30.4 C
Manado
Rabu, 29 Juni 2022

Banner Mobile (Anymind)

Sudah 3.990 Warga Divaksin AstraZeneca

- Advertisement -

MANADOPOST.ID— Sebanyak 3.990 warga Sulawesi Utara (Sulut) sudah disuntik vaksin Covid-19 AstraZeneca (AZ). “3.990 warga Manado semua. Bitung belum mulai,” ungkap Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Sulut, yang juga Jubir Satgas Covid-19 Pemprov Sulut dr Steven Dandel MPH.

Penggunaan vaksin ini di Sulut diketahui dihentikan sementara. Dandel menjelaskan, hal ini dilakukan sebagai langkah kehati-hatian/precaution. Langkah hati-hati itu diambil mengingat adanya angka kejadian Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) sebesar 5-10 persen dari total yang divaksin AZ.

“KIPI ini hadir dalam bentuk gejala Demam, menggigil, nyeri badan, nyeri tulang, mual dan muntah. Kami perlu mempersiapkan komunikasi resiko kepada masyarakat untuk dapat menerima fakta ini. Supaya tidak terjadi kepanikan di masyarakat,” sebutnya.

Dalam Emergency Use Authorization (EUA) vaksin AZ, sebenarnya telah disebutkan bahwa KIPI ini adalah efek simpang (adverse effect) dari vaksin AZ yang sifatnya sangat Sering terjadi (Very Common artinya 1 diantara 10 suntikan) dan sering terjadi (common -1 diantara 10 sd 1 diantara 100).

- Advertisement -

“Langkah ini juga perlu dilakukan untuk menyesuiakan pola dan pendekatan vaksinasi terutama yang targetnya adalah unit usaha atau institusi. Supaya tidak dilakukan dalam waktu yang bersamaan terhadap karyawannya. Tetapi bertahap, agar supaya unit usaha tidak perlu ditutup kalau ada banyak karyawan yg terdampak KIPI,” tambahnya.

Komunikasi resiko yang diambil, langkah pertamanya didahului dengan investigasi oleh Komda KIPI bersama Dinkes, Kemenkes dan WHO. (mpid)

MANADOPOST.ID— Sebanyak 3.990 warga Sulawesi Utara (Sulut) sudah disuntik vaksin Covid-19 AstraZeneca (AZ). “3.990 warga Manado semua. Bitung belum mulai,” ungkap Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Sulut, yang juga Jubir Satgas Covid-19 Pemprov Sulut dr Steven Dandel MPH.

Penggunaan vaksin ini di Sulut diketahui dihentikan sementara. Dandel menjelaskan, hal ini dilakukan sebagai langkah kehati-hatian/precaution. Langkah hati-hati itu diambil mengingat adanya angka kejadian Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) sebesar 5-10 persen dari total yang divaksin AZ.

“KIPI ini hadir dalam bentuk gejala Demam, menggigil, nyeri badan, nyeri tulang, mual dan muntah. Kami perlu mempersiapkan komunikasi resiko kepada masyarakat untuk dapat menerima fakta ini. Supaya tidak terjadi kepanikan di masyarakat,” sebutnya.

Dalam Emergency Use Authorization (EUA) vaksin AZ, sebenarnya telah disebutkan bahwa KIPI ini adalah efek simpang (adverse effect) dari vaksin AZ yang sifatnya sangat Sering terjadi (Very Common artinya 1 diantara 10 suntikan) dan sering terjadi (common -1 diantara 10 sd 1 diantara 100).

“Langkah ini juga perlu dilakukan untuk menyesuiakan pola dan pendekatan vaksinasi terutama yang targetnya adalah unit usaha atau institusi. Supaya tidak dilakukan dalam waktu yang bersamaan terhadap karyawannya. Tetapi bertahap, agar supaya unit usaha tidak perlu ditutup kalau ada banyak karyawan yg terdampak KIPI,” tambahnya.

Komunikasi resiko yang diambil, langkah pertamanya didahului dengan investigasi oleh Komda KIPI bersama Dinkes, Kemenkes dan WHO. (mpid)

Most Read

Artikel Terbaru

/