24.4 C
Manado
Senin, 15 Agustus 2022

Pohon Natal Gereja Kristus Raja di Surabaya, Tinggi 3 Meter, Gabungkan Budaya Provinsi se Indonesia

MANADOPOST.ID – Pohon Natal menjadi salah satu hiasan wajib di perayaan hari ini, Sabtu (25/12). Salah satu gereja yang unik adalah Gereja Kristus Raja Surabaya menggabungkan budaya dari semua provinsi di Indonesia ke pohon Natal setinggi 3 meter.

 

Rosarita Puspa Wungu, Ketua Panitia Perayaan Natal Gereja Kristus Raja mengatakan, tema pohon Natal tahun ini adalah Persaudaraan Keragaman Budaya di Indonesia. Dia berharap pohon Natal itu mampu mendefinisikan kebersamaan dengan kesenian seluruh Indonesia.

 

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

”Konsepnya sendiri kami mengambil tema pohon Natal persaudaraan. Persaudaraan meliputi banyak hal. Ada seni dari Jawa, Bali, Sumatera, Papua, Kalimantan. Dari Jawa banyak Jateng dan Jatim,” tutur Rosarita Puspa Wungu ketika ditemui pada Sabtu (25/12).

 

Tak hanya dilapisi aksara Honocoroko, pohon Natal itu juga dipadukan dengan batik parang dan batik luga naga. ”Ada konsep etnis chinesenya. Dengan konsep itu, umat manusia saling mendukung, bersatu dan bersama. Di sini Keluarga Kudus dan Maria juga menggunakan kain tenun. Inilah Indonesia, keragamannya. Kami mengharapkan siapa pun kita tujuan menyembah Tuhan. Sebagai pimpinan juga merakyat, bisa mengayomi rakyat,” terang Rosarita Puspa Wungu.

 

Seluruh budaya yang disertakan dalam pohon Natal itu dikonstelasikan dari semua provinsi. Di antaranya adalah hiasan kepala ala suku Batak, Sumatra Selatan, tameng Papua, hingga tipeng Banyuwangi. (jawapos)

 

MANADOPOST.ID – Pohon Natal menjadi salah satu hiasan wajib di perayaan hari ini, Sabtu (25/12). Salah satu gereja yang unik adalah Gereja Kristus Raja Surabaya menggabungkan budaya dari semua provinsi di Indonesia ke pohon Natal setinggi 3 meter.

 

Rosarita Puspa Wungu, Ketua Panitia Perayaan Natal Gereja Kristus Raja mengatakan, tema pohon Natal tahun ini adalah Persaudaraan Keragaman Budaya di Indonesia. Dia berharap pohon Natal itu mampu mendefinisikan kebersamaan dengan kesenian seluruh Indonesia.

 

”Konsepnya sendiri kami mengambil tema pohon Natal persaudaraan. Persaudaraan meliputi banyak hal. Ada seni dari Jawa, Bali, Sumatera, Papua, Kalimantan. Dari Jawa banyak Jateng dan Jatim,” tutur Rosarita Puspa Wungu ketika ditemui pada Sabtu (25/12).

 

Tak hanya dilapisi aksara Honocoroko, pohon Natal itu juga dipadukan dengan batik parang dan batik luga naga. ”Ada konsep etnis chinesenya. Dengan konsep itu, umat manusia saling mendukung, bersatu dan bersama. Di sini Keluarga Kudus dan Maria juga menggunakan kain tenun. Inilah Indonesia, keragamannya. Kami mengharapkan siapa pun kita tujuan menyembah Tuhan. Sebagai pimpinan juga merakyat, bisa mengayomi rakyat,” terang Rosarita Puspa Wungu.

 

Seluruh budaya yang disertakan dalam pohon Natal itu dikonstelasikan dari semua provinsi. Di antaranya adalah hiasan kepala ala suku Batak, Sumatra Selatan, tameng Papua, hingga tipeng Banyuwangi. (jawapos)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/