32.4 C
Manado
Kamis, 30 Juni 2022

Banner Mobile (Anymind)

Direktur Ini Sebut Wibawa Presiden Runtuh, Publik Kecewa dengan PDIP, Alasannya Gegara Ini

- Advertisement -

MANADOPOST.ID – Direktur Pusat Riset Politik, Hukum dan Kebijakan Indonesia (PRPHKI), Saiful Anam mengatakan, video yang direkam Puan Maharani memperlihatkan bahwa Jokowi seperti seorang petugas partai.

Wibawa Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia dinilai sudah runtuh setelah diperlakukan seperti seorang karyawan yang sedang menghadap ke bos, saat berada di satu ruangan bersama pimpinan PDI Perjuangan sebagaimana video beredar yang direkam oleh Ketua DPP PDIP Puan Maharani.

“Jokowi seperti sedang menghadap atasan dan seperti tidak dapat berkutik. Melalui pertunjukan tersebut nyata-nyata baik Mega dan Puan memposisikan Jokowi sebagai petugas partai. Jokowi seperti sedang diinterogasi dan seperti karyawan sedang menghadap bos besar,” ujar Saiful, Kamis (23/6).

Melihat itu, Saiful menganggap hal tersebut tidak baik bagi kultur demokrasi dan konstitusi Indonesia.

- Advertisement -

Padahal, presiden seharusnya memiliki wibawa tidak hanya di hadapan kelembagaan negara, tapi juga harus memiliki wibawa di hadapan rakyat dan masyarakat dunia.

“Kalau misalnya masih mempertontonkan yang demikian, maka jelas wibawa presiden runtuh, dan publik dapat menilai hal tersebut merupakan hal yang buruk. Lebih lanjut lagi publik akan kecewa dengan kepemimpinan PDIP dengan memperlakukan presiden seperti itu,” pungkas Saiful.(dhe/pojoksatu)

MANADOPOST.ID – Direktur Pusat Riset Politik, Hukum dan Kebijakan Indonesia (PRPHKI), Saiful Anam mengatakan, video yang direkam Puan Maharani memperlihatkan bahwa Jokowi seperti seorang petugas partai.

Wibawa Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia dinilai sudah runtuh setelah diperlakukan seperti seorang karyawan yang sedang menghadap ke bos, saat berada di satu ruangan bersama pimpinan PDI Perjuangan sebagaimana video beredar yang direkam oleh Ketua DPP PDIP Puan Maharani.

“Jokowi seperti sedang menghadap atasan dan seperti tidak dapat berkutik. Melalui pertunjukan tersebut nyata-nyata baik Mega dan Puan memposisikan Jokowi sebagai petugas partai. Jokowi seperti sedang diinterogasi dan seperti karyawan sedang menghadap bos besar,” ujar Saiful, Kamis (23/6).

Melihat itu, Saiful menganggap hal tersebut tidak baik bagi kultur demokrasi dan konstitusi Indonesia.

Padahal, presiden seharusnya memiliki wibawa tidak hanya di hadapan kelembagaan negara, tapi juga harus memiliki wibawa di hadapan rakyat dan masyarakat dunia.

“Kalau misalnya masih mempertontonkan yang demikian, maka jelas wibawa presiden runtuh, dan publik dapat menilai hal tersebut merupakan hal yang buruk. Lebih lanjut lagi publik akan kecewa dengan kepemimpinan PDIP dengan memperlakukan presiden seperti itu,” pungkas Saiful.(dhe/pojoksatu)

Most Read

Artikel Terbaru

/