25C
Manado
Jumat, 26 Februari 2021

Manado Banjir Terparah, Warga: Lebih Buruk dari 2014

MANADOPOST.ID—Sulawesi Utara (Sulut) dirundung duka dalam sepekan. Bencana datang silih berganti di sebagian wilayah Nyiur Melambai. Puncaknya kemarin, banjir terparah merendam Kota Manado.

Pantauan Manado Post, akibat intensitas curah hujan yang tinggi, sejumlah wilayah yang dikenal aman dari banjir, kali ini ikut terendam. Jagad maya dipenuhi postingan terkait bencana. Beberapa di antaranya permintaan tolong korban maupun masyarakat di seputaran lokasi terdampak.

Tampak pula kerumunan orang berlarian menyelamatkan barang berharga di atas genangan air

Hingga tadi malam, pantauan Manado Post, akses jalan di beberapa titik utama Ibu Kota Sulut, masih sulit dilalui. Salah satunya di depan Kantor Wali Kota Manado. Genangan banjir setinggi lutut orang dewasa memaksa pengendara harus mencari jalur lain.

Karena hanya bisa dilalui truck dan kendaraan besar. Pemandangan tak jauh berbeda juga nampak di depan Lapangan KONI Sario. Sementara itu, sampah bekas genangan banjir berserakan di sudut-sudut kota.

Data didapat, ada 32 titik bencana. Banjir dan tanah longsor menyasar delapan kecamatan di Manado. Terinformasi, ada dua korban jiwa pada peristiwa kemarin. Seorang pria paruh baya bernama Albert Montolalu (70), warga Lingkungan I, Kelurahan Paal IV, Kecamatan Tikala. Dan satunya lagi warga Kelurahan Tingkulu, Lingk VI, Kecamatan Wanea.

Joudi Makarawung, Kepala Lingkungan II, Kelurahan Malalayang Satu Barat, Kecamatan Malalayang, mengakui ini menjadi banjir terparah sepanjang sejarah Kota Manado. Berdasarkan amatannya, bencana kali ini memang tidak banyak memakan korban jiwa seperti 2014 silam. Namun, dampaknya jauh lebih terasa.

“Di beberapa lokasi yang saya lihat, dulu-dulu di beberapa tempat yang bukan langganan banjir, air tidak sampai masuk rumah warga ketika hujan deras begini. Tapi sekarang sampai merendam rumah,” ujar dia.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Manado Donald Sambuaga mengatakan, banjir ini memang lebih luas karena menghantam hampir seluruh kelurahan di Manado. “Tinggi banjir juga bervariasi mulai dari selutut sampai atap rumah,” ujarnya.

Menurut dia, pihaknya bersama Basarnas, TNI Angkatan Laut, Kodim dan polisi sementara melakukan evakuasi warga yang terjebak banjir. “Mereka ada yang dievakuasi di kantor lurah, tempat ibadah, sekolah dan rumah penduduk,” tutur Sambuaga. Selain melakukan evakuasi, pihaknya membagikan makanan siap saji kepada warga terdampak banjir.

“Walaupun tidak semua warga terdampak ini mendapatkan makanan siap saji, karena ada yang lain terjebak banjir,” ungkapnya. Pihaknya kini mendata korban terdampak dan rumah yang terendam banjir. “Saya masih belum bisa memberikan data. Karena sementara didata,” terangnya.

Di sisi lain, Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi Satu (BWSS) Bastari mengungkapkan, intensitas curah hujan tinggi menjadi penyebab utama banjir dan longsor di Manado. “Intensitas hujan yang tinggi dalam waktu relatif pendek menyebabkan banjir lokal, tapi bersamaan tersebar di hampir seantero Kota Manado,” kata Bastari. Terpantau pihaknya, beberapa kecamatan di Manado yang kembali terendam banjir yakni Sario, Malalayang, Paal Dua, Tikala, Wanea, Tuminting, Singkil, dan Wenang.

Berdasarkan Data BWS Sulawesi I banjir yang terjadi di Kota Manadodiakibatkan meluapnya debit air di beberapa sungai, diantaranya Sungai Sario, Sungai Tikala dan Sungai Malalayang. “Diakibatkan curah hujan tinggi sehingga menyebabkan meluapnya debit air di beberapa sungai,” tambah Bastari.

Sementara itu, terdapat dua titik longsor yang terjadi akibat hujan deras yaitu Kelurahan Tingkulu, Kecamatan Wanea dan Jalan Raya Manado-Tomohon (Ruas Jalan Winangun-Pineleng). Dari keterangan Bastari, keberadaan tanah sudah jenuh dengan curah hujan yang berakibat pada banjir.

“Akibat tanah sudah jenuh air karena hampir tiap hari terjadi hujan. Kemudian curah hujan tinggi hari ini walau cuma dua jam-an menjadi aliran permukaan semua mengakibatkan banjir,” jelas dia.

Bencana juga meluas ke beberapa daerah lain, kemarin. Di Minahasa Utara (Minut), seorang bocah berusia delapan tahun bernama Timoty Dity, hilang terbawa arus sungai. Menurut keluarga, korban saat itu bermain di area kuala Perumahan Kawangkoan Baru, Kecamatan Kalawat.

“Awalnya Timoty bermain hujan sama-sama dengan teman-temannya. Tapi arus kuala semakin deras dan dia hanyut, ” tutur Dede Priyatna, salah satu keluarga korban. Menurut saksi mata, korban terbawa arus menuju sungai di jalan tol, yang merupakan aliran sungai DAS Tondano.

Terkonfirmasi sejak terbawa arus pada jam 15.45 WITA, hingga pukul 21.00 WITA saat dikonfirmasi pada pihak keluarga, Timoty belum ditemukan. “Saat ini kami masih sementara mencari di aliran sungai dan belum ditemukan,” beber Priyatna.

Kapolsek Airmadidi AKP Mardy Tumanduk membenarkan kejadian tersebut. “Iya benar, ada anak hanyut, namanya Timoty, usia delapan tahun di Desa Kawangkoan Baru. Saat ini kami sementara lakukan pencairan,” ungkapnya.

Kepala BPBD Minut Jofieta Supit saat dikonfirmasi semalam, menyebut korban belum ditemukan. Katanya, tim gabungan TNI-Polri, Tim SAR dan BPBD masih sementara melakukan pencairan. “Kita masih berupaya. Mohon bantuan dan doa masyarakat semua,” tuturnya kepada Manado Post. Lanjut dia, pihaknya kini bersiaga. Meskipun hingga semalam, belum ada laporan terjadinya bencana di lokasi lain di Minut.

“Sampai sekarang (semalam, red), belum ada. Semoga memang tidak ada. Kami masih menunggu laporan. Jadi posisinya semua sedang bersiaga. Masyarakat kami imbau tetap waspada,” beber dia.

Tanah longsor juga kembali terjadi di wilayah Kecamatan Pineleng, Minahasa. Kali ini di Desa Lotta. Longsoran menimpa tiga rumah. Dibeberkan Camat Pineleng Jhony Wua, dalam kejadian tersebut tidak ada korban jiwa meski rumah ambruk tertimpa tanah. “Bersyukur tidak ada korban. Karena penghuni rumah sudah mengungsi terlebih dahulu,” singkatnya.

Sementara itu, Jalur Trans Sulawesi, tepatnya di Desa Tawaang Barat, Kecamatan Tenga, Minahasa Selatan, terjadi penyempitan jalan, kemarin. Sungai Tongop meluap akibat adanya batang pohon yang menghambat arus air di jembatan tersebut. Nampak personil Polres Minsel bersama warga berupaya melakukan pemotongan batang kayu di tengah jembatan untuk mengalirkan air.

Disampaikan Hukum Tua Desa Tawaang Barat Bredly Nongkan, air yang meluap sekira pukul 17.00 WITA telah masuk ke lima rumah warga di sekitar sungai. “Ini kita sementara berupaya untuk mengeluarkan batang kayu yang menyumbat. Kalau batang kayu sudah bisa dilepaskan maka air akan turun dan rumah warga tidak akan tergenang,” tukasnya. (Tim MP/jen)

Titik Bencana Banjir dan Tanah Longsor di Manado:

  1. Kelurahan Karombasan Utara, Lingk VII, Kecamatan Wanea. Terjadi luapan air sungai sehingga masuk ke rumah warga.
  2. Pasar Karombasan. Terjadi banjir ketinggian air sekira 50 cm.
  3. Seputaran pesisir sungai Kelurahan Bahu, Kecamatan Malalayang. Air meluap kurang lebih 25 cm.
  4. Perumahan Puri Indah Malalayang, Kecamatan Malalayang. Terjadi banjir.
  5. Kelurahan Malalayang Satu Timur, Lingkungan VII. Terjadi luapan air hujan sehingga banyak warga yang terjebak banjir.
  6. Kelurahan Winangun Satu, Lingkungan II. Terjadi banjir.
  7. Jalan Raya Manado-Tomohon. Tepatnya dekat jembatan Pineleng. Terjadi longsor sehingga akses jalan keluar masuk Manado sempat tertutup atau tidak bisa dilewati sementara.
  8. Jalan Ring Road. Tepatnya di depan Perumahan Kharisma. Terjadi banjir.
  9. Jalan Ring Road Satu. Dekat terowongan. Terjadi banjir menyebabkan kendaraan tidak bisa bergerak hingga menimbulkan kemacetan.
  10. Aspol Sario, Kecamatan Sario. Terjadi banjir kurang lebih setinggi 30 cm.
  11. Jalan Raya Manado-Tomohon. Kelurahan Winangun. Pohon tumbang sehingga akses jalan tertutup atau tidak bisa dilewati kendaraan.
  12. Kelurahan Malendeng, Kecamatan Paal 2. Ketinggian air kurang lebih 1 meter berakibat beberapa warga terjebak banjir.
  13. Perumahan Welong Abadi, Kelurahan Perkamil, terjadi banjir dengan ketinggian air kurang lebih 1,5 meter berakibat beberapa warga terjebak banjir.
  14. Kelurahan Karombasan Selatan, Lingkungan II. Terjadi banjir kurang lebih 1 meter berakibat beberapa warga terjebak banjir.
  15. Pasar Bahu. Terjadi banjir dengan ketinggian air kurang lebih 50 cm sehingga terjadi kemacetan kendaraan di seputaran lokasi.
  16. Kelurahan Taas, Lingk IV, Kecamatan Tikala. Terjadi banjir ketinggian air kurang lebih 2 meter berakibat beberapa warga terjebak banjir.
  17. Kelurahan Tingkulu, Lingkungan VIII, Kecamatan Wanea. Terjadi banjir berakibat beberapa warga terjebak banjir.
  18. Jalan Ring Road Satu, Depan Monumen Patung Tuhan Yesus Memberkati. Terjadi longsor kecil dan menutupi sebagian jalan.
  19. Kompleks Stadion Klabat. Terjadi banjir ketinggian kurang lebih 1 meter.
  20. Kelurahan Tanjung Batu. Terjadi banjir ketinggian air kurang lebih 1,5 meter.
  21. Kelurahan Batu Kota Bawah, Kecamatan Malalayang. Air sungai meluap.
  22. Kelurahan Kombos, Kampung Tuna Kecamatan Singkil. Terjadi banjir kurang lebih 20 cm.
  23. Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Sario, Kompleks Kantor PLN. Terjadi banjir ketinggian air kurang lebih 15 cm.
  24. Jalan Kayuh Bulan, Kelurahan Malalayang Satu, Lingkungan XI. Terjadi akses jalan terputus karena aspal jalan terbawah air.
  25. Kelurahan Tingkulu, Lingk VI, Kecamatan Wanea. Terjadi longsor yang menyebabkan satu orang meninggal dunia.
  26. Kantor Polsek Urban Wanea. Terjadi genangan air setinggi kurang lebih 10 cm.
  27. Rumah dinas Wakapolda Sulut. Genangan air kurang lebih 1 cm.
  28. Kompleks Rumah Sakit MMC, Kecamatan Paal 2. Terjadi banjir ketinggian air kurang lebih 30 cm.
  29. Kelurahan Batu Kota Bawah, Kecamatan Malalayang, terjadi longsor.
  30. Kelurahan Paal 4, Lingk I, terjadi longsor yang menyebabkan 1 orang warga meninggal dunia. An Albert Montotalu (70).
  31. Keluarahan Perkamil, tepatnya di belakang Poltekes. Terjadi banjir ketinggian air kurang lebih 1,5 meter.
  32. Jalan pertigaan, turunan dekat SMA 7 Manado. Terjadi tanah longsor.

Sumber: Diolah

Artikel Terbaru