28.4 C
Manado
Rabu, 6 Juli 2022

Punya Kedudukan Strategis, Gerbang Pasifik Kunci Sulut Maju

MANADOPOST.ID—Rancangan untuk menjadikan Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) sebagai Gerbang Indonesia ke Kawasan Pasifik, sudah lama digaungkan. Namun untuk mewujudkan hal tersebut tidak cukup hanya dengan mengembangkan berbagai sektor. Tapi membutuhkan kebijakan dan kerja sama yang baik dari semua stakeholder daerah dan pusat.

Masyarakat Sulut seharusnya optimis. Karena keberadaan Gubernur Olly Dondokambey (OD), yang dikenal hebat dan pro terhadap pariwisata, sudah terbukti mampu membawa perubahan pesat untuk pembangunan Sulut. Terbukti, jauh sebelum Covid-19 melanda, pariwisata Nyiur Melambai sangat bergeliat.

Ratusan ribu turis China mengunjungi Sulut, karena terbukanya penerbangan langsung Manado-China. Hal itu tidak terlepas dari terobosan yang dilakukan Gubernur OD bersama berbagai pihak.s

OD menyebutkan, secara letak geografis, geoposisi dan geostrategis Sulut sangat berpotensi menjadi gerbang Indonesia menuju kawasan pasifik. Memiliki banyak potensi yang harus dikembangkan. Tidak hanya perdagangan, pertanian, tapi juga pariwisata.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Tak ayal saat awal memimpin Sulut, dalam rencana pembangunan RPJMD sektor pariwisata ditetapkan sebagai prioritas pembangunan daerah. Untuk menggerakan sektor-sektor strategi lainnya untuk memajukan Sulut. Yang mengutamakan lima ‘P’, yakni people, planet prosperity, peace, dan partnership.

Tak hanya itu, dia juga menekankan, penetapan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Likupang dengan luas 2.000 hektare dan total investasi Rp8,1 triliun, menjadi bukti jika Sulut siap membuka peluang investasi yang sangat besar.

Sehingga dia berharap di masa penanganan Covid-19 dan era baru akan ada sinergitas sebagai upaya pemulihan kondisi negara. Dia pun berterima kasih kepada Mark Plus yang terus konsisten mendukung keberadaan pariwisata Sulut.

“Kiranya dari kegiatan seperti ini bisa lahir pemikiran yang baru, untuk Sulut yang lebih maju dan semakin hebat,” kata Gubernur OD, di sela dialog virtual episode 10 ‘Government Roundtable Series Covid-19, New, Next and Post, dengan tema ‘Sulawesi Utara: Gerbang Indonesia ke Pasifik’ yang diselenggarakan MarkPlus Inc dan Manado Post, kemarin.

Diskusi tersebut menghadirkan pembicara yang berkompoten. Dipandu langsung Founder dan Chairman MarkPlus Inc Hermawan Kartajaya dan Deputi Chairman MarkPlus Inc Taufik. Juga dikuti 465 peserta dan disiarkan langsung secara live di Facebook Manado Post dengan jangkauan sementara mencapai 8.000 orang.

Dalam kesempatan yang sama Ketua Umum Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) Ronny Sompie, juga melihat peluang yang sama. Dia membeber, Sulut memiliki bandara dan pelabuhan yang sangat bagus. Yang jika semuanya dimanfaatkan dengan baik, maka bisa mempercepat pembangunan.

Namun, dia menekankan, yang diperlukan Sulut tidak hanya tourism. Melainkan hasil pertanian. Mengingat Sulut merupakan daerah yang mayoritas warganya adalah petani. “Sehingga butuh keseriusan dari pemerintah, untuk bagaimana menjadikan Sulut sebagai prioritas uatama pembangunan untuk menuju gerbang pasifik,” katanya.

Di sisi lain, Ketua DPRD Sulut Andrei Angouw mengakui, Covid-19 memang menjadikan berbagai sektor lesu. Namun dia bersyukur, saat ini semua orang sudah mampu beradaptasi dan menyesuaikan keadaan yang ada. Dia pun mengharapkan dengan keadaan saat ini, konektivitas semakin baik. Dia mengatakan, ekonomi Sulut sebagian besar digerakan oleh konsumsi, ekspor dan transportasi.

“Namun, saat ini semua itu sedang alami penurunan. Jadi penggerakan toursem sangat penting, meskipun belum maksimal. Ini juga butuh dukungan kita semua,” tekannya.

Terpisah, Wakil Wali Kota Bitung Maurits Mantiri mengatakan, pada prinsipnya, kebijakan yang ditetapkan pemerintah masih belum memberi keuntungan untuk Pelabuhan Bitung. Yang notabennya sebagai pelabuhan utama. Karena yang terjadi selama ini adalah saat kapal sudah tiba, barang yang mau dikirim tidak ada.

“Kita ini bisa dikatakan sebagai daerah yang baru, jadi perlu treatmen khusus, untuk proses pengembangan alamiah. Karena jika banyak dibatasi akan menjadi kendala,” keluhnya.

Lantas, seperti apa penilaian para Duta Besar terhadap potensi Sulut sebagai gerbang Indonesia ke Pasifik? Duta Besar untuk Selandia Baru merangkap Samoa dan Kerajaan Tonga berkedudukan di KBRI Wellington Tantowi Yahya mengaku, tidak menyangka jika Sulut memiliki kedudukan yang strategi untuk menjadi gerbang pasifik. Dia menjelaskan, secara umum Indonesia diapit oleh dua Samudera. Yakni Hindia dan Pasifik.

Namun selama ini, Indonesia hanya dilihat dari persfektif Samudra Hindia. Padahal jika dilihat dari Pasifik, ada lima daerah yang langsung terlihat. Yakni Papua, Papuan Barat, Maluku, Maluku Utara dan NTT. “Ada banyak daerah yang masuk dalam Kawasan Pasifik salah satunya Sulut. Ini adalah potensi yang sangat besar,” katanya.

Lanjutnya, jumlah masyarakat ras Melanesia di Indonesia mencapai 13 juta jiwa. Tersebar di lima provinsi Melanesia di Indonesia. Sambungnya, penduduk di Kawasan Pasifik sekira 34 juta. Semuanya membutuhkan produk dari indonesua. “Sulut punya potensi yang baik. Mulai dari perikanan dalam hal ini tuna, kopi hingga komoditas lainnya. Sulut berpotensi masuk One Pacifik Destination,” yakinnya.

Terpisah, Duta Besar RI untuk Tiongkok Djauhari Oratmangun menegaskan, untuk menuju Gerbang Pasifik, Sulut harus menjadi HUB. Dia menyebutkan, koridor ekonomi Sulut ada tiga. Yakni tourism, manufactur, dan infrastruktur. Saat ini, yang berjalan adalah tourism antara China dan Sulut. Lanjutnya, dari nilai investasi, sampai saat ini, total investasi China ke Indonesia meningkat 93,6 persen.

China menjadi pemberi kontribusi yang besar terhadap investasi yang ada di Inonesia. Sambungnya, di tengah gempuran Covid-19 ini, satu-satunya negara yang diprediksi tidak mengalami resesi adalah Tiongkok. “Sebagai dubes saya siap membuka jalan untuk kerja sama yang baik antara Sulut dan Tiongkok,” janjinya.

Masih dalam diskusi yang sama. Kepala BI Sulut Arbonas Hutabarat menuturkan selama 10 tahun terakhir, terdapat lima pendorong ekonomi Sulut. Mulai dari perikanan 20 persen, perdagangan 12 persen,  kontrsuksi 11 persen,  transportasi 11 persen,  dan juga sektor-sektor lainnya. Sementara dari sisi pengeluaran, investasi dan konsumsi memberi andil sekira 81 persen.

“Ekonoli Sulut semester satu akan melambat karena ada perbatasan.  Sehingga bagimana menjadikan Sulut menjadi HUB dalam perdagangan, pariwisata dan industri. Dari perdagangan, perikanan kita sangat besar, namun perlu ditingkatkan. Karena hanya menyumbag 13 persen pada ekspor nasional. Di mana negara tujuan terbesarnya adalah Amerika. Sementara impor yang diterima China dari Sulut hanya sebesar 0,3 Dollar,” bebernya.

Arbonas menuturkan, untuk menjadikan Pelabuhan Bitung menjadi HUB, harus didukung dengan barang yang akan dikirimkan. “Barang masuk ada. Tapi barang yang mau dikirim tidak tahu apa. Proses perizinan lahan di KEK Bitung masih sangat sulit. Bitung itu sudah ditetapkan jadi Internasional HUB di Indonesia Timur. Sehingga perlu digagas kembali agar itu menjadi kenyataan. Pariwisata sendiri, KEK Likupang sebagai prioritas utama pariwisata. Jalan Tol Manado Bitung jika sudah selesai potensinya sangat besar,” tukasnya.

Dari sisi perbankan, Direktur Utama (Dirut) BSG Jeffry Dendeng menambahkan, pihaknya terus mengambil bagian dalam menggerakan roda perekonomian. Salah satunya melalui penyaluran kredit. “Saat ini kami menyalurkan kredit pada lima sektor prioritas. Mulai dari perikanan, pariwisata, pertanian, infrastruktur dan sektor ekonomi kreatif.

“Sektor ini menjadi prioritas. Karena terwujudnya Sulut menuju gerbang pasifik tidak lepas dari dari ke lima sektor yang ada. Jika terus dikembangkan, maka pasti hasilnya bisa maksimal dan mampu di ekspor ke berbagai negara. Yang terpenting bisa membuka peluang perdagangan Sulut,” sebut Dendeng.

Tak hanya itu, lanjut Dendeng, saat ini BSG juga terus berionovasi ke pelayanan digital. Dengan meluncurkan beberapa layanan digital, mulai dari BSGTouch, BSGCash, BSGDebit, BSGDirect, dan Paymentpoint.

“BSG pun terus menunjang pelaku UMKM. Di mana mulai tahun 2020 ini hingga 2022 mendatang BSG akan terus meningkatkan pemberian kredit di lima sektor prioritas,” katanya memastikan, sembari menambahkan, BSG terus memaksimalkan BSGexellence Center untuk mendidik dan menambah kompentensi para calon pelaku usaha, dengan memanfaatkan infratruktur internal BSG.

BSG juga katanya sedang bersiap menjadi bank devisa untuk menunjang pelaku usaha dan wisatawan dalam berbagai bentuk. Mulai dari melakukan Tradefinance, Moneychanger, hingga kerja sama transaksi pembayaran. “Intinya sebagai bank daerah, BSG siap mendukung Sulut agar bisa menuju gerbang pasifik,” tutupnya.(ayu/gnr)

MANADOPOST.ID—Rancangan untuk menjadikan Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) sebagai Gerbang Indonesia ke Kawasan Pasifik, sudah lama digaungkan. Namun untuk mewujudkan hal tersebut tidak cukup hanya dengan mengembangkan berbagai sektor. Tapi membutuhkan kebijakan dan kerja sama yang baik dari semua stakeholder daerah dan pusat.

Masyarakat Sulut seharusnya optimis. Karena keberadaan Gubernur Olly Dondokambey (OD), yang dikenal hebat dan pro terhadap pariwisata, sudah terbukti mampu membawa perubahan pesat untuk pembangunan Sulut. Terbukti, jauh sebelum Covid-19 melanda, pariwisata Nyiur Melambai sangat bergeliat.

Ratusan ribu turis China mengunjungi Sulut, karena terbukanya penerbangan langsung Manado-China. Hal itu tidak terlepas dari terobosan yang dilakukan Gubernur OD bersama berbagai pihak.s

OD menyebutkan, secara letak geografis, geoposisi dan geostrategis Sulut sangat berpotensi menjadi gerbang Indonesia menuju kawasan pasifik. Memiliki banyak potensi yang harus dikembangkan. Tidak hanya perdagangan, pertanian, tapi juga pariwisata.

Tak ayal saat awal memimpin Sulut, dalam rencana pembangunan RPJMD sektor pariwisata ditetapkan sebagai prioritas pembangunan daerah. Untuk menggerakan sektor-sektor strategi lainnya untuk memajukan Sulut. Yang mengutamakan lima ‘P’, yakni people, planet prosperity, peace, dan partnership.

Tak hanya itu, dia juga menekankan, penetapan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Likupang dengan luas 2.000 hektare dan total investasi Rp8,1 triliun, menjadi bukti jika Sulut siap membuka peluang investasi yang sangat besar.

Sehingga dia berharap di masa penanganan Covid-19 dan era baru akan ada sinergitas sebagai upaya pemulihan kondisi negara. Dia pun berterima kasih kepada Mark Plus yang terus konsisten mendukung keberadaan pariwisata Sulut.

“Kiranya dari kegiatan seperti ini bisa lahir pemikiran yang baru, untuk Sulut yang lebih maju dan semakin hebat,” kata Gubernur OD, di sela dialog virtual episode 10 ‘Government Roundtable Series Covid-19, New, Next and Post, dengan tema ‘Sulawesi Utara: Gerbang Indonesia ke Pasifik’ yang diselenggarakan MarkPlus Inc dan Manado Post, kemarin.

Diskusi tersebut menghadirkan pembicara yang berkompoten. Dipandu langsung Founder dan Chairman MarkPlus Inc Hermawan Kartajaya dan Deputi Chairman MarkPlus Inc Taufik. Juga dikuti 465 peserta dan disiarkan langsung secara live di Facebook Manado Post dengan jangkauan sementara mencapai 8.000 orang.

Dalam kesempatan yang sama Ketua Umum Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) Ronny Sompie, juga melihat peluang yang sama. Dia membeber, Sulut memiliki bandara dan pelabuhan yang sangat bagus. Yang jika semuanya dimanfaatkan dengan baik, maka bisa mempercepat pembangunan.

Namun, dia menekankan, yang diperlukan Sulut tidak hanya tourism. Melainkan hasil pertanian. Mengingat Sulut merupakan daerah yang mayoritas warganya adalah petani. “Sehingga butuh keseriusan dari pemerintah, untuk bagaimana menjadikan Sulut sebagai prioritas uatama pembangunan untuk menuju gerbang pasifik,” katanya.

Di sisi lain, Ketua DPRD Sulut Andrei Angouw mengakui, Covid-19 memang menjadikan berbagai sektor lesu. Namun dia bersyukur, saat ini semua orang sudah mampu beradaptasi dan menyesuaikan keadaan yang ada. Dia pun mengharapkan dengan keadaan saat ini, konektivitas semakin baik. Dia mengatakan, ekonomi Sulut sebagian besar digerakan oleh konsumsi, ekspor dan transportasi.

“Namun, saat ini semua itu sedang alami penurunan. Jadi penggerakan toursem sangat penting, meskipun belum maksimal. Ini juga butuh dukungan kita semua,” tekannya.

Terpisah, Wakil Wali Kota Bitung Maurits Mantiri mengatakan, pada prinsipnya, kebijakan yang ditetapkan pemerintah masih belum memberi keuntungan untuk Pelabuhan Bitung. Yang notabennya sebagai pelabuhan utama. Karena yang terjadi selama ini adalah saat kapal sudah tiba, barang yang mau dikirim tidak ada.

“Kita ini bisa dikatakan sebagai daerah yang baru, jadi perlu treatmen khusus, untuk proses pengembangan alamiah. Karena jika banyak dibatasi akan menjadi kendala,” keluhnya.

Lantas, seperti apa penilaian para Duta Besar terhadap potensi Sulut sebagai gerbang Indonesia ke Pasifik? Duta Besar untuk Selandia Baru merangkap Samoa dan Kerajaan Tonga berkedudukan di KBRI Wellington Tantowi Yahya mengaku, tidak menyangka jika Sulut memiliki kedudukan yang strategi untuk menjadi gerbang pasifik. Dia menjelaskan, secara umum Indonesia diapit oleh dua Samudera. Yakni Hindia dan Pasifik.

Namun selama ini, Indonesia hanya dilihat dari persfektif Samudra Hindia. Padahal jika dilihat dari Pasifik, ada lima daerah yang langsung terlihat. Yakni Papua, Papuan Barat, Maluku, Maluku Utara dan NTT. “Ada banyak daerah yang masuk dalam Kawasan Pasifik salah satunya Sulut. Ini adalah potensi yang sangat besar,” katanya.

Lanjutnya, jumlah masyarakat ras Melanesia di Indonesia mencapai 13 juta jiwa. Tersebar di lima provinsi Melanesia di Indonesia. Sambungnya, penduduk di Kawasan Pasifik sekira 34 juta. Semuanya membutuhkan produk dari indonesua. “Sulut punya potensi yang baik. Mulai dari perikanan dalam hal ini tuna, kopi hingga komoditas lainnya. Sulut berpotensi masuk One Pacifik Destination,” yakinnya.

Terpisah, Duta Besar RI untuk Tiongkok Djauhari Oratmangun menegaskan, untuk menuju Gerbang Pasifik, Sulut harus menjadi HUB. Dia menyebutkan, koridor ekonomi Sulut ada tiga. Yakni tourism, manufactur, dan infrastruktur. Saat ini, yang berjalan adalah tourism antara China dan Sulut. Lanjutnya, dari nilai investasi, sampai saat ini, total investasi China ke Indonesia meningkat 93,6 persen.

China menjadi pemberi kontribusi yang besar terhadap investasi yang ada di Inonesia. Sambungnya, di tengah gempuran Covid-19 ini, satu-satunya negara yang diprediksi tidak mengalami resesi adalah Tiongkok. “Sebagai dubes saya siap membuka jalan untuk kerja sama yang baik antara Sulut dan Tiongkok,” janjinya.

Masih dalam diskusi yang sama. Kepala BI Sulut Arbonas Hutabarat menuturkan selama 10 tahun terakhir, terdapat lima pendorong ekonomi Sulut. Mulai dari perikanan 20 persen, perdagangan 12 persen,  kontrsuksi 11 persen,  transportasi 11 persen,  dan juga sektor-sektor lainnya. Sementara dari sisi pengeluaran, investasi dan konsumsi memberi andil sekira 81 persen.

“Ekonoli Sulut semester satu akan melambat karena ada perbatasan.  Sehingga bagimana menjadikan Sulut menjadi HUB dalam perdagangan, pariwisata dan industri. Dari perdagangan, perikanan kita sangat besar, namun perlu ditingkatkan. Karena hanya menyumbag 13 persen pada ekspor nasional. Di mana negara tujuan terbesarnya adalah Amerika. Sementara impor yang diterima China dari Sulut hanya sebesar 0,3 Dollar,” bebernya.

Arbonas menuturkan, untuk menjadikan Pelabuhan Bitung menjadi HUB, harus didukung dengan barang yang akan dikirimkan. “Barang masuk ada. Tapi barang yang mau dikirim tidak tahu apa. Proses perizinan lahan di KEK Bitung masih sangat sulit. Bitung itu sudah ditetapkan jadi Internasional HUB di Indonesia Timur. Sehingga perlu digagas kembali agar itu menjadi kenyataan. Pariwisata sendiri, KEK Likupang sebagai prioritas utama pariwisata. Jalan Tol Manado Bitung jika sudah selesai potensinya sangat besar,” tukasnya.

Dari sisi perbankan, Direktur Utama (Dirut) BSG Jeffry Dendeng menambahkan, pihaknya terus mengambil bagian dalam menggerakan roda perekonomian. Salah satunya melalui penyaluran kredit. “Saat ini kami menyalurkan kredit pada lima sektor prioritas. Mulai dari perikanan, pariwisata, pertanian, infrastruktur dan sektor ekonomi kreatif.

“Sektor ini menjadi prioritas. Karena terwujudnya Sulut menuju gerbang pasifik tidak lepas dari dari ke lima sektor yang ada. Jika terus dikembangkan, maka pasti hasilnya bisa maksimal dan mampu di ekspor ke berbagai negara. Yang terpenting bisa membuka peluang perdagangan Sulut,” sebut Dendeng.

Tak hanya itu, lanjut Dendeng, saat ini BSG juga terus berionovasi ke pelayanan digital. Dengan meluncurkan beberapa layanan digital, mulai dari BSGTouch, BSGCash, BSGDebit, BSGDirect, dan Paymentpoint.

“BSG pun terus menunjang pelaku UMKM. Di mana mulai tahun 2020 ini hingga 2022 mendatang BSG akan terus meningkatkan pemberian kredit di lima sektor prioritas,” katanya memastikan, sembari menambahkan, BSG terus memaksimalkan BSGexellence Center untuk mendidik dan menambah kompentensi para calon pelaku usaha, dengan memanfaatkan infratruktur internal BSG.

BSG juga katanya sedang bersiap menjadi bank devisa untuk menunjang pelaku usaha dan wisatawan dalam berbagai bentuk. Mulai dari melakukan Tradefinance, Moneychanger, hingga kerja sama transaksi pembayaran. “Intinya sebagai bank daerah, BSG siap mendukung Sulut agar bisa menuju gerbang pasifik,” tutupnya.(ayu/gnr)

Most Read

Artikel Terbaru

/