29.9 C
Manado
Jumat, 7 Mei 2021
spot_img

Kejati Sulut Dua Kali Menang Pra Peradilan, VAP Terancam Dijemput Paksa

MANADOPOST.ID-Episode dugaan korupsi proyek pemecah ombak di Likupang, Kabupaten Minahasa Utara, dipastikan berlanjut. Pasalnya dua tersangka yang mengajukan pra peradilan ke Pengadilan Tipikor Pengadilan Negeri Manado, gugatannya resmi ditolak hakim.

Awalnya hakim Pengadilan Tipikor mementahkan gugatan tersangka AMP alias Alex Panambunan. Hanya berselang seminggu hakim juga menolak pra peradilan tersangka Vonnie Panambunan alias VAP.

Tim Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara memenangkan gugatan Pra Peradilan yang diajukan mantan Bupati Minahasa Utara ini. “Hari Senin tanggal 19 April 2021, Tim Jaksa pada Kejaksaan Tinggi Sulut menang atas gugatan Pra Peradilan yang diajukan oleh Vonnie Anneke Panambunan dalam Sidang Perkara Pra.Peradilan Nomor: 6/Pid.Pra/2021/PN.Mnd, tanggal 30 Maret 2021, dengan pemohon Vonnie Anneke Panambunan yang diwakili oleh Kuasa Hukum Moh Ridwan SH, dkk,” ungkap Kajati Sulut Dita Prawitaningsih SH MH, melalui Kasipenkum Theodorus Rumampuk SH MH.

“Melawan termohon Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara yang diwakili oleh Tim Pra Peradilan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara sesuai dengan Surat Perintah Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara Nomor: Print – 367/P.1/Fd.1/04/2021 tanggal 08 April 2021 dan Surat Kuasa Khusus Substitusi Nomor: SK-486/P.1/Fd.1/04/2021 tanggal 01 April 2021,” lanjut Rumampuk, eks Kasiintelijen Kejari Manado.

Dipaparkan, sidang perkara Pra Peradilan ini sudah melalui lima kali persidangan. Yakni pada tanggal 12 April hingga 16 April 2021. Dan Senin hari ini, telah dibacakan putusan oleh Hakim Pra Peradilan dengan amar putusan sebagai berikut: Menolak Permohonan Pra Peradilan untuk seluruhnya; Membebankan biaya perkara adalah nihil. Diketahui, pra peradilan adik VAP juga sebelumnya ditolak oleh majelis hakim.

Hingga kini VAP belum ditahan kejaksaan karena masih sakit. Terkait hal ini, Pakar Hukum Eugenius Paransi SH MH menyebut, jika tersangka dalam perawatan dokter atau sakit memang tidak bisa ditahan. Asalkan kata dia, keterangan rumah sakit harus jelas bahwa tersangka benar sakit dan tidak diakal-akali. “Sesuai aturan tersangka yang sakit tidak bisa ditahan. Asalkan jelas ada keterangan dokter atau rumah sakit yang menyatakan tersangka benar sakit,” sebutnya. Artinya, jika tidak ada keterangan medis, siapapun tersangkanya, menurutnya bisa sebaliknya (terancam dijemput, red).

Sementara itu, Kasipenkum Theodorus Rumampuk membenarkan, hingga kini VAP masih sakit. “Tim hukum VAP masih mengupdate hasil medis dari VAP,” singkat Rumampuk.

Seminggu sebelumnya, sidang Pra Peradilan yang berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Kelas I Manado, Senin (12/4) lalu, juga dimenangkan tim Jaksa Kejati Sulut atas gugatan tersangka AMP alias Alex Panambunan.

Hal ini setelah melalui lima kali sidang perkara pra peradilan, medio 5 sampai 9 April 2021 lalu. Yang menegaskan bahwa surat Perintah Penyidikan Kajati Sulut nomor: Print–01/P.1/Fd.1/01/2021 tanggal 07 Januari 2021, dan Surat Perintah Penyidikan Kajati Sulut nomor: 01.a/P.1/Fd.1/01/2021 tanggal 21 Januari 2021 tentang penetapan tersangka, telah sah sesuai hukum.

Tim Jaksa Kejati Sulut menang atas gugatan Pra Peradilan yang diajukan oleh AMP dalam Sidang Perkara Pra Peradilan Nomor: 5/Pid.Pra/2021/PN.Mnd. Yang tertanggal 29 Maret 2021, dengan pemohon Alex Panambunan yang diwakili oleh Kuasa Hukum Stevie Dacosta SH MH. Melawan termohon Jaksa Agung RI cq Kajati Sulut yang diwakili oleh tim Pra Peradilan Kejati. Hal ini sesuai dengan surat perintah Kajati Sulut nomor : Print–349/P.1/Fd.1/04/2021 tanggal 01 April 2021 dan Surat Kuasa Khusus Substitusi Nomor: SK–452./P.1/Fd.1/04/2021 tanggal 01 April 2021.

Hal ini juga disampaikan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Dita Prawitaningsih SH MH, melalui Kasipenkum Theodorus Rumampuk SH MH. “Sidang perkara Pra Peradilan ini sudah melalui 5 kali persidangan. Yakni tanggal 5 April sampai 9 April 2021. Dan pada hari Senin kemarin, tanggal 12 April 2021, telah dibacakan putusan oleh Hakim Pra Peradilan dengan 3 amar putusan,” terangnya yang terangkum dalam siaran pers
nomor: PR – 02 /P.1.3/Penkum/04/2021.

Dengan poin pertama menegaskan untuk menolak permohonan Pra Peradilan untuk seluruhnya. Pun dalam poin kedua, diputuskan secara tegas bahwa surat perintah penyidikan dan penetapan tersangka dalam kasus ini oleh Kejati Sulut, telah sah menurut hukum. “Dalam poin kedua, menyatakan Surat Perintah Penyidikan Kajati Sulut nomor: Print–01/P.1/Fd.1/01/2021, tanggal 07 Januari 2021 dan Surat Perintah Penyidikan Kajati Sulut nomor: 01.a/P.1/Fd.1/01/2021 tanggal 21 Januari 2021 tentang penetapan tersangka kepada pemohon dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi proyek pemecah ombak penimbunan pantai di desa Likupang pada BPBD Kabupaten Minut tahun anggaran 2016 oleh termohon Pra Peradilan, sah menurut hukum,” tegasnya menambahkan poin tiga adalah membebankan biaya perkara adalah nihil.

Diketahui, sebelumnya Vonnie Panambunan alias (VAP) dan Alex Panambunan, telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi proyek pemecah ombak di Likupang, Minut. Meski telah ditetapkan sebagai tersangka, menurut Kejati Sulut, khusus eks Bupati Minahasa Utara ini, belum ditahan karena sedang sakit, dan sementara dirawat di rumah sakit di Jakarta. Status tersangka VAP dibeber Kejati Sulut, dalam press rilis yang dipimpin Kajati Sulut Dita Prawitaningsih SH MH, Rabu (17/3). Sebelumnya VAP masih berstatus sebagai saksi.

Diketahui, VAP telah mengembalikan kerugian negara terkait kasus dugaan korupsi proyek pemecah ombak di Likupang, Minut. Uang sebesar Rp4,2 miliar tersebut telah diserahkan ke Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara (Sulut), dan dalam status pengawasan penyidik. Uang tersebut juga diperlihatkan ke awak media oleh Kajati Sulut Dita Prawitaningsih didampingi pimpinan lainnya, Rabu (17/3) siang tadi. “Pengembalian kerugian negara atas inisiatif tersangka (VAP, red),” sebut Kajati Dita.(gnr)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru