27C
Manado
Jumat, 26 Februari 2021

Jam Malam Kurang Efektif, Kasus Covid Malah Naik

MANADOPOST.ID—Pembatasan jam malam yang diberlakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Manado dianggap kurang efektif. Alih-alih menekan angka penyebaran Covid-19, aturan tersebut dinilai mengkebiri hak berusaha hingga mengancam mata pencaharian pekerja.

Kesehatan ekonomi Kota Manado dan Sulawesi Utara (Sulut) pada umumnya diprediksi mulai terancam. Berdasarkan data yang dihimpun Manado Post, hingga Senin (22/2), angka positif Covid-19 di Sulut masih terus bertambah.

Dengan rincian total kasus 5.088, sembuh 3.327, dirawat 1.572, meninggal 189. Total kasus tersebut meningkat dibandingkan data per 31 Januari, yakni, 4.772, sembuh 2.968, dirawat 1632, dan meninggal 172. Artinya selang 31 Januari hingga 22 Februari terjadi penambahan sekira 316 kasus.

Pemkot Manado dalam hal ini Wali Kota Vicky Lumentut, diminta mengevaluasi kebijakan tersebut. Mengingat pengusaha sudah mulai menjerit karena mengalami penurunan omset akibat pembatasan jam malam.

Ivantry Mantu, selaku Owner Rumah Makan Ocean27 menilai kebijakan yang diterapkan pemerintah saat ini masih lemah dan terkesan setengah hati, serta tidak memenuhi aspek kehidupan sosial. Tidak mengkaji dampak secara proporsional, pembatasan jam operasi juga tidak efektif menurunkan kasus Covid-19.

Dia menyoroti aturan pembatasan jam operasional. Kenapa dibatasi jam 8 malam? Apakah Covid-19 hanya ada di atas jam 8 malam padahal di jam tersebut adalah prime time orang dinner.

“Seharusnya perketat protap dan yg melanggar protap diberikan hukuman sosial, jika masih melanggar berlanjut ke pidana, bukan bentak-bentak dan teriak-teriak dalam tempat usaha yang kadangkala sebagai manusia jika sudah ada pada situasi dan kondisi seperti itu maka sulit menghindar konfrontasi,” ungkapnya.

General Manager Manado Town Square (Mantos) Yono Akbar juga mengaku, adanya pembatasan jam operasional di malam hari, mengakibatkan omset Mantos turun sekira 65 hingga 75 persen. Padahal, selama ini Mantos sudah menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Tidak hanya bagi pekerja dan tenant tetapi juga bagi pengunjung. “Penurunan omset pasti. Kondisi ekonomi saat ini memang masih lesuh. Mantos mengalami penurunan sekira 65 sampai 75 persen. Padahal ini sudah 2021, sudah masuk new normal, tapi kondisi belum seutuhnya stabil,” akunya.

Senada juga dikatakan, Direktur PT Megasurya Nusalestari (Megamas) Manado Amelia Tungka. Dia mengakui, pembatasan yang diberlakukan pemerintah berdampak signifikan pada income perusahaan. Dia mencontohkan larangan masuk bagi bayi hingga anak di bawah umur.

Akibat aturan itu, pengunjung berpikir ulang untuk mengunjungi pusat perbelanjaan seperti mall karena tidak bisa langsung membawa anaknya. Pun dengan pembatasan jam operasional yang membuat orang sepulang kerja tidak lagi terpikir mengunjungi mall untuk berbelanja karena waktu yang tersedia terbatas.

Baru mau datang, mal sudah akan tutup. “Selain itu, tak sedikit rumah makan terpaksa membatasi persediaan makannya karena takut tidak habis. Ini meminimalisir potensi keuntungan yang bisa didapat,” ceritanya.

Amel membeber, Megamas Manado harus melakukan rasionalisasi biaya sewa tenant maupun ruko karena memahami situasi usaha dari masing-masing pemilik toko. “Kita juga kan harus manusiawi. Tidak boleh lepas tangan kesusahan seperti ini dirasakan bersama,” bebernya.

Pemotongan biaya sewa paling banyak diberikan kepada pemilik usaha yang paling berdampak akibat pembatasan jam operasional. Rasionalisasi dilakukan bervariasi antara 20 hingga 25 persen. Atau hampir seperempat dari harga normal.

“Yang paling banyak itu kita potong biaya sewanya tempat usaha yang buka dari jam 5 sore tetapi sudah harus tutup jam 8 malam. Usaha seperti ini sudah sulit memaksimalkan potensi karena terbatas sekali waktu operasionalnya,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, hingga saat ini, omset yang didapat belum juga membaik bahkan masih jauh dari kata baik. Bahkan, setelah Pilkada selesai pun, pihaknya hanya mampu meraup omset sampai 30 persen.

Oleh karena itu, dia berharap semakin banyak inovasi yang dilakukan pemerintah agar dampak pandemi bisa makin diminimalisir. Salah satunya dengan efektivitas pelaksanaan vaksinasi. Para perangkat di daerah diminta dimaksimalkan. Untuk menentukan siapa saja yang layak divaksin.

“Vaksin hanya mengurangi potensi tertular tetapi tidak menjamin bahwa seseorang tidak akan tertular bila sudah divaksin. Makanya penting bagi para camat dan lurah untuk melakukan tracing para pihak yang tepat untuk cepat divaksin,” saran dia.

Selain itu, putri Tokoh Perekonomian Sulut Benny Tungka itu, menyarankan adanya aplikasi yang bisa memantau arus masuk keluar pengunjung dari pusat perbelanjaan. Sehingga sebagaimana di bandara, bisa diketahui pergerakan orang per orang agar potensi penyebaran virus bisa ditekan.

Langkah-langkah tersebut perlu dipertimbangkan demi mengembalikan produktivitas usaha di Sulut, khususnya Manado. Supaya pembatasan bisa berakhir. Atau lebih efektif. Yang di pusat perbelanjaan bisa beroperasi normal. Tidak diskriminatif. Jangan mall atau tempat hiburan tutup. Pasar atau tempat berkumpul lain yang lebih berpotensi tersebar virus justru tetap beroperasi normal.

“Kami tentu berharap kepada Pak Gubernur dan Pak Wakil Gubernur yang baru dilantik di periode kedua serta Pak Wali Kota dan Wakil Wali Kota sekarang maupun yang nanti akan dilantik supaya bisa lebih mempertimbangkan nasib para pelaku usaha yang sedang berjuang mengembalikan laju ekonomi di Sulut,” tukasnya.

Hal yang sama juga dirasakan Cristy. Salah satu Owner rumah makan. Dia menyesali aturan yang diberlakukan pemerintah saat ini. “Sebagai pengusaha rumah makan, kami masih belum bisa bernafas lega. Saya sendiri sudah dari April 2020 menutup rumah makan. Baru dibuka lagi Oktober tahun lalu dengan pendapatan yang sangat kecil. Harapannya tahun ini sudah bisa beroperasi dengab normal tapi karena adanya pembatasan hanya sampai Pukul 20.00 WITA. Padahal saya bukanya dari jam 4 sore,” keluhnya.

Dia pun berharap, aturan pembatasan jam malam ini pun segera berakhir. Agar aktifitas ekonomi bisa kembali pulih. “Yang terpenting saat ini adalah, pemerintah harus memperketat pengawasan terhadap prokes di semua tempat-tempat publik. Karena percuma juga membatasi usaha-usaha untuk buka tapi di tempat lain malah banyak terjadi kerumunan. Sehingga hal ini tidak efektif malah merugikan beberapa pihak,” kritiknya.

Di sisi lain, Liana Maksum salah seorang pengunjung yang ditemui di Hypermart MTC pun mengaku kesal. Karena saat ini kalau mau belanja harus buru-buru. “Sekarang memang sulit. Mau ke Indomaret atau ritel-ritel lain yang biasanya buka 24 jam, sekarang tutupnya cepat. Mau belanja keluar pun harus cepat karena belanjanya belum selesai tokohnya sudah mau tutup,” keluhnya.

Menanggapi semua keluhan ini, Wali Kota Manado Vicky Lumentut menegaskan, pembatasan operasional jam malam dilakukan, karena saat ini Manado masih zona merah dan risiko tinggi penularan. Dia memastikan selama Manado masih zona merah pembatasan akan tetap dilakukan.

“Jika sudah masuk zona orange baru bisa normal kembali,” tutupnya. Sementara itu, berdasarkan pantauan Manado Post beberapa tenant yang ada di Kota Manado sudah mulai menutup gerainya karena terbatasnya jumlah pengunjung.(gnr)

Artikel Terbaru