25.3 C
Manado
Sabtu, 13 Agustus 2022

Oma Roos: Tidak Hilang dari Ingatan

Suasana Upacara di Hut Pertama Indonesia, Sederhana Tapi Bersatu

MANADOPOST.ID–Upacara Hut Indonesia yang pertama di tahun 1946 digelar dengan persiapan dan fasilitas seadanya.  Namun semangat kemerdekaan selalu membara dalam insan rakyat Indonesia. Hal ini tergambar jelas dalam benak salah satu anggota Paskibraka di saat itu, Andriette Rosa Mantik (88).

“Suasana waktu itu, di Istana kecil. Jadi tidak ada tempat duduk kiri kanan. Kita bisa mengikuti semuanya, namun tidak seluruh rakyat bisa masuk Istana. Karena halamannya tidak begitu besar. Dan di komando, dari sini naik dan lainnya. Sederhana tapi bersatu. Jadi saya senang Indonesia benar-benar bersatu. Pokoknya semuanya senang Kemerdekaan,” kenangnya.

Tambahnya, dirinya waktu itu, sudah tidak canggung. Karena sudah sering keluar masuk Istana Jogya, mengantarkan surat. Pun waktu perjalanan mundur (menghindar perang), bersama dengan para pemimpin negara.

“Karena saya boleh dibilang, sudah tahu istana karena selalu dikirim oleh suster. Jadi saya merasa biasa, seperti rumah kita. Dan saya kenal memang, ibu Soekarno dan ibu Hatta. Saya kenal, karena waktu revolusi dan waktu itu mudur, semua bersatu. Jadi kita saling tolong menolong. Tidak ada perbedaan sama sekali. Banar-benar bersatu. Namun kita tetap saling menghormati. Kita ikuti apa yang harus dijalankan. Ada batasan. Karena itu Presiden dan Wakil Presiden. Menghormati semua,” kenangnya menambahkan setelah tamat sekolah dan kondisi sudah aman, mereka pergi ke Jakarta kembali lagi ke Bandung.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Oma Roos mengaku sangat bangga. Karena bisa meninggalkan warisan buat anak-anak saat ini. “Saya bangga boleh mengikuti (pengibaran bendera 17 Agustus) sampai sekarang. Kalau ada pengibaran bendera, terus ingat dulu. Lihat itu foto saya sangat terharu,” terangnya.

Bahkan dia mengaku, setiap momen 17 Agustus, euforia masih sangat terasa. “Seolah-olah masih berada pada waktu itu sedang ada di Jogya. Tidak hilang dari ingatan. Tetap ada terus. Serasa masih di tahun 1946 di Jogja. Dan saya berterima kasih, saya boleh mengikutinya,” ungkapnya.

Hal ini jelas berbeda jauh dengan kondisi sekarang. Dengan kemajuannya yang luar biasa. “Tapi ini adalah contoh saya terhadap anak-anak muda kita. Untuk mendidik. Jadi saya selalu katakan kepada anak-anak saya. Sekarang sudah sekira 88 tahun (usia). Saya masih ingat. Tuhan memberkati kita. Beginilah penghidupan, tidak tidak boleh semau gue (sendiri). Belajar bersatu dan menolong sesama kita,” harapnya.(ctr-02/gnr)

 

MANADOPOST.ID–Upacara Hut Indonesia yang pertama di tahun 1946 digelar dengan persiapan dan fasilitas seadanya.  Namun semangat kemerdekaan selalu membara dalam insan rakyat Indonesia. Hal ini tergambar jelas dalam benak salah satu anggota Paskibraka di saat itu, Andriette Rosa Mantik (88).

“Suasana waktu itu, di Istana kecil. Jadi tidak ada tempat duduk kiri kanan. Kita bisa mengikuti semuanya, namun tidak seluruh rakyat bisa masuk Istana. Karena halamannya tidak begitu besar. Dan di komando, dari sini naik dan lainnya. Sederhana tapi bersatu. Jadi saya senang Indonesia benar-benar bersatu. Pokoknya semuanya senang Kemerdekaan,” kenangnya.

Tambahnya, dirinya waktu itu, sudah tidak canggung. Karena sudah sering keluar masuk Istana Jogya, mengantarkan surat. Pun waktu perjalanan mundur (menghindar perang), bersama dengan para pemimpin negara.

“Karena saya boleh dibilang, sudah tahu istana karena selalu dikirim oleh suster. Jadi saya merasa biasa, seperti rumah kita. Dan saya kenal memang, ibu Soekarno dan ibu Hatta. Saya kenal, karena waktu revolusi dan waktu itu mudur, semua bersatu. Jadi kita saling tolong menolong. Tidak ada perbedaan sama sekali. Banar-benar bersatu. Namun kita tetap saling menghormati. Kita ikuti apa yang harus dijalankan. Ada batasan. Karena itu Presiden dan Wakil Presiden. Menghormati semua,” kenangnya menambahkan setelah tamat sekolah dan kondisi sudah aman, mereka pergi ke Jakarta kembali lagi ke Bandung.

Oma Roos mengaku sangat bangga. Karena bisa meninggalkan warisan buat anak-anak saat ini. “Saya bangga boleh mengikuti (pengibaran bendera 17 Agustus) sampai sekarang. Kalau ada pengibaran bendera, terus ingat dulu. Lihat itu foto saya sangat terharu,” terangnya.

Bahkan dia mengaku, setiap momen 17 Agustus, euforia masih sangat terasa. “Seolah-olah masih berada pada waktu itu sedang ada di Jogya. Tidak hilang dari ingatan. Tetap ada terus. Serasa masih di tahun 1946 di Jogja. Dan saya berterima kasih, saya boleh mengikutinya,” ungkapnya.

Hal ini jelas berbeda jauh dengan kondisi sekarang. Dengan kemajuannya yang luar biasa. “Tapi ini adalah contoh saya terhadap anak-anak muda kita. Untuk mendidik. Jadi saya selalu katakan kepada anak-anak saya. Sekarang sudah sekira 88 tahun (usia). Saya masih ingat. Tuhan memberkati kita. Beginilah penghidupan, tidak tidak boleh semau gue (sendiri). Belajar bersatu dan menolong sesama kita,” harapnya.(ctr-02/gnr)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/