24.4 C
Manado
Minggu, 26 Juni 2022

Banner Mobile (Anymind)

Menurut Ahli, Ini Faktor Pemicu Bencana Amurang

- Advertisement -

MANADOPOST.ID—Peristiwa bencana Amurang yang terjadi Rabu(15/6), menurut Koordinator Ikatan Geografi Indonesia (IGI) Sulawesi Utara (Sulut) Drs Agus Santoso Budiharso,M.Sc., bahwa hal tersebut dapat dipicu oleh dua faktor, yakni geoteknik dalam hal ini terjadi likuifaksi atau dapat disebabkan oleh faktor geologi adanya keruntuhan dinding dasar laut.

“Kalau berdasarkan peta yang dikeluarkan oleh Kementerian ESDM Badan Geologi, Pusat Airtanah dan Geologi Tata Lingkungan Tahun 2019, bahwa disitu memang ada zona merah artinya memiliki tingkat likuifaksi yang tinggi,” kata Agus Santoso.

Namun sebagai Ahli Geografi, Agus Santoso tak memungkiri bahwa faktor lainnya seperti reruntuhan dinding didasar laut akibat faktor geologi juga dapat menjadi pemicu terjadinya amblash pada titik tersebut. Sehingga ia menyimpulkan untuk perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

“Berdasarkan peta ESDM, sepanjang garis merah itu memang rawan likuifaksi. Tapi kejadiannya, yang terjadi hanya di titik itu. Sehingga itu sebenarnya bukan likuifaksi namun mirip likuifaksi. Itu baru menurut peta yang dikeluarkan Kementerian ESDM jadi perlu dilakukan penelitian yang lebih dalam,” terang Agus Santoso.

- Advertisement -

Ketua Dewan Etik Perkumpulan Ahli Informasi Geospasial Indonesia (PAGI) pun menguraikan bahwa faktor runtuhan dinding dasar laut dari unsur tanah ataupun geologi pada titik lokasi kejadian, juga dapat menjadi pemicu terjadinya bencana.

“Jadi itu bisa likuifaksi atau bisa juga faktor runtuhan dinding dasar laut yang jadi penyebabnya. Karena secara geologi daerah itu memang merupakan kawasan yang memiliki endapan alluvium,” jelasnya.

Menurut Agus Santoso, endapan alluvium adalah endapan yang belum kompak, belum masif sehingga belum terikat dengan kuat. Endapan ini terbentuk karena pada lokasi titik kejadian bencana di Amurang merupakan tempat penyebaran material dari Gunung Soputan. Dimana, Gunung Soputan merupakan gunung yang aktif di Sulawesi Utara dan masih mengeluarkan material pasir secara aktif.

“Sehingga material dari Gunung Soputan itu juga banyak terendapkan di daerah Amurang tepatnya di areal lokasi Sungai Ranoyapo yang kemudian tersebar hingga titik lokasi kejadian,” beber Agus Santoso.

Pria yang bergelar Master of Science dalam Bidang Geografi dengan Spesialisasi Perencanaan dan Pengelolaan Pantai dan Daerah Aliran Sungai Fakultas Geografi UGM pula mengatakan bahwa material yang bersumber dari endapan alluvium atau aluvial kebanyakan berpasir dan lumpur yang ikatannya lemah atau belum kompak.

Hal lainnya sebagai penyebab bencana di Amurang, menurut Agus Santoso juga dipicu oleh Topografi pada titik tersebut.

“Topografi daerah Amurang di titik itu ada landai, sesudah landaian beberapa meter dari garis pantai itu dasar laut nya langsung terjal semacam dinding dasar laut. Dinding dasar laut itu karena hempasan arus laut atau terkikis arus dan ombak yang akhirnya membentuk ronga/lobang dinding dasar laut tersebut. Ketika bagian atasnya banyak bangunan, jalan, jembatan dan rumah-rumah maka disitu akan ada beban yang memungkinkan tekanan ke bawah. Adanya tekanan ini kemungkinan dapat menyebabkan runtuhnya dinding dasar laut yang sudah berongga akibat erosi dasar laut. Kondisi ini menyebabkan runtuhnya berbagai bangunan yang ada diatasnya”, papar Agus Santoso dari kajiannya mengikuti visual yang terekam dari peristiwa bencana tersebut.

Sehingga bencana akibat likuifaksi seperti peristiwa bencana di Palu tak dipungkiri Agus Santoso kemungkinan juga bisa terjadi pada lokasi titik bencana di Amurang akibat kesamaan jenis endapan. Namun dengan faktor penyebab yang berbeda.

“Likuifaksi di Palu berbeda dengan yang ada di Amurang. Kalau di Palu dipicu oleh gempa dimana di dalam tanahnya itu memang tipe endapannya mirip tapi situasinya berbeda,” kata koordinator IGI Sulut ini.

Selain itu pula, adanya patahan atau sesar aktif yang melintas di sepanjang aliran Sungai Ranoyapo, disebutkan Agus Santoso dapat menjadi faktor penyebab bencana. “Sungai Ranoyapo ini membawa material hasil erupsi dari Gunung Soputan yang diendapkan dipesisir Teluk Amurang,” katanya. Sehingga endapan alluvium yang sudah lama yang sifatnya belum kompak maka ketika ada getaran, menurut Koordinator Ikatan Geograf Gadjah Mada (IGEGAMA) Sulut ini, runtuhan pada dinding terjal bawah laut itu akan mudah terjadi. (Lihat ilustrasi).

ILUSTRASI : Runtuhan dinding dasar laut yang kemungkinan menyebabkan bencana di Amurang.

Dari peristiwa tersebut, Ia pun menyarankan agar pemerintah dapat lebih jeli dalam melaksanakan pembangunan dilokasi yang sudah ditetapkan sebagai zona merah rentan likuifaksi.

“Saran saya untuk pemerintah bahwa harus diperhatikan betul zona-zona merah pada peta kerentanan likuifaksi yang diterbitkan Kementerian ESDM. Membangun harus memperhatikan itu, karena zona merah berarti ada warning,” saran Agus Santoso.

Terkait bencana tersebut ia pun menganjurkan agar ada beberapa Tim Ahli yang dapat turut terlibat dilokasi kejadian. Yakni Ahli Geologi, Ahli Mekanika Tanah, Ahli Kelautan, Ahli Geografi  serta Ahli Sosiologis-Antropologis.

“Ahli Sosiologis dan Antropologis juga penting, untuk mengetahui budaya dan karakter masyarakat, cara mereka membangun disitu seperti apa. Karena dampaknya secara langsung dimasyarakat,” tutur Agus Santoso.

Sedangkan multisektor yang terlibat di lokasi bencana, Ia menganjurkan agar tidak melakukan pembangunan serupa sebelum dilakukan penelitian. Ia pun menyarankan agar masyarakat tak panik sebelum ada data hasil penelitian.

“Jadi sebelum ada data yang valid. Jangan dilakukan pembangunan yang serupa di situ. Kalau mau dibangun, ya hanya sebagai jembatan dengan fungsi darurat. Sedangkan untuk konstruksi-konstruksi yang benar-benar mau dibangun, harus berdasarkan data yang akurat di wilayah. Untuk masyarakat sendiri agar tidak panik. Tunggu saja tim yang telah dibentuk untuk melakukan penelitian dengan baik,” kunci Agus Santoso.

Sebelumnya, secara terpisah Ahli Geoteknik Struktur Tanah, Fondasi dan Jembatan Prof Dr Fabian Manoppo, MAgr juga menerangkan hal senada bahwa kejadian Amurang dapat terjadi akibat dua faktor, yakni Geoteknik dan Geologi.
“Dari hasil pengamatan lapangan, kejadian di Amurang bisa diakibatkan oleh faktor geologi dan geoteknik. Namun, jika dilihat dari kejadiannya di lokasi, cenderung itu adalah masalah geologi. Karena terjadi subsidence atau amblasan,” ungkap Profesor Fakultas Teknik Unsrat ini.

Selain itu, menurut Manoppo bahwa faktor geoteknik yakni likuifaksi bukan akibat gempa tapi akibat gelombang dan pasang surut air laut dan air sungai juga dapat menjadi faktor penyebab bencana di Amurang.

“Penyebab dari faktor geologi dimana terjadi amblasan bisa karena adanya jalur geothermal/ jalur gunung berapi, sungai purba, batuan muda lapuk yang berada jauh di bawah tanah yakni kira-kira pada kedalaman  lebih dari 100 meter sehingga sulit penanganannya,” urai Dekan Fakultas Teknik Unsrat ini yang juga menerangkan perlu dilakukan penelitian lanjut.

“Ke duanya masih perlu penelitian lanjutan dengan didukung oleh data-data teknik untuk mengetahui apakah hal tersebut akibat geologi atau geoteknik. Fakultas Teknik Unsrat akan segera menurunkan tim pengabdian untuk memberikan solusi yang terbaik,” kata Manoppo.

Sebagai langkah antisipatif, la pun menganjurkan bahwa apabila yang ditemukan merupakan faktor geoteknik, maka rekayasa geoteknik dapat dilakukan sebagai tindakan pencegahan. “Kalau memang itu masalah geoteknik, kita bisa bikin pengaman pantai, pemecahan ombak, struktur perkuatan tanah dan pondasi untuk mengurangi resiko likuifaksi bisa menjadi pencegah,” kata Manoppo.

Namun demikian apabila hal tersebut akibat faktor geologi, kandidat Rektor Unsrat ini pun menganjurkan agar masyarakat dapat menjauhi lokasi bencana tersebut serta mengikuti setiap aturan pemerintah terkait lokasi permukiman.

“Apabila ini faktor geologi, maka masyarakat sebaiknya jangan tinggal di situ. Yang namanya sempadan sungai, sepadan jalan, pantai, dan sempadan danau itu ada regulasinya tidak boleh sembarang membangun karena cenderung daerah-daerah itu berpotensi,” pungkas Manoppo. (Desmianti Babo)

MANADOPOST.ID—Peristiwa bencana Amurang yang terjadi Rabu(15/6), menurut Koordinator Ikatan Geografi Indonesia (IGI) Sulawesi Utara (Sulut) Drs Agus Santoso Budiharso,M.Sc., bahwa hal tersebut dapat dipicu oleh dua faktor, yakni geoteknik dalam hal ini terjadi likuifaksi atau dapat disebabkan oleh faktor geologi adanya keruntuhan dinding dasar laut.

“Kalau berdasarkan peta yang dikeluarkan oleh Kementerian ESDM Badan Geologi, Pusat Airtanah dan Geologi Tata Lingkungan Tahun 2019, bahwa disitu memang ada zona merah artinya memiliki tingkat likuifaksi yang tinggi,” kata Agus Santoso.

Namun sebagai Ahli Geografi, Agus Santoso tak memungkiri bahwa faktor lainnya seperti reruntuhan dinding didasar laut akibat faktor geologi juga dapat menjadi pemicu terjadinya amblash pada titik tersebut. Sehingga ia menyimpulkan untuk perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

“Berdasarkan peta ESDM, sepanjang garis merah itu memang rawan likuifaksi. Tapi kejadiannya, yang terjadi hanya di titik itu. Sehingga itu sebenarnya bukan likuifaksi namun mirip likuifaksi. Itu baru menurut peta yang dikeluarkan Kementerian ESDM jadi perlu dilakukan penelitian yang lebih dalam,” terang Agus Santoso.

Ketua Dewan Etik Perkumpulan Ahli Informasi Geospasial Indonesia (PAGI) pun menguraikan bahwa faktor runtuhan dinding dasar laut dari unsur tanah ataupun geologi pada titik lokasi kejadian, juga dapat menjadi pemicu terjadinya bencana.

“Jadi itu bisa likuifaksi atau bisa juga faktor runtuhan dinding dasar laut yang jadi penyebabnya. Karena secara geologi daerah itu memang merupakan kawasan yang memiliki endapan alluvium,” jelasnya.

Menurut Agus Santoso, endapan alluvium adalah endapan yang belum kompak, belum masif sehingga belum terikat dengan kuat. Endapan ini terbentuk karena pada lokasi titik kejadian bencana di Amurang merupakan tempat penyebaran material dari Gunung Soputan. Dimana, Gunung Soputan merupakan gunung yang aktif di Sulawesi Utara dan masih mengeluarkan material pasir secara aktif.

“Sehingga material dari Gunung Soputan itu juga banyak terendapkan di daerah Amurang tepatnya di areal lokasi Sungai Ranoyapo yang kemudian tersebar hingga titik lokasi kejadian,” beber Agus Santoso.

Pria yang bergelar Master of Science dalam Bidang Geografi dengan Spesialisasi Perencanaan dan Pengelolaan Pantai dan Daerah Aliran Sungai Fakultas Geografi UGM pula mengatakan bahwa material yang bersumber dari endapan alluvium atau aluvial kebanyakan berpasir dan lumpur yang ikatannya lemah atau belum kompak.

Hal lainnya sebagai penyebab bencana di Amurang, menurut Agus Santoso juga dipicu oleh Topografi pada titik tersebut.

“Topografi daerah Amurang di titik itu ada landai, sesudah landaian beberapa meter dari garis pantai itu dasar laut nya langsung terjal semacam dinding dasar laut. Dinding dasar laut itu karena hempasan arus laut atau terkikis arus dan ombak yang akhirnya membentuk ronga/lobang dinding dasar laut tersebut. Ketika bagian atasnya banyak bangunan, jalan, jembatan dan rumah-rumah maka disitu akan ada beban yang memungkinkan tekanan ke bawah. Adanya tekanan ini kemungkinan dapat menyebabkan runtuhnya dinding dasar laut yang sudah berongga akibat erosi dasar laut. Kondisi ini menyebabkan runtuhnya berbagai bangunan yang ada diatasnya”, papar Agus Santoso dari kajiannya mengikuti visual yang terekam dari peristiwa bencana tersebut.

Sehingga bencana akibat likuifaksi seperti peristiwa bencana di Palu tak dipungkiri Agus Santoso kemungkinan juga bisa terjadi pada lokasi titik bencana di Amurang akibat kesamaan jenis endapan. Namun dengan faktor penyebab yang berbeda.

“Likuifaksi di Palu berbeda dengan yang ada di Amurang. Kalau di Palu dipicu oleh gempa dimana di dalam tanahnya itu memang tipe endapannya mirip tapi situasinya berbeda,” kata koordinator IGI Sulut ini.

Selain itu pula, adanya patahan atau sesar aktif yang melintas di sepanjang aliran Sungai Ranoyapo, disebutkan Agus Santoso dapat menjadi faktor penyebab bencana. “Sungai Ranoyapo ini membawa material hasil erupsi dari Gunung Soputan yang diendapkan dipesisir Teluk Amurang,” katanya. Sehingga endapan alluvium yang sudah lama yang sifatnya belum kompak maka ketika ada getaran, menurut Koordinator Ikatan Geograf Gadjah Mada (IGEGAMA) Sulut ini, runtuhan pada dinding terjal bawah laut itu akan mudah terjadi. (Lihat ilustrasi).

ILUSTRASI : Runtuhan dinding dasar laut yang kemungkinan menyebabkan bencana di Amurang.

Dari peristiwa tersebut, Ia pun menyarankan agar pemerintah dapat lebih jeli dalam melaksanakan pembangunan dilokasi yang sudah ditetapkan sebagai zona merah rentan likuifaksi.

“Saran saya untuk pemerintah bahwa harus diperhatikan betul zona-zona merah pada peta kerentanan likuifaksi yang diterbitkan Kementerian ESDM. Membangun harus memperhatikan itu, karena zona merah berarti ada warning,” saran Agus Santoso.

Terkait bencana tersebut ia pun menganjurkan agar ada beberapa Tim Ahli yang dapat turut terlibat dilokasi kejadian. Yakni Ahli Geologi, Ahli Mekanika Tanah, Ahli Kelautan, Ahli Geografi  serta Ahli Sosiologis-Antropologis.

“Ahli Sosiologis dan Antropologis juga penting, untuk mengetahui budaya dan karakter masyarakat, cara mereka membangun disitu seperti apa. Karena dampaknya secara langsung dimasyarakat,” tutur Agus Santoso.

Sedangkan multisektor yang terlibat di lokasi bencana, Ia menganjurkan agar tidak melakukan pembangunan serupa sebelum dilakukan penelitian. Ia pun menyarankan agar masyarakat tak panik sebelum ada data hasil penelitian.

“Jadi sebelum ada data yang valid. Jangan dilakukan pembangunan yang serupa di situ. Kalau mau dibangun, ya hanya sebagai jembatan dengan fungsi darurat. Sedangkan untuk konstruksi-konstruksi yang benar-benar mau dibangun, harus berdasarkan data yang akurat di wilayah. Untuk masyarakat sendiri agar tidak panik. Tunggu saja tim yang telah dibentuk untuk melakukan penelitian dengan baik,” kunci Agus Santoso.

Sebelumnya, secara terpisah Ahli Geoteknik Struktur Tanah, Fondasi dan Jembatan Prof Dr Fabian Manoppo, MAgr juga menerangkan hal senada bahwa kejadian Amurang dapat terjadi akibat dua faktor, yakni Geoteknik dan Geologi.
“Dari hasil pengamatan lapangan, kejadian di Amurang bisa diakibatkan oleh faktor geologi dan geoteknik. Namun, jika dilihat dari kejadiannya di lokasi, cenderung itu adalah masalah geologi. Karena terjadi subsidence atau amblasan,” ungkap Profesor Fakultas Teknik Unsrat ini.

Selain itu, menurut Manoppo bahwa faktor geoteknik yakni likuifaksi bukan akibat gempa tapi akibat gelombang dan pasang surut air laut dan air sungai juga dapat menjadi faktor penyebab bencana di Amurang.

“Penyebab dari faktor geologi dimana terjadi amblasan bisa karena adanya jalur geothermal/ jalur gunung berapi, sungai purba, batuan muda lapuk yang berada jauh di bawah tanah yakni kira-kira pada kedalaman  lebih dari 100 meter sehingga sulit penanganannya,” urai Dekan Fakultas Teknik Unsrat ini yang juga menerangkan perlu dilakukan penelitian lanjut.

“Ke duanya masih perlu penelitian lanjutan dengan didukung oleh data-data teknik untuk mengetahui apakah hal tersebut akibat geologi atau geoteknik. Fakultas Teknik Unsrat akan segera menurunkan tim pengabdian untuk memberikan solusi yang terbaik,” kata Manoppo.

Sebagai langkah antisipatif, la pun menganjurkan bahwa apabila yang ditemukan merupakan faktor geoteknik, maka rekayasa geoteknik dapat dilakukan sebagai tindakan pencegahan. “Kalau memang itu masalah geoteknik, kita bisa bikin pengaman pantai, pemecahan ombak, struktur perkuatan tanah dan pondasi untuk mengurangi resiko likuifaksi bisa menjadi pencegah,” kata Manoppo.

Namun demikian apabila hal tersebut akibat faktor geologi, kandidat Rektor Unsrat ini pun menganjurkan agar masyarakat dapat menjauhi lokasi bencana tersebut serta mengikuti setiap aturan pemerintah terkait lokasi permukiman.

“Apabila ini faktor geologi, maka masyarakat sebaiknya jangan tinggal di situ. Yang namanya sempadan sungai, sepadan jalan, pantai, dan sempadan danau itu ada regulasinya tidak boleh sembarang membangun karena cenderung daerah-daerah itu berpotensi,” pungkas Manoppo. (Desmianti Babo)

Most Read

Artikel Terbaru

/