Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Melihat Transformasi 'Bisnis Lendir' di Era Digital

Don Papuling • Minggu, 6 Juni 2021 | 11:22 WIB
Ilustrasi video wikwik
Ilustrasi video wikwik
MANADOPOST.ID - Bisnis lendir atau lebih dikenal prostitusi, merupakan bisnis ilegal yang tak pernah lepas dari peradaban manusia. Meski nama dan sebutannya berbeda disetiap belahan dunia, namun layanan kenikmatan kilat itu tetap ada. Bahkan prostitusi, adalah bisnis yang terus berkembang mengikuti arus industri. Di era 4.0 ini bisnis esek-esek juga bertransformasi. Ilustrasi aplikasi ijo daong Mulai dari layanan VCS hingga memanfaatkan layanan perpesanan instan maupun media sosial untuk mencari market share. Geliat Prostitusi Digital di Bitung Di Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara, para pelaku usaha esek-esek juga turut bertransformasi mengikuti perkembangan zaman dimana mereka memanfaatkan aplikasi perpesanan instan M*chat atau kerap disebut 'ijo daong' untuk mencari market baru yang lebih baik. Jumat (4/6) malam, waktu menunjukan pukul 20.00 WITA. Ketika saya iseng mengotak-atik aplikasi ijo daong disekitar Kelurahan Bitung Tengah. Dalam kesempatan itu, ternyata banyak akun perempuan yang menawarkan jasa kencan kilat. Suasana malam di Pusat Kota Bitung, Jumat (4/6) malam Berbekal informasi dari teman, saya pun melakukan penelusuran. Meski gugup namun didorong rasa penasaran, akhirnya penelusuran tetap berlanjut. Singkat cerita, ketika memilih-milih teman kencan saking banyaknya membuat saya pusing. Namun ditengah pencarian mata saya tertuju pada satu akun dengan inisial J yang menunjukan foto perempuan yang menarik. Akhirnya saya coba membuka percakapan dengan kata BO atau stay? Setelah menunggu 10 menit, akhirnya J membalas stay. Saya kemudian langsung bertanya, berapa? Dengan sigap J menjawab ST Rp 750 ribu dan LT Rp 1,2 juta. Setelah proses negosiasi, akhirnya saya dan J sepakat harga kencan kilat itu dibanderol Rp 500 ribu ST. Ia pun langsung mengirimkan alamat disebuah hotel budget yang terletak di Kecamatan Maesa. Dalam perjalanan, saya kurang yakin apakah jasa tersebut sungguhan, atau hanya iseng-iseng. Namun sampai di lobby hotel, ternyata sungguhan sebab J langsung datang menjemput. Hal itu membuat saya takjub dimana bisnis lendir, telah berkembang mengikuti tuntutan zaman. Dalam berbagai kesempatan saya pun mencoba menggali informasi pada J, apa keunggulan bisnis lendir 4.0 dari yang konvensional. J dengan polosnya menjawab, memanfaatkan teknologi dalam menjalankan bisnisnya membuat ia lebih aman dan mudah mencari pasar "Selain itu, tentu tak kena potongan mucikari, sebab kan ini langsung terhubung dengan pelanggan," ujarnya. Ia juga mengaku dalam menjalankan bisnisnya ia tak sendiri, sebab ada dua hingga tiga orang yang patungan membayar sewa kamar dan mobil "Sebab kami bukan asli Bitung. Kami dari Manado. Ini kita lakukan maraton, kadang di Tomohon kadang di Bitung, tergantung kami ingin kemana," ujar gadis berusia 26 tahun itu. J mengaku lokasi paling jauh yang pernah mereka pergi untuk 'berbisnis' di Kotamobagu. "Tapi kita lebih senang di Bitung dan Tomohon. Untuk Manado, kita enggan karena sulit mencari harga yang bagus, karena saking banyaknya penyedia jasa," tuturnya. Ketika ditanya apa motif yang membuatnya terjun kedunia hitam prostitusi online ini, J mengaku karena desakan ekonomi dan tuntutan gaya hidup. "Sebab saya sekarang hanya tinggal bersama ibu, sehingga ingin membantu meringankan beban orang tua," bebernya. "Selain itu, perempuan mana yang tak mau terlihat cantik? Tentu cantik butuh perawatan, namun mau bagaimana lagi kalau tak punya uang ya harus kerja," terang dia. Meski terlihat nyaman dengan kondisinya sekarang, namun J mengaku ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Hal itu yang membuat ia tetap berkuliah meski bukan di kampus favorit. "Kalau sudah selesai kuliah, saya ingin mencari pekerjaan yang layak dan berhenti dari pekerjaan ini," tandasnya. Usai berbincang dengan J saya pun pergi sambil termenung melihat motifasi perempuan itu untuk hidup. (TimMP) Editor : Don Papuling
#Transformasi 'Bisnis Lendir' di era Digital #Kotamobagu #Sulut #Tomohon #MANADO #sulawesi utara #Prostitusi Online #Provinsi Sulawesi Utara #era 4.0 #bitung