26.4 C
Manado
Senin, 4 Juli 2022

“Terima Kasih dan Mohon Maaf”

MANADOPOST.ID–33 tahun sudah pengabdian Irjen Royke. Dan, di penghujung selama enam bulan Irjen Royke bertugas sebagai Kapolda Sulut. Diakuinya, jelang masa pensiun, agendanya padat. “Saya tak pernah menyangka ditugaskan sebagai kapolda dan di daerah sendiri. Ini menjadi ketiga kalinya saya jabat kapolda. Di Papua Barat, Maluku, dan Sulut,” sebutnya.

Begitu dapat berita menjadi kapolda, diakuinya sempat bingung. “Karena di Maluku sudah oke. Tinggal jalan saja. Kalau ke satuan baru harus mulai dari nol lagi,” tukasnya.

Diapun mulai berhitung. Enam bulan lagi pensiun, maka diapun menyusun program. “Harus gerak cepat. Karena kalau dihitung September sudah pensiun,” bebernya.

Diapun merancang program yang memberi efek positif jangka panjang bagi masyarakat. Dia memulai dengan lingkungan. “Perusakan lingkungan ini menyangkut banyak orang. Efeknya akan dirasakan anak cucu kita. Saya tahu untuk me­ngubahnya tidak mudah. Dan harus dimulai dari diri sendiri. Dengan berani mengatakan tidak. Saya tidak menerima iming-iming,” tegasnya.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Dia menilai semua harus dimulai dari tubuh kepolisian yang lain tinggal mengikuti. “Saya fokus pada masalah tambang yang prioritas. Mana bisa segera diatasi, khususnya yang besar-besar tanpa izin. Untuk yang kecil sifatnya sosialisasi,” urainya. Jika praktek masih ada, terus dilakukan imbauan. “Yang jelas polisi tidak boleh ada di situ. Termasuk TNI. Koordinasi kita dengan TNI, lebih khusus Pangdam Merdeka sangat bagus. Kita saling back up,” lanjutnya.

Mafia tambang yang notabene dalang bencana lingkungan pun tuntas. Tak sampai di sini, Irjen Royke pun memberi perhatian khusus pada judi togel. Bandar togel disikat. “Togel ini sistemik. Omzet per hari mereka bisa 4 miliar. Anak-anak kecil, sampai warga yang bergaji 2 juta dibodohi. Padahal kan tidak ada bandar yang kalah atau rugi,” sebut Irjen Royke yang tak mau alam, lingkungan dan generasi Sulut dirusak oleh oknum-oknum.

Langkah selanjutnya mafia tanah. “Ba­nyak sekali. Makanya kita buat satgas tanah. Tim ini mulai efektif bekerja walaupun kecil. Hanya saja memang masih butuh akselerasi lagi. Mudah-mudahan Pak Kapolda yang baru melanjutkannya. Karena sudah menggurita dan banyak yang harus diselesaikan,” tukasnya.

Irjen Royke juga membentuk Tim Maleo. Tim khusus pemberantas kejahatan se­perti Barracuda dan Manguni ini banyak mendapat apresiasi. “Saya menyampaikan terima kasih kepada semua, sekaligus permohonan maaf atas salah, dan program yang tak sempat selesai,” katanya.(*)

MANADOPOST.ID–33 tahun sudah pengabdian Irjen Royke. Dan, di penghujung selama enam bulan Irjen Royke bertugas sebagai Kapolda Sulut. Diakuinya, jelang masa pensiun, agendanya padat. “Saya tak pernah menyangka ditugaskan sebagai kapolda dan di daerah sendiri. Ini menjadi ketiga kalinya saya jabat kapolda. Di Papua Barat, Maluku, dan Sulut,” sebutnya.

Begitu dapat berita menjadi kapolda, diakuinya sempat bingung. “Karena di Maluku sudah oke. Tinggal jalan saja. Kalau ke satuan baru harus mulai dari nol lagi,” tukasnya.

Diapun mulai berhitung. Enam bulan lagi pensiun, maka diapun menyusun program. “Harus gerak cepat. Karena kalau dihitung September sudah pensiun,” bebernya.

Diapun merancang program yang memberi efek positif jangka panjang bagi masyarakat. Dia memulai dengan lingkungan. “Perusakan lingkungan ini menyangkut banyak orang. Efeknya akan dirasakan anak cucu kita. Saya tahu untuk me­ngubahnya tidak mudah. Dan harus dimulai dari diri sendiri. Dengan berani mengatakan tidak. Saya tidak menerima iming-iming,” tegasnya.

Dia menilai semua harus dimulai dari tubuh kepolisian yang lain tinggal mengikuti. “Saya fokus pada masalah tambang yang prioritas. Mana bisa segera diatasi, khususnya yang besar-besar tanpa izin. Untuk yang kecil sifatnya sosialisasi,” urainya. Jika praktek masih ada, terus dilakukan imbauan. “Yang jelas polisi tidak boleh ada di situ. Termasuk TNI. Koordinasi kita dengan TNI, lebih khusus Pangdam Merdeka sangat bagus. Kita saling back up,” lanjutnya.

Mafia tambang yang notabene dalang bencana lingkungan pun tuntas. Tak sampai di sini, Irjen Royke pun memberi perhatian khusus pada judi togel. Bandar togel disikat. “Togel ini sistemik. Omzet per hari mereka bisa 4 miliar. Anak-anak kecil, sampai warga yang bergaji 2 juta dibodohi. Padahal kan tidak ada bandar yang kalah atau rugi,” sebut Irjen Royke yang tak mau alam, lingkungan dan generasi Sulut dirusak oleh oknum-oknum.

Langkah selanjutnya mafia tanah. “Ba­nyak sekali. Makanya kita buat satgas tanah. Tim ini mulai efektif bekerja walaupun kecil. Hanya saja memang masih butuh akselerasi lagi. Mudah-mudahan Pak Kapolda yang baru melanjutkannya. Karena sudah menggurita dan banyak yang harus diselesaikan,” tukasnya.

Irjen Royke juga membentuk Tim Maleo. Tim khusus pemberantas kejahatan se­perti Barracuda dan Manguni ini banyak mendapat apresiasi. “Saya menyampaikan terima kasih kepada semua, sekaligus permohonan maaf atas salah, dan program yang tak sempat selesai,” katanya.(*)

Most Read

Artikel Terbaru

/