25C
Manado
Senin, 1 Maret 2021

Pemerintah Diminta Tegas

MANADOPOST.ID—Pemerintah Daerah (Pemda) di Sulawesi Utara (Sulut) harus tegas. Bencana yang baru saja melanda sebagian besar wilayah Nyiur Melambai wajib jadi pelajaran.

Para perusak hutan maupun lingkungan serta warga ‘Kumabal’ yang tinggal di bantaran sungai perlu ditegasi. Kerjasama masyarakat kini dibutuhkan.

Pengamat pemerintahan Max Rembang mengatakan, semua pihak wajib mawas diri. Tidak boleh saling menyalahkan tapi introspeksi diri bersama. Menurut dia, tiap tahun pasti ada hujan dan angin kencang. Tugas pemerintah jangan sampai itu menjadi bencana.

“Tugas pemerintah melindungi masyarakatnya jangan sampai jadi korban. Kalau pun ada korban, harus dimimalisir,” ungkap akademisi FISIP Unsrat.

Lanjut dia, arah kebijakan pemerintah juga ditunggu. Ketegasan terhadap para oknum yang menyebabkan potensi bencana makin besar harus dituangkan dalam sebuah regulasi. Evaluasi menyeluruh diperlukan. “Nanti data itu yang diolah. Dampak-dampak saat ini tidak boleh terulang,” harapnya.

Wakil Gubernur Sulut Steven Kandouw mengingatkan adanya bencana alam banjir dan tanah longsor dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

“Memang curah hujan sangat tinggi dalam beberapa hari terakhir. Namun kita juga harus mencermati, dengan hujan tersebut, terjadi luapan-luapan air di beberapa titik. Karena terjadi sumbatan. Karena itu pentingnya menjaga lingkungan,” bebernya.

Kandouw juga meminta agar semua pemerintah di 15 kabupaten/kota memantau dengan ketat kondisi daerah di tengah cuaca ekstrim yang sekarang. “Nah kalau adanya PETI maupun ilegal logging, tentu itu menjadi faktor terjadinya banjir. Karena itu, kabupaten/kota harus proaktif dalam melakukan pengawasan. Saya sudah minta laporan Kepala Dinas Kehutanan, terkait kondisi hutan. Jika ada indikasi ilegal logging, maka saya instruksikan untuk segara dibongkar. Jangan mereka mengambil untung dengan merusak alam dan lingkungan,” imbuhnya.

Dirinya juga meminta 15 kabupaten/kota untuk lebih mengintensifkan dinas kebersihan dan lingkungan hidup. “Sampah itu masih menjadi persoalan penting dari adanya bencana ini. Lihat saja di Kota Manado, cuaca ekstrem dan gelombang tinggi yang melanda Sulut, membuat air sampai masuk ke badan jalan. Sampah itu ada di mana-mana. Akibat sampah, sungai jadi dangkal. Akibatnya meluap. Maka pemerintah di 15 daerah khususnya Kota Manado, harus memberikan perhatian lebih untuk hal ini,” sebutnya.

Sementara itu, di sela-sela pemantauan lokasi bencana, kemarin, Bupati Minsel Christiany Eugenia Paruntu mengatakan, Pemkab Minsel sementara melakukan pendataan jumlah keluarga yang terdampak untuk disalurkan bantuan.

“Rencana kita bangun rumah susun atau sebagainya untuk yang terdampak. Karena kebanyakan warga yang terdampak itu bangunan tidak bersurat dan bangunan liar. Jadi kita akan kaji benar-benar ditertibkan untuk ada tempat layak untuk mereka. Saya juga minta ke Pemdes untuk segera antisipasi kebutuhan masyarakat yang emergency bisa ditangani segera,” kata CEP.

CEP memerintahkan pemerintah kecamatan melarang pembangunan rumah di bibir pantai. “Saya juga perintahkan camat untuk imbau warga untuk jangan bangun bangunan di bibir pantai. Karena mengingat hampir setiap tahun ada gelombang pasang seperti ini, jadi untuk antisipasi juga karena pembangunan seperti itu dilarang. Saya harapkan nantinya bupati terpilih pak Frangky Wongkar bisa melanjutkan pembangunan yang lebih baik,” harap dia.

Sementara itu, Wongkar yang juga merupakan Bupati Terpilih di sela-sela mendampingi CEP dalam peninjauan kemarin, mengatakan akan berusaha melanjutkan pembangunan yang baik bagi masyarakat.

“Kalau pembangunan yang baik untuk masyarakat pasti kami akan lakukan. Program yang pro rakyat pasti kami akan lakukan,” tutur dia.

Sementara itu, berdasarkan prediksi BMKG Sulut, cuaca ekstrim masih akan terjadi di Sulut, selang beberapa hari ke depan. Bahkan masih berpotensi menimbulkan bencana banjir hingga tanah longsor. “Karena cuaca masih cenderung fluktuatif,” ungkap Kepala Seksi Observasi dan Penelitian BMKG Sulut Ricky Aror.

Fluktuasi perubahan cuaca yang signifikan membuka peluang hujan keras, angin kencang dan gelombang tinggi yang sangat berpotensi menimbulkan bencana. “Pantauan kami, aliran masa udara dari Asia dan samudra Pasifik yang berkontribusi pada penguapan,” beber dia.

Sulut menjadi yang pertama kali menerima sehingga menimbulkan cuaca ekstrim. Diperkuat lagi dengan masih aktifnya La Nina. “Kemudian beberapa hari lalu ada bencana dan gelombang pasang. Itu juga akibat angin kencang. Tapi masyarakat tidak perlu panik meskipun masih harus tetap waspada,”
tandasnya. (tim mp/jen)

Artikel Terbaru