26.4 C
Manado
Sabtu, 2 Juli 2022

Tiga Surat Menteri ‘Dimandulkan’, Rektor Unsrat Dinilai Tidak Peka

MANADOPOST.ID – Polemik pengurangan Biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) Dokter Residen Fakultas Kedokteran (Faked) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado masih terus berlanjut. Rektor Unsrat dinilai mandulkan tiga surat, yakni Mendikbud, Menkes dan Menkeu.

Menurut dr Jacob Pajan, Koordinator Forum Komunikasi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Residen I Faked Unsrat Manado, bahwa residen itu garda terdepan pada saat masa pandemi Covid-19.

“Kami sudah bersuara panjang lebar selama berbulan-bulan sampai sekarang belum ada keputusan tentang UKT walaupun sudah ada edaran surat dari Menteri Pendidikan. Setelah itu dari Menteri Kesehatan pun melihat bahwa residen pun benar-benar berjuang dalam menangani pasien Covid-19, jadi dari Menteri Kesehatan ada perhatian untuk residen dengan memberikan insentif dan ini telah disetujui oleh Kementerian Keuangan,” bebernya.

Terkait Rektor Unsrat mandulkan tiga surat, pihaknya mengatakan bukan soal mandulkan tapi lebih kepada kepekaan sebagai pimpinan di masa pandemi ini yang lambat. “Pengambilan keputusan di masa pandemi untuk residen itu lambat. Sedangkan dari pusat saja cepat mengambil kebijakan tapi pihak rektoratnya yang lama. Sampai sekarang pun belum ada keputusan dari rektor Unsrat setelah dua minggu keluarnya surat dari Menteri Pendidikan  tentang pembebasan UKT sekurang-kurangnya hingga 25 persen, harusnya cepat ambil keputusan dari awal karena kami benar-benar perlu dibantu tanpa harus kesana-kemari meminta bantuan,” ucapnya.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Dimasa pandemi seperti ini sambungnya, jadi pimpinan harus bisa melihat mana yang bisa dibantu. “Jangan bersembunyi di balik aturan harus berani mengambil kebijakan Intinya aturan ya aturan tapi jangan jadikan aturan itu untuk bersembunyi di belakang aturan yang bikin akhirnya lambat untuk eksekusi keputusan sedangkan dari Presiden RI Joko Widodo berharap kita kerja cepat. Jadi kami tidak menyuruh Rektor Unsrat tabrak aturan tapi sebagai pimpinan harus peka dan benar- benar melihat bahwa kami adalah garda terdepan dalam penangganan Covid-19,” ujarnya.

“Kami sebagai dokter tetap terikat dengan sumpah. Pelayanan tetap kami melayani kalau ada masalah administrasi yang mengharuskan kami tidak melanjutkan pelayanan yah dengan permohonan maaf yang besar tapi dalam hati kecil kami adalah melayani pasien adalah kehormatan. Kepada teman-teman residen tetap semangat apapun itu tetap berjuang pasti ada jalan keluar pasti ada keputusan yang terbaik untuk kita,” tukasnya.(lin/tan)

MANADOPOST.ID – Polemik pengurangan Biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) Dokter Residen Fakultas Kedokteran (Faked) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado masih terus berlanjut. Rektor Unsrat dinilai mandulkan tiga surat, yakni Mendikbud, Menkes dan Menkeu.

Menurut dr Jacob Pajan, Koordinator Forum Komunikasi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Residen I Faked Unsrat Manado, bahwa residen itu garda terdepan pada saat masa pandemi Covid-19.

“Kami sudah bersuara panjang lebar selama berbulan-bulan sampai sekarang belum ada keputusan tentang UKT walaupun sudah ada edaran surat dari Menteri Pendidikan. Setelah itu dari Menteri Kesehatan pun melihat bahwa residen pun benar-benar berjuang dalam menangani pasien Covid-19, jadi dari Menteri Kesehatan ada perhatian untuk residen dengan memberikan insentif dan ini telah disetujui oleh Kementerian Keuangan,” bebernya.

Terkait Rektor Unsrat mandulkan tiga surat, pihaknya mengatakan bukan soal mandulkan tapi lebih kepada kepekaan sebagai pimpinan di masa pandemi ini yang lambat. “Pengambilan keputusan di masa pandemi untuk residen itu lambat. Sedangkan dari pusat saja cepat mengambil kebijakan tapi pihak rektoratnya yang lama. Sampai sekarang pun belum ada keputusan dari rektor Unsrat setelah dua minggu keluarnya surat dari Menteri Pendidikan  tentang pembebasan UKT sekurang-kurangnya hingga 25 persen, harusnya cepat ambil keputusan dari awal karena kami benar-benar perlu dibantu tanpa harus kesana-kemari meminta bantuan,” ucapnya.

Dimasa pandemi seperti ini sambungnya, jadi pimpinan harus bisa melihat mana yang bisa dibantu. “Jangan bersembunyi di balik aturan harus berani mengambil kebijakan Intinya aturan ya aturan tapi jangan jadikan aturan itu untuk bersembunyi di belakang aturan yang bikin akhirnya lambat untuk eksekusi keputusan sedangkan dari Presiden RI Joko Widodo berharap kita kerja cepat. Jadi kami tidak menyuruh Rektor Unsrat tabrak aturan tapi sebagai pimpinan harus peka dan benar- benar melihat bahwa kami adalah garda terdepan dalam penangganan Covid-19,” ujarnya.

“Kami sebagai dokter tetap terikat dengan sumpah. Pelayanan tetap kami melayani kalau ada masalah administrasi yang mengharuskan kami tidak melanjutkan pelayanan yah dengan permohonan maaf yang besar tapi dalam hati kecil kami adalah melayani pasien adalah kehormatan. Kepada teman-teman residen tetap semangat apapun itu tetap berjuang pasti ada jalan keluar pasti ada keputusan yang terbaik untuk kita,” tukasnya.(lin/tan)

Most Read

Artikel Terbaru

/