27C
Manado
Rabu, 14 April 2021

Begini Bayar Dendanya, Dijepret Tilang Elektronik, 2.814 Pelanggar di Manado Bakal Diklarifikasi?

MANADOPOST.JAWAPOS.COM-Pasca launching 23 Maret 2021, kamera tilang elektronik atau Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) di Kota Manado telah merekam 2.814 pelanggar. Ini data 23 hingga 24 Maret. Sejak Selasa pukul 10.00 WITA hingga Rabu pukul 10.00 WITA.

Dibeberkan Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Jules Abraham Abast, yang mendominasi pelanggaran yaitu warga yang tidak pakai helm. Dengan total pelanggar 1.503. “Mereka pelanggar terbanyak,” sebut Abast, sembari menyebutkan di posisi kedua yaitu warga yang tidak memakai seat belt atau sabuk pengaman. “Total tak pakai sabuk dalam dua hari pasca dilaunching yaitu 1.080 pengendara,” sesalnya, karena pengendara masih menganggap enteng dengan program keselamatan berlalulintas. “Namun dengan adanya kamera ETLE ini, kiranya pengendara bisa cepat sadar dan lebih mementingkan keselamatan diri maupun orang lain dalam berlalulintas,” pungkas Kombes Abast

Sementara itu, dirangkum dari berbagai sumber resmi, tujuan utama penggunaan sistem itu adalah untuk meningkatkan ketertiban lalu lintas, mengurangi angka kecelakaan hingga penyimpangan anggota dalam menindak warga yang melanggar. Apabila pengendara melanggar, si pelanggar akan mendapat surat tilang yang dikirim ke alamat sesuai dalam surat kendaraan. Besaran denda akan disesuaikan dengan jenis pelanggaran yang sudah tertuang dalam Undang-ungan (UU) No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Jenis pelanggaran dan besaran denda berdasarkan situs resmi ETLE adalah sebagai berikut: Menggunakan gawai (telepon selular). Pelanggar dipidana kurungan penjara selama 3 bulan atau denda Rp.750.000. Tidak mengenakan sabuk pengaman. Pelanggar dikenai hukuman penjara selama satu bulan atau denda Rp.250.000.

Melanggar rambu lalu lintas dan marka jalan. Pelanggar mendapat sanksi kurungan penjara hingga dua bulan atau denda maksimal Rp.500.000. Tidak memakai helm. Pelanggar dikenai hukuman penjara paling lama satu bulan atau denda Rp.250.000. Memakai pelat nomor palsu. Pelanggar dipidana penjara paling lama 2 bulan atau denda maksimal Rp.500.000.

Cara bayar; pelanggar akan menerima surat konfirmasi dari petugas paling lambat tiga hari setelah tercatat sebagai pelanggar. Dalam surat klarifikasi itu tercatat jenis pelanggaran yang terekam kamera ETLE dan masuk ke pusat data RTMC Polda Sulut.

Pemilik kendaraan dapat mengklarifikasi jika ada kekeliruan dalam proses tilang. Waktu untuk klarifikasi adalah tujuh hari setelah pengiriman surat konfirmasi. Jenis klarifikasi yang bisa dilakukan antara lain bahwa kendaraan misalnya dikendarai orang lain atau kendaraan itu telah dijual. Jika penerima surat merupakan pelanggar yang tertangkap kamera ETLE, pembayaran denda dapat dilakukan.

Setelah masa klarifikasi berakhir, pelanggar akan mendapatkan surat tilang biru dengan kode BRI virtual. Kode itu yang digunakan untuk pembayaran melalui Bank BRI atau dapat mengikuti sidang yang ditentukan. Hindari STNK diblokir. Pelanggar memiliki waktu tujuh hari lagi setelah proses klarifikasi bayar denda. Sebaiknya, pembayaran denda dilakukan segera guna menghindari pemblokiran STNK.
STNK yang diblokir berujung pada STNK itu tidak bisa diperpanjang. Namun STNK yang sudah terblokir dapat diaktifkan lagi, tetapi setelah membayar denda.(gnr)

Artikel Terbaru