25 C
Manado
Kamis, 6 Mei 2021
spot_img

Singgung PAW JAK, Senior Golkar Desak Airlangga Evaluasi Kepemimpinan CEP

MANADO—Sejumlah senior Partai Golkar bertemu di salah satu rumah kopi di Manado. Pembicaraan mereka tak jauh-jauh dari keberadaan Partai Golkar saat ini yang dipimpin Christiany Eugenia Paruntu (CEP).

Mantan Ketua DPD I Partai Golkar Stefanus Vreeke Runtu saat diwawancarai mengatakan, pertemuan ini hanya sebatas kumpul-kumpul para senior Golkar. “Kita mengkonsolidasi, membangun kebersamaan, dan kekompakan,” ujar politikus yang akrab disapa SVR ini. Meski begitu, sebagai senior partai, lanjut SVR, ada sejumlah topik hangat yang dibahas.

Termasuk soal keberadaan Golkar saat ini. “Ya, kita berharap DPP melihat partai ini, agar tidak ditinggalkan. Segala permasalahan partai harus diselesaikan. Tak boleh ada pembiaran seperti ini,” tukasnya. Terkait adanya pernyataan sikap, SVR membantah. “Belum ada pernyataan sikap,” tegasnya lagi.

Di sisi lain, Alvian Ratu saat diwawancarai terpisah membenarkan jika pertemuan tersebut hanya sebatas reuni para kader senior Golkar.

“Sebagai kader kita berharap ada perbaikan dan evaluasi terhadap partai. Ini evaluasi ya, bukan musdalub. Ada empat indikator yang menjadi PR Partai Golkar,” ujarnya.

Pertama evaluasi terhadap kekalahan pilkada. Dari 8 pilkada tak ada yang menang. “Ini yang harus dievaluasi.  Kedua, terkesan ada kader partai termasuk senior yang dipecat. Misalnya SVR, Imba (Jimmy Rimba Rogi). Ini kloter pertama yang dipecat. Tak tahu apakah ada kloter selanjutnya. Artinya indikator ini membahas apa, ada partai yang ingin rekrut kader. Justru Golkar memecat. Sebaiknya ini diubah, jangan ada parpol yang cari kader, Golkar justru memecat,” urainya.

Indikator ketiga, lanjut Alfian, seperti terkesan, diduga ada semacam perlindungan terhadap oknum-oknum yang berperilaku atau bersikap agak menyimpang dari kode etik partai, AD-ART, dari peraturan organisasi partai.

“Indikator keempat, pengelolaan manajemen partai yang dirasa kurang profesional. Mengapa? Karena ada yang masih rangkap jabatan. Ada yang sekretaris di DPD II menjadi Plt di kabupaten lain. Seperti manajemen partai yang kurang profesional,” tukasnya.

Empat indikator ini, menurut Alfian, dari penilaian pribadinya sebagai bahan yang harus dievaluasi parpol ke depan untuk menjaga elektabilitas nanti pada pertarungan 2024. “Termasuk persiapan memenangkan Airlangga sebagai presiden. Bagaimana menang jika kita belum evaluasi empat indikator ini,” kuncinya.

Kemudian terkait tak ada ketegasan DPD I Golkar pada kasus James Arthur Kojongian, Alfian mengatakan itu masuk dalam indikator evaluasi nomor tiga.

“PAW itu ranah partai. Seperti indikator tiga ada kesan perlindungan pada oknum tertentu yang menurut publik atau konstituen terkesan melanggar tatakrama, tata Susila. PAW itu hak partai jadi harus tunduk pada aturan partai. Di satu sisi ada UU tentang Pemda. Secara otomatis berproses 30 hari atau tidak bisa dihentikan, karena negara mengatur itu, apalagi terkait proses pemberhentian anggota dewan,” tandasnya.(gel)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru