lagi terminal ini telah dibangun sejak tahun 2018. Jadi pembangunan sudah melalui proses kajian yang lama. “Kalau pun misalnya ada tanggung jawab kontraktor dan pemeliharaan enam bulan setelah selesai pekerjaan, tapi ini kan sudah lewat dua tahun. Bahkan yang sebelahnya itu kan dari 2018 jadi sudah tiga tahun. Jadi bangunan tersebut mulai di bangun sejak tahun 2018 dan dilanjutkan di 2019, dan posisinya sekarang sudah tahun 2021 dan terjadi kerusakan. Kalau pun memang kontruksi bangunan sudah buruk dari lalu-lalu, pastinya sudah dari tahun-tahun sebelumnya rusak. Mungkin pas Februari itu yang ekstrim. Tapi namanya bencana alam, kami tidak bisa taksir kekuatan angin,” bebernya.

Ditambahkannya, peresmian bandara sebenarnya direncanakan November 2020. Bahkan apemerintah Kabupaten Sitaro telah membuat tenda untuk pelaksanaan peresmian. Namun tertunda. Katanya ada beberapa kali peresmian Bandara Siau tertunda. “Sebenarnya satu bulan ini kami telah melakukan rapat lagi, karena direncanakan Maret akan diadakan peresmian. Baru satu minggu kita rapat, minggu berikutnya sudah terjadi peristiwa ini. Jadi memang di bulan ini akan ada peresmian bandara, tetapi mungkin pengecualian untuk bandara Siau karena terkena musibah maka tidak diikutkan dalam peresmian,” jelasnya.

Sementara itu, Selasa (16/2) kemarin pukul 08.00 WITA, Bupati Kepulauan Sitaro Evangelian Sasingen didampingi Wakil Bupati Jhon Heit Palandung dan Sekretaris Kabupaten Herry Bogar, turun langsung ke Bandara Siau, untuk melakukan peninjauan. Pada kesempatan tersebut bupati menyebutkan pemerintah kabupaten baru mengetahui informasi ini Senin lalu.

Namun menurut bupati informasi yang dia dapat kerusakan sudah terjadi sebulan lalu. “Ternyata kejadian ini sudah satu bulan lalu. Jadi karena tidak ada laporan tentang kejadian ini kepada kami, pemerintah daerah, maka kami hanya mengetahui juga dari media sosial. Sehingga hari ini kami turun gabungan dari pihak pemerintah daerah, TNI, Polri, mengecek langsung apa yang terjadi,” kata bupati.

“Jadi kalau dilihat keadaan ini sangat parah. Dan saya sempat menegur kepala bandara yang di sini di bawah Bandar Udara Naha, karena memang ini adalah kewenangan pusat. Tetapi kami sebagai yang punya wilayah, sebagai pemerintah daerah wajib juga diberikan laporan agar kami mengetahui. Agar kami juga punya langkah, laporan atau tindakan ke provinsi dan ke pusat untuk segera ditangani,” ucapnya.

Lanjutnya, sejak awal pihak bandara telah melaporkan ke pemerintah pusat terkait peristiwa ini. Namun sudah sebulan belum ada progresnya atau belum ada penanganan sama sekali dari pusat. Menurutnya informasi ada tim investigasi akan turun. Tapi sampai sebulan belum ada. “Jadi kami rencana akan membuat tindak lanjut. Kami akan membuat laporan secara resmi ke provinsi dan kementerian perhubungan, agar segera ditangani. Karena sudah masuk dalam jadwal peresmian,” pungkas Sasingen.

Peristiwa ini pun menuai kritikan dari masyarakat Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro). Menurut mereka, sangat disayangkan karena pembangunan bandara yang didanai dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan telah menelan anggaran raturan miliaran rupiah, serta belum diresmikan tersebut, nyaris hancur semuanya.

“Untuk detailnya peristiwa tersebut kami tidak tahu-menahu kapan bangunan tersebut rusak. Kami hanya terkejut ketika sudah ada di media sosial (medsos). Karena memang dari pihak bandara tidak mengizinkan masyarakat atau yang tidak berkepentingan untuk masuk ke dalam kawasan bandara. Kecuali hanya di gerbang bandara tersebut mereka mengizinkan,” ungkap salah satu masyarakat yang berdomisili di Kampung Balirangen, Kecamatan Siau Timur Selatan (Sitimsel) yang tak mau namanya dikorankan.

Senada Kapitalau Balirangen Redaengs Antameng menyatakan, pihaknya pun tidak mengetahui kapan waktu terjadinya peristiwa tersebut. Karena menurut informasi kejadian terjadi bulan lalu.

“Jadi kami juga pemerintah kampung tidak tahu-menahu terkait peristiwa atap bangunan di bandara tersebut. Memang bandara berada di lokasi kampung Balirangen, tetapi kami pemerintah kampung juga tidak diizinkan masuk ke dalam lokasi bandara karena ada hal-hal teknis menurut pihak Bandar Udara Siau. Dan kami pun memaklumi hal tersebut. Sedangkan kalau dilihat dari gerbang ke bagian bangunan, tidak akan kelihatan, makanya kami pun tidak tahu,” tandas Antameng saat diwawancarai koran ini.

Hadir dalam peninjauan tersebut Kapolres Sitaro AKBP Hansjen Ratag, Perwira Penghubung Kapten Inf. M. Takumansang, Kepala Dinas Perhubungan, Kepala Dinas Kominfo Jacson Baginda,Kepala Dinas PUPRPKP Indra Purukan, Kepala Badan Kesbang Pol Richard Sasombo, Kepala Dinas Satuan Pol PP Mondfitje Wengen, dan Kepala Bagian Prokopim Setda Harold Kalangit.

Sebelumnya, Dwi Arianto, Kepala Bandara Naha Tahuna yang menjadi penanggung jawab Bandara Pihise Siau mengatakan, total anggaran pembangunan Bandara Pihise Siau sejak tahun 2013 hingga 2019 sebesar Rp440 miliar. “Hingga kini semua fasilitas bandara sudah sangat siap untuk dioperasikan,” pungkasnya Nobember 2020 lalu.(cw-04/gnr)

Most Read

Artikel Terbaru

/