alexametrics
32.4 C
Manado
Rabu, 27 Oktober 2021
spot_img

Anggia Kloer Cerita Awal Mula Jadi Sespri Edhy Prabowo, Berawal dari Info Sang Kakak

MANADOPOST.ID— Sekretaris pribadi (sespri) mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, yakni Anggia Tesalonika Kloer, menceritakan awal mula dirinya bekerja dengan politikus Partai Gerindra tersebut.

Perempuan asal Manado, Sulawesi Utara ini, tahu info Edhy butuh sespri dari kakaknya, legislator Manado . “Saya menjadi sespri sejak 28 Juni 2020. Saya tahu info bapak butuh sespri dari kakak saya yang merupakan kader Gerindra dan dia usulkan agar saya coba kirim CV ke Bu Putri Tjatur selaku staf khusus bapak,” kata Anggia di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Selasa, seperti dilansir Antara.

Anggia menjadi saksi untuk lima terdakwa yaitu Edhy Prabowo, Andreau Misanta Pribadi dan Safri (staf khusus Edhy Prabowo), Amiril Mukminin (sekretaris pribadi Edhy), Ainul Faqih (sespri Iis) dan Siswadhi Pranoto Loe (pemilik PT Aero Cipta Kargo) yang didakwa bersama-sama menerima 77 ribu dolar AS dan Rp24,625 miliar sehingga totalnya mencapai sekitar Rp25,75 miliar dari para pengusaha pengekspor benih benih lobster (BBL) terkait pemberian izin budidaya dan ekspor.

“Saya disuruh datang ke Jakarta, wawancara dengan Pak Safri kemudian masuk kerja mulai 28 Juni dan saya keluar 6 Juli 2020,” kata Wakil II Noni Sulut 2018 ini.

Sebelumnya, saat bersaksi dalam sidang terdakwa Direktur PT Dua Putera Perkasa Pratama (DPPP), Suharjito, 17 Maret lalu, Anggia mengaku pernah diberikan mobil hingga penyewaan unit apartemen oleh Edhy Prabowo.

“Saya disewakan apartemen sebagai apartemen saya, karena tidak punya keluarga di Jakarta dan saya dari daerah dari Manado, saya disewakan apartemen,” katanya.

Pembawa baki pada Upacara HUT RI ke-69 provinsi Sulut ini mengklaim, tidak mengetahui soal biaya sewa apartemen tersebut. Lantas jaksa penuntut umum (JPU) mengingatkan Anggia soal penyewaan unit apartemen tersebut.

“BAP (nomor) 8 karena pada saat penyewaan apartemen Amiril (sekretaris pribadi Edhy, Amiril Mukminin) sempat mengatakan kepada saya bahwa terkait dengan penyewaan adalah dari bapak. Bapak di sini maksudnya adalah Edhy Prabowo,” ucap jaksa KPK membacakan BAP. “Iya,” singkat Anggia.

Selain penyewaan unit apartement, Anggia juga mengaku diberikan mobil merek Honda HRV berwarna hitam dari Edhy Prabwo. Menurutnya, surat tanda nomor kendaraan (STNK) itu atas nama Ainul Faqih selaku staf istri Edhy, Iis Rosita Dewi.

“Kendaraan itu pasca saya sembuh Covid-19 bulan awal Oktober, saya dipinjamkan mobil untuk mempermudah dari tempat tinggal ke kantor agar tidak menggunakan kendaraan umum. STNK atas nama Ainul,” pungkas Anggia.

Dua sespri Edhy lainnya juga dihadirkan dalam sidang tadi siang, yaitu Putri Elok Sukarni dan Fidya Yusri. Putri Elok juga mengaku mulai bekerja pada 28 Juni 2020 bersama dengan Anggi. “Sejak 2014-2019 sebenarnya saya sudah jadi staf Pak Edhy di DPR tapi saat Pak Edhy jadi menteri saya tidak ikut, barulah pada awal Januari Pak Edhy minta saya bergabung membantu di kementerian menjadi sekretaris karena saat itu baru ada mas Amiril dan Lukman sedangkan Bu Putri selaku stafsus malah jadi ikut bantu kerja tupoksi sekretaris,” kata Putri Elok.

Namun Putri Elok menyebutkan sejumlah halangan yang membuat ia awalnya enggan bergabung sebagai sekretaris di KKP karena jam kerja di KKP yang tidak menentu, ia yang masih menjadi staf fraksi Gerindra di Komisi I DPR, lokasi rumahnya yang jauh dari KKP dan belum menyelesaikan tesis.

“Tapi mas Amir mengatakan untuk urusan tempat tinggal akan dicarikan, saya belum kepikiran akan dicari apartemen dan saat setelah lebaran bertemu bapak, bapak juga mengatakan akan diatur hanya saya tidak tanya lagi jadi akhirnya pada 28 Juni saya mulai masuk ke kementerian,” ungkap Putri Elok.

Saat itu sudah ada Amiril, Lukman dan Fidya yang menjadi sespri Edhy. “Kalau saya masuk 10 Februari 2020. Saya kenal Pak Edhy dari SMP karena beliau atasan ayah saya di Partai Gerindra. Pada akhir 2020 ada pertemuan kantor DPD Gerindra di Palembang lalu bertemu dengan Pak Edhy dan Ibu (Iis) dan saya ditanya apa sudah selesai kuliah dan siap bekerja karena lumayan untuk cari pengalaman,” kata Fidya.

Fidya lalu mengiyakan ajakan Edhy tersebut. Ia kemudian menjalani wawancara di Jakarta pada 4 Februari 2020 dengan Safri tapi masih belum tahu akan dijadikan sespri. “Partner saya saat itu adalah Mas Lukman dan Mbak Putri Tjatur di ruang sekretariat baru beberapa minggu kemudian bertemu Amiril walau awalnya belum tahu dia juga sespri,” ungkap Fidya.

Baik Angia, Putri Elok dan Fidya bekerja di bawah pengawasan Putri Tjatur. “Pak Menteri ingin saya tentir adik-adik ini agar saya tidak perlu lagi mengerjakan tugas kesekretariatan khusus untuk Pak Menteri namun masih dalam proses, adik-adik saya latih melakukan pekerjaan yang selama ini saya lakukan dalam mendampingi administrasi Pak Menteri,” kata Putri Tjatur.

Putri Tjatur sudah menjadi staf Edhy sejak 2004 saat Edhy menjadi direktur utama perusahaan perkayuan di Aceh. “Setelah itu beliau membantu pembentukan Partai Gerindra dan terpilih sebagai anggota DPR mewakili Sumatera Selatan 1 pada 2009 lalu terpilih lagi pada 2014 dan menjadi ketua Komisi IV dan saya diminta untuk mendampingi sebagai tenaga ahli,” ungkap Putri Tjatur. Setelah Edhy ditunjuk sebagai Menteri KP, Putri Tjatur juga ikut pindah ke KKP. “Walau SK-nya berproses dan baru terbit Januari 2020, tugas saya adalah administrasi, menyortir surat internal, eksternal jadi saya lebih ke tata usaha,” ungkap Putri Tjatur.(ant/tan)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru