25.7 C
Manado
Kamis, 11 Agustus 2022

19.392 Jiwa Terdampak Bencana

Mari Doakan, Korban Kepala Desa Belum Ditemukan

MANADOPOST.ID—Bencana alam di wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) dan Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), harus jadi bahan evaluasi buat pemerintah. Total warga terdampak bencana mencapai 19.393 jiwa.

Bantaran sungai yang tak mampu lagi menahan derasnya air, membuat banyak wilayah di dua kabupaten tersebut diterjang ‘air bah’. Diketahui, salah satu penyebab banjir akibat praktik pertambangan yang berujung pada penebangan pohon secara ilegal. Hal itu membuat daerah resapan air makin berkurang.

Diketahui, Minggu kemarin banjir masih terjadi di wilayah Bolsel. Banjir para diketahui terjadi di Bolsel. Data dihimpun Manado Post, warga yang terdampak kurang lebih 18.487, 12 desa di Kecamatan Bolaang Uki, 6 desa Kecamatan Helumo, 3 desa Kecamatan Tomini, 4 desa Kecamatan Pinolosian, 2 desa Kecamatan Pinolosian Tengah, dan beberapa desa di Kecamatan Posigadan.

Beberapa akses jalur juga masih terputus akibat terpaan air. Sampai saat ini tim gabungan; Basarnas, pemerintah, TNI/Polri dan masyarakat, terus membersihkan sisa material dari longsor dan banjir.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Saat dikonfirmasi Manado Post, Bupati Hi. Iskandar Kamaru mengatakan, Sabtu (25/7) lalu, juga terjadi banjir di Kecamatan Pinolosian, Pinolosian Tengah, dan Tomini. “Ada ketambahan wilayah yang terdampak banjir, hingga saat ini kita masih mendata terkait kerugian yang dialami,” ungkap Kamaru.

Sambung Kamaru yang turun meninjau warga terdampak, pemerintah telah membuat dapur umum di setiap kecamatan terdampak. Ini murni untuk membantu masyarakat. “Jadi, kalau wilayah jangkauannya besar maka satu kecamatan itu, ada dua sampai tiga dapur umum yang disediakan,” jelasnya.

Dia pun mengimbau masyarakat untuk tetap berhati-hati. “Mari kita saling bahu-membahu, bersama melewati ujian dari Tuhan yang Maha Kuasa. Intinya, tetap sabar, Bolsel kuat, Bolsel Bangkit,” pesannya. Lanjut Koordinator KAHMI Sulut ini, hingga tadi malam yang masih dalam proses pencarian yaitu Kepala Desa Bakida, yang hanyut terbawa arus. “Belum ditemukan, hingga saat ini Minggu (26/7). Tapi pencarian masih terus dilakukan,” bebernya.

Di sisi lain, dia mengajak masyarakat untuk terus mendoakan kepala desa yang hanyut itu. “Mari, kita bersama-sama mendoakan agar tim pencarian ini bisa dimudahkan dalam proses pencarian kepala desa tersebut. Semoga, cobaan ini bisa kita lalui bersama,” doanya. “Hari ini (minggu kemarin), kami memantau beberapa wilayah di Kecamatan Posigadan. “Terdapat banjir di Desa Lion dan Saibuah,” bebernya lagi.

Karena itu, dia menginstruksikan camat dan kepala desa supaya segera mengkoordinir dapur umum. “Secepatnya, bentuk dapur umum guna meringankan beban masyarakat yang terdampak,” tandasnya.

Terpisah, Wakil Bupati Deddy Abdul Hamid yang melakukan peninjauan di beberapa desa lain di Kecamatan Pinolosian Tengah, juga mengingatkan warga yang berada di bantaran sungai untuk tingkatkan kewaspadaan. “Bagi masyarakat yang beraktivitas di dekat sungai, perkebunan, dan pertambangan harus ekstra hati-hati,” tandasnya.

Peristiwa memilukan ini membuat warga trauma. Khusunya di Bolsel. Pasalnya tragedi serupa pernah terjadi 12 tahun silam. Menurut salah satu masyarakat Desa Popodu Bharata Prabowo Asmongin, banjir kali ini adalah yang terbesar selama belasan tahun terakhir.

“Banjir memang sering terjadi jika curah hujan deras tapi Sudah belasan tahun ini, tidak begitu luas jangkauannya. Tapi banjir malam ini  sampai di pemukiman warga di dataran lumayan tinggi,” tutur Kabid Pengelolaan Informasi Publik Dinas Kominfo Bolsel ini.

Sementara itu, tokoh masyarakat Desa Tolondadu I Jois Pulumai mengatakan, banjir kali ini lebih besar volume airnya dibandingkan sebelumnya. “Begitu cepat air meluap, di sekertariat Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya(BSPS) dua laptop dan satu print beserta beberapa berkas penting terendam air,” sebut Korfas BSPS Bolsel itu.

Terpisah, warga Sondana Aldy Batadi menjelaskan, hujan mulai pukul 18.00 WITA, menyebabkan banjir pukul 2, Jumat yang mengakibat puluhan rumah terendam air setinggi 1 meter.

“Hari Kamis (23/7) itu, hampir seharian hujan. Air naik tengah malam, ditambah aliran listrik mati menyebabkan kami kualahan menyelamatkan barang barang berharga. Alhamdulillah hujan sudah redah dan air mulai surut. Selang bulan Juni-Juli ini, sudah tiga kali banjir dan kali ini yang lumayan parah,” ujar Batadi.

Berpindah ke Bolmong. Pasca bencana banjir yang melanda wilayah Dumoga dan terputusnya akses jembatan Kosio, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bolmong mulai mendata seluruh kerugian di wilayah terdampak. Kepala Bidang Penaggulangan Darurat Bencana BPBD Bolmong Rafik Alamri membenarkan hal tersebut, di mana menurutnya taksiran kerugian mencapai miliaran rupiah.

“Iya, saat ini kita sedang mendata semua desa, tinggal 2 desa lagi yang belum, nanti setelah itu baru kita rekap datanya. Belum ada angka pastinya, tapi kita taksir sementara ini kerugian mencapai miliaran rupiah, karena selain bangunan fisik, ada juga lahan perkebunan yang ikut diterjang banjir,” ujarnya saat dikonfirmasi Minggu (26/7) kemarin.

Selain itu, lanjut dia, untuk rumah pun ada beberapa kategori kerusakan. “Ada yang kategori rusak berat, rusak ringan, bahkan ada yang hanyut,” terangnya. Selanjutnya, hal yang akan dilakukan pihaknya adalah membenahi jalan alternatif agar mobilitas masyarakat dapat berjalan kembali.

Tim SAR Hidayatullah bersama masyarakat Tolondadu Masjoko Mooduto, Bolsel, mengevakuasi bayi berusia 25 hari. (dok. warga)

“Mulai Senin (27/7) kita akan lakukan pembenahan jalan alternatif via saluran irigasi Bendung Kosinggolan, karena di situ banyak lubang-lubang besar sehingga yang bisa lewat hanyalah kendaraan-kendaraan tertentu. Kita akan menimbun lubang-lubang tersebut agar semua kendaraan boleh lewat,” terangnya.

Panjang jalan alternatif tersebut, menurut Rafik, cukup jauh. “Cukup panjang juga, kurang lebih 3 km,” imbuhnya. Sementara, akses di jembatan Kosio pun sedang dibenahi. “Mulai tadi pagi (Minggu kemarin) Balai Jalan sudah mulai membangun jembatan darurat,” pungkasnya.

Bencana di Bolmong juga memang para pekan lalu. Ratusan rumah di Dumoga Raya terendam banjir dengan ketinggian antara 50-200 cm. Hal itu sebagaimana dikatakan oleh Kepala Bidang Penanganan Darurat Bencana BPBD Kabupaten Bolmong Rafik Alamri.

Dia mengatakan, hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang melanda wilayah Bolmong merupakan penyebab meluapnya Sungai Ongkag Dumoga dan Debit Air Bendung Toraut. “Sehingga menggenangi pemukiman warga serta merusak fasilitas Umum lainnya dengan ketinggian air 50 cm-200 cm,” ujarnya.

Lanjut dia, ratusan rumah di beberapa desa yang terdampak luapan air tersebut, yakni di Desa Doloduo 17 unit rumah, Desa Doloduo III 25 unit rumah, Desa Ikhwan 10 unit rumah, Desa Wangga Baru 29 unit rumah, Desa Kosio Induk 8 unit rumah, Desa Kosio Barat 170 unit rumah. “Dengan jumlah jiwa yang terdampak sebanyak 905 jiwa,” imbuhnya.

Sementara, air juga merendam sedikitnya 3 desa di kecamatan Dumoga Utara. “Itu di desa Dondomon, Dondomon Utara, dan Dondomon Selatan, untuk jumlah jiwa dan rumah yang terdamapak masih sedang dalam pendataan,” terangnya.

Selain rumah yang terendam, terjadi pula 10 titik longsoran pada ruas jalan Doloduo-Molibagu di desa Matayangan, penghubung Kabupaten Bolmong dan Kabupaten Bolsel.

Bagaimana langkah Pemprov Sulut membantu dua wilayah terdampak tersebut? Gubernur Sulut Olly Dondokambey langsung menginstruksikan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulut, untuk membantu penanganan banjir-longsor di. “Iya, sesuai instruksi Pak Gubernur Olly, kami sudah menurunkan tim dan bantuan logistik ke lokasi banjir di Bolsel,” ungkap Kepala BPBD Sulut Joy Oroh.

Dia menjelaskan, tim yang diturunkan telah dilengkapi dengan sejumlah peralatan. Akan membantu bersama proses penanganan termasuk evakuasi. “Tim sudah menuju termasuk membawa bantuan logistik berupa paket makanan, matras, tikar, selimut dan peralatan makanan. Itu kebutuhan yang memang mendesak untuk membantu korban banjir,” tuturnya.

Oroh menyebutkan, pihaknya terus berkoordinasi dengan pihak BPBD Bolsel dalam hal pendataan korban, kerusakan rumah atau fasilitas umum, serta penyaluran bantuan jika sudah di lokasi. “Kita masih menunggu data pastinya. Intinya, kita berkoordinasi bersama untuk penanganan banjir di sana. Apalagi untuk akses-akses masuk ke desa yang terdampak banjir dan longsor. Kita terus koordinasi,” pungkasnya.(Tim MP/gnr)

MANADOPOST.ID—Bencana alam di wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) dan Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), harus jadi bahan evaluasi buat pemerintah. Total warga terdampak bencana mencapai 19.393 jiwa.

Bantaran sungai yang tak mampu lagi menahan derasnya air, membuat banyak wilayah di dua kabupaten tersebut diterjang ‘air bah’. Diketahui, salah satu penyebab banjir akibat praktik pertambangan yang berujung pada penebangan pohon secara ilegal. Hal itu membuat daerah resapan air makin berkurang.

Diketahui, Minggu kemarin banjir masih terjadi di wilayah Bolsel. Banjir para diketahui terjadi di Bolsel. Data dihimpun Manado Post, warga yang terdampak kurang lebih 18.487, 12 desa di Kecamatan Bolaang Uki, 6 desa Kecamatan Helumo, 3 desa Kecamatan Tomini, 4 desa Kecamatan Pinolosian, 2 desa Kecamatan Pinolosian Tengah, dan beberapa desa di Kecamatan Posigadan.

Beberapa akses jalur juga masih terputus akibat terpaan air. Sampai saat ini tim gabungan; Basarnas, pemerintah, TNI/Polri dan masyarakat, terus membersihkan sisa material dari longsor dan banjir.

Saat dikonfirmasi Manado Post, Bupati Hi. Iskandar Kamaru mengatakan, Sabtu (25/7) lalu, juga terjadi banjir di Kecamatan Pinolosian, Pinolosian Tengah, dan Tomini. “Ada ketambahan wilayah yang terdampak banjir, hingga saat ini kita masih mendata terkait kerugian yang dialami,” ungkap Kamaru.

Sambung Kamaru yang turun meninjau warga terdampak, pemerintah telah membuat dapur umum di setiap kecamatan terdampak. Ini murni untuk membantu masyarakat. “Jadi, kalau wilayah jangkauannya besar maka satu kecamatan itu, ada dua sampai tiga dapur umum yang disediakan,” jelasnya.

Dia pun mengimbau masyarakat untuk tetap berhati-hati. “Mari kita saling bahu-membahu, bersama melewati ujian dari Tuhan yang Maha Kuasa. Intinya, tetap sabar, Bolsel kuat, Bolsel Bangkit,” pesannya. Lanjut Koordinator KAHMI Sulut ini, hingga tadi malam yang masih dalam proses pencarian yaitu Kepala Desa Bakida, yang hanyut terbawa arus. “Belum ditemukan, hingga saat ini Minggu (26/7). Tapi pencarian masih terus dilakukan,” bebernya.

Di sisi lain, dia mengajak masyarakat untuk terus mendoakan kepala desa yang hanyut itu. “Mari, kita bersama-sama mendoakan agar tim pencarian ini bisa dimudahkan dalam proses pencarian kepala desa tersebut. Semoga, cobaan ini bisa kita lalui bersama,” doanya. “Hari ini (minggu kemarin), kami memantau beberapa wilayah di Kecamatan Posigadan. “Terdapat banjir di Desa Lion dan Saibuah,” bebernya lagi.

Karena itu, dia menginstruksikan camat dan kepala desa supaya segera mengkoordinir dapur umum. “Secepatnya, bentuk dapur umum guna meringankan beban masyarakat yang terdampak,” tandasnya.

Terpisah, Wakil Bupati Deddy Abdul Hamid yang melakukan peninjauan di beberapa desa lain di Kecamatan Pinolosian Tengah, juga mengingatkan warga yang berada di bantaran sungai untuk tingkatkan kewaspadaan. “Bagi masyarakat yang beraktivitas di dekat sungai, perkebunan, dan pertambangan harus ekstra hati-hati,” tandasnya.

Peristiwa memilukan ini membuat warga trauma. Khusunya di Bolsel. Pasalnya tragedi serupa pernah terjadi 12 tahun silam. Menurut salah satu masyarakat Desa Popodu Bharata Prabowo Asmongin, banjir kali ini adalah yang terbesar selama belasan tahun terakhir.

“Banjir memang sering terjadi jika curah hujan deras tapi Sudah belasan tahun ini, tidak begitu luas jangkauannya. Tapi banjir malam ini  sampai di pemukiman warga di dataran lumayan tinggi,” tutur Kabid Pengelolaan Informasi Publik Dinas Kominfo Bolsel ini.

Sementara itu, tokoh masyarakat Desa Tolondadu I Jois Pulumai mengatakan, banjir kali ini lebih besar volume airnya dibandingkan sebelumnya. “Begitu cepat air meluap, di sekertariat Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya(BSPS) dua laptop dan satu print beserta beberapa berkas penting terendam air,” sebut Korfas BSPS Bolsel itu.

Terpisah, warga Sondana Aldy Batadi menjelaskan, hujan mulai pukul 18.00 WITA, menyebabkan banjir pukul 2, Jumat yang mengakibat puluhan rumah terendam air setinggi 1 meter.

“Hari Kamis (23/7) itu, hampir seharian hujan. Air naik tengah malam, ditambah aliran listrik mati menyebabkan kami kualahan menyelamatkan barang barang berharga. Alhamdulillah hujan sudah redah dan air mulai surut. Selang bulan Juni-Juli ini, sudah tiga kali banjir dan kali ini yang lumayan parah,” ujar Batadi.

Berpindah ke Bolmong. Pasca bencana banjir yang melanda wilayah Dumoga dan terputusnya akses jembatan Kosio, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bolmong mulai mendata seluruh kerugian di wilayah terdampak. Kepala Bidang Penaggulangan Darurat Bencana BPBD Bolmong Rafik Alamri membenarkan hal tersebut, di mana menurutnya taksiran kerugian mencapai miliaran rupiah.

“Iya, saat ini kita sedang mendata semua desa, tinggal 2 desa lagi yang belum, nanti setelah itu baru kita rekap datanya. Belum ada angka pastinya, tapi kita taksir sementara ini kerugian mencapai miliaran rupiah, karena selain bangunan fisik, ada juga lahan perkebunan yang ikut diterjang banjir,” ujarnya saat dikonfirmasi Minggu (26/7) kemarin.

Selain itu, lanjut dia, untuk rumah pun ada beberapa kategori kerusakan. “Ada yang kategori rusak berat, rusak ringan, bahkan ada yang hanyut,” terangnya. Selanjutnya, hal yang akan dilakukan pihaknya adalah membenahi jalan alternatif agar mobilitas masyarakat dapat berjalan kembali.

Tim SAR Hidayatullah bersama masyarakat Tolondadu Masjoko Mooduto, Bolsel, mengevakuasi bayi berusia 25 hari. (dok. warga)

“Mulai Senin (27/7) kita akan lakukan pembenahan jalan alternatif via saluran irigasi Bendung Kosinggolan, karena di situ banyak lubang-lubang besar sehingga yang bisa lewat hanyalah kendaraan-kendaraan tertentu. Kita akan menimbun lubang-lubang tersebut agar semua kendaraan boleh lewat,” terangnya.

Panjang jalan alternatif tersebut, menurut Rafik, cukup jauh. “Cukup panjang juga, kurang lebih 3 km,” imbuhnya. Sementara, akses di jembatan Kosio pun sedang dibenahi. “Mulai tadi pagi (Minggu kemarin) Balai Jalan sudah mulai membangun jembatan darurat,” pungkasnya.

Bencana di Bolmong juga memang para pekan lalu. Ratusan rumah di Dumoga Raya terendam banjir dengan ketinggian antara 50-200 cm. Hal itu sebagaimana dikatakan oleh Kepala Bidang Penanganan Darurat Bencana BPBD Kabupaten Bolmong Rafik Alamri.

Dia mengatakan, hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang melanda wilayah Bolmong merupakan penyebab meluapnya Sungai Ongkag Dumoga dan Debit Air Bendung Toraut. “Sehingga menggenangi pemukiman warga serta merusak fasilitas Umum lainnya dengan ketinggian air 50 cm-200 cm,” ujarnya.

Lanjut dia, ratusan rumah di beberapa desa yang terdampak luapan air tersebut, yakni di Desa Doloduo 17 unit rumah, Desa Doloduo III 25 unit rumah, Desa Ikhwan 10 unit rumah, Desa Wangga Baru 29 unit rumah, Desa Kosio Induk 8 unit rumah, Desa Kosio Barat 170 unit rumah. “Dengan jumlah jiwa yang terdampak sebanyak 905 jiwa,” imbuhnya.

Sementara, air juga merendam sedikitnya 3 desa di kecamatan Dumoga Utara. “Itu di desa Dondomon, Dondomon Utara, dan Dondomon Selatan, untuk jumlah jiwa dan rumah yang terdamapak masih sedang dalam pendataan,” terangnya.

Selain rumah yang terendam, terjadi pula 10 titik longsoran pada ruas jalan Doloduo-Molibagu di desa Matayangan, penghubung Kabupaten Bolmong dan Kabupaten Bolsel.

Bagaimana langkah Pemprov Sulut membantu dua wilayah terdampak tersebut? Gubernur Sulut Olly Dondokambey langsung menginstruksikan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulut, untuk membantu penanganan banjir-longsor di. “Iya, sesuai instruksi Pak Gubernur Olly, kami sudah menurunkan tim dan bantuan logistik ke lokasi banjir di Bolsel,” ungkap Kepala BPBD Sulut Joy Oroh.

Dia menjelaskan, tim yang diturunkan telah dilengkapi dengan sejumlah peralatan. Akan membantu bersama proses penanganan termasuk evakuasi. “Tim sudah menuju termasuk membawa bantuan logistik berupa paket makanan, matras, tikar, selimut dan peralatan makanan. Itu kebutuhan yang memang mendesak untuk membantu korban banjir,” tuturnya.

Oroh menyebutkan, pihaknya terus berkoordinasi dengan pihak BPBD Bolsel dalam hal pendataan korban, kerusakan rumah atau fasilitas umum, serta penyaluran bantuan jika sudah di lokasi. “Kita masih menunggu data pastinya. Intinya, kita berkoordinasi bersama untuk penanganan banjir di sana. Apalagi untuk akses-akses masuk ke desa yang terdampak banjir dan longsor. Kita terus koordinasi,” pungkasnya.(Tim MP/gnr)

Most Read

Artikel Terbaru

/