25C
Manado
Jumat, 26 Februari 2021

Narsis Dan Gengsi Picu Hugel

MANADOPOST.ID-Persoalan yang menyerat wakil ketua DPRD Sulut JK, MP (istri JK), serta AS alias Angel, masih menjadi trending topik. Sebenarnya kasus dugaan perselingkuhan seperti ini juga banyak terjadi di lingkungan masyarakat. Hanya saja sebagian belum terekspos

Gaya narsis dan sifat konsumtif yang tidak didukung dengan ketidakmampun ekonomi, dapat menjadi faktor utama terciptanya hubungan gelap (hugel). Latar belakang keluarga juga bisa menjadi penyebab karakter seseorang dibentuk. Disampaikan Pemerhati Perempuan dan Anak Dra Jul Takaliuang, ada beberapa alasan yang membuat hal itu terjadi. Dimulai dari keinginan sendiri bahkan sampai eksploitasi dari keluarga.

“Banyak orang melakukan hal yang sama di Sulut. Ada anak-anak yang terjerumus karena keingin sendiri. Karena keinginan untuk tampil dengan gaya konsumtif dan mengikuti trend. Sehingga dia melakukan apa saja, ketika misalnya secara ekonomi orang tua tidak mampu,” terang Takaliuang, menambahkan ada juga yang secara sadar atau tidak, sudah terjerumus dalam hal tersebut.

“Tapi ada juga yang orangtuanya tahu. Nah itu kan berarti ada eksploitasi anak. Kalau misalnya dibelakangnya itu orang tuanya tahu dan sengaja membiarkan hal itu terjadi. Maka bisa dijerat dengan eksploitasi ekonomi anak atau eksploitasi seksual,” tegasnya.

Budaya konsumtif, tambah Takaliuang, juga menjadi salah satu faktor penyebab. “Dengan gaya yang gila-gilaan seperti orang kaya, membuat anak-anak yang ekonomi lemah itu gigit jari. Sementara mereka punya penampilan fisik yang menarik dan cantik. Jadi itu yang kemudian dimanfaatkan para hidung belang, untuk dijadikan semacam budak seks. Ini sangat memprihatikan,” katanya sembari mengatakan yang harus bertanggung jawab adalah semua elemen terkait.

“Semua stekholder perlindungan anak. Semua orang yang peduli di Sulut yang harus memang menghentikan hal ini. Dimulai di lingkungan keluarganya. Bagaimana kemampuan orang tua untuk bisa mendidik anak menjadi baik. Karakternya harus dilihat,” terangnya.

Juga dari sisi agama dan pendidikan anak harus diperkuat. “Yang pertama adalah agama. Perangkat yang membetuk karakter menjadi baik adalah disana. Apakah pendampingan jemaat dan agama sudah menyentuh persoalan terkecil dalam keluarga. Harus rajin pergi ke peribadatan. Harus dididik untuk takut Tuhan. Juga dari sisi pendidikannya di sekolah. Apakah ada komunikasi terbuka anatra orang tua dan guru. Bagaimana anak didik di sekolah,” tambahnya.

Juga dari sisi keluarga. Kalau anak melihat mama dan papanya melakukan hal yang tidak baik, maka akan jadi salah satu faktor.

“Jadi kondisi pendidikan anak dalam rumah tangga sangat penting untuk anak akan bertumbuh menjadi sosok yang mandiri, baik dan bertanggungjawab. Sebab ada juga anak-anak yang mengalami broken home dan kekerasan dalam rumah tangga, maka lariannya akan kesana,” ungkapnya.

Maka perlu sekali semua orang, tegas Takaliuang, merefleksikan peran masing-masing. Hal ini untuk membangun masa depan Sulut melalui masa depan anak-anak. Juga faktor lainnya adalah sisi penegakkan hukum.

“Ketika ada pelanggaran hukum, kami berharap para penegak hukum harus menjatuhkan hukuman untuk mendapatkan efek jerah yang maksimum. Kepada misalnya pelaku mucikari dan lainnya. Karena biasanya ada yang merekrut atau yang difasilitasi dan dijual,” tegasnya.

“Kuncinya dari pembentukan karakter yang baik pada anak-anak. Tentu yang pertama dalam lingkungan keluarga. Sangat prihatin dan menjadi tantangan pemerintah kedepan. Perempuan dan anak di sukur harus jadi prioritas. Bagaimana anak-anak dipersiapkan menjadi subjek bukan objek. Agar menjadi kompetitor handal membangun Sulut. Agar tidak memalukan perempuan Minahasa yang punya indentitas yang kuat dan mandiri,” terangnya.

Tempat terpisah, Psikolog Hanna Monareh MPsi mengatakan, perilaku individu dipengaruhi oleh pola pengasuhan dari orangtua. “Pola pengasuhan ini dimulai sejak masa kanak-kanak. Pengalaman yang diperoleh dari usia golden age, masa anak-anak, remaja mempengaruhi sampai dewasa,” katanya.

Sebab pola pengasuhan membentuk kepribadian anak, yang akan mulai terlihat di usia remaja. “Kepribadian yang lemah membuat individu mudah terpengaruh dengan lingkungan sekitar. Kurangnya kedekatan emosional antara orang tua dan anak, membatasi komunikasi di dalam rumah,” tambahnya.

Lanjutnya, hal ini yang menyebabkan anak merasa kurang nyaman dan terbuka untuk bercerita. “Mereka lebih memiliki cara pandang dan pemikiran sendiri. Dimana usia remaja, individu tersebut belum matang secara emosional dalam berpikir, bersikap dan mengambil keputusan. Mereka mudah terjerumus ke pergaulan yang bisa merugikan diri sendiri. Memiliki kontrol diri yang rendah, mudah terpengaruh sehingga kurang lagi memahami norma yang ada,” tegasnya.

Manado Post berhasil mewawancarai salah satu warga di Kelurahan Kiniar, Minahasa. Sembari meminta namanya tak dikorankan, kepada wartawan ia menceritakan, bahwa persaingan saling menunjukan kekayaan sempat tenar di lingkungan masyarakat, bahkan kata dia hingga saat ini, namun sudah berangsur hilang.

Dia menambahkan pernah mendengar informasi ada anak perempuan yang bekerja sempai ke Jakarta dan daerah lain, dengan menghalalkan segala cara demi meningkatkan perekonomian keluarga.

“Ya, memang saling meninggikan harta kekayaan sejak dulu tenar di sini. Kalau kami sudah tak peduli dengan gosip-gosip seperti itu. Kalau ada yang bekerja sebagai ladies atau semacamnya memang pernah ada di sini, tapi sekarang mungkin sudah pensiun,” jelas dia.

Untuk anak perempuan dikatakannya memang ada yang pergaulannya bebas. Namun untuk keluar Tondano atau Sulut saat ini sudah tak didengar lagi. “Sekarang tinggal menunjukan harta, jika ada yang beli mobil, pasti ada yang akan membeli juga mobil keluaran terbaru,” bebernya.(ctr-02/cw-01/gnr)

Artikel Terbaru