25.4 C
Manado
Rabu, 29 Juni 2022

Banner Mobile (Anymind)

Ternyata Bencana Amurang Sudah Pernah Terjadi, Dikisahkan Tua-tua Pada RML Bupati Pertama Minsel

- Advertisement -

MANADOPOST.ID—Peristiwa bencana alam di Amurang, Minahasa Selatan (Minsel) yang terjadi pada 15 Juni 2022, yang menyebabkan amblasnya puluhan rumah warga, jembatan dan jalan di Desa Bitung dan Uwuran Satu, Kecamatan Amurang ternyata sebelumnya kejadian yang sama pernah terjadi.

Ramoy Markus Luntungan (RML)

Hal ini dikisahkan Ramoy Markus Luntungan (RML), Pejabat Bupati Pertama Minahasa Selatan (Minsel) Periode Tahun 2003-2005 dan Bupati Minsel Pertama Pilihan Rakyat Tahun 2005-2010. Menurutnya para tua-tua telah menceritakan pada saat masuk sebagai Pejabat Bupati, kala Kabupaten Minsel baru dimekarkan ditahun 2003 bahwa adanya goa bawah tanah yang terkoneksi dengan Gunung Berapi Soputan. Hal ini dikaitkan dengan peristiwa bencana yang terjadi dilokasi tersebut.

“Belief or not, konon ceritanya Orang Tua atau Tomas (Tokoh Masyarakat) Amurang di sekitar lokasi tersebut, saat ketika ditahun 2003 Saya masuk Amurang Minsel, bahwa adanya goa di bawah tanah di sekitar kejadian sampai di bibir pantai,” kata RML kepada Manado Post.

Ramoy, sapaan dari RML juga menyebutkan bahwa goa yang berada di sekitar lokasi bencana, terkoneksi dengan Gunung Soputan. Bahkan setiap kali Gunung Soputan aktif, akan mengeluarkan bunyi gemuruh di bawah tanah.

- Advertisement -

“Adanya goa di bawah tanah di sekitar kejadian sampai di bibir pantai, terkonek dengan Gunung Berapi Soputan yang setiap kali Soputan aktif ada bunyi gemuruh di bawah tanah,” terang RML.

Bahkan menurutnya bahwa sekitar tahun 1960-an, Desa Awuran juga pernah tenggelam. Diketahui, pada peristiwa bencana amblas di Amurang pada pertengahan Juni lalu, juga pernah menimpa warga Kelurahan Awuran Satu (dulu Desa Awuran) dan Kelurahan Bitung.

“Di tahun 1960-an, sebagian tanah di sekitar Desa Uwuran, dilokasi itu tengelam ditelan bumi. Makanya masyarakat sebagian pindah ke Desa km 3 atau saat ini Kilo 3,” tambah pria kelahiran Sagrat Bitung ini.

Pada peristiwa bencana di tahun 1960-an, disebutkan Ramoy bahwa selain sebagian masyarakat Desa Uwuran pindah ke Kilo 3, Rumah Sakit (RS) Amurang pun ikut pindah karena peristiwa tersebut. Ia juga membeberkan bahwa peristiwa yang sama di tahun ini merupakan siklus 30-50 tahunan.

“Termasuk RS Amurang pindah, dan lainnya juga. Ini siklus 30-50 tahunan,” katanya.

Selain kejadian diatas, RML pula menceritakan kejadian serupa tapi pada lokasi yang berbeda di Amurang. “Jalur Gunung Soputan, perkebunan Desa Kalait batas dengan Tokin Karimbow ada tanah sekian hektar turun juga, sehingga pohon kelapa terlihat ke bawah (pohon kelapa terlihat turun kebawah). Itu fenomena alam geologi gunung berapi dan palung di bawah laut yang sewaktu-waktu bergerak karena patahan-patahan,” urai RML.

Adapun berdasarkan Peta Geomorfologi Indonesia, menerangkan bahwa pada aliran Sungai Ranoyapo, Minsel (pada lokasi kejadian amblas) terdapat patahan atau sesar Tombatu yang membentang dari Tombatu hingga bagian Selatan Amurang.

GARIS MERAH: Patahan atau sesar yang ada di Provinsi Sulawesi Utara. Garis Merah pertama (bawah Manado) merupakan patahan atau sesar Tombatu, memanjang dari Tombatu hingga Selatan Amurang. (Sumber: Peta Geomorfologi Indonesia)

Sejalan dengan uraian RML yang menghubungkan antara peristiwa bencana amblas dengan keberadaan Gunung Soputan, goa bawah tanah dan adanya patahan pada lokasi kejadian, Ia pun mengatakan bahwa pakar geologi yang akan menyimpulkan hal tersebut. RML pun mengimbau agar semua masyarakat peduli dan membantu masyarakat terdampak.

“Pakar geologi dan Puslit (Pusat Penelitian) Unsrat yang akan berbicara. Saya himbau semua pihak peduli untuk membantu masyarakat terdampak bencana,” tutup RML.

Diketahui pada tahun 2002, jembatan utama di Sungai Ranoyapo, sebagai jalan penghubung Kabupaten Minsel dengan dengan Provinsi Gorontalo juga pernah amblas. (des)

MANADOPOST.ID—Peristiwa bencana alam di Amurang, Minahasa Selatan (Minsel) yang terjadi pada 15 Juni 2022, yang menyebabkan amblasnya puluhan rumah warga, jembatan dan jalan di Desa Bitung dan Uwuran Satu, Kecamatan Amurang ternyata sebelumnya kejadian yang sama pernah terjadi.

Ramoy Markus Luntungan (RML)

Hal ini dikisahkan Ramoy Markus Luntungan (RML), Pejabat Bupati Pertama Minahasa Selatan (Minsel) Periode Tahun 2003-2005 dan Bupati Minsel Pertama Pilihan Rakyat Tahun 2005-2010. Menurutnya para tua-tua telah menceritakan pada saat masuk sebagai Pejabat Bupati, kala Kabupaten Minsel baru dimekarkan ditahun 2003 bahwa adanya goa bawah tanah yang terkoneksi dengan Gunung Berapi Soputan. Hal ini dikaitkan dengan peristiwa bencana yang terjadi dilokasi tersebut.

“Belief or not, konon ceritanya Orang Tua atau Tomas (Tokoh Masyarakat) Amurang di sekitar lokasi tersebut, saat ketika ditahun 2003 Saya masuk Amurang Minsel, bahwa adanya goa di bawah tanah di sekitar kejadian sampai di bibir pantai,” kata RML kepada Manado Post.

Ramoy, sapaan dari RML juga menyebutkan bahwa goa yang berada di sekitar lokasi bencana, terkoneksi dengan Gunung Soputan. Bahkan setiap kali Gunung Soputan aktif, akan mengeluarkan bunyi gemuruh di bawah tanah.

“Adanya goa di bawah tanah di sekitar kejadian sampai di bibir pantai, terkonek dengan Gunung Berapi Soputan yang setiap kali Soputan aktif ada bunyi gemuruh di bawah tanah,” terang RML.

Bahkan menurutnya bahwa sekitar tahun 1960-an, Desa Awuran juga pernah tenggelam. Diketahui, pada peristiwa bencana amblas di Amurang pada pertengahan Juni lalu, juga pernah menimpa warga Kelurahan Awuran Satu (dulu Desa Awuran) dan Kelurahan Bitung.

“Di tahun 1960-an, sebagian tanah di sekitar Desa Uwuran, dilokasi itu tengelam ditelan bumi. Makanya masyarakat sebagian pindah ke Desa km 3 atau saat ini Kilo 3,” tambah pria kelahiran Sagrat Bitung ini.

Pada peristiwa bencana di tahun 1960-an, disebutkan Ramoy bahwa selain sebagian masyarakat Desa Uwuran pindah ke Kilo 3, Rumah Sakit (RS) Amurang pun ikut pindah karena peristiwa tersebut. Ia juga membeberkan bahwa peristiwa yang sama di tahun ini merupakan siklus 30-50 tahunan.

“Termasuk RS Amurang pindah, dan lainnya juga. Ini siklus 30-50 tahunan,” katanya.

Selain kejadian diatas, RML pula menceritakan kejadian serupa tapi pada lokasi yang berbeda di Amurang. “Jalur Gunung Soputan, perkebunan Desa Kalait batas dengan Tokin Karimbow ada tanah sekian hektar turun juga, sehingga pohon kelapa terlihat ke bawah (pohon kelapa terlihat turun kebawah). Itu fenomena alam geologi gunung berapi dan palung di bawah laut yang sewaktu-waktu bergerak karena patahan-patahan,” urai RML.

Adapun berdasarkan Peta Geomorfologi Indonesia, menerangkan bahwa pada aliran Sungai Ranoyapo, Minsel (pada lokasi kejadian amblas) terdapat patahan atau sesar Tombatu yang membentang dari Tombatu hingga bagian Selatan Amurang.

GARIS MERAH: Patahan atau sesar yang ada di Provinsi Sulawesi Utara. Garis Merah pertama (bawah Manado) merupakan patahan atau sesar Tombatu, memanjang dari Tombatu hingga Selatan Amurang. (Sumber: Peta Geomorfologi Indonesia)

Sejalan dengan uraian RML yang menghubungkan antara peristiwa bencana amblas dengan keberadaan Gunung Soputan, goa bawah tanah dan adanya patahan pada lokasi kejadian, Ia pun mengatakan bahwa pakar geologi yang akan menyimpulkan hal tersebut. RML pun mengimbau agar semua masyarakat peduli dan membantu masyarakat terdampak.

“Pakar geologi dan Puslit (Pusat Penelitian) Unsrat yang akan berbicara. Saya himbau semua pihak peduli untuk membantu masyarakat terdampak bencana,” tutup RML.

Diketahui pada tahun 2002, jembatan utama di Sungai Ranoyapo, sebagai jalan penghubung Kabupaten Minsel dengan dengan Provinsi Gorontalo juga pernah amblas. (des)

Most Read

Artikel Terbaru

/