Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Dualisme PWI Sulut Memasuki Babak Baru: Difasilitasi Gubernur, Dua Kubu Akhirnya Bertemu dan Sepakat Tidak Saling Mengakui

Tommy Waworundeng • Rabu, 9 April 2025 | 19:46 WIB

Dualisme PWI Sulut Memasuki Babak Baru: Difasilitasi Gubernur, Dua Kubu Akhirnya Bertemu dan Sepakat Tidak Saling Mengakui
Dualisme PWI Sulut Memasuki Babak Baru: Difasilitasi Gubernur, Dua Kubu Akhirnya Bertemu dan Sepakat Tidak Saling Mengakui

MANADOPOST.ID– Sebuah pertemuan yang dinilai bersejarah akhirnya terjadi di tengah kisruh panjang dualisme kepemimpinan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Sulawesi Utara.

Dua kubu yang selama ini berada di jalur berbeda—PWI versi Kongres Luar Biasa (KLB) dan PWI hasil Musyawarah Nasional (Munas) Bandung—akhirnya duduk semeja dalam suasana yang hangat, difasilitasi oleh Gubernur Sulut Mayjen TNI Pur Julius Selvanus, melalui Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Daerah, Steven Liow, Rabu (9/4/2025).

Pertemuan yang mempertemukan Voucke Lontaan (Ketua PWI versi Munas Bandung) dan Fanny Loupati (Ketua PWI versi KLB) ini menjadi momen penting setelah berbulan-bulan isu dualisme kepemimpinan memanaskan iklim pers di Bumi Nyiur Melambai.

Meski tidak menghasilkan rekonsiliasi, kedua tokoh sepakat menempuh jalan damai—dengan keputusan tegas untuk tidak saling mengakui eksistensi satu sama lain.

Suasana pertemuan berlangsung penuh keakraban, jauh dari kesan kaku atau tegang. Bahkan, kehadiran dua sosok yang telah lama malang melintang di dunia jurnalistik Sulut ini membangkitkan nuansa historis—sebuah pertemanan lama yang sempat terguncang oleh dinamika organisasi, namun tidak sepenuhnya putus.

Kepala Dinas Kominfo Sulut Steven Liow, menyambut positif momen langka ini. Ia menyebut pertemuan tersebut sebagai langkah dewasa dalam menjaga harmoni di dunia pers lokal.

“Kami mengapresiasi niat baik dari kedua pihak untuk berdialog. Persahabatan jangan dikalahkan oleh perbedaan pandangan. Pers tetap menjadi kekuatan strategis dalam pembangunan Sulawesi Utara,” ujarnya.

Keputusan untuk tidak saling mengakui diambil sebagai jalan tengah demi mencegah potensi konflik terbuka dan kebingungan publik. Masing-masing kubu tetap akan menjalankan agenda dan program organisasi secara mandiri, tanpa intervensi maupun klaim legitimasi di ruang publik.

Yang menarik, baik Voucke maupun Fanny secara terbuka menyampaikan rasa terima kasih kepada Gubernur Julius Selvanus yang dinilai peduli dan hadir di tengah polemik dunia pers.

“Tanpa fasilitasi dari beliau, mungkin pertemuan seperti ini tak akan pernah terjadi,” ujar salah satu pengurus yang hadir.

Meski belum ada titik temu soal penyatuan organisasi, pertemuan ini dianggap sebagai titik balik dalam menciptakan suasana yang lebih sehat dan saling menghargai di tubuh PWI Sulut.

Di tengah gelombang disrupsi media digital dan tantangan etika jurnalistik, ruang dialog seperti ini dinilai sangat krusial untuk menjaga martabat profesi.

Dalam sambutannya, Gubernur Julius Selvanus menegaskan bahwa insan pers—apapun latar belakang organisasinya—memiliki peran vital dalam menyuarakan kebenaran, menjaga etika, dan mengawal proses pembangunan.

“Jangan sampai perbedaan mengaburkan peran utama pers sebagai penyambung suara rakyat. Jurnalis adalah garda terdepan demokrasi,” pungkasnya.

Pertemuan ini bukan akhir, melainkan awal dari semangat baru—bahwa di atas segala perbedaan, komunikasi dan kolaborasi tetap bisa dijaga. (*)

Editor : Tommy Waworundeng
#PWI Sulut #Gubernur #dualisme