32.4 C
Manado
Sabtu, 13 Agustus 2022

Syuting Film Dua Jendela Rampung

MANADOPOST.ID–Proses syuting film berjudul ‘Dua Jendela’ di Sulut akhirnya raampung sudah. Hal itu kemudian disyukuri semua kru dalam syukur makan malam bersama di kediaman Wakil Bupati Minahasa Robby Dondokambey di Desa Kolongan, Minut, Sabtu (21/11).

Film yang mengangkat dua budaya dalam satu frame itu telah mulai pengambilan gambarnya sejak pertengahan Oktober lalu. Dan setting serta sejumlah pemainnya mengambil talenta-talenta asli dari Sulut.

Melon yang merupakan Executive Produser film tersebut mengatakan, pihaknya sebelum memulai proses syuting memerlukan banyak waktu untuk survey dan riset lebih dalam untuk budaya Minahasa.

“Kami memang selama pembuatan film ini cukup banyak memakan waktu mulai dari kita survei sampai riset tentang kebudayaan Minahasa. Dan dengan rangkumnya syuting ini di Sulut, kita berharap nantinya setelah penayangan, anak-anak milenial mau melihat dan mengerti dari film ini tentang Budaya Minahasa. Budaya ini nilai dan identitas kita orang Minahasa yang patut kita jaga kelestariannya,” ungkapnya saat diwawancarai Manado Post.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Senada disampaikan Martina Dondokambey-Lengkong, dia merasa legah proses syuting film Dua Jendela bisa selesai dengan lancar.

“Saya legah sekali film ini sudah selesai syuting, meski banyak kendala tapi sudah bisa teratasi. Film ini judulnya Dua Jendela yang mengangkat dua unsur budaya yang berbeda yaitu Betawi dan Minahasa, jadi kami di sini berperan sebagai pemangku adat Minahasa yang harus memutuskan secara adat istiadat sebuah konflik dalam cerita yaitu kisah percintaan.

Harapan kami, kedepan Film ini boleh berhasil di Festival Film Budaya di Perancis. Dengan begitu bisa mengangkat Budaya Minahasa di Kanca Internasional,” pungkas istri dari Wabup Minahasa Robby Dondokambey itu.

Sutradara film Dua Jendela Hidayat Bagong menjelaskan, proses syuting di Sulut sudah rangkum, tinggal memasuki dapur editing dan penyelesaian trailernya.

“Proses syuting di Minahasa sudah selesai dan Senin kita crew akan kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan sekira tujuh scene lainnya. Kita targetkan tanggal 15 Desember Film ini rangkum semua dan akan kita nobarkan di Sulut untuk premierenya,” jelasnya

Dia juga turut berterimakasih atas segala support khususnya pemerintah Kabupaten Minahasa.

“Pak Wakil Bupati Robby Dondokambey juga sangat support sekali pelaksanaan kegiatan sepanjang syuting sampai selesai, Apalagi beliau ikut bermain. Begitu juga baapk Olly Dondokambey dan Steven Kandouw yang sangat mendukung kami, apresiasi sekali dan kita harapkan kedepan film yang mengangkat budaya ini bisa berhasil di festival film budaya di Prancis. Itu harapan kami semua,” katanya dengan semangat.

Terpisah, Wabup Robby Dondokambey saat diwawancarai juga mengatakan, turut mendukung setiap kegiatan seni dan kebudayaan yang mengangkat adat dan istiadat Minahasa pada khususnya.

“Dalam kepemimpinan ROR-RD, seni budaya itu menjadi salah satu program prioritas dari 22 program. Sehingga ketika ada film yang mengangkat budaya Minahasa, ini menjadi sangat menarik dan menjadi peluang kita untuk mengangkat budaya Minahasa, sekaligus bisa menjadi brand untuk Minahasa sehingga perlu kita support sepenuhnya,” katanya.

Dengan diangkatnya budaya Minahasa, tambah Dondokambey, dapat bermanfaat juga bagi masyarakat Minahasa sehingga bisa mengikuti dan memahami budaya asli di Minahasa.

“Kemarin saya lihat juga banyak kaum milenial yang terlibat dalam film ini, itu saya lihat mereka sangat antusias. Sehingga kedepan saya harap mereka bisa menjadi contoh bagi kaum milenial lain di Minahasa. Khususnya mereka akan menjadi paham dan mengetahui perkembangan budaya minahasa dari dulu sampai saat ini,” pungkasnya.

Diketahui, sinopsis singkat Film ‘Dua Jendela’ menurut Sutradara Hidayat ‘Bagong’ Sunardi berlatar belakang perkampungan di pinggiran Jakarta, dimana masyarakatnya masih memegang teguh budaya Betawi klasik baik Gambang Kromong maupun Lenong serta kuliner khasnya. Di perkampungan itu ada pendatang baru, keluarga asal Manado.

Kedekatan kemudian terjadi antara Jaka (Betawi) dan Cindy (Manado), namun mendapat pertentangan dari pihak keluarga Manado, yang akhirnya membuat Cindy harus balik ke Manado. Namun kekuatan cinta Jaka membuat dia harus mencari Cindy sampai ke Manado.

Namun, ketika bertemu kembali, keluarga Cindy tetap tidak menerima kehadiran Jaka. Proses adat kemudian terlibat dalam pengambilan keputusan. Dan dari para pemangku adat suku Minahasa, akhirnya memutuskan, bahwa berdasarkan adat orang Manado, Jaka harus diterima dengan baik sebagai tamu.

Akhirnya, hubungan mereka di restui oleh pemangku adat serta keluarga Cindy. Di akhir cerita, merekapun kembali dan menetap di Jakarta. Itulah inti perjalanan romance yang didasari Dua Budaya dalam Satu Frame Cerita yaitu Film Dua Jendela.(*)

MANADOPOST.ID–Proses syuting film berjudul ‘Dua Jendela’ di Sulut akhirnya raampung sudah. Hal itu kemudian disyukuri semua kru dalam syukur makan malam bersama di kediaman Wakil Bupati Minahasa Robby Dondokambey di Desa Kolongan, Minut, Sabtu (21/11).

Film yang mengangkat dua budaya dalam satu frame itu telah mulai pengambilan gambarnya sejak pertengahan Oktober lalu. Dan setting serta sejumlah pemainnya mengambil talenta-talenta asli dari Sulut.

Melon yang merupakan Executive Produser film tersebut mengatakan, pihaknya sebelum memulai proses syuting memerlukan banyak waktu untuk survey dan riset lebih dalam untuk budaya Minahasa.

“Kami memang selama pembuatan film ini cukup banyak memakan waktu mulai dari kita survei sampai riset tentang kebudayaan Minahasa. Dan dengan rangkumnya syuting ini di Sulut, kita berharap nantinya setelah penayangan, anak-anak milenial mau melihat dan mengerti dari film ini tentang Budaya Minahasa. Budaya ini nilai dan identitas kita orang Minahasa yang patut kita jaga kelestariannya,” ungkapnya saat diwawancarai Manado Post.

Senada disampaikan Martina Dondokambey-Lengkong, dia merasa legah proses syuting film Dua Jendela bisa selesai dengan lancar.

“Saya legah sekali film ini sudah selesai syuting, meski banyak kendala tapi sudah bisa teratasi. Film ini judulnya Dua Jendela yang mengangkat dua unsur budaya yang berbeda yaitu Betawi dan Minahasa, jadi kami di sini berperan sebagai pemangku adat Minahasa yang harus memutuskan secara adat istiadat sebuah konflik dalam cerita yaitu kisah percintaan.

Harapan kami, kedepan Film ini boleh berhasil di Festival Film Budaya di Perancis. Dengan begitu bisa mengangkat Budaya Minahasa di Kanca Internasional,” pungkas istri dari Wabup Minahasa Robby Dondokambey itu.

Sutradara film Dua Jendela Hidayat Bagong menjelaskan, proses syuting di Sulut sudah rangkum, tinggal memasuki dapur editing dan penyelesaian trailernya.

“Proses syuting di Minahasa sudah selesai dan Senin kita crew akan kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan sekira tujuh scene lainnya. Kita targetkan tanggal 15 Desember Film ini rangkum semua dan akan kita nobarkan di Sulut untuk premierenya,” jelasnya

Dia juga turut berterimakasih atas segala support khususnya pemerintah Kabupaten Minahasa.

“Pak Wakil Bupati Robby Dondokambey juga sangat support sekali pelaksanaan kegiatan sepanjang syuting sampai selesai, Apalagi beliau ikut bermain. Begitu juga baapk Olly Dondokambey dan Steven Kandouw yang sangat mendukung kami, apresiasi sekali dan kita harapkan kedepan film yang mengangkat budaya ini bisa berhasil di festival film budaya di Prancis. Itu harapan kami semua,” katanya dengan semangat.

Terpisah, Wabup Robby Dondokambey saat diwawancarai juga mengatakan, turut mendukung setiap kegiatan seni dan kebudayaan yang mengangkat adat dan istiadat Minahasa pada khususnya.

“Dalam kepemimpinan ROR-RD, seni budaya itu menjadi salah satu program prioritas dari 22 program. Sehingga ketika ada film yang mengangkat budaya Minahasa, ini menjadi sangat menarik dan menjadi peluang kita untuk mengangkat budaya Minahasa, sekaligus bisa menjadi brand untuk Minahasa sehingga perlu kita support sepenuhnya,” katanya.

Dengan diangkatnya budaya Minahasa, tambah Dondokambey, dapat bermanfaat juga bagi masyarakat Minahasa sehingga bisa mengikuti dan memahami budaya asli di Minahasa.

“Kemarin saya lihat juga banyak kaum milenial yang terlibat dalam film ini, itu saya lihat mereka sangat antusias. Sehingga kedepan saya harap mereka bisa menjadi contoh bagi kaum milenial lain di Minahasa. Khususnya mereka akan menjadi paham dan mengetahui perkembangan budaya minahasa dari dulu sampai saat ini,” pungkasnya.

Diketahui, sinopsis singkat Film ‘Dua Jendela’ menurut Sutradara Hidayat ‘Bagong’ Sunardi berlatar belakang perkampungan di pinggiran Jakarta, dimana masyarakatnya masih memegang teguh budaya Betawi klasik baik Gambang Kromong maupun Lenong serta kuliner khasnya. Di perkampungan itu ada pendatang baru, keluarga asal Manado.

Kedekatan kemudian terjadi antara Jaka (Betawi) dan Cindy (Manado), namun mendapat pertentangan dari pihak keluarga Manado, yang akhirnya membuat Cindy harus balik ke Manado. Namun kekuatan cinta Jaka membuat dia harus mencari Cindy sampai ke Manado.

Namun, ketika bertemu kembali, keluarga Cindy tetap tidak menerima kehadiran Jaka. Proses adat kemudian terlibat dalam pengambilan keputusan. Dan dari para pemangku adat suku Minahasa, akhirnya memutuskan, bahwa berdasarkan adat orang Manado, Jaka harus diterima dengan baik sebagai tamu.

Akhirnya, hubungan mereka di restui oleh pemangku adat serta keluarga Cindy. Di akhir cerita, merekapun kembali dan menetap di Jakarta. Itulah inti perjalanan romance yang didasari Dua Budaya dalam Satu Frame Cerita yaitu Film Dua Jendela.(*)

Most Read

Artikel Terbaru

/