25C
Manado
Jumat, 26 Februari 2021

Sulut Harus Berbenah

MANADOPOST.ID—Sulawesi Utara (Sulut) mulai berbenah. Bencana banjir dan tanah longsor selang tiga hari terakhir, harus dicegah sedini mungkin. Kebijakan taktis pemerintah dinanti. Agar tak kembali terulang di kemudian hari.

Pemanasan global, pemanfaatan air tanah secara berlebihan, pembabatan hutan mangrove atau hutan bakau, keadaan topografi suatu wilayah, adanya fenomena penurunan muka tanah, perubahan penggunaan tanah rawa, situ, sawah, penyempitan bantaran sungai, membuang sampah di sungai, hingga sistem drainase yang tidak terawat, disinyalir menjadi penyebab banjir dan tanah longsor di Bumi Nyiur Melambai.

Dampaknya kini dirasakan warga Sulut. Salah satunya Banjir Rob. Akibatnya, kerugian material, bangunan rusak, lingkungan kotor dan becek, menyebarnya bibit penyakit, mengganggu lalu lintas, hingga kelangkaan air bersih. Kerjasama warga dan pemerintah daerah dibutuhkan.

Banjir Rob sendiri merupakan banjir yang airnya berasal dari laut. Terjadi saat air laut sedang pasang, warna airnya tidak terlalu keruh, tidak selalu terjadi di musim penghujan. Biasanya terjadi pada daerah yang mempunyai dataran lebih rendah daripada wilayah lautan.

Pengamat Pemerintahan Welly Waworundeng menilai sudah waktunya pemerintah di Sulut meniru kebijakan pembangunan sejumlah Kawasan modern di luar negeri. Warga di bantaran baiknya segera dipindahkan ke tempat yang lebih aman. “Kita bisa belajar pembangunan tata kota seperti di Singapura, di Amsterdam (Belanda, red), Seoul (Korea,red) sana. Perumahan warga tertata rapih sehingga bisa hidup berdampingan dengan alam yang sehat,” nilai dia.

Lanjutnya, pemanenan air hujan di daerah atas, pembuatan pompa untuk daerah bawah, dan membendung air laut yang masuk ke daratan bisa jadi solusi. Ini bisa diadopsi di beberapa kota maju di Sulut, termasuk Manado. “Melakukan konsep water front city, yakni menjadikan air sebagai bagian kehidupan sehari- hari dari masyarakat. Sampai pembuatan kolam kecil yang digunakan untuk menampung rob,” terangnya.

Wakil Gubernur Steven Kandouw mengingatkan, dengan adanya bencana alam banjir dan tanah longsor dapat menjadi pelajaran pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. “Memang curah hujan sangat tinggi dalam beberapa hari terakhir. Namun kita juga harus mencermati, dengan hujan tersebut, terjadi luapan-luapan air di beberapa titik. Karena terjadi sumbatan. Karena itu pentingnya menjaga lingkungan,” bebernya.

Kandouw meminta semua pemerintah di 15 kabupaten/kota memantau dengan ketat kondisi daerah di tengah cuaca ekstrim yang sekarang. “Nah kalau adanya PETI maupun ilegal logging, tentu itu menjadi faktor terjadinya banjir. Karena itu, kabupaten/kota harus proaktifnya dalam melakukan pengawasan. Saya sudah minta laporan Kepala Dinas Kehutanan, terkait kondisi hutan. Jika ada indikasi ilegal logging, maka saya instruksikan untuk segara dibongkar. Jangan mereka mengambil untung dengan merusak alam dan lingkungan,” imbuhnya.

Para kepala daerah diimbau lebih mengintensifkan dinas kebersihan dan lingkungan hidup. “Sampah itu masih menjadi persoalan penting dari adanya bencana ini. Lihat saja di Kota Manado, cuaca ekstrim dan gelombang tinggi yang melanda Sulut, membuat air sampai masuk ke badan jalan. Sampah itu ada di mana-mana. Akibat sampah, sungai jadi dangkal. Akibatnya meluap. Maka pemerintah di 15 daerah khususnya Kota Manado, harus memberikan perhatian lebih untuk hal ini,” sebutnya.

Sementara itu, berdasarkan prediksi BMKG, selang Selasa (18/1) hingga Rabu (19/1) besok, wilayah Sulut sudah aman dari cuaca ekstrim. “Seperti yang dikatakan lalu, bisa saja hujan terjadi 2-3 hari, kemudian kembali cerah 1-2 hari setelahnya,” kata Kepala Seksi Observasi dan Penelitian BMKG Sulut Ricky Aror.

Sementara, Kamis (20/1) lusa, hujan dengan intensitas sedang dan lebat akan kembali mengguyur Sulut. “Sejumlah wilayah yang diprediksi akan terdampak yakni Minahasa, Tomohon, Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara, Bolmong, Kotamobagu, Boltim, Bolsel, dan Bolmut,” beber dia.

Diketahui, gelombang pasang laut setinggi hampir 4 meter di Perairan Teluk Manado, memicu banjir rob. Banjir rob, menurut BMKG dipicu angin kencang sehingga membuat tinggi muka air laut.

“Berdasarkan data normal gelombang untuk Desember, Januari, dan Februari, rerata tinggi gelombang signifikan berkisar antara 1,25-2,50 meter,” kata Koordinator Operasional Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado Ben Arther Molle, kemarin.

Banjir rob terjadi di Manado pada Minggu (17/1) sore hingga malam. Ben mengatakan kondisi angin memang puncaknya terjadi pada Minggu (17/1), yaitu berkisar 15-30 knot atau 30-60 kilometer per jam. Kata dia, beberapa hari ke depan, angin kencang masih berpotensi terjadi. Namun intensitasnya tidak sekuat pada Minggu (17/1) atau rata-ratanya 10-20 knot (20-40 km/jam). “Tinggi gelombangnya berangsur-angsur turun mulai esok hari Ihari ini, red),” ujarnya.

Ben menambahkan naiknya air laut ke daratan di Kawasan Boulevard Manado karena akumulasi dari tinggi gelombang, angin kencang, serta topografi kawasan tersebut yang tergolong rendah. “Di kawasan itu juga ada reklamasi, topografi rendah dan tidak ada mangrove atau bakau. Hal seperti ini (banjir rob, red) akan terjadi di kawasan ini apabila terjadi angin kencang dengan tinggi gelombang signifikan,” ujarnya.

BMKG sendiri telah mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi yang berlaku pada 17-19 Januari 2021. Terdapat tekanan rendah (1007 hPa) di Laut Arafuru, sirkulasi udara teridentifikasi di Samudra Hindia Utara Aceh. Pola angin di wilayah Indonesia bagian utara pada umumnya bergerak dari utara ke timur dengan kecepatan 6-30 knot, sedangkan di wilayah Indonesia bagian selatan umumnya bergerak dari barat daya-barat laut dengan kecepatan angin berkisar 5-25 knot.

Kecepatan angin tertinggi terpantau di laut Natuna, perairan Kepulauan Anambas-Kepulauan Natuna, laut Jawa, perairan utara dan selatan Jawa, serta perairan Kepulauan Sangihe-Talaud. Selanjutnya, perairan Kepulauan Sitaro-Bitung, laut Halmahera, dan Samudra Pasifik utara Halmahera.

Kondisi ini mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang di sekitar wilayah tersebut. Diperkirakan tinggi gelombang di perairan Kepulauan Sangihe-Talaud, perairan utara Sulawesi Utara, dan perairan Bitung-Kepulauan Sitaro mencapai 2,5-4,0 meter.

Sebelumnya, Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid angkat bicara mengenai Indonesia yang diguncang banyak bencana seperti banjir, tanah longsor dan gempa bumi pada awal tahun ini. Menurutnya, faktor kerusakan alam menjadi salah satu penyebab utama dalam bencana yang terjadi. Apalagi dengan orientasi pembangunan yang berbasis pada sumber daya alam mengakibatkan eksploitasi terjadi di mana-mana.

“Di situlah seringkali bencana muncul yang berupa banjir, tanah longsor makanya penting bagi kita merenung, mengevaluasi terkait orientasi pembangunan yang ramah lingkungan, bukan orientasi pembangunan yang merusak lingkungan dan menimbulkan bahaya buat masyarakat,” ujar Jazilul dalam keterangannya, Senin (18/1).

Wakil Ketua Umum DPP PKB ini menilai persoalan tersebut sering kali terjadi dan terus berulang, namun tidak ada perbaikan atau evaluasi kebijakan. Oleh karenanya, ia meminta pemerintah dan seluruh elemen masyarakat mengevaluasi dan mencari tahu faktor utama bencana yang datang bertubi-tubi itu.

“Di daerah juga, ini banyak terjadi di daerah, jadi kita semua harus ikut mengoreksi, termasuk pemerintah daerah, jadi tidak hanya yang di pusat. (Sebab) ada faktor alam yang dirusak oleh manusia atau faktor-faktor lain. Jadi ini menjadi bahan pelajaran buat kita semua sebagai bangsa,” imbuhnya.

Diketahui, kata dia, berdasarkan data dari Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, sebanyak 10 kabupaten/kota terdampak banjir Kalimantan Selatan, per Minggu (17/1). Kabupaten/kota tersebut antara lain Kabupaten Tapin, Kabupaten Banjar, Kota Banjar Baru, Kota Tanah Laut, Kota Banjarmasin, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Balangan, Kabupaten Tabalong, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan Kabupaten Batola.

Tak hanya itu, data per 16 Januari sekitar pukul 18.00 WIB, mencatat 112.709 jiwa terdampak dan mengungsi, serta 27.111 rumah terendam banjir. Sementara akibat gempa di Sulbar, berdasarkan data per (17/1) pukul 20.00 WIB, Pusat Pengendali Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat gempa M6,2 yang terjadi pada Jumat (15/1), pukul 01.28 WIB atau 02.28 waktu setempat di Provinsi Sulawesi Barat menjadi 81 orang, dengan rincian 70 orang meninggal dunia di Kabupaten Mamuju dan 11 orang di Kabupaten Majene.

Jazilul meminta pemerintah melakukan tindakan cepat untuk menangani atau memberikan bantuan darurat bagi para korban bencana di berbagai daerah. “Apa yang dibutuhkan mungkin makanan minuman, bantuan yang darurat secepatnya pemerintah harus bisa menangani untuk korban,” jelasnya.

Sebagai informasi, bencana alam yang datang bertubi-tubi menghantam negeri ini di awal tahun ini di antaranya, banjir besar di Kalimantan Selatan dan sejumlah daerah lain, gempa bumi di Sulawesi Barat, letusan Gunung Semeru, luapan air laut di Manado, Longsor di Sumedang dan berbagai bencana alam lain. (cw-01/ewa/jen)

Faktor Penyebab Banjir Rob:

  1. Pemanasan global

Hal pertama yang disinyalir menjadi sesuatu yang sangat mendukung terjadinya banjir rob adalah pemanasan global. Hal ini karena pemanasan global merupakan suatu peristiwa alam yang menyebabkan meningkatnya suhu rata- rata dunia. Meningkatnya suhu udara yang ada di bumi ini tentu saja akan berakibat kepada es yang berada di kedua kutub bumi.

  1. Pemanfaatan Air Tanah Berlebihan

Hal ini karena pemanfaatan air tanah yang berlebihan akan menyebabkan turunnya permukaan lapisan tanah. Terlebih di daerah pesisir pantai yang sangat membutuhkan jumlah air bersih yang cukup banyak. Hal ini tentu saja akan menjadikan penduduk yang berada di sekitar pantai tersebut mencari sumber air bersih dalam jumlah yang ekstra, akibatnya hal ini akan menurunkan permukaan tanah di daerah pesisir pantai. Turunnya permukaan air tanah ini akan menyebabkan datangnya banjir rob dengan sangat mudah.

  1. Pembabatan Hutan Mangrove atau Hutan Bakau

Hutan bakau atau hutan mangrove ini mempunyai fungsi untuk menahan air apabila gelombang pasang tiba. Apabila hutan magrove ini dibabat habis, maka yang akan terjadi adalah gelombang yang menerjang tidak akan bisa ditahan. Gelombang yang tidak bisa dilindungi ini akan bisa menjadi ancaman bagi terjadinya banjir rob ini.

  1. Keadaan Topografi Suatu Wilayah

Keadaan topografi yang dimaksud ini merupakan keadaan wilayah alam yang terpampang nyata di suatu wilayah. Keadaan topografi yang menyebabkan terjadinya banjir rob merupakan topografi yang yang tipe permukaan tanahnya ada di bawah atau rendah dari permukaan air laut. Keadaan topografi yang demikian inilah yang akan menyebabkan air laut mudah mengaliri permukaan tanah atau permukaan daratan, sehingga akan menyebabkan terjadinya banjir rob. Berbeda halnya dengan daerah pegunungan yang mempunyai keadaan wilayah yang lebih tinggi daripada permukaan laut, sehingga air laut tidak akan bisa mengaliri permukaan air tanah.

  1. Fenomena Penurunan Muka Tanah

Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa permukaan tanah yang turun atau permukaan tanah yang lebih rendah daripada permukaan laut akan menjadi pemicu terjadinya banjir rob pada suatu wilayah tertentu. Hal ini mengindikasikan bahwa penurunan permukaan tanah juga otomatis menjadi hal yang mendukung terjadinya banjir rob ini.

  1. Perubahan Penggunaan Tanah Rawa, Situ, Sawah, dan Lain Sebagainya

Tanah yang difungsikan sebagai rawa atau situ ataupun sawah dan lain sebagainya apabila dialih fungsikan menjadi tanah pemukiman, ataupun lahan- lahan yang lainnya yang dapat menghalangi peresapan air ke dalam tanah. Dalam jangka panjang (atau bahkan tidak terlalu panjang), hal seperti ini akan menyebabkan banjir mudah sekali terjadi. Salah satu banjir yang sering terjadi karena hal seperti ini adalah banjir rob.

  1. Penyempitan Bantaran Sungai

Karena sungai yang ada berkurang volume muatan airnya sehingga akan menyebabkan air tersebut meluap- luap ke daratan sehingga akan menyebabkan timbulnya banjir rob tersebut.

  1. Membuang Sampah di Sungai

Membuang sampah di sungai secara tidak langsung juga akan menyebabkan terjadinya banjir rob. Sampah- sampah yang dibuang ke sungai dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama akan tertimbun di dasar sungai dan menyeban sungai mengalami pendangkalan. Sungai yang mengalami pendangkalan ini akan menyebabkan berkurangnya debit air yang berada di sungai. Akibatnya ketika air laut pasang dan air dari laut mengisi sungai- sungai yang ada di sekitarnya dan sungai tersebut tidak cukup untuk menampungnya, hal ini akan menyebabkan air tersebut meluap dan akan mengaliri daerah di sekitar sungai tersebut.

  1. Sistem Drainase yang Tidak Terawat

Sistem drainase juga menjadi tonggak yang penting bagi pertahanan daratan dari banjir. Drainase adalah kekuatan tanah untuk dapat menyerap air. Ketika sistem penyerapan tersebut terganggu, maka upaya untuk menyerap air agar masuk ke dalam tanah juga terganggu. Hal ini akan menyebabkan mudahnya banjir menyerang suatu daerah. Hal ini tidak hanya berlaku bagi banjir- banjir yang disebabkan karena hujan saja, namun juga banjir rob ini.

Dampak Banjir Rob:

  1. Menimbulkan kerugian material

Kerugian material ini merupakan dapat timbul karena banyak rumah warga yang terendam banjir, kemudian tidak hanya rumah saja namun juga perabotan rumah tangga ikut terendam banjir. Hal ini akan mengakibatkan adanya kergian material yang cukup besar untuk dapat memulihkan seperti kondisi semula.

  1. Merusak Bangunan

Bangunan yang terlalu lama tergenang air memang akan mengalami kerusakan, baik banyak maupun sedikit. serapan bangunan yang berpotensi rusak adalah lantai atau keramik, kusen pintu, maupun tembok bagian bawah. Terlebih banjir rob merupakan banjir yang airnya berasal dari air laut yang mengandung garam. Hal ini akan sangat mempercepat kerusakan bangunan itu sendiri.

  1. Menyebabkan Lingkungan Menjadi Kotor dan Becek

Hal ini karena air yang meluap tidak hanya melintas namun juga menggenangi. Akibatnya, hal ini akan membuat lingkungan yang digeangi air menjadi becek dan tidak nyaman, sehingga akan menjadi kotor.

  1. Menyebarnya Bibit Penyakit

Hal ini seperti sudah menjadi paket dan kita semua pun mengerti bahwa banjir akan menjadi penyebab timbulnya berbagai jenis penyakit. Beberapa penyakit yang dapat ditimbulkan dari banjir rob ini antara lain adalah diare, ISPA, gatal- gatal, hingga demam berdarah. Maka dari itulah ketika banjir datang menyerang akan banyak orang- orang yang terkena penyakit.

  1. Mengganggu Lalu Lintas

Hal ini karena air yang menggenangi akibat banjir tidak hanya menggenangi pemukiman penduduk seperti perumahan, namun juga jalan raya. Sehingga hal ini akan menyebabkan terganggunya lalu lintas di alan yang tergenang air tersebut. Tidak hanya mengganggu lalu lintas saja, namun banjir rob juga dapat membuat mesin- mesin kendaraan menjadi mati atau bahkan rusak.

  1. Kelangkaan Air Bersih

Bagaimanapun juga air banjir tidak hanya menggenangi rumah masyarakat saja, namun juga sumber air bersih bagi masyarakat. Akibatnya air bersih yang seharusnya digunakan untuk konsumsi warga sehari- hari dapat bercampur dengan air banjir. Belum lagi septiktank warga yang juga terendam air banjir dapat berpotensi membuat tinja menjadi keluar dan bercampur dengan air warga. Hal ini sungguh menimbulkan krisis air bersih.

Cara Menanggulangi Banjir Rob:

  1. Melakukan pemanenan air hujan di daerah atas, pembuatan pompa untuk daerah bawah, dan membendung air laut yang masuk ke daratan.
  2. Melakukan konsep water front city, yakni menjadikan air sebagai bagian kehidupan sehari- hari dari amsyarakat. Konsep ini dapat diterapkan di daerah yang mempunyai tingkat penurunan tanah yang tinggi. Konsep ini secara tidak langsung menghendaki masyarakat untuk membuat rumah panggung dengan kondisi sekelilingnya adalah air bersih.
  3. Melakukan konseptidal gate, yakni meletakkan pintu air atau pintu pasang surut di daerah muara dengan tujuan untuk mencegah air laut yang datang dan masuk ke sungai terlalu besar.
  4. Melakukan konsep polder, yakni pembuatan kolam kecil yang digunakan untuk menampung rob. Polder-polder tersebut harus ditata sedemikian rupa dan dilakukan secara terpadu, serta menjadi bagian dari drainase kota.

Sumber: Diolah.

Artikel Terbaru