30.4 C
Manado
Selasa, 5 Juli 2022

Wajib PCR, Wisatawan Batalkan Booking Hotel, Banyak Juga yang Cancel Perjalanan

MANADOPOST.ID – Pemerintah sepertinya perlu mengkaji lagi aturan agar tidak memberatkan wisatawan. Pasalnya kebijakan wajib tes PCR dan karantina lima hari bagi wisatawan lokal dan mancanegara berimbas pada pembatalan pemesanan (booking) kamar puluhan hotel di Bali.

Dilansir dari CNN Indonesia, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Karangasem, Bali, I Wayan Kariasa menyampaikan pemberlakuan kewajiban tersebut membuat biaya liburan membengkak sehingga banyak wisatawan nusantara yang membatalkan perjalanan ke Bali.

“Ternyata, dulunya dengan rapid antigen sekarang harus dengan PCR swab. Jadi, biayanya hampir lima kali lipat naik dari dari harga antigen. Ini cukup beban buat para wisatawan dan juga mengamputasi kita dalam pergerakan ekonomi kita di Bali,” kata Kariasa, saat dihubungi Selasa (26/10).

Ia juga menyatakan, dengan diberlakukan kewajiban swab PCR untuk ke Bali, banyak wisatawan yang menjadwalkan ulang pemesanan ulang hotelnya. Hal itu menimbulkan kerugian bagi pihaknya.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

“(Kalau kerugian) kalau rata-rata harga kamarnya Rp 400 ribu sampai Rp 500 ribu per malamnya. Juga ada teman-teman mengalami hal yang sama, belum lagi booking-an kita dari Eropa sudah masuk kemarin di Bulan Desember juga cancel,” jelasnya.

Menurut Kariasa, sejumlah wisman juga membatalkan perjalanan karena kebijakan karantina lima hari.

“Karena beberapa (wisman) yang menanyakan ke saya harus karantina lima hari (jadi) tidak jadi ke Bali dulu. Jadi, dia melihat situasi ke depan sampai situasi betul-betul masuk Bali tanpa karantina. Itu juga menjadi kendala kita,” ujarnya.

Ia menilai, kebijakan karantina lima hari dan wajib tes PCR sangat memberatkan wisatawan yang datang ke Bali. Menurutnya, kalau memang ada wajib tes PCR harganya jangan terlalu mahal sehingga tidak memberatkan wisatawan.

MANADOPOST.ID – Pemerintah sepertinya perlu mengkaji lagi aturan agar tidak memberatkan wisatawan. Pasalnya kebijakan wajib tes PCR dan karantina lima hari bagi wisatawan lokal dan mancanegara berimbas pada pembatalan pemesanan (booking) kamar puluhan hotel di Bali.

Dilansir dari CNN Indonesia, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Karangasem, Bali, I Wayan Kariasa menyampaikan pemberlakuan kewajiban tersebut membuat biaya liburan membengkak sehingga banyak wisatawan nusantara yang membatalkan perjalanan ke Bali.

“Ternyata, dulunya dengan rapid antigen sekarang harus dengan PCR swab. Jadi, biayanya hampir lima kali lipat naik dari dari harga antigen. Ini cukup beban buat para wisatawan dan juga mengamputasi kita dalam pergerakan ekonomi kita di Bali,” kata Kariasa, saat dihubungi Selasa (26/10).

Ia juga menyatakan, dengan diberlakukan kewajiban swab PCR untuk ke Bali, banyak wisatawan yang menjadwalkan ulang pemesanan ulang hotelnya. Hal itu menimbulkan kerugian bagi pihaknya.

“(Kalau kerugian) kalau rata-rata harga kamarnya Rp 400 ribu sampai Rp 500 ribu per malamnya. Juga ada teman-teman mengalami hal yang sama, belum lagi booking-an kita dari Eropa sudah masuk kemarin di Bulan Desember juga cancel,” jelasnya.

Menurut Kariasa, sejumlah wisman juga membatalkan perjalanan karena kebijakan karantina lima hari.

“Karena beberapa (wisman) yang menanyakan ke saya harus karantina lima hari (jadi) tidak jadi ke Bali dulu. Jadi, dia melihat situasi ke depan sampai situasi betul-betul masuk Bali tanpa karantina. Itu juga menjadi kendala kita,” ujarnya.

Ia menilai, kebijakan karantina lima hari dan wajib tes PCR sangat memberatkan wisatawan yang datang ke Bali. Menurutnya, kalau memang ada wajib tes PCR harganya jangan terlalu mahal sehingga tidak memberatkan wisatawan.

Most Read

Artikel Terbaru

/