32.4 C
Manado
Rabu, 6 Juli 2022

Saksi Sejarah! Perjalanan Oma Roos, Paskibraka di Hut Pertama Kemerdekaan RI

MANADOPOST.ID–Setiap momen HUT RI, kehadiran paskibraka akan selalu ditunggu masyarakat. Berikut kisah Andriette Rosa Mantik, salah satu eks Paskibraka perwakilan Sulawesi Utara, dalam peringatan HUT Kemerdekaan RI yang pertama, pada 17 Agustus Tahun 1946 di Yogyakarta.

Meski sudah berusia 88 tahun, saat diwawancarai Manado Post, oma Andriette Rosa Mantik, masih ingat betul masa itu. Melihat langsung Bendera Merah Putih berkibar di Istana Yogyakarta.

Ditemui dikediamannya, Jalan 17 Agustus Nomor 26, Kelurahan Bumi Beringin kecamatan Wenang. Dirinya lantang bercerita tentang kenangan 75 tahun silam. Seakan semua peristiwa baru saja dialaminya. Sambil ditemani suasana matahari terbenam akhir pekan, dengan pemandangan teluk Manado, menambah semangat oma Roos bertutur.

Telebih rumah kediaman keluarga Dendeng-Mantik, dengan gaya Spainis. Yang diarsiteki langsung oleh almarhum Ir Arthur Remy Dendeng, suami oma Roos, semakin melengkapi “pelajaran sejarah” tersebut.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Oma Roos yang lahir di Bandung pada 14 Juli 1932, kala itu berusia sekira 14 tahun. Lahir dari pasangan Pdt Karel Mantik dan Josephine Rambitan, oma Roos bungsu dari lima bersaudara. Awalnya pada waktu tahun revolusi di Jawa Barat. Bandung dibagi dua, utara dan selatan.

“Kita (keluarga) terus ke selatan mengikuti pengunduran (menghindari perang). Waktu itu Bandung jadi lautan api. Belanda Inggris datang. Jadi Bandung terbelah dua, utara dan selatan. Dan kita orang Indonesia semuanya, mundur ke selatan,” cerita awal oma Roos.

Dalam perjalanan tersebut, oma Roos sempat menjadi relawan palang merah. Dirinya tidak segan membantu menolong pasien. “Sebab ibu saya, karena suami (ayah) sudah meninggal, saya waktu itu baru umur 2 tahun. Ayah meninggal di Cirebon. Dan ibu bekerja di RS Imanuel. Disitu waktu revolusi, kita pindah, saya jadi ikut menjadi palang merahnya RS Imanuel. Kita harus tolong menolong. Menolong pasien. Saya naik gerobak, naik bus, cuci pakaian pasien. Mundur (menghindar) dari Bandung. Tahap demi tahap, dan akhirnya sampai di Jogya. Waktu itu saya sekira 14 tahun,” terangnya.

Setapak demi tapak dilalui. Makan apa adanya. Cuci pakaian di sawah dan dikali. Itu yang dialami sewaktu pemunduran. Dan akhirnya tiba di Jogyakarta. Di sana oma Roos, oleh kakaknya, diminta untuk melanjutkan sekolahnya.

“Tapi waktu sampai di Yogya, kakak saya yang tentara. Dia bilang Roos, stop ngana (kamu) bekerja palang merah. Masuk (harus) sekolah lagi. Karena itu saya berusia sekira 14 atau 15 tahun. Kamu harus belajar untuk penghidupan kamu di kemudian hari,” kenangnya.

Saat sekolah itulah yang mengantarkan oma Roos menjadi saksi sejarah, sebagai Paskibraka HUT pertama RI. Pasalnya, saat sekolah di sekolah Katolik. Dirinya yang bisa berbahasa Belanda, sering bolak balik ke Istana Yogyakarta.

“Jadi saya sekolah. Saya sekolah di sekolah Katolik. Karena saya bisa bahasa Belanda, maka suster-suster, yang terkadang ada surat untuk istana Yogyakarta. Presiden dan Wakil Presiden. Jadi saya selalu disuruh untuk bawa ini (surat). Untuk ibu Presiden atau ibu Wakil Presiden. Saya disuruh kiri kanan terus,” ungkapnya yang saat ditemui tampil anggun dengan balutan busana merah.

Akhirnya ketika akan tiba HUT RI tahun 1946, oma Roos dipilih. “Kala itu, waktu di Jogyakarta, HUT RI Pertama masih cukup lama. Selama itu, kita mengolah kehidupan rakyat di Jogya. Kita bersatu semua. Tidak ada yang lain. Semuanya sama saling tolong menolong satu sama lain. Dan setelah saya masuk sekolah Katolik, di situ saya dipilih sebagai pengibar bendera,” terangnya.

Berbeda dengan saat ini, tahun 1946 tidak dengan melewati sistem seleksi. “Ajudan Bung Karno yang pilih dari sekolah-sekolah di Jogya. Dari situ dipillih orang-orang yang juga dekat dengan istana. Sudah kenal dan dapat dipercaya,” katanya.

Oma Roos (kaca mata) dan keluarganya saat ditemui Manado Post, pekan lalu.

Putri oma Roos, Lingkan Dendeng mengatakan, bahwa dokumentasi kala itu tidak ada. Namun akhirnya ditemukan dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi”. “Sebenarnya tidak punya foto sendiri. Tahun 1946 itu. Karena mama suka cerita. Dan om saya kebetulan ahli sejarah. Dia temukan fotonya. Di buku Di Bawah Bendera Revolusi. Terus dia kasih lihat ke mama. Dan mama langsung bilang, oh ia ini saya. Langsung bilang begitu. Ternyata ada terasip dan tidak sengaja ditemukan,” tandasnya.(ctr-02/gnr)

MANADOPOST.ID–Setiap momen HUT RI, kehadiran paskibraka akan selalu ditunggu masyarakat. Berikut kisah Andriette Rosa Mantik, salah satu eks Paskibraka perwakilan Sulawesi Utara, dalam peringatan HUT Kemerdekaan RI yang pertama, pada 17 Agustus Tahun 1946 di Yogyakarta.

Meski sudah berusia 88 tahun, saat diwawancarai Manado Post, oma Andriette Rosa Mantik, masih ingat betul masa itu. Melihat langsung Bendera Merah Putih berkibar di Istana Yogyakarta.

Ditemui dikediamannya, Jalan 17 Agustus Nomor 26, Kelurahan Bumi Beringin kecamatan Wenang. Dirinya lantang bercerita tentang kenangan 75 tahun silam. Seakan semua peristiwa baru saja dialaminya. Sambil ditemani suasana matahari terbenam akhir pekan, dengan pemandangan teluk Manado, menambah semangat oma Roos bertutur.

Telebih rumah kediaman keluarga Dendeng-Mantik, dengan gaya Spainis. Yang diarsiteki langsung oleh almarhum Ir Arthur Remy Dendeng, suami oma Roos, semakin melengkapi “pelajaran sejarah” tersebut.

Oma Roos yang lahir di Bandung pada 14 Juli 1932, kala itu berusia sekira 14 tahun. Lahir dari pasangan Pdt Karel Mantik dan Josephine Rambitan, oma Roos bungsu dari lima bersaudara. Awalnya pada waktu tahun revolusi di Jawa Barat. Bandung dibagi dua, utara dan selatan.

“Kita (keluarga) terus ke selatan mengikuti pengunduran (menghindari perang). Waktu itu Bandung jadi lautan api. Belanda Inggris datang. Jadi Bandung terbelah dua, utara dan selatan. Dan kita orang Indonesia semuanya, mundur ke selatan,” cerita awal oma Roos.

Dalam perjalanan tersebut, oma Roos sempat menjadi relawan palang merah. Dirinya tidak segan membantu menolong pasien. “Sebab ibu saya, karena suami (ayah) sudah meninggal, saya waktu itu baru umur 2 tahun. Ayah meninggal di Cirebon. Dan ibu bekerja di RS Imanuel. Disitu waktu revolusi, kita pindah, saya jadi ikut menjadi palang merahnya RS Imanuel. Kita harus tolong menolong. Menolong pasien. Saya naik gerobak, naik bus, cuci pakaian pasien. Mundur (menghindar) dari Bandung. Tahap demi tahap, dan akhirnya sampai di Jogya. Waktu itu saya sekira 14 tahun,” terangnya.

Setapak demi tapak dilalui. Makan apa adanya. Cuci pakaian di sawah dan dikali. Itu yang dialami sewaktu pemunduran. Dan akhirnya tiba di Jogyakarta. Di sana oma Roos, oleh kakaknya, diminta untuk melanjutkan sekolahnya.

“Tapi waktu sampai di Yogya, kakak saya yang tentara. Dia bilang Roos, stop ngana (kamu) bekerja palang merah. Masuk (harus) sekolah lagi. Karena itu saya berusia sekira 14 atau 15 tahun. Kamu harus belajar untuk penghidupan kamu di kemudian hari,” kenangnya.

Saat sekolah itulah yang mengantarkan oma Roos menjadi saksi sejarah, sebagai Paskibraka HUT pertama RI. Pasalnya, saat sekolah di sekolah Katolik. Dirinya yang bisa berbahasa Belanda, sering bolak balik ke Istana Yogyakarta.

“Jadi saya sekolah. Saya sekolah di sekolah Katolik. Karena saya bisa bahasa Belanda, maka suster-suster, yang terkadang ada surat untuk istana Yogyakarta. Presiden dan Wakil Presiden. Jadi saya selalu disuruh untuk bawa ini (surat). Untuk ibu Presiden atau ibu Wakil Presiden. Saya disuruh kiri kanan terus,” ungkapnya yang saat ditemui tampil anggun dengan balutan busana merah.

Akhirnya ketika akan tiba HUT RI tahun 1946, oma Roos dipilih. “Kala itu, waktu di Jogyakarta, HUT RI Pertama masih cukup lama. Selama itu, kita mengolah kehidupan rakyat di Jogya. Kita bersatu semua. Tidak ada yang lain. Semuanya sama saling tolong menolong satu sama lain. Dan setelah saya masuk sekolah Katolik, di situ saya dipilih sebagai pengibar bendera,” terangnya.

Berbeda dengan saat ini, tahun 1946 tidak dengan melewati sistem seleksi. “Ajudan Bung Karno yang pilih dari sekolah-sekolah di Jogya. Dari situ dipillih orang-orang yang juga dekat dengan istana. Sudah kenal dan dapat dipercaya,” katanya.

Oma Roos (kaca mata) dan keluarganya saat ditemui Manado Post, pekan lalu.

Putri oma Roos, Lingkan Dendeng mengatakan, bahwa dokumentasi kala itu tidak ada. Namun akhirnya ditemukan dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi”. “Sebenarnya tidak punya foto sendiri. Tahun 1946 itu. Karena mama suka cerita. Dan om saya kebetulan ahli sejarah. Dia temukan fotonya. Di buku Di Bawah Bendera Revolusi. Terus dia kasih lihat ke mama. Dan mama langsung bilang, oh ia ini saya. Langsung bilang begitu. Ternyata ada terasip dan tidak sengaja ditemukan,” tandasnya.(ctr-02/gnr)

Most Read

Artikel Terbaru

/