31.4 C
Manado
Rabu, 4 Agustus 2021

Bersama Sarah Gilbert, Ada Pemuda Indonesia Dibalik Vaksin Covid AstraZeneca, Ini Sosoknya

MANADOPOST.ID – Pengembangan vaksin Covid-19 terus berlanjut. Seluruh ahli vaksin dan farmasi dunia berlomba-lomba untuk menemukan ramuan-ramuan terbaik bagi manusia untuk kebal dari virus corona.

 

Dari seluruh vaksin corona yang telah ada dan disetujui WHO, ternyata ada vaksin yang juga tak lepas dari campur tangan orang Indonesia. Vaksin itu adalah vaksin Oxford-AstraZeneca.

 

AstraZeneca ternyata juga turut dikembangkan oleh mahasiswa dan peneliti Indonesia, Indra Rudiansyah. Keikutsertaannya pada pengembangan vaksin ini terkuak dalam akun YouTube Deutsche Bank dengan judul The Oxford Vaccine: Meet the team Behind the Breakthrough. “Saya dari Indonesia. Saya mahasiswa tahun ketiga di Jenner Institute,” katanya dalam perkenalan di video tersebut, yang dipublikasikan sejak 15 Februari itu.

 

“Kebanyakan riset yang dilakukan terkait vaksin melawan beberapa penyakit seperti HIV, Ebola, dan penyakit-penyakit yang berpotensi menimbulkan pandemic seperti SARS, MERS dan sekarang Covid-19.”

 

Indra Rudiansyah sendiri merupakan mahasiswa di Universitas Oxford, Inggris. Di salah satu universitas terbaik itu, ia diketahui mengambil S3 program Clinical Medicine. Sebelumnya, ia diketahui menyelesaikan S1 mikrobiologi dan S2 bioteknologi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia mendapat predikat cum laude.

 

Di Oxford, ia fokus dalam mengembangkan vaksin malaria. Ia juga diketahui menjadi peneliti di Jenner Institute & Nuffield Department of Clinical Medicine di Universitas itu bersama ilmuwan Profesor Sarah Gilbert. Gilbert sendiri menjadi pemimpin tim pembuatan vaksin corona yang diikuti Indra. Tim Gilbert mendapat apresiasi masyarakat karena menyerahkan hak paten temuannya untuk solusi penyelesaian pandemi global.

 

Secara spesifik, Indra disebutkan berperan penuh dalam menganalisa data-data respon imun tubuh para relawan yang menerima vaksin. Semenjak bergabung pada awal Mei 2020, Indra telah menghabiskan waktu rata-rata 10 jam di laboratorium setiap harinya. “Ada ratusan peneliti yang bekerja. Sumber daya yang besar ini bertujuan agar vaksin segera bisa dikembangkan dengan cepat,” ujarnya sebagaimana dikutip dari laman Facebook LPDP Indonesia. “Biasanya, untuk mendapatkan data uji klinis vaksin fase pertama dibutuhkan waktu hingga lima tahun, tapi tim ini bisa menyelesaikan dalam waktu enam bulan.”

 

Masuknya Indra dalam tim pengembangan vaksin ini juga menarik komentar sejumlah tokoh termasuk Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban. “Saya akan mengingat namanya: Indra Rudiansyah, mahasiswa S3 Program Clinical Medicine, Jenner Institute, Universitas Oxford. Indra adalah bagian dari tim Sarah Gilbert, penemu vaksin AstraZeneca yang menyerahkan hak paten temuannya itu. Salut,” tulisnya. (CNBC)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru