24.4 C
Manado
Sabtu, 13 Agustus 2022

Tengker: Maengket Bisa Dikembangkan Jadi Wisata Budaya

MANADOPOST.ID- Memasuki masa ‘new normal’, banyak penyesuaian dalam berkehidupan dan bersosialisasi dilakukan. “Tapi tentunya, kita tidak meninggalkan upaya untuk tetap menjaga dan melestarikan seni budaya, dalam hal ini, dari Minahasa. Apakah harus kita sesuaikan dengan kondisi new normal saat ini?” kata Ketua Umum Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) Angelica Tengker, saat membuka kegiatan Website Daring Seminar (Webinar) ‘Melestarikan Seni Budaya Maengket sebagai Identitas dan Jati Diri Minahasa’, tadi siang (17/7).

Lanjutnya, banyak yang mengenal seni budaya Maengket sebagai Tari Maengket, yang merupakan tari tradisional Minahasa. “Upaya umtuk melestarikan seni budaya ini, kita perlu mengkaji seperti apa dan bagaimana supaya Maengket yang merupakan jati diri Minahasa, bisa terus diterima dari generasi ke generasi ke depan, dengan tetap mempertahankan jiwanya atau nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Maengket bisa jadi potensi pariwisata jika bisa dikembangan menjadi satu konsep wisata budaya,” ungkapnya.

Sementara itu, webinar ini menghadirkan beberapa tokoh budaya Minahasa, diantaranya DR Benny J Mamoto SH Msi Ketua Yayasan Institut Seni Budaya Sulut, Dr Pudentia MPSS Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia sekaligus Ketua Asosiasi Tradisi Lisan dan Dr Benny Matindas Filosof Kawanua.

Selain itu juga, ada para narasumber, yakni Prof Dr Perry Rumengan Guru Besar Universitas Negeri Manado (Unima), Dr Jultje Ratu Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Samratulangi (Unsrat), serta Joseph Osdar Jurnalis senior Kompas Group.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Dalam pemaparannya, Mamoto mengusulkan agar dibentuk asosiasi untuk Maengket, juga protap dalam pelaksanaan lomba-lomba di masa new normal. Sementara Dr Pudentia menyampaikan sebenarnya sudah ada kelompok persatuan Maengket, juga perlunya mendirikan sekolah-sekolah sanggar Maengket.

Kemudian Dr Matindas menekankan agar Maengket perlu ada rohnya. Keterkaitan dengan masalah lingkungan dalam gelaran Maengket juga wajib diperhatikan menurut Osdar. Sementara Dr Ratu menyampaikan, peranan perempuan dalam masyarakat Minahasa tergambar di Tari Maengket.(*)

MANADOPOST.ID- Memasuki masa ‘new normal’, banyak penyesuaian dalam berkehidupan dan bersosialisasi dilakukan. “Tapi tentunya, kita tidak meninggalkan upaya untuk tetap menjaga dan melestarikan seni budaya, dalam hal ini, dari Minahasa. Apakah harus kita sesuaikan dengan kondisi new normal saat ini?” kata Ketua Umum Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) Angelica Tengker, saat membuka kegiatan Website Daring Seminar (Webinar) ‘Melestarikan Seni Budaya Maengket sebagai Identitas dan Jati Diri Minahasa’, tadi siang (17/7).

Lanjutnya, banyak yang mengenal seni budaya Maengket sebagai Tari Maengket, yang merupakan tari tradisional Minahasa. “Upaya umtuk melestarikan seni budaya ini, kita perlu mengkaji seperti apa dan bagaimana supaya Maengket yang merupakan jati diri Minahasa, bisa terus diterima dari generasi ke generasi ke depan, dengan tetap mempertahankan jiwanya atau nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Maengket bisa jadi potensi pariwisata jika bisa dikembangan menjadi satu konsep wisata budaya,” ungkapnya.

Sementara itu, webinar ini menghadirkan beberapa tokoh budaya Minahasa, diantaranya DR Benny J Mamoto SH Msi Ketua Yayasan Institut Seni Budaya Sulut, Dr Pudentia MPSS Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia sekaligus Ketua Asosiasi Tradisi Lisan dan Dr Benny Matindas Filosof Kawanua.

Selain itu juga, ada para narasumber, yakni Prof Dr Perry Rumengan Guru Besar Universitas Negeri Manado (Unima), Dr Jultje Ratu Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Samratulangi (Unsrat), serta Joseph Osdar Jurnalis senior Kompas Group.

Dalam pemaparannya, Mamoto mengusulkan agar dibentuk asosiasi untuk Maengket, juga protap dalam pelaksanaan lomba-lomba di masa new normal. Sementara Dr Pudentia menyampaikan sebenarnya sudah ada kelompok persatuan Maengket, juga perlunya mendirikan sekolah-sekolah sanggar Maengket.

Kemudian Dr Matindas menekankan agar Maengket perlu ada rohnya. Keterkaitan dengan masalah lingkungan dalam gelaran Maengket juga wajib diperhatikan menurut Osdar. Sementara Dr Ratu menyampaikan, peranan perempuan dalam masyarakat Minahasa tergambar di Tari Maengket.(*)

Most Read

Artikel Terbaru

/