alexametrics
24.4 C
Manado
Jumat, 20 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

Percepat Pemeriksaan, Sulut Proyeksi Empat Laboratorium PCR

MANADOPOST.ID—Kasus terkonfirmasi positif di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) sampai saat ini masih bertambah. Angka tersebut meningkat karena masih banyak sampel pemeriksaan yang antre atau belum diproses. Penambahan laboratorium PCR menjadi kunci cepatnya proses pemeriksaan sampel pasien.

Ke depan, Provinsi Sulut memproyeksikan untuk menambah 4 laboratorium PCR. Guna mempercepat pemeriksaan sampel. Hal tersebut disampaikan Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Sulut dr Steaven Dandel. Dandel mengatakan, proses penyiapan laboratorium tersebut juga sementara berlangsung.

“Jadi pembuatan laboratorium itu tidak gampang. Kalau normalnya kita membutuhkan 6 bulan untuk itu. Ada beberapa tahapan yang memang harus disiapkan,” ungkapnya, belum lama ini.

Dandel juga mengatakan, yang pertama selalu dipikirkan adalah keamanan dari pelaku petugas-petugas yang mengelola spesimen.

“Kalau peralatan tidak mumpuni dan tidak memperhatikan safety nya, maka mereka itu bisa terpapar. Jadi memang ruangan atau gedung yang nantinya akan dijadikan laboratorium PCR, harus memikirkan standar keamanan. Juga jangan sampai terjadi penularan dari gedung tersebut ke lingkungan sekitarnya,” jelas Dandel.

Laboratorium PCR yang sementara disiapkan, ungkap Dandel, adalah laboratorium yang berada di Universitas Sam Ratulangi Manado. Itu sebutnya, adalah hasil kerja sama Pemprov dan Unsrat. “Bangunannya sudah sementara dikerjakan Pemprov Sulut. Namun ada sebagian yang di handle gugus tugas Covid-19 Provinsi Sulut.”

“Jadi bangunan itu disiapkan Unsrat. Dari bangunan ini, dilakukan penyesuaian agar sesuai dengan standar laboratorium yang memperhatikan keamanan. Jadi dari penyesuaian ini, tidak serta-merta langsung selesai. Semuanya membutuhkan proses dengan berbagai tahapan. Yang pasti prosesnya sudah berjalan,” ucapannya.

Untuk peralatan juga dibeberkan Dandel, pihak Unsrat telah memiliki tiga alat PCR. Namun masih perlu dilengkapi baik dari reagen ekstraksi hingga alat pelindung lain agar bio safety tetap terjaga.

“Nah kalau untuk proyeksi menjadikan laboratorium Dinkes Sulut menjadi laboratorium PCR. Itu belum memenuhi syarat. Karena laboratorium Dinkes itu masih terlalu kecil dan sempit. Sehingga, perlu ada penyesuaian lebih lanjut. Kalau untuk kelengkapan lain, sebenarnya sudah memenuhi syarat. Hanya bangunan saja yang belum,” terangnya.

Dandel juga mengomentari terkait kapan tambahan laboratorium PCR dilakukan. Menurutnya, penambahan laboratorium PCR sementara berproses.

“Kita sementara mendorong laboratorium yang ada di Unsrat dan RSUP.  Nah kalau untuk kapan beroperasinya, kita belum bisa perkiraan. Karena untuk membangun laboratorium PCR penuh kehati-hatian. Ke depan kita proyeksi kapasitas pemeriksaan 1.000-1.500 PCR. Karena sudah ada permintaan pak gubernur ke pemerintah pusat untuk alat pemeriksaan yang lebih besar,” jelasnya.

Dandel juga menerangkan bahwa satu sampel PCR, ketika diterima laboratorium, maka langsung dilakukan beberapa tahapan. Mulai dari reparasi, ekstraksi serta beberapa tahapan lainnya.

“Memang pemeriksaan PCR, membutuhkan waktu yang lumayan. Kalau tidak ada antrian, prosesnya bisa sampai satu hari per sekali running. Namun kalau untuk rapid tes, hanya membutuhkan waktu 15 menit bisa diketahui. Namun itu tidak mendiagnosis. Itu hanya skreaning awal. Tidak bisa dipakai untuk kegiatan diagnosa,” ucapnya.

Dandel juga mengatakan, secara spesifik tidak ada target pemeriksaan rapid tes perhari. Itu ungkapnya, hanya sesuai kebutuhan, tracking kontak erat resiko tinggi serta rapid tes yang dimintakan institusi, yang didalam institusi tersebut sudah ada kasus yang positif.

“Tapi kalau target PCR, itu beda lagi. Itu bukan soal target jumlah. Tapi target positivity rate-nya. Karena itu yang diminta WHO untuk indikator bahwa kegiatan kegiatan surveilans sudah mumpuni, jika positivity rate-nya rsudah dibawah 5 persen. Jika sudah dibawah 5 persen artinya sudah meluas menjangkau masyarakat banyak,” bebernya.

Namun Dandel mengatakan, angka positivity rate di Provinsi Sulut, masih berada di angka 15,1 persen. Angka tersebut masih tinggi, karena menurut Dandel, masih ada kendala dalam kapasitas pemeriksaan.

“Untuk mencapai 5 persen ini, kita harus mampu menaikan dari 100 ke 300 perhari. Dan masih ada kendala di kapasitas pemeriksaan. Dan ini yang akan menjadi target kita kedepannya. Pemeriksaan sampel akan kita tingkatkan,” katanya.

Diketahui, saat ini laboratorium PCR yang telah beroperasi maksimal berada di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Kelas 1 Manado, Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan. Dan Pemprov juga sementara fokus menyiapkan laboratorium PCR di RSUP serta di Unsrat Manado.

Sementara itu, Kepala Biro Pemerintahan dan Otda Pemprov Sulut Jemmy Kumendong mengantakan, sampai saat ini Pemprov Sulut melalui gugus tugas terus melakukan penanganan Covid-19.

“Baik melalui kebijakan, penyiapan sarana dan prasarana penunjang penanganan serta kegiatan surveilans. Karena itu kita berharap agar partisipasi aktif dari 15 kabupaten/kota. Jangan semua dilakukan Pemprov. Karena semua itu telah melakukan refocusing anggaran. Jadi semua memiliki anggaran, bukan hanya Pemprov. Karena itu kita mendorong agar daerah selain menyiapkan rumah isolasi, juga proaktif dan berkoordinasi,” tandasnya.(ewa/gnr)

MANADOPOST.ID—Kasus terkonfirmasi positif di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) sampai saat ini masih bertambah. Angka tersebut meningkat karena masih banyak sampel pemeriksaan yang antre atau belum diproses. Penambahan laboratorium PCR menjadi kunci cepatnya proses pemeriksaan sampel pasien.

Ke depan, Provinsi Sulut memproyeksikan untuk menambah 4 laboratorium PCR. Guna mempercepat pemeriksaan sampel. Hal tersebut disampaikan Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Sulut dr Steaven Dandel. Dandel mengatakan, proses penyiapan laboratorium tersebut juga sementara berlangsung.

“Jadi pembuatan laboratorium itu tidak gampang. Kalau normalnya kita membutuhkan 6 bulan untuk itu. Ada beberapa tahapan yang memang harus disiapkan,” ungkapnya, belum lama ini.

Dandel juga mengatakan, yang pertama selalu dipikirkan adalah keamanan dari pelaku petugas-petugas yang mengelola spesimen.

“Kalau peralatan tidak mumpuni dan tidak memperhatikan safety nya, maka mereka itu bisa terpapar. Jadi memang ruangan atau gedung yang nantinya akan dijadikan laboratorium PCR, harus memikirkan standar keamanan. Juga jangan sampai terjadi penularan dari gedung tersebut ke lingkungan sekitarnya,” jelas Dandel.

Laboratorium PCR yang sementara disiapkan, ungkap Dandel, adalah laboratorium yang berada di Universitas Sam Ratulangi Manado. Itu sebutnya, adalah hasil kerja sama Pemprov dan Unsrat. “Bangunannya sudah sementara dikerjakan Pemprov Sulut. Namun ada sebagian yang di handle gugus tugas Covid-19 Provinsi Sulut.”

“Jadi bangunan itu disiapkan Unsrat. Dari bangunan ini, dilakukan penyesuaian agar sesuai dengan standar laboratorium yang memperhatikan keamanan. Jadi dari penyesuaian ini, tidak serta-merta langsung selesai. Semuanya membutuhkan proses dengan berbagai tahapan. Yang pasti prosesnya sudah berjalan,” ucapannya.

Untuk peralatan juga dibeberkan Dandel, pihak Unsrat telah memiliki tiga alat PCR. Namun masih perlu dilengkapi baik dari reagen ekstraksi hingga alat pelindung lain agar bio safety tetap terjaga.

“Nah kalau untuk proyeksi menjadikan laboratorium Dinkes Sulut menjadi laboratorium PCR. Itu belum memenuhi syarat. Karena laboratorium Dinkes itu masih terlalu kecil dan sempit. Sehingga, perlu ada penyesuaian lebih lanjut. Kalau untuk kelengkapan lain, sebenarnya sudah memenuhi syarat. Hanya bangunan saja yang belum,” terangnya.

Dandel juga mengomentari terkait kapan tambahan laboratorium PCR dilakukan. Menurutnya, penambahan laboratorium PCR sementara berproses.

“Kita sementara mendorong laboratorium yang ada di Unsrat dan RSUP.  Nah kalau untuk kapan beroperasinya, kita belum bisa perkiraan. Karena untuk membangun laboratorium PCR penuh kehati-hatian. Ke depan kita proyeksi kapasitas pemeriksaan 1.000-1.500 PCR. Karena sudah ada permintaan pak gubernur ke pemerintah pusat untuk alat pemeriksaan yang lebih besar,” jelasnya.

Dandel juga menerangkan bahwa satu sampel PCR, ketika diterima laboratorium, maka langsung dilakukan beberapa tahapan. Mulai dari reparasi, ekstraksi serta beberapa tahapan lainnya.

“Memang pemeriksaan PCR, membutuhkan waktu yang lumayan. Kalau tidak ada antrian, prosesnya bisa sampai satu hari per sekali running. Namun kalau untuk rapid tes, hanya membutuhkan waktu 15 menit bisa diketahui. Namun itu tidak mendiagnosis. Itu hanya skreaning awal. Tidak bisa dipakai untuk kegiatan diagnosa,” ucapnya.

Dandel juga mengatakan, secara spesifik tidak ada target pemeriksaan rapid tes perhari. Itu ungkapnya, hanya sesuai kebutuhan, tracking kontak erat resiko tinggi serta rapid tes yang dimintakan institusi, yang didalam institusi tersebut sudah ada kasus yang positif.

“Tapi kalau target PCR, itu beda lagi. Itu bukan soal target jumlah. Tapi target positivity rate-nya. Karena itu yang diminta WHO untuk indikator bahwa kegiatan kegiatan surveilans sudah mumpuni, jika positivity rate-nya rsudah dibawah 5 persen. Jika sudah dibawah 5 persen artinya sudah meluas menjangkau masyarakat banyak,” bebernya.

Namun Dandel mengatakan, angka positivity rate di Provinsi Sulut, masih berada di angka 15,1 persen. Angka tersebut masih tinggi, karena menurut Dandel, masih ada kendala dalam kapasitas pemeriksaan.

“Untuk mencapai 5 persen ini, kita harus mampu menaikan dari 100 ke 300 perhari. Dan masih ada kendala di kapasitas pemeriksaan. Dan ini yang akan menjadi target kita kedepannya. Pemeriksaan sampel akan kita tingkatkan,” katanya.

Diketahui, saat ini laboratorium PCR yang telah beroperasi maksimal berada di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Kelas 1 Manado, Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan. Dan Pemprov juga sementara fokus menyiapkan laboratorium PCR di RSUP serta di Unsrat Manado.

Sementara itu, Kepala Biro Pemerintahan dan Otda Pemprov Sulut Jemmy Kumendong mengantakan, sampai saat ini Pemprov Sulut melalui gugus tugas terus melakukan penanganan Covid-19.

“Baik melalui kebijakan, penyiapan sarana dan prasarana penunjang penanganan serta kegiatan surveilans. Karena itu kita berharap agar partisipasi aktif dari 15 kabupaten/kota. Jangan semua dilakukan Pemprov. Karena semua itu telah melakukan refocusing anggaran. Jadi semua memiliki anggaran, bukan hanya Pemprov. Karena itu kita mendorong agar daerah selain menyiapkan rumah isolasi, juga proaktif dan berkoordinasi,” tandasnya.(ewa/gnr)

Most Read

Artikel Terbaru

/