28.4 C
Manado
Sabtu, 24 Juli 2021

Pilgub Sulut 2024 Sengit Seperti Pilpres, Ini Daftar Figurnya

MANADOPOST.ID — Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulawesi Utara (Sulut) masih tiga tahun lagi. Namun, bursa kandidat mulai memanas dalam diskusi ringan di kedai-kedai kopi seantero Bumi Nyiur Melambai.

 

(dari kiri) Komjen Pol Petrus Golose, Irjen Pol (Purn) Carlo Tewu, Irjen Pol (Purn) Ronny Sompie

Tak salah. Karena memang tahapan Pilkada serentak sudah mulai running tahun depan. Sejumlah nama disebut. Jagoan-jagoan PDI Perjuangan paling depan. Banyak kader mumpuni. Mayoritas tokoh asal partai berlambang banteng moncong putih memang sedang menguasai mayoritas daerah se-Sulut.

Steven Kandouw

Nama Wakil Gubernur Steven Kandouw dianggap yang terkuat. Pendamping Gubernur Olly Dondokambey (OD) diyakini bakal meneruskan kiprah sang mentor. Steven memang sudah mumpuni. OD bahkan berulang kali mempromosikan mantan Ketua DPRD Sulut untuk nantinya naik jabatan. Steven tak serta-merta menjadi calon tunggal. Ada dua tokoh kakak beradik asal Nusa Utara yang kini menjadi Ketua DPRD Sulut Fransiscus Andi Silangen dan Sekprov Edwin Silangen.

Fransiscus Silangen

Menjadi representasi warga kepulauan, keduanya pantas memimpin Sulut. Bila tak jadi cagub, baik Edwin maupun Andi bisa didorong sebagai cawagub pendamping cagub PDIP.

James Sumendap

Para kepala daerah PDIP juga layak. James Sumendap, Joune Ganda (JG) maupun Andrei Angouw (AA) sangat populis.

Joune Ganda

Ketiganya merepresentasikan kemenangan PDIP di daerah yang dipimpin. Sumendap sudah berhasil membawa kemajuan di Mitra hingga periode kedua ini.

Andrei Angouw

Sementara Bupati Minut JG dan Wali Kota Manado AA sedang digandrungi usai menaklukkan kerabat petahana di Pilkada 2020 lalu.

Adriana Dondokambey

Klan Dondokambey juga bisa tetap menahkodai Sulut. Keinginan warga yang ingin tetap dipimpin OD bisa jadi dialihkan kepada keluarganya. Adriana Dondokambey, Anggota DPR RI dari Sulut dan Wakil Bupati Minahasa Robby Dondokambey (RD) masuk daftar. Keduanya punya kapasitas. Ibu Na, sapaan akrab Adriana, sempat mengabdi di DPRD Sulut sebelum menjadi wakil rakyat di Senayan. Pun dengan RD. Belum selesai satu periode mendampingi Bupati Roy Roring, dia sudah punya banyak pendukung fanatik di Minahasa maupun di wilayah lain di Sulut.

Petrus Golose

Meskipun dijagokan, para tokoh PDIP bukan tanpa penantang. Ada sosok Kepala BNN RI Komjen Pol Petrus Golose. Tuama Sulut tak sembarangan. Jenderal tiga bintang bisa jadi calon terkuat bila dia memang ingin maju. Notabene pejabat di salah satu lembaga di pusat, Golose sudah cukup dikenal warga Sulut.

Ronny Sompie

Juga ada Ketua Umum DPP Kerukunan Keluarga Kawanua Irjen Pol (Purn) Ronny Sompie dan eks Kapolda Sulut Irjen Pol (Purn) Carlo Tewu

Carlo Tewu

Para tokoh partai yang baru melepas jabatan sebagai kepala daerah bisa jadi alternatif.

Vicky Lumentut

Eks Wali Kota Manado Vicky Lumentut dan Eks Bupati Minsel Christiany Eugenia Paruntu masih sangat dirindukan warga.

Christiany Paruntu

Keduanya punya basis massa selama jadi kepala daerah. Tak kalah mentereng. Elly Lasut, Bupati Talaud terdepan menjadi penantang. Sudah beberapa periode terakhir namanya masuk bursa. Kali ini dia punya fasilitas sebagai kepala daerah. Bahkan, tim Elly tampak sudah mulai melakukan sosialisasi sejak beberapa waktu belakangan.

Hein Arina

Sosok Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga, hingga Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode GMIM Hein Arina bisa turut jadi tokoh yang diusung bertarung di Pilgub nanti.

Pengamat politik Ferry Liando tak menampik kesengitan bisa saja terjadi pada kontestasi Pilgub 2024. Namun akan berbeda dengan Pilpres. Pasalnya, Pilpres cenderung lebih sedikit kontestannya bila dibandingkan dengan Pilgub. “Karena tensi politik, lebih sulit mendapat dukungan partai untuk maju Pilpres. Sedangkan untuk Pilgub, tiket dari parpol lebih memungkinkan banyaknya calon,” nilai Liando

Lanjut akademisi FISIP Unsrat itu, kesengitan Pilgub justru akan lebih banyak terjadi pada masa perebutan tiket usungan dari parpol. Terutama di tubuh PDIP. Dia menilai ada banyak kader yang berpotensi dijagokan. “Sehingga pasti akan adu manuver antar tokoh. Tetapi tentu Pak Olly akan tetap menjadi penentu. Beliau akan jadi king maker. Selain elektabilitas, restu dari Pak Olly akan sangat menentukan. Bisa jadi siapa yang lebih dekat dengan Pak Olly nantinya akan lebih berpeluang diusung,” tuturnya.

Dinamika di daerah, bagi dia sangat berbeda dengan di pusat. Penentuan capres PDIP akan lebih sengit. Sebab, posisi Puan sebagai putri Ketua Umum Megawati Soekarnoputri belum aman. Sekarang ini mulai muncul faksi-faksi yang mendukung Ganjar Pranowo. “Apalagi pemilihan masih jauh. Semua masih dinamis. Kita juga belum bisa menjadikan survei tertentu sebagai acuan di Sulut karena memang belum ada. Kita belum bisa melihat siapa pemilik elektabilitas tertinggi,” tutur Liando.

Terkait nama-nama tokoh yang mulai muncul ke permukaan, dia berpendapat semua punya keunggulan masing-masing. Meski begitu, ada keunggulan dari para kader PDIP karena disokong mesin partai yang solid. Para penantang yang mayoritas disinyalir akan datang dari tokoh-tokoh nasional asal Kawanua diyakini belum akan bisa banyak berbicara.

Jadi memang keseruan bisa lebih mungkin terjadi pada perebutan tiket nanti di PDIP. Nanti kontestasi lebih bisa ditebak siapa yang menang. Pelajarannya dari waktu lalu, orang-orang pusat yang turun ke daerah tidak laku. Karena masyarakat belum merasakan sentuhan langsung dari mereka. Pak Sarundajang lalu berbeda. Dia dari daerah dulu baru ke pusat dan kembali ke daerah makanya bisa menang,” ungkapnya.

Pengamat lain Goinpeace Tumbel berpendapat, pada momentum Pilkada serentak 2024, ada banyak variabel yang menentukan. Karena pemilihan di pusat dan di daerah akan berlangsung di tahun yang sama. Sehingga diyakininya akan sangat berpengaruh. “Siapa calon yang diusung pusat bisa berpengaruh juga di daerah. Karena pasti ada kesepakatan politik. Ada penyesuaian jargon. Apalagi kan Pilpres akan lebih dulu dari Pilkada. Jadi hasil di pusat akan sangat berpengaruh dengan di daerah,” nilainya.

Lanjut dia, baik Pilgub maupun Pilpres akan lebih sengit dibanding kontestasi sebelumnya karena tidak ada lagi incumbent. Sehingga pertarungannya akan lebih merata. Meskipun sokongan infrastruktur di birokrasi masih akan cenderung diterima salah satu tokoh nantinya. “Para kepala daerah yang akan naik level atau maju kembali sebagai incumbent akan diuntungkan di Pilkada karena punya fasilitas di birokrasi. Itu sangat besar pengaruhnya. Sama bila nanti di Pilgub, itu akan sangat membantu,” ujarnya.

Dia melihat beberapa kepala daerah tingkat II punya peluang besar untuk maju di Pilgub. Sepadan dengan tokoh-tokoh di pusat yang dikabarkan akan turun gunung maju di Pilgub. “Wah nama-nama yang muncul ini sudah punya popularitas. Tinggal bagaimana memanfaatkan infrastruktur yang dimiliki dan memaksimalkan mesin partai,” tutupnya. (jen)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru