26.4 C
Manado
Rabu, 10 Agustus 2022

Akhiri  Tugas dengan Kesatria

MANADOPOST.ID–Kapolda Sulut Irjen Pol Royke Lumowa, sekira dua pekan lagi menyelesaikan lembar kariernya dalam institusi Polri.

Dia akhiri tugasnya dengan kesatria. Tambang liar (biang bencana lingkungan) demi keselamatan anak cucu Sulut ditutup. Judi togel stop. Logo Polda Sulut pun kini bernuansa lokal.

Sejarah terukir, dialah satu-satunya Jenderal Sulut yang pernah dipercaya Mabes Polri menjabat kapolda di tiga daerah berbeda.

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhan-lah yang menentukan arah langkahnya. Ungkapan pengamsal ini dialami, diamini dan di-imani Irjen Royke.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

“Selama berkarier di kepolisian, saya tak pernah tahu atau tidak pernah menyangka akan dipercayakan dalam jabatan yang pernah diemban,” kata Irjen Royke kepada koran ini di sebuah rumah makan arah bandara Sam Ratulangi.

Ditemani istri tercinta dan kedua putranya, Irjen Royke ber­bagi cerita perjalanan karier selang 33 tahun di korps Bhayang­kara. Menariknya, sesekali sang istri dan putranya menambah atau mengingatkan cerita. Melahirkan kesan topangan doa dan support full keluarga atas pengabdian sang jenderal.

Pada 16 September mendatang, Irjen Royke sudah pensiun. Tanpa terasa. Awalnya, dia tak pernah terbayang menjadi polisi. Dia ingin jadi TNI Angkatan Darat (AD).
Keinginan itu muncul melalui buku yang dibacanya di rumah Makassar.

“Saya lahir di Makassar. Sewaktu kecil pulang bersama orang tua ke Lembean. Begitu balik Makassar, oleh ayah saya, masuk SD tetap di kelas yang sama lagi,” kenangnya.

Irjen Royke mengaku sejak kecil hobi hiking. Saat SMP, dia menemukan buku Akademi Militer Nasional. “Ketika itu di rumah saya di Makassar. Saya baca buku itu dan ingin masuk TNI AD,” ceritanya.

Keinginan ini pun diutarakan ke orangtua. Dan mereka setuju. Jadilah dia daftar di AKABRI. Saat itu, untuk jadi tentara dan polisi harus masuk AKABRI. Panitia kemudian yang tentukan lulus. Di TNI atau polisi. “Saya mengikuti seleksi pemanduan bakat. Ternyata oleh panitia saya dinilai lebih cocok jadi polisi. Saya pun jadi taruna selama empat tahun,” katanya.

Itulah Irjen Royke. Jalan hidup disyukurinya. Tugas dan tanggungjawab dijalaninya penuh semangat. Itulah yang membuatnya selalu bercahaya. “Tinggikan sema­ngatmu. Kita telah digariskan lebih dari pemenang.”(*)

MANADOPOST.ID–Kapolda Sulut Irjen Pol Royke Lumowa, sekira dua pekan lagi menyelesaikan lembar kariernya dalam institusi Polri.

Dia akhiri tugasnya dengan kesatria. Tambang liar (biang bencana lingkungan) demi keselamatan anak cucu Sulut ditutup. Judi togel stop. Logo Polda Sulut pun kini bernuansa lokal.

Sejarah terukir, dialah satu-satunya Jenderal Sulut yang pernah dipercaya Mabes Polri menjabat kapolda di tiga daerah berbeda.

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhan-lah yang menentukan arah langkahnya. Ungkapan pengamsal ini dialami, diamini dan di-imani Irjen Royke.

“Selama berkarier di kepolisian, saya tak pernah tahu atau tidak pernah menyangka akan dipercayakan dalam jabatan yang pernah diemban,” kata Irjen Royke kepada koran ini di sebuah rumah makan arah bandara Sam Ratulangi.

Ditemani istri tercinta dan kedua putranya, Irjen Royke ber­bagi cerita perjalanan karier selang 33 tahun di korps Bhayang­kara. Menariknya, sesekali sang istri dan putranya menambah atau mengingatkan cerita. Melahirkan kesan topangan doa dan support full keluarga atas pengabdian sang jenderal.

Pada 16 September mendatang, Irjen Royke sudah pensiun. Tanpa terasa. Awalnya, dia tak pernah terbayang menjadi polisi. Dia ingin jadi TNI Angkatan Darat (AD).
Keinginan itu muncul melalui buku yang dibacanya di rumah Makassar.

“Saya lahir di Makassar. Sewaktu kecil pulang bersama orang tua ke Lembean. Begitu balik Makassar, oleh ayah saya, masuk SD tetap di kelas yang sama lagi,” kenangnya.

Irjen Royke mengaku sejak kecil hobi hiking. Saat SMP, dia menemukan buku Akademi Militer Nasional. “Ketika itu di rumah saya di Makassar. Saya baca buku itu dan ingin masuk TNI AD,” ceritanya.

Keinginan ini pun diutarakan ke orangtua. Dan mereka setuju. Jadilah dia daftar di AKABRI. Saat itu, untuk jadi tentara dan polisi harus masuk AKABRI. Panitia kemudian yang tentukan lulus. Di TNI atau polisi. “Saya mengikuti seleksi pemanduan bakat. Ternyata oleh panitia saya dinilai lebih cocok jadi polisi. Saya pun jadi taruna selama empat tahun,” katanya.

Itulah Irjen Royke. Jalan hidup disyukurinya. Tugas dan tanggungjawab dijalaninya penuh semangat. Itulah yang membuatnya selalu bercahaya. “Tinggikan sema­ngatmu. Kita telah digariskan lebih dari pemenang.”(*)

Most Read

Artikel Terbaru

/