alexametrics
25.4 C
Manado
Sabtu, 28 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

DBD `Teror` Sulut, Ada yang Meninggal, Fogging Disebut Tidak Efektif

MANADOPOST.ID— Masyarakat di kabupaten/kota di Sulawesi Utara (Sulut) diminta waspada terhadap penularan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Berdasarkan data yang dikumpulkan dari sembilan kabupaten/kota di Sulut, selang Januari hingga April tahun ini sekira 302 kasus DBD yang terjadi (lihat grafis).

Kepala Dinas Kesehatan Kota Manado dr Steven Dandel menyebutkan, khusus di Kota Manado, sepanjang tahun ini sudah ada 100 kasus DBD yang terjadi. Empat diantaranya adalah anak-anak dan meninggal dunia.

Dandel mengatakan, kenaikan kasus DBD dj Manado terjadi pada Januari hingga Februari. Sementara di Maret hingga April mengalami penurunan. Dia menuturkan, DBD yang merendah saat ini, adalah poin penting dalam upaya penanganan DBD. Sebaliknya jika kasusnya banyak, akan lebih sulit untuk melakukan pengendalian.

“Untuk itu kami punya metode yang namanya Early Warning System for Dengue (EWS DBD). Kalau ada suspek (belum tentu DBD), maka akan diambil tindakan berupa pencarian jentik nyamuk di rumah atau lokasi yang menjadi suspek. Kalau tidak ada jentik nyamuk yang dimaksud, berarti bukan penularan. Kalau ada, maka diambil tindakan pemberantasan sarang nyamuk,” terang Mantan Juru Bicara Satgas Covid-19 Sulut tersebut.

Beranjak ke Kota Bitung, menyebutkan, sepanjang April 2022 ada satu kasus DBD yang ditangani. “April ini ada satu kasus. Yang menimpa warga Kelurahan Makawidey, Winenet II dan di Kadoodan,” sebutnya.

Pun di Kota Tomohon. Plt Kepala Dinkesda Kota Tomohon dr Olga Karinda melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dr Ria Sugiarto, mengatakan, awal tahun ini total sudah ada 5 kasus DBD yang terjadi di Tomohon. Dengan rincian, bulan Januari 4 kasus dan Februari 1 kasus. Untuk Maret dan April sementara direkap.

Atasnya, dr Ria bilang, pihaknya kini telah menyediakan layanan Rapid Antigen DBD di seluruh fasilitas kesehatan, yang tersebar se-Kota Tomohon. “Di 7 puskesmas dan di RSUD Anugerah sudah tersedia layanan Rapid Antigen untuk DBD. Jika tubuh kita merasa panas atau demam selama 3 hari berturut-turut. Segera lakukan pemeriksaan,” katanya. Lanjut dia, biasanya tes tersebut dilakukan untuk mendeteksi antigen virus demam berdarah saat gejala baru muncul.

“Sekali lagi disampaikan, jika kita sudah mengalami gejala DBD, seperti demam tinggi selama 3 hari, baiknya kita melakukan tes NS1. Ini jadi pemeriksaan DBD awal. Pemeriksaan laboratorium NS1 cukup akurat dan efektif untuk mendiagnosis demam berdarah. Jika hasilnya positif, artinya memang anda terkena penyakit demam berdarah. Sembari menambahkan, hal ini penting dilakukan agar bisa mendapatkan pengobatan demam berdarah lebih awal dan mencegah komplikasi DBD yang timbul jika terlalu lama dibiarkan. Selain memastikan kondisi tubuh kita apakah sudah terpapar DBD, penting juga untuk selalu memastikan kondisi lingkungan bersih dan sehat. Buang sampah pada tempatnya, singkirkan semua benda atau wadah yang memiliki potensi untuk menampung air,” kuncinya.

Diketahui, selang tahun 2021 lalu, jumlah kasus DBD di Tomohon tercatat mencapai 60 kasus. Dengan dua pasien diantaranya dinyatakan meninggal dunia.
Sementara di Minut. Data Dinkes sepanjang tahun ini ada 53 kasus DBD yang didapati. Rinciannya, Januari 31 kasus, melambai pada Februari dengan 8 kasus. Namun kembali meningkat jadi 13 kasus di bulan Maret. Sedangkan pada bulan lalu, hanya ada 4 kasus yang didapati.

“Berdasarkan data empat bulan terakhir, memang fluktuatif. Naik di awal tahun, tetapi di bulan-bulan terakhir ini mulai bisa tertangani,” ujar Kadis Kesehatan Minut dr Stella Safitri.
Diungkapkan mantan Plt Kadis Lingkungan Hidup Minut tersebut, peningkatan terjadi karena cuaca yang tidak menentu di awal tahun. Hal tersebut langsung mendapat perhatian khusus Bupati Minut Joune Ganda. Sehingga langkah responsif dilakukan. “Kami menggencarkan fogging dan memperluas sosialisasi. Untungnya kasus sekarang sudah bisa dikatakan terkendali,” jelasnya.

Kecamatan Airmadidi menjadi wilayah paling rawan DBD berdasarkan data empat bulan terakhir. “Meskipun melandai, kami tetap menghimbau warga agar waspada. Menerapkan 3 M serta menjaga kebersihan,” tukasnya.

Waspada yang sama juga terus ditingkatkan Dinkes Mitra. Kepala Dinas Kesehatan Mitra, dr Helni Ratuliu membeber, sampai April ini ada 9 kasus DBD yang terjadi. Satu diantaranya meninggal dunia di Kecamatan Belang. “Pasca adanya sembilan kasus tersebut. Pihaknya langsung melakukan pencegahan berupa pengasapan atau fogging dalam rangka memberangus sarang-sarang jentik nyamuk khususnya di area sekitar tempat tinggal korban,” sebutnya.

Sementara di Kabupaten Minahasa, berdasarkan data Dinkes, sejak Januari tahun 2022 sampai 25 April 2022 terdapat 65 kasus DBD. Dari 65 kasus tersebut 2 diantaranya meninggal dunia. Menurut Sekretaris Dinkes Minahasa dr Gabby Doally, pihaknya intens memantau dan mengatasi kasus DBD di Minahasa. “Himbauan terus kami berikan. Dari total 65 kasus DBD yang terjadi, kasus terbanyak berada di kecamatan Pineleng,” tekannya.

Beranjak ke Wilayah BMR. Di Kabupaten Bolmong 4 bulan terakhir sudah sebanyak 57 warga menjadi korban karena gigitan nyamuk aedes aegypti tersebut. “Hingga kini sudah sebanyak 57 pasien terkonfirmasi DBD,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Bolmong Julin Papuling SKM ME, kemarin.

Dia membeber, DBD tersebut tersebar hampir disemua wilayah Bolmong. Namun terdata, hampir semua pasien berada di Dumoga Raya. Dimana ada 49 pasien yang terkonfirmasi dari 6 Puskesmas di Dumoga Raya sedangkan sisanya 7 pasien di Lolak dan 1 pasien di Poigar. “Dari 57 pasien DBD tertinggi berada di Dumoga Raya,” terang Julin.

Menariknya, penderita DBD tahun ini bakal menjadi tertinggi, sebab jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya jumlah kasus hanya 56 pasien. Menurut Julin, penderita DBD saat ini lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Sebab pada 2021 hanya terkonfirmasi sebanyak 56 kasus sedangkan pada tahun ini baru dua bulan sudah 57 kasus. “Tahun 2021 totalnya ada 56 kasus dalam 12 bulan. Tapi di tahun 2022 baru dua bulan saja sudah ada 57 kasus DBD,” jelas Julin.

Terpisah Sekretaris Dinas Kesehatan Bolmong, Yusuf Detu mengatakan, ada beberapa faktor yang mengakibatkan banyak warga Bolmong terpapar DBD. Sebab, dalam dua bulan pada awal tahun 2022, curah hujan sangatlah tinggi. Sehingga, menyebabkan jentik nyamuk DBD cepat berkembang biak. “Kalau curah hujan tinggi, memang potensi dari DBD akan banyak juga,” jelasnya.

Untuk itu, Yusuf berharap agar masyarakat bisa membersihkan setiap tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk DBD. “Kuras bak mandi yang membuat nyamuk DBD berkembang biak, dan tetap terapkan perilaku hidup sehat,” tukasnya.

Di sisi lain, Pengololah data DBD Pemberantasan penyakit menular P2M, Bolmut Regina Mokodompit, menyebutkan, sejak Januari hingga awal Februari 2022 ada 8 kasus DBD yang terjadi. Menurutnya ini adalah puncak siklus meningkat, karena awal tahun adalah bulan yang potensi pada penyakit menular. “Faktor utama dari penyakit ini yaitu di karenakan lingkaran yang kotor terlebih wilayah bolmut dalam masa penghujan,” katanya.

Terakhir di Bolsel. Dari informasi yang dirangkum Manado Post, per Desember hingga awal bulan Januari ini, sebanyak 6 warga yang terpapar DBD. Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Bolsel, Febbrial Podomi. mengatakan, ke-6 warga tersebut sedang di rawat di RS Bolsel. “Kasus positif sesuai hasil lab 6 orang. Semuanya merupakan warga Kecamatan Pinolosian. Pasien sudah dirujuk ke RS untuk penanganan lebih lanjut,” ungkapnya.

Lanjutnya, terkait kasus DBD ini, pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah desa dan masyarakat untuk melakukan pencegahan dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

“Berdasarkan Hasil penyelidikan Epidimiologi, ditemukan jentik nyamuk Aedes Aegypti di lingkungan tempat tinggal pasien yang terkonfirmasi positif DBD. Oleh karenanya kami telah berkoordinasi lintas sektor untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk,” ucapnya.

Lebih jauh dikatakan Podomi, pihaknya belum melakukan fogging atau penyemprotan dikarenakan fogging tidak efektif untuk memberantas penyakit DBD. “Fogging adalah alternatif paling akhir dalam penanggulangan DBD, karena fogging hanya untuk pemberantasan nyamuk dewasa, bukan untuk jentik. Jadi jentiknya akan menjadi nyamuk dewasa dan akan menambah kasus yang baru, sedangkan apabila akan dilakukan lagi fogging, maka nilai volume racunnya (malation) akan bertambah, dan nyamuk akan resisten terhadap fogging,” kuncinya.(tim mp)

Kasus DBD Januari-April 2022 di 9 kabupaten/kota se-Sulut:

Manado:
Jumlah Kasus 100
Meninggal 4

Bitung:
Jumlah Kasus 1

Tomohon:
Jumlah Kasus 5

Minut:
Jumlah Kasus 53

Mitra:
Jumlah Kasus 9

Minahasa:
Jumlah Kasus 63
Meninggal 2

Bolmong:
Jumlah Kasus 57

Bolsel:
Jumlah Kasus 6

Bolmut:
Jumlah Kasus 8

Total Kasus: 302

MANADOPOST.ID— Masyarakat di kabupaten/kota di Sulawesi Utara (Sulut) diminta waspada terhadap penularan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Berdasarkan data yang dikumpulkan dari sembilan kabupaten/kota di Sulut, selang Januari hingga April tahun ini sekira 302 kasus DBD yang terjadi (lihat grafis).

Kepala Dinas Kesehatan Kota Manado dr Steven Dandel menyebutkan, khusus di Kota Manado, sepanjang tahun ini sudah ada 100 kasus DBD yang terjadi. Empat diantaranya adalah anak-anak dan meninggal dunia.

Dandel mengatakan, kenaikan kasus DBD dj Manado terjadi pada Januari hingga Februari. Sementara di Maret hingga April mengalami penurunan. Dia menuturkan, DBD yang merendah saat ini, adalah poin penting dalam upaya penanganan DBD. Sebaliknya jika kasusnya banyak, akan lebih sulit untuk melakukan pengendalian.

“Untuk itu kami punya metode yang namanya Early Warning System for Dengue (EWS DBD). Kalau ada suspek (belum tentu DBD), maka akan diambil tindakan berupa pencarian jentik nyamuk di rumah atau lokasi yang menjadi suspek. Kalau tidak ada jentik nyamuk yang dimaksud, berarti bukan penularan. Kalau ada, maka diambil tindakan pemberantasan sarang nyamuk,” terang Mantan Juru Bicara Satgas Covid-19 Sulut tersebut.

Beranjak ke Kota Bitung, menyebutkan, sepanjang April 2022 ada satu kasus DBD yang ditangani. “April ini ada satu kasus. Yang menimpa warga Kelurahan Makawidey, Winenet II dan di Kadoodan,” sebutnya.

Pun di Kota Tomohon. Plt Kepala Dinkesda Kota Tomohon dr Olga Karinda melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dr Ria Sugiarto, mengatakan, awal tahun ini total sudah ada 5 kasus DBD yang terjadi di Tomohon. Dengan rincian, bulan Januari 4 kasus dan Februari 1 kasus. Untuk Maret dan April sementara direkap.

Atasnya, dr Ria bilang, pihaknya kini telah menyediakan layanan Rapid Antigen DBD di seluruh fasilitas kesehatan, yang tersebar se-Kota Tomohon. “Di 7 puskesmas dan di RSUD Anugerah sudah tersedia layanan Rapid Antigen untuk DBD. Jika tubuh kita merasa panas atau demam selama 3 hari berturut-turut. Segera lakukan pemeriksaan,” katanya. Lanjut dia, biasanya tes tersebut dilakukan untuk mendeteksi antigen virus demam berdarah saat gejala baru muncul.

“Sekali lagi disampaikan, jika kita sudah mengalami gejala DBD, seperti demam tinggi selama 3 hari, baiknya kita melakukan tes NS1. Ini jadi pemeriksaan DBD awal. Pemeriksaan laboratorium NS1 cukup akurat dan efektif untuk mendiagnosis demam berdarah. Jika hasilnya positif, artinya memang anda terkena penyakit demam berdarah. Sembari menambahkan, hal ini penting dilakukan agar bisa mendapatkan pengobatan demam berdarah lebih awal dan mencegah komplikasi DBD yang timbul jika terlalu lama dibiarkan. Selain memastikan kondisi tubuh kita apakah sudah terpapar DBD, penting juga untuk selalu memastikan kondisi lingkungan bersih dan sehat. Buang sampah pada tempatnya, singkirkan semua benda atau wadah yang memiliki potensi untuk menampung air,” kuncinya.

Diketahui, selang tahun 2021 lalu, jumlah kasus DBD di Tomohon tercatat mencapai 60 kasus. Dengan dua pasien diantaranya dinyatakan meninggal dunia.
Sementara di Minut. Data Dinkes sepanjang tahun ini ada 53 kasus DBD yang didapati. Rinciannya, Januari 31 kasus, melambai pada Februari dengan 8 kasus. Namun kembali meningkat jadi 13 kasus di bulan Maret. Sedangkan pada bulan lalu, hanya ada 4 kasus yang didapati.

“Berdasarkan data empat bulan terakhir, memang fluktuatif. Naik di awal tahun, tetapi di bulan-bulan terakhir ini mulai bisa tertangani,” ujar Kadis Kesehatan Minut dr Stella Safitri.
Diungkapkan mantan Plt Kadis Lingkungan Hidup Minut tersebut, peningkatan terjadi karena cuaca yang tidak menentu di awal tahun. Hal tersebut langsung mendapat perhatian khusus Bupati Minut Joune Ganda. Sehingga langkah responsif dilakukan. “Kami menggencarkan fogging dan memperluas sosialisasi. Untungnya kasus sekarang sudah bisa dikatakan terkendali,” jelasnya.

Kecamatan Airmadidi menjadi wilayah paling rawan DBD berdasarkan data empat bulan terakhir. “Meskipun melandai, kami tetap menghimbau warga agar waspada. Menerapkan 3 M serta menjaga kebersihan,” tukasnya.

Waspada yang sama juga terus ditingkatkan Dinkes Mitra. Kepala Dinas Kesehatan Mitra, dr Helni Ratuliu membeber, sampai April ini ada 9 kasus DBD yang terjadi. Satu diantaranya meninggal dunia di Kecamatan Belang. “Pasca adanya sembilan kasus tersebut. Pihaknya langsung melakukan pencegahan berupa pengasapan atau fogging dalam rangka memberangus sarang-sarang jentik nyamuk khususnya di area sekitar tempat tinggal korban,” sebutnya.

Sementara di Kabupaten Minahasa, berdasarkan data Dinkes, sejak Januari tahun 2022 sampai 25 April 2022 terdapat 65 kasus DBD. Dari 65 kasus tersebut 2 diantaranya meninggal dunia. Menurut Sekretaris Dinkes Minahasa dr Gabby Doally, pihaknya intens memantau dan mengatasi kasus DBD di Minahasa. “Himbauan terus kami berikan. Dari total 65 kasus DBD yang terjadi, kasus terbanyak berada di kecamatan Pineleng,” tekannya.

Beranjak ke Wilayah BMR. Di Kabupaten Bolmong 4 bulan terakhir sudah sebanyak 57 warga menjadi korban karena gigitan nyamuk aedes aegypti tersebut. “Hingga kini sudah sebanyak 57 pasien terkonfirmasi DBD,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Bolmong Julin Papuling SKM ME, kemarin.

Dia membeber, DBD tersebut tersebar hampir disemua wilayah Bolmong. Namun terdata, hampir semua pasien berada di Dumoga Raya. Dimana ada 49 pasien yang terkonfirmasi dari 6 Puskesmas di Dumoga Raya sedangkan sisanya 7 pasien di Lolak dan 1 pasien di Poigar. “Dari 57 pasien DBD tertinggi berada di Dumoga Raya,” terang Julin.

Menariknya, penderita DBD tahun ini bakal menjadi tertinggi, sebab jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya jumlah kasus hanya 56 pasien. Menurut Julin, penderita DBD saat ini lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Sebab pada 2021 hanya terkonfirmasi sebanyak 56 kasus sedangkan pada tahun ini baru dua bulan sudah 57 kasus. “Tahun 2021 totalnya ada 56 kasus dalam 12 bulan. Tapi di tahun 2022 baru dua bulan saja sudah ada 57 kasus DBD,” jelas Julin.

Terpisah Sekretaris Dinas Kesehatan Bolmong, Yusuf Detu mengatakan, ada beberapa faktor yang mengakibatkan banyak warga Bolmong terpapar DBD. Sebab, dalam dua bulan pada awal tahun 2022, curah hujan sangatlah tinggi. Sehingga, menyebabkan jentik nyamuk DBD cepat berkembang biak. “Kalau curah hujan tinggi, memang potensi dari DBD akan banyak juga,” jelasnya.

Untuk itu, Yusuf berharap agar masyarakat bisa membersihkan setiap tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk DBD. “Kuras bak mandi yang membuat nyamuk DBD berkembang biak, dan tetap terapkan perilaku hidup sehat,” tukasnya.

Di sisi lain, Pengololah data DBD Pemberantasan penyakit menular P2M, Bolmut Regina Mokodompit, menyebutkan, sejak Januari hingga awal Februari 2022 ada 8 kasus DBD yang terjadi. Menurutnya ini adalah puncak siklus meningkat, karena awal tahun adalah bulan yang potensi pada penyakit menular. “Faktor utama dari penyakit ini yaitu di karenakan lingkaran yang kotor terlebih wilayah bolmut dalam masa penghujan,” katanya.

Terakhir di Bolsel. Dari informasi yang dirangkum Manado Post, per Desember hingga awal bulan Januari ini, sebanyak 6 warga yang terpapar DBD. Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Bolsel, Febbrial Podomi. mengatakan, ke-6 warga tersebut sedang di rawat di RS Bolsel. “Kasus positif sesuai hasil lab 6 orang. Semuanya merupakan warga Kecamatan Pinolosian. Pasien sudah dirujuk ke RS untuk penanganan lebih lanjut,” ungkapnya.

Lanjutnya, terkait kasus DBD ini, pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah desa dan masyarakat untuk melakukan pencegahan dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

“Berdasarkan Hasil penyelidikan Epidimiologi, ditemukan jentik nyamuk Aedes Aegypti di lingkungan tempat tinggal pasien yang terkonfirmasi positif DBD. Oleh karenanya kami telah berkoordinasi lintas sektor untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk,” ucapnya.

Lebih jauh dikatakan Podomi, pihaknya belum melakukan fogging atau penyemprotan dikarenakan fogging tidak efektif untuk memberantas penyakit DBD. “Fogging adalah alternatif paling akhir dalam penanggulangan DBD, karena fogging hanya untuk pemberantasan nyamuk dewasa, bukan untuk jentik. Jadi jentiknya akan menjadi nyamuk dewasa dan akan menambah kasus yang baru, sedangkan apabila akan dilakukan lagi fogging, maka nilai volume racunnya (malation) akan bertambah, dan nyamuk akan resisten terhadap fogging,” kuncinya.(tim mp)

Kasus DBD Januari-April 2022 di 9 kabupaten/kota se-Sulut:

Manado:
Jumlah Kasus 100
Meninggal 4

Bitung:
Jumlah Kasus 1

Tomohon:
Jumlah Kasus 5

Minut:
Jumlah Kasus 53

Mitra:
Jumlah Kasus 9

Minahasa:
Jumlah Kasus 63
Meninggal 2

Bolmong:
Jumlah Kasus 57

Bolsel:
Jumlah Kasus 6

Bolmut:
Jumlah Kasus 8

Total Kasus: 302

Most Read

Artikel Terbaru

/